Kincir Modern di Tambak Udang Tradisional Lampung Timur

Sebagai penyuplai oksigen di dalam perairan tambak, kincir memiliki peranan penting dalam urusan ketersediaan oksigen dan menjaga kualitas air dalam tambak udang.

Menurut Direktur Manager PT Sumber Lancara (SL) Cartenius Wijaya, peranan kincir dalam tambak budidaya udang memiliki pengaruh yang cukup penting untuk proses budidaya udang itu sendiri. Kincir menjadi jalur sirkulasi pada tambak budidaya, media-media lain yang terdapat pada tambak seperti kotoran atau sisa pakan yang tidak termakan perlu ditempatkan pada titik sentral yang kemudian akan dilanjutkan oleh sistem pembuangan supaya bisa terbuang dengan sempurna.

Hal ini membutuhkan bantuan kincir untuk mengatur arus supaya media tersebut dapat terkumpul di titik sentral tersebut. “Kincir juga mengatur stabilitas kadar oksigen pada tambak, selain untuk memberi jalur sirkulasi, kincir juga berperan penting untuk mencampur serta menyetabilkan oksigen yang teroksidasi ke air pada tambak,” ujarnya.

Percikan air yang dihasilkan oleh kincir, secara otomatis akan teroksidasi pada air sehingga air pada tambak budidaya memiliki tingkat oksigen yang mencukupi untuk proses budidaya udang. Kemudian, kata Cartenius, kincir sebagai media untuk mendistribusikan dan meratakan komponen tambahan pada tambak pada masa budidaya seperti vitamin atau media lainnya untuk menunjang proses budidaya udang.

“Media tambahan tersebut perlu disebar dengan merata pada tambak agar dapat diserap oleh udang secara maksimal. Oleh sebab itu, diperlukan kincir untuk meratakan penyebaran media tambahan tersebut dan biasanya vitamin atau media tambahan disebar di depan kincir kemudian akan di distribusikan oleh kincir,” paparnya.

Jenis Kincir

Penggunaan kincir bisa dikatakan “wajib” ada dalam budidaya udang tradisional, seperti halnya para petambak udang di Desa Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur, mayoritas petambak menggunakan kincir yang sama dari PT Sumber Lancar (SL).

Tjahyani Purwo Asturi dari PT Sumber Lancar Cabang Lampung mengatakan, “sekitar 85 % petambak udang di wilayah Lampung sudah menggunakan produk kincir dengan teknologi modern dari SL,” ujarnya.

Yani atau yang kerab disapa “Mba Kincir” oleh petambak menambahkan, saat ini petambak sudah cerdas dalam hal memilih peralatan pendukung tambak khususnya kincir. Katanya, petambak berani berinvestasi membeli kincir yang berkualitas meskipun harganya sedikit mahal karena mereka berpikir jangka panjang dan kincir yang dipakai hemat listrik sehingga dapat menekan menekan biaya listrik tiap bulan.

“Kincir SL dikenal ketahannya, tidak rewel, dan tentunya biaya operasionalnya murah,” pungkas Yani.

Lebih lanjut, Cartenius menjelaskan, SL memiliki banyak jenis kincir air yang menyesuaikan dengan sekmen dari petambak dengan berbagai merk yang berbeda, mulai dari SL Vaname, Neptune, Cakra, Garuda, dan Fortune.

Sedangkan untuk jenis kincir, SL membagi jenisnya untuk sekmen rendah biaya produksi dan rendah biaya investasi. Untuk jenis kincir dengan rendah biaya produksi, spare part yang digunakan sudah menggunakan part stainless steel serta part-part lain yang memudahkan serta mengefisienkan kinerja kincir sehingga petambak tidak perlu repot mengurus teknis pengoperasian kincir tersebut.

Selain itu, kincir dengan rendah biaya produksi ini juga memiliki konsumsi listrik yang cukup efisien dengan tujuan dapat menekan biaya produksi selama masa budidaya sehingga petambak sudah tidak perlu repot memikirkan teknis dari kincir tersebut dan sekaligus dapat menghemat pengeluaran untuk penggunaan listrik selama budidaya.

“Mengingat tidak semua petambak memiliki modal awal yang cukup besar dalam mempersiapkan teknis dalam tambak, sehingga dari sekmen inilah SL menciptakan kincir hemat untuk petambak, dengan catatan untuk spare part yang digunakan adalah yang standard untuk pengoperasian kincir di tambak,”                                                                        

Kisaran listrik yang dikonsumsi oleh kincir SL bervariasi tergantung kelasnya, ada SL Vaname, SL Neptune, dan Cakra yang memiliki konsumsi listrik paling hemat di kelasnya yaitu kisaran 425 – 475 watt. Sedangkan untuk Garuda dan Fortune bisa mencapai 500 –  550 watt.

Kincir dari SL dibuat sekokoh mungkin dan minim perawatan, kata Cartenius, mengingat daerah Lampung Timur cukup jauh dari pusat kota Lampung. “Maka kami memberikan refrensi kepada para petambak di daerah Lampung supaya menggunakan kincir yang minim perawatan dan tahan lama dalam penggunaannya,” terangnya.

SL Vaname dan Neptune adalah merk kincir yang banyak digunakan oleh petambak di Lampung Timur, mengingat konsumsi listrik yang sangat hemat serta ketangguhan dari kincir tersebut, petambak tidak perlu lagi disibukkan untuk perawatan dari kincir tersebut.

Mudah Perawatan

Untuk perawatan, Cartenius memaparkan, kincir dari SL selalu membuat inovasi bagaimana supaya kincir yang digunakan sebisa mungkin minim perawatan. Spare part yang digunkan pada kincir juga merupakan spare part yang mudah untuk dibongkar pasang jika seandainya pada masa budidaya kincir memang perlu dilakukan perawatan atau servis pada beberapa bagian dari kincir.

Kemudian untuk spare part juga, tambah Cartenius, dijamin ketersediaan untuk produk semua produk kincir serta menjamin kemudahan akses kepada seluruh petambak di Indonesia dengan kehadiran 5 kantor cabang yang terletak di Paiton, Banyuwangi, Tuban, Jogjakarta, serta Lampung.

“Hal ini kami lakukan supaya petambak di seluruh Indonesia bisa lebih mudah dalam memenuhi kebutuhan tambak mereka,” ujarnya.

Tips Memilih Kincir

Untuk petambak pemula yang pertama harus diperhatikan adalah ketersediaan dana. Pastikan dana bisa memenuhi jumlah kincir yang diperlukan. Sedangkan untuk petambak yang memang serius dalam untuk terjun ke dunia tambak, hal yang perlu diperhatikan tentu kualitas dari kincir yang digunakan.

Pastikan kincir yang digunakan memiliki spesifikasi yang baik sehingga pada masa budidaya, petambak tidak perlu lagi kerepotan untuk perawatan kincir lagi. Spare part yang digunakan juga perlu diperhatikan ketersediaannya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah konsumsi listriknya, saat ini banyak petambak yang hanya berfokus pada investasi awal dalam pemilihan kincir, namun mereka lupa akan konsumsi listrik yang digunakan.

Bisa jadi untuk investasi awal sedikit lebih hemat namun saat masa budidaya konsumsi listrik yang diperlukan cukup tinggi sehingga akan menambah pengeluaran untuk biaya listrik yang digunakan selama masa budidaya. (Adit)

Teknologi Jaring UHMWPE Sekuat Baja

Jaring UHMWPE Aquatec

Budidaya ikan bebas predator dengan jaring UHMWPE tanpa simpul

Budidaya ikan atau akuakultur adalah industri yang berkembang dengan cepat di Indonesia. Hingga tahun 2016, tercatat oleh FAO bahwa Indonesia telah mampu memproduksi 5 juta ton ikan (tidak termasuk rumput laut) yang mencakup berbagai macam spesies ikan air laut, tawar, maupun payau.

Budidaya ikan di dalam keramba jaring apung (KJA) HDPE adalah salah satu cara yang paling konsisten untuk memproduksi ikan dalam jumlah besar. KJA HDPE yang tahan ombak dan ramah lingkungan adalah kunci dari praktek budidaya ikan yang berkelanjutan dan menguntungkan. Hanya saja, aspek yang tidak kalah pentingnya dari menggunakan KJA HDPE adalah penggunaan jaring yang tepat pada keramba.

General Manager PT Gani Arta Dwitunggal, Andi Jayaprawira mengatakan, budidaya ikan tidak bisa menggunakan jaring atau net yang sama dengan jaring tangkap. Jaring tangkap, memiliki tonjolan-tonjolan simpul (knotted) yang besar dan sangat kasar sehingga beresiko tinggi menimbulkan luka pada ikan.

Luka ini dapat menimbulkan cacat berupa baretan pada sisik ikan, dan dapat menimbulkan infeksi yang dapat meningkatkan mortality rate, sehingga penggunaan jaring bersimpul sangat tidak disarankan.

Oleh karenanya, kata Andi, pembudidaya ikan sangat disarankan menggunakan jaring tanpa simpul (knotless) yang berpermukaan halus. Jaring tanpa simpul tidak menimbulkan luka pada sisik ikan sehingga dapat menekan mortality rate, juga meningkatkan nilai jual ikan dikarenakan ikan memiliki sisik yang sempurna.

Di pasaran, jaring tanpa simpul tersedia dalam bermacam-macam bahan, mulai dari HDPE, metal, hingga UHMWPE. Kategori pertama, yaitu jaring HDPE tanpa simpul memiliki konstruksi yang ringan dan fleksibel, sehingga mudah untuk dioperasikan, dengan harga yang terjangkau.

Jaring ini tersedia secara luas di pasaran dan telah diproduksi di dalam negeri oleh perusahaan penyedia alat sarana dan prasaranan perikanan budidaya dalam negeri PT. Gani Arta Dwitunggal dengan merk Aquatec. Kategori kedua, yaitu jaring metal, memiliki kontsruksi yang berat dan kaku, namun umumnya dipakai dengan tujuan untuk menghalau predator.

Kategori ketiga, yaitu jaring UHMWPE tanpa simpul, merupakan inovasi jaring budidaya ikan baru yang mulai populer. Namun, apa itu UHMWPE? UHMWPE adalah singkatan dari Ultra High Molecular Weight Polyethylene, yaitu material yang memiliki kekuatan tarikan (tensile strength) lebih kuat daripada baja, akan tetapi ringan dan fleksibel. Oleh karena kekuatannya, bahan UHMWPE telah dipakai dalam beberapa industri berat menggantikan rantai baja dan seling baja.

Jaring UHMWPE tanpa simpul adalah jaring budidaya yang dibuat menggunakan material tersebut, sehingga tiap pilar jaring memiliki kekuatan setara dengan kawat baja berukuran sama. Oleh karena tiap pilar memiliki kekuatan setara kawat baja, maka satu bentang jaring UHMWPE tanpa simpul sangatlah kuat dan mampu benahan beban hingga beberapa ton.

Bebas Predator

Selain dari kekuatan tarikan, Andi memaparkan, bahan UHMWPE juga sangat sulit untuk dipotong dan tahan korosi. Jaring UHMWPE tanpa simpul dipakai untuk melindungi ikan dari predator di laut maupun air tawar dan terbukti mampu menghadapi serangan berbagai predator seperti ikan barracuda, ikan buntal, ikan bawal, kepiting, penyu, dan berbagai predator lainnya hingga hiu berukuran tertentu. Dengan demikian, ikan budidaya aman hingga masa panen sekalipun KJA dipasang di area yang memiliki populasi predator tinggi.

Indonesia sebagai negara maritim memang memiliki populasi predator laut yang tinggi, yang apabila tidak diantisipasi dapat mengganggu usaha budidaya ikan di laut (marikultur). Padahal, potensi ekonomi budidaya ikan laut sangat tinggi dikarenakan nilai komoditasnya lebih tinggi dari nilai komoditas ikan air tawar, sehingga jaring budidaya anti predator ini sangat dibutuhkan.

Mengenai ketahanan dalam menghadapi predator, jaring budidaya UHMWPE dapat dibandingkan dengan jaring dari bahan metal. Dari segi harga, jaring budidaya UHMWPE memiliki harga jauh lebih ekonomis dari jaring berbahan metal, sehingga merupakan pilihan yang lebih baik dan terjangkau untuk pembudidaya ikan.

Selain itu, tidak seperti jaring metal, jaring budidaya UHMWPE yang ringan dan tidak kaku membuatnya mudah dipasang di lapangan dan mudah untuk diangkat ke permukaan pada saat pembersihan jaring dan panen.

“Jaring budidaya UHMWPE tanpa simpul PT Gani Arta Dwitunggal sudah digunakan oleh beberapa perusahaan di Bali untuk memelihara ikan kakap putih dan menghalau predator berupa ikan barracuda dan hiu,” ujar Andi.

Andi menuturkan, sepanjang masa pemakaian, tidak ada satupun jaring yang mengalami robek bahkan setelah digigit oleh hiu berukuran sedang. Permukaan tanpa simpul yang halus menghasilkan ikan kakap putih dengan sisik yang sempurna, dan tercatat memiliki mortality rate rendah dan survival rate yang tinggi. Ikan kakap putih tersebut kemudian diekspor ke Australia dan Amerika Serikat.

Jaring budidaya UHMWPE tanpa simpul umumnya memiliki harga 2-2,5 kali dari harga jaring budidaya HDPE tanpa simpul, dengan umur pakai mencapai 10 tahun di laut dan mencapai 15 tahun di air tawar dengan perawatan teratur.

Melihat dari manfaatnya dalam mencegah predator, kemudahan pemakaian, dan umur pakai yang tinggi, jaring budidaya UHMWPE tanpa simpul diprediksi akan menempati pasaran yang unik dalam industri budidaya ikan di Indonesia sebagai solusi terbaik budidaya ikan bebas predator. (Adit)

Teknologi “Nano Bubble” dalam Budidaya Perikanan

Tingkatkan pertumbuhan ikan dan udang dengan teknologi nano bubble.

Teknologi gelembung halus “nano bubble” diklaim mampu meningkatkan pertumbuhan ikan hingga 40 persen dari bobot biasa. Teknologi Nano Bubble untuk perikanan bisa mempercepat pertumbuhan ikan sampai 40 persen.

Menurut pemaparan LIPI, misalnya, diaplikasikan ke ikan sidat, kalau pakai air biasa, pertumbuhan ikan 3 bulan hanya mencapai 1 kg, kalau dengan bubble bisa mencapai 3-4 kg. Teknologi nano bubble dapat diaplikasikan di berbagai sektor, seperti tanaman, perikanan dan peternakan.

Johan

Hal tersebut bisa terjadi, sebab menurut Johan, Bussiness Development Manager PT Maxima Arta Prima, Nano Bubble Jet dapat menghasilkan gelembung-gelembung udara yang sangat halus yang dinamakan “nano bubble” sehingga dapat memberikan asupan udara (DO) yang maksimal bagi udang karena gelembung-gelembung udara tersebut tidak cepat naik ke permukaan air.

Johan melanjutkan, walaupun gelembung-gelembung udara yang dihasilkan Nano Bubble Jet lebih halus namun DO yang dihasilkan lebih stabil dari kincir konvensional sehingga mudah di kontrol dan tidak perlu khawatir sewaktu penurunan DO yang biasanya terjadi pada malam hari.

Prinsip kerja teknologi ini adalah menginjeksi atau memasukkan gas, baik nitrogen, oksigen atau ozon ke dalam cairan kemudian akan menghasilkan gelembung yang sangat kecil hingga dapat larut ke air.

Untuk budi daya perikanan, tahun ini LIPI mengembangkan nano bubble untuk ikan sidat yang memiliki potensi perekonomian sangat besar, yakni harga jualnya mencapai Rp1,5-2 juta/kg jika diekspor ke Jepang.

Air yang kaya dengan oksigen membuat ikan tidak mudah sakit, selalu sehat dan mencegah bakteri-bakteri yang merugikan sehingga pertumbuhan ikan dapat meningkat secara signifikan. Biasanya kalau pakai aerator biasa yang gelembungnya berukuran besar sehingga akibatnya akan pecah di atas dan oksigen yang terlarut sangat sedikit. Jika dikuantifikasikan paling besar hanya 4 ppm (part per million), sedangkan nano bubble bisa 9-11 ppm.

Untuk pemasangan, alat tersebut terbilang murah karena bentuknya yang seperti pompa air biasa dan kebutuhan daya listrik yang sama dengan pompa. Selain untuk budidaya, teknologi nano bubble dengan injeksi gas nitrogen juga mampu untuk mengawetkan ikan sehingga dapat memperlambat pembusukan.

Daya listrik yang dibutuhkan Nano Bubble Jet hanya 2/3 dari penggunaan kincir konvensional. Dengan kata lain, alat ini dapat menghemat daya listrik sebesar 30% apabila dibandingkan dengan penggunaan kincir konvensional.

Nano Bubble Jet

“Dengan begitu, penggunaan listrik juga lebih hemat karena motor pada Nano Bubble Jet hanya memutar AS yang diteruskan ke impeller atau piringan aerator tanpa adanya beban atau tahanan gear box,” ujar Johan.

Dalam hal perawatan, Johan mengatakan, Nano Bubble Jet mudah perawatannya karena tidak menggunakan gear box dan kipas tidak perlu selalu dibersihkan karena tidak akan terjadi pembentukan lumut di bagian-bagian yang bergerak, sedangkan kincir konvensional harus sering service gear box (ganti oli, bearing ataupun seal).

Mekanisme kerja alat ini adalah dengan mendorong udara yang masuk dari lubang Cone ke dalam air, dan menembakan kembali menjadi gelembung-gelembung udara yang sangat halus. Penempatan Nano Bubble Jet di kolam berjarak 4 meter di depan set kincir sehingga gelembung-gelembung udara halus dapat dialirkan oleh arus yang dihasilkan oleh kincir.

“Kemudian, untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam penggunaan Nano Bubble Jet sebaiknya jarak antara piringan aerator dengan dasar kolam minimal 50 cm,” jelas Johan.

Kemiringan alat ini dapat disesuaikan dengan keinginan petambak, dikarenakan terdapat gear pada chassis. Jarak minimal dasar kolam dengan piringan aerator Nano Bubble Jet adalah 50 cm agar material organik yang berada di dasar kolam tidak ikut tercampur pada saat gelembung udara ditembakan.

Chassis Nano Bubble Jet terbuat dari stainless steel yang mempunyai daya tahan terhadap korosi yang tinggi sehingga lebih kuat dan kokoh. Piringan aerator terbuat dari HDPE yang durabilitas dan memiliki daya tahan yang sangat tinggi. (Adit)

Panen di Pangandaran, Aquatec dan UNPAD Bersinergi

Setelah sempat terdengar kabar rusaknya KJA asal Norwegia di Pangandaran yang membuat pesimis pelaku usaha budidaya laut, kini harapan kembali bangkit untuk budidaya marikultur Indonesia setelah panen kerapu di Pangandaran yang diprakarsai oleh Aquatec dan UNPAD.

Rektor Universitas Padjadjaran (UNPAD) Prof. Tri Hanggono Achmad bersama pimpinan dan Dekan melakukan panen ikan kerapu di keramba jaring apung (KJA) sekaligus peresmian pilot project di kawasan Pantai Timur Pangandaran, Senin (15/10) lalu.

Dalam sambutanya, Rektor UNPAD mengapresiasi capaian program ini. Tri berharap, agar kerjasama ini terus ada dan semakin meluas dengan keikutsertaan dari berbagai pihak. “UNPAD dan Aquatec harus saling bersinergi, kehadiran UNPAD sebagai perguruan tinggi terbaik di Jawa Barat, harus menjadi solusi bagi permasalahan dunia perikanan,” pungkasnya.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNPAD Dr. Yudi Nurul Ihsan, mengatakan, sebanyak 5 kuintal ikan kerapu dipanen dalam acara tersebut. Panen ini dihasilkan dari sekira 1.500 bibit ikan yang disebar di KJA lima bulan lalu. Sebanyak 900 ekor ikan berhasil bertahan dalam masa pertumbuhan.

“Saat dipanen, setiap ekor ikan memiliki bobot rata-rata di 600 gram per ekor. Ini dihasilkan dari riset yang dilakukan oleh sejumlah dosen di FPIK UNPAD. Salah satu riset yang dikembangkan adalah penggunaan enzim pepaya untuk mempercepat pertumbuhannya, hasilnya hari ini kita buktikan dan hasilnya bagus,” ungkap Yudi.

Selain menjadi proyek awal, budidaya ikan kerapu ini juga merupakan salah satu implementasi dari pengembangan budidaya ikan kerapu di kawasan Pantai Selatan Jawa Barat. Saat ini, budidaya ikan kerapu menjadi tren baru di kalangan nelayan Pantai Selatan Jabar.

Awal tahun 2018, harga per kilo ikan kerapu di pasaran mencapai Rp 100 ribu. Ikan dapat dipanen setelah 5 – 6 bulan masa budidaya. Sifatnya yang praktis dibiakkan menjadikan budidaya ikan kerapu menjadi salah satu harapan baru para nelayan di Indonesia.

Menuju aquatec.co.id, Dalam acara panen tersebut juga hadir General Manager PT. Gani Arta Dwitunggal/Aquatec Andi J. Sunadim, dan perwakilan Masyarakat Akuakultur Indonesia wilayah Jawa Barat Mohammad Husen.

Latar belakang kerjasama

Yudi mengatakan, FPIK UNPAD dengan Aquatec memiliki visi dan tujuan yang sama, yaitu ingin agar potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh bangsa Indonesai dapat dimanfaatkan se-optimal mungkin oleh bangsa sendiri

UNPAD telah membangun fasilitas berupa gedung Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) di Pangandaran yang dekat dengan laut dengan tujuan untuk memperbesar kapasitas jumlah mahasiswa FPIK serta mempermudah praktek lapangan dalam penelitian-penelitian yang berhubungan dengan kelautan dan perikanan budidaya.

UNPAD juga telah bekerjasama dengan Bupati dan pemerintahan setempat untuk memberikan beasiswa kuliah gratis bagi para mahasiswa di Pangandaran yang ingin belajar mengenai perikanan dan ilmu kelautan, khususnya perikanan budidaya.

Untuk mendukung tujuan ini, UNPAD membutuhkan KJA untuk penelitian di Pantai Timur Pangandaran. Menurut Yudi, KJA Aquatec menjadi pilihan karena diyakini tidak kalah bagusnya dengan KJA lain bahkan buatan luar negeri.

Bahkan, papar Yudi, FPIK UNPAD sendiri ikut melakukan riset untuk menguji kualitas KJA Aquatec. “Sehingga kami yakin bahwa dengan menggunakan KJA buatan anak bangsa sendiri akan lebih baik daripada menggunakan KJA buatan luar negeri,” pungkas Yudi.

Mendengar nama Aquatec, lantas mengarahkan pikiran kepada perusahaan sarana kelautan dan perikanan dalam negeri yang telah berpengalaman memasang KJA HDPE di berbagai kondisi laut Indonesia dan Asia Tenggara.

Produk Aquatec mencakup KJA segi empat, KJA offshore bundar berdiameter 10 m – 60 m (KJA offshore bundar berdiameter 20 m dan 50 m telah terpasang di Gondol, Bali), KJA offshore submersible (KJA yang dapat ditenggelamkan ke dalam laut dan diapungkan kembali untuk menghindari badai Taifun, telah terpasang di Hainan, China), dermaga apung, rumah apung, jukung anti tenggelam, dan lain-lain.

Oleh karena seperti yang kita ketahui, ganasnya ombak diperairan Pangandaran dan pengalaman Aquatec di bidang kelautan khususnya KJA, sehingga Aquatec dipilih oleh UNPAD untuk membantu membuatkan KJA segi empat yang mampu bertahan di ombak laut lepas Pangandaran.

Pada tahun 2016, ditandatanganilah MoU kerjasama penelitian bersama antara UNPAD dan Aquatec, dan Aquatec menghibahkan kepada UNPAD 20 petak KJA segi empat 3m x 3m yang didesain khusus untuk menghadapi ombak laut lepas Pangandaran, dilengkapi dengan jukung anti tenggelam sebanyak 1 unit.

KJA yang digunakan

General Managaer PT Gani Arta Dwitunggal Andi J. Sunadim memberikan keterangan terkait KJA yang digunakan. Andi menjelaskan, KJA yang dipakai adalah KJA segi empat tipe Flexi yang telah terpasang sebanyak lebih dari 15.750 unit di Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan telah diekspor ke Singapura, Malaysia, Filipina, China, Taiwan, Maldives, dan Afrika.

Bahan, kata Andi, yang digunakan untuk membuat KJA tersebut adalah HDPE baru yang belum pernah didaur ulang (virgin HDPE) klasifikasi PE100 yang diberi tambahan Anti-UV. HDPE merupakan bahan plastik yang ramah lingkungan, lentur, tahan korosi, dan memiliki tensile strength tinggi sehingga cocok untuk digunakan di laut.

KJA memiliki alat apung berdiameter 355 mm tebal 11mm diperkuat dengan rangka luar alat apung berdiameter 355 mm tebal 21 mm untuk menghadapi ombak laut lepas. “Desain ini merupakan desain bersama UNPAD dan Aquatec berdasarkan masukan mengenai kondisi ombak dari peneliti-peneliti lapangan UNPAD di Pangandaran,” jelas Andi. (Adit/Resti)

KJA Buatan Indonesia, Go Internasional!

Ada ada yang lebih bagus dari KJA buatan anak negeri? Yang lebih mahal banyak.

Melanjutkan peluncuran produk keramba jaring apung (KJA) offshore di ‘Offshore Mariculture Conference Asia 2018’ di Singapura, kini KJA asli buatan anak negeri meluncurkan produknya di ‘The 5th China International Aquatic Products Expo 2018’ (atau Aquatic Expo) di Zhanjiang pada tanggal 18-20 Juni 2018.

Pameran berskala internasional ini diprakarsai oleh kota Zhanjiang serta asosiasi-asosiasi perikanan China maupun Internasional, bertemakan “Better Aquatic Products, Better Life”, dan merupakan pameran perikanan terbesar ke-4 di dunia dan terbesar ke-2 di China. Aquatic Expo diadakan di Zhanjiang International Convention & Exhibition Center dan dihadiri oleh exhibitor dan peserta dari 20 negara Uni Eropa, ASEAN, Afrika, dan Amerika Serikat.

Aquatic Expo menampilkan produk seluruh rantai industri perikanan baik perikanan tangkap maupun budidaya, mulai dari bibit hingga produk jadi, sarana produksi hingga pengolahan, serta produk pendukung terkait.

Di antara produk-produk yang menawarkan sarana produksi dengan teknologi tinggi, perusahaan KJA dari Indonesia menjadi pusat perhatian dengan memamerkan KJA offshore submersible.

General Manager dari PT. Gani Arta Dwitunggal yang juga perusahaan produsen sarana kelautan perikanan, Andi Jayaprawira, mengatakan, China merupakan produsen ikan budidaya terbesar di dunia yang mencakup 53% produksi global, disusul oleh ASEAN yang mencakup 12% produksi global.

Sayangnya, kata Andi, China bagian selatan, juga Vietnam dan Filipina, sering dilanda oleh badai Taifun sehingga membatasi produksi ikan budidaya laut. Pembudidaya ikan membutuhkan KJA offshore yang bisa bertahan menghadapi badai Taifun.

Saat ini, satu-satunya KJA offshore yang bisa bertahan di badai Taifun adalah KJA offshore submersible, yaitu KJA offshore yang bisa ditenggelamkan ke dalam air ketika badai Taifun akan datang dan diapungkan kembali ke permukaan air setelah badai Taifun reda.

Melihat tantangan tersebut, Andi selaku anak bangsa Indonesia berhasil membuat dan menawarkan untuk marikultur dunia solusi berupa KJA offshore submersible yang mudah dan cepat dioperasikan, juga ekonomis.

Andi Jayaprawira Sunadim

KJA asli buatan Indonesia tersebut telah terbukti kualitasnya dan berhasil memasang KJA offshore submersible di Lingshui, provinsi Hainan, China pada bulan Juni 2017 dan April 2018 yang mampu bertahan menghadapi badai Taifun setinggi 9 meter. Lingshui merupakan sentra perikanan China selatan yang sering dilanda badai Taifun.

Menuju Aquatec.co.id. Saat ini, terdaftar 4.000 keramba lokal di Hainan, akan tetapi semuanya berhenti beroperasi saat musim badai Taifun. Dengan memakai KJA offshore submersible buatan Indonesia, pembudidaya kini dapat beroperasi sepanjang tahun tanpa khawatir akan badai Taifun.

Menindaklanjuti keberhasilan tersebut, Andi yang merupakan boss PT Gani Arta Dwitunggal produsen KJA, meluncurkan produknya di Aquatic Expo dan mendapat perhatian dari pengusaha dan asosiasi setempat.

“Jika dibandingkan dengan produk dari Eropa dan Amerika Serikat yang membutuhkan jutaan dolar, KJA offshore submersible buatan kita sangat murah. Itulah mengapa produk kita sangat diminati di sini,” pungkas Andi.

Selain KJA offshore submersible, Andi juga menawarkan KJA offshore non-submersible untuk laut yang tidak ber-Taifun.

“KJA offshore kita dengan diameter 25 meter memiliki spesifikasi yang jauh lebih tinggi dibanding Norwegia. Jikalau KJA offshore Norwegia hanya memakai pipa HDPE OD 315 mm dengan ketebalan 18,5 mm, KJA offshore kita sudah memakai pipa HDPE OD 355 mm dengan ketebalan 21 mm,” tutur Andi.

Selain itu, tambah Andi, teknologi KJA offshore buatan Indonesia juga memakai butt fusion extra dengan ketebalan sambungan dua kali lipat ketebalan pipa, dan ruang dalam pipa dibagi-bagi menjadi kompartemen-kompartemen terpisah untuk meminimalisir resiko.

Selain mampu bertahan di ombak setinggi 5 meter, net KJA offshore buatan Indonesia juga berbahan Ultra High Molecular Weight Polyethylene (UHMWPE) yang setara dengan kawat baja. Dengan demikian, ketahanan KJA offshore buatan Indonesia jauh melebihi KJA offshore Norwegia.

Bersama dengan PT Jababeka Tbk dan Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) yang juga hadir di pameran tersebut sebagai delegasi resmi dari Indonesia, produk Indonesia kini bergaung di pasar internasional. (Adit)

KJA offshore submersible (dalam keadaan tenggelam)

Peran KJA Offshore Untuk Budidaya Laut Lepas

Andi Jayaprawira Sunadim

Indonesia dengan panjang garis pantai 95.000 km dan luas lautan 7,9 juta km2 memiliki potensi budidaya ikan laut yang sangat besar. Diperlukan keramba jaring apung (KJA) HDPE modern untuk menggarapnya, dan perusahaan dalam negeri sudah mampu memproduksi KJA offshore submersible.

Seiring dengan seruan Presiden Joko Widodo untuk memanfaatkan potensi laut Indonesia, potensi budidaya ikan laut baik pesisir maupun laut lepas (offshore) harus digarap. Indonesia memiliki beragam komoditas yang menarik seperti ikan kerapu, kakap putih, bawal bintang, bubara, bandeng, dan bahkan tuna sirip kuning. Untuk menggarapnya dibutuhkan alat yang disebut dengan keramba jaring apung (KJA).

Saat ini mayoritas KJA yang digunakan di Indonesia adalah KJA berbahan kayu. KJA berbahan kayu dianggap tidak memadai karena mencemari lingkungan dan mendorong penebangan hutan, oleh karenanya sejak tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah beralih ke KJA HDPE modern buatan dalam negeri. KJA HDPE memiliki keunggulan ramah lingkungan dan memiliki ketahanan yang tinggi terhadap ombak laut, sehingga mendatangkan keuntungan lebih bagi pembudidaya.

General Manager PT Gani Arta Dwitunggal (produsen KJA HDPE Aquatec) Andi Jayaprawira Sunadim menjelaskan, KJA HDPE terdiri dari KJA segi empat dan KJA bundar. KJA HDPE segi empat biasa digunakan untuk memelihara berbagai jenis ikan kerapu dikarenakan sifat ikan kerapu yang menyukai sudut net, sedangkan KJA bundar biasa digunakan untuk memelihara ikan perenang seperti ikan kakap putih, bawal bintang, bubara, bandeng, dan tuna ekor kuning.

Sejak tahun 2008, KJA HDPE Aquatec terjual sebanyak 15.000 unit di seluruh Indonesia dan mengekspor ke Singapura, Malaysia, Filipina, China, dan Taiwan. Salah satu KJA terbesar yang pernah diproduksi adalah KJA bundar berdiameter 50 meter (keliling 157 meter) yang dipakai untuk penelitian ikan tuna sirip kuning di BBPPBL Gondol, Bali.

Menuju aquatec.co.id, Oleh karena ketahanan KJA HDPE yang tinggi, saat ini belum ada satu unitpun KJA HDPE yang rusak. “Semua KJA yang dijual sejak tahun 2011 hingga saat ini masih berada dalam kondisi baik, hal ini dikarenakan KJA HDPE rata-rata memiliki umur di atas 25 tahun,” ujar Andi.

Budidaya ikan laut beralih ke offshore

Saat ini, salah satu tujuan dari KKP adalah untuk menggarap potensi budidaya ikan laut lepas (offshore). Laut lepas adalah laut dengan ketinggian ombak di atas 3 meter dan cuaca yang lebih ganas dari pesisir.

Menjawab tantangan tersebut, Andi mengatakan bahwa pihaknya saat ini telah memiliki teknologi KJA HDPE yang dapat digunakan di laut lepas. Kategori KJA ini dapat dibagi menjadi 2 yaitu kategori KJA offshore dan kategori KJA offshore submersible.

KJA offshore submersible (dalam keadaan terapung, Lokasi Situbondo)8.JPG

KJA offshore merupakan KJA HDPE dengan diameter dan ketebalan pipa yang lebih ditingkatkan dari KJA HDPE pada umumnya. Jikalau KJA HDPE pada umumnya memiliki nilai SDR (Side Wall to Diameter Ratio/Perbandingan Ketebalan Dinding Pipa dengan Diameter Pipa) berkisar 20, KJA offshore memiliki nilai SDR berkisar 17 sehingga memiliki ketebalan dinding yang lebih tebal.

Sebagai contoh, KJA HDPE diameter 25 meter pada umumnya memiliki diameter luar pipa 280 mm dengan nilai SDR 20 (ketebalan pipa 14mm), sedangkan KJA offshore diameter 25 meter memiliki diameter luar pipa 315 mm dengan nilai SDR 17 (ketebalan pipa 18,5mm).

Diameter luar pipa yang lebih besar dan ketebalan pipa yang lebih tebal memberikan kekuatan yang lebih pada KJA offshore untuk menghadapi ombak laut lepas hingga ketinggian ombak 5 meter (bukan ombak bergulung).

Kategori KJA offshore dengan tingkat teknologi yang lebih tinggi adalah KJA offshore submersible. KJA ini merupakan KJA offshore yang memiliki kemampuan untuk ditenggelamkan ke dalam air dan diapungkan kembali.

Dengan demikian, ketika badai akan datang, KJA ini dapat ditenggelamkan ke dalam air dan dapat diapungkan kembali setelah badai reda. Selama KJA offshore submersible berada di bawah air, KJA aman dari badai taifun sekalipun, sehingga mampu menghadapi ombak hingga ketinggian 9 meter. Untuk net memakai net klasifikasi tanpa simpul (knotless) dari serat Dyneema yang lebih kuat dari baja.

Hebatnya, KJA offshore submersible buatan dalam negeri ini mampu ditenggelamkan dan diapungkan kembali hanya dalam 15 menit sehingga merupakan yang tercepat di dunia untuk penenggelaman dan pengapungan. KJA ini telah sukses diuji coba bersama DKP Jawa Timur di Situbondo dan telah diekspor dua kali ke Hainan, China.

KJA offshore submersible (dalam keadaan tenggelam)

Tidak hanya itu, di mana produk KJA offshore submersible buatan luar negeri memiliki harga sangat mahal bahkan sampai puluhan miliar rupiah, jika dibandingkan dengan buatan dalam negeri ini dengan kualitas diakui dapat dibeli dengan harga hanya 1,6 miliar rupiah saja dan termasuk yang termurah di dunia saat ini.

Direktur Utama PT Gani Arta Dwitunggal Budiprawira Sunadim berharap agar produk dalam negeri bisa digunakan pemerintah untuk turut serta membangun industri perikanan budidaya laut lepas di Indonesia.

“Anak negeri kini sudah mampu menghasilkan teknologi kelautan dan perikanan modern yang bisa dibanggakan oleh Indonesia di kancah internasional. Apalagi jika didukung oleh negara, niscaya industri kelautan dan perikanan Indonesia akan mendominasi dunia,” ujarnya. (Adit)

Peralatan kolam ikan sistem resirkulasi

Kolam ikan sistem resirkulasi atau lebih dikenal resirculation aquaculture system (RAS) tengah naik daun. Pasalnya, kolam sistem ini memiliki beberapa keunggulan di antaranya adalah faktor lingkungan dapat dikendalikan, kualitas air terjaga, tidak mencemari lingkungan, dapat diintegrasikan dengan usaha lain misalnya hidroponik, menghemat penggunaan air, dan masih banyak lagi.

Pada kolam yang menerapkan sistem resirkulasi, air buangan yang berasal dari kolam atau tambak tidak dibuang, akan tetapi dialirkan kembali ke dalam kolam tersebut. Tentu saja, air yang dimasukkan kembali tersebut sudah mengalami beberapa tahap pengolahan. Hal ini untuk mengembalikan dan menjaga kualitas air sehingga diperoleh air yang memenuhi syarat-syarat untuk kehidupan ikan.

Kolam/ bak pemeliharaan ikan

Kolam ikan dirancang untuk memudahkan proses pemeliharaan ikan dan perawatan airnya. Kolam ikan dapat dibuat dari terpal, lapisan geomembran, semen, bio-concrete, atau lapisan lainnya yang kedap air. Perlu diketahui, bahwa masing-masing bahan tersebut memiliki  kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Terlepas dari jenis lapisan yang digunakan untuk dinding kolam, dasar kolam perlu mendapat perhatian yang cukup serius. Penampang dasar kolam sebaiknya dibuat miring menuju ke pusat kolam. Pada pusat kolam tersebut, dibuat central drain atau saluran pengeluaran air. Pada kondisi normal, saluran ini tertutup. Ketika proses penggantian air, saluran ini dapat dibuka untuk membuang air atau proses resirkulasi air.

Umumnya, posisi saluran pemasukan air diletakkan lebih tinggi dari permukaan air kolam sehingga memungkinkan terjadinya proses air terjun. Sementara itu, saluran pengeluaran air dibuat  pada bagian paling dasar kolam sehingga memudahkan pengeluaran bahan organik yang tenggelam.

Pompa

Pompa merupakan alat yang sangat vital, karena berfungsi untuk menaikkan air dari tempat yang lebih rendah. Dalam sistem resirkulasi, pompa digunakan untuk mengalirkan air buangan dari kolam menuju ke filter dan saluran pemasukan air kolam yang tempatnya lebih tinggi. Oleh karena itu, pemilihan spesifikasi pompa perlu diperhitungkan secara matang-matang. Selain spesifikasi dayanya yang diukur berdasarkan kemampuannya menaikkan air (head), pompa juga dipilih berdasarkan debit air yang dapat dialirkan. Biasanya, debit air dinyatakan dengan ukuran sekian liter per sekian waktu. Satuan yang lazim digunakan di antaranya yaitu liter/ jam. Dua parameter tersebut, mempengaruhi besarnya daya listrik yang dibutuhkan. Semakin besar keduanya, semakin besar daya listrik yang dibutuhkan.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Posisi Pas untuk Kincir dan Anco

Sekilas, memilih posisi kincir tambak dan anco tampak mudah dan asal saja. Padahal, posisi ikut menentukan prestasi produksi.

Dalam budidaya udang, keberadaan kincir tambak dan anco sudah menjadi kebutuhan. Tingkat penggunaan kedua peralatan tambak ini masih mendominasi, meskipun terdapat jenis peralatan lain yang memiliki fungsi sama.

Dalam budidaya intensif, terutama tambak dengan padat tebar udang yang tinggi, keberadaan kincir tambak diperlukan untuk menyuplai dan mendistribusikan oksigen ke seluruh lapisan air. Adapun anco digunakan sebagai wadah untuk pakan udang. Di sinilah udang menghabiskan waktu untuk menikmati makanan yang diberikan oleh petambak.

Kolaborasi kedua alat ini ternyata juga berpengaruh besar terhadap kesehatan lingkungan hidup udang, yaitu kualitas air. Tanpa perlakuan yang tepat, kualitas air menjadi lebih cepat turun. Jika difungsikan dengan baik, hasil produksi udang pun menjadi lebih baik. Salah satunya dengan meletakkan kincir dan anco di posisi yang tepat.

Sebaran kincir

Manajemen air yang buruk dapat menyebabkan kadar konsentrasi oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) tidak memadai. Akibatnya, konsentrasi amoniak, nitrit, hidrogen sulfida, dan karbondioksida pun menjadi berbahaya bagi kehidupan udang. Bahkan bisa berdampak pada kematian.

Penipisan kadar oksigen terlarut di dalam tambak dapat dicegah dengan aerasi. Di sinilah peran aerator dibutuhkan. Dengan melakukan aerasi secara terus-menerus, oksigen dapat disistribusikan ke seluruh lapisan air. Salah satu aerator yang popular dan menjadi andalan di kalangan petambak adalah kincir tambak atau paddle wheel aerator.

Selain ekonomis, kincir tambak lebih bertenaga dan efektif dipasang di kolam atau tambak, baik untuk ikan maupun udang. Kincir ini mampu meningkatkan kualitas oksigen serta mencegah dekomposisi anaerobik dari bahan organik yang menumpuk di dasar kolam  atau tambak. Selain itu, keberadaan kincir bisa mencegah stratifikasi termal.

Hal ini diakui oleh Eko Winasis, petambak udang dari Tembalang, Semarang. Menurutnya, kincir tambak memiliki putaran yang lebih kuat. “Kincir ini bisa diletakkan sesuai kebutuhan tambak, untuk daerah yang sudah dialiri listrik. Sementara untuk yang belum dialiri listrik biasanya menggunakan kincir rangkai bermesin diesel,” paparnya.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

Kincir pada Budidaya Udang

Penggunaan Kincir Paddle Whell dan Kincir berangkai Lpg pada budidaya udang vaname 

Budidaya udang merupakan budidaya potensial dalam akuakultur, apalagi jika berhasil memanen udang dalam ukuran besar. Untuk mendapatkan hasil seperti itu perlu mengoptimalkan luas tambak, jumlah tebar, kualitas benur, pemberian pakan, faktor lingkungan dan juga peralatan.

Koordinator  Instalasi Tuban, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Achmad Nur Mei mengungkapkan bahwa dirinya sudah setahun lebih membudidayakan udang vaname menggunakan peralatan kincir paddle whell.

Ada 12 kincir untuk luas 2.200 m dan 8 kincir luas 1.400 m, dengan padat tebar 150 ekor per m2 jenis kincir paddle whell yang digunakan yakni dengan 2 buah bilah 3 phase kekuatan 1 pk dengan daya 800 watt untuk tiap kincir.

Masalah yang sering timbul pada jenis kincir paddle whell seperti dinamo mati apabila bilah tersangkut benang yang menyebabkan oli merembes ke sirkuit listrik dinamo dan juga hubungan arus pendek, karena kabel konslet oleh air hujan.

“Solusinya, dinamo yang mati atau konslet digulung lagi, putaran gear dicek setiap siklus dan diadakan pengecetan ulang dan pembersihan gearbox dan dinamo dari karat setiap siklus,” tuturnya.

Selain itu perlu juga pengecekan gear, pembersihan gearbox dan dinamo, ganti oli dan pembersihan bilah kincir, pelampung dan papan dari lumut, karena ada perbedaan antara  dinamo yang terawat dan tidak terawat.

“Jika tidak terawat, dinamo dan gearbox akan cepat rusak dan terkena karat air laut dan cuma bisa digunakan pada 3-4 siklus pemakaian. Sedangkan  jika terawat dengan baik, kincir air bisa digunakan dari 10 hingga 12 siklus,” ungkap Nurmei.

Pembudidaya lain asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) – Sulawesi Selatan, Kamal awalnya mencoba budidaya udang windu tradisional karena dinilai cukup menjanjikan, namun sekitar 2003 budidaya udang windu mengalami masa sulit, karena serangan penyakit yang selalu ada sehingga menebar udang windu hanya sebagai tambahan polikultur dengan bandeng.

Memasuki tahun 2014 setelah melihat percontohan budidaya vaname yang dilakukan oleh Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, akhirnya Kamal pun beralih membudidayakan udang vaname semi intensif dan mendapatkan keuntungan.

Untuk jenis kincir, Kamal mengaku menggunakan kincir jenis berangkai lpg dengan 7 daun kincir setiap rangkaiannya, “kincir ini hemat dalam biaya produksi dan mudah operasionalnya sebab lpg mudah diperoleh,” Ungkapnya.

Selanjutnya baca di Majalah Info Akuakultur

Kenali Alat Produksi Fitoplankton

Memberikan pakan berkualitas adalah hal yang wajib diberikan untuk benih ikan maupun benur. Pakan yang diberikan dapat berupa pakan buatan (pellet) maupun pakan alami seperti fitoplankton dan zooplankton.
Perekayasa Madya Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon Umar Rifa’i mengatakan, pengunaan pakan alami pada unit pembenihan merupakan sumber pakan utama bagi larva-larva ikan laut. “Fitoplankton berfungsi sebagai sumber pakan utama untuk rotifer dan sebagai green water pada bak-bak pemeliharaan larva,” tambahnya.
Lanjut Umar, kebutuhan fitoplankon di BPBL Ambon diperuntukkan untuk beberapa jenis benih ikan yang telah berhasil dikembangkan seperti Ikan kerapu Bebek (Cromileptes altivelis), kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus), kerapu Sunu (Plectropomus leopardus), Kakap Putih (Lates calcarifer), Bubara/Kuwe (Caranx sp), dan Hias Laut (Nemo, Nemo Hybrid, Later Six, Mandarin Fish, Blue Devil).
Fitoplankton adalah organisme air yang berukuran kecil, melayang – layang mengikuti pergerakan air dan berupa jasad nabati. Ukurannya sangat kecil, tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Ukuran yang paling umum berkisar antara 2 – 200 µm (1 µm = 0,001 mm). Umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi ada juga yang membentuk rantai atau koloni. Meskipun ukurannya sangat halus namun bila mereka tumbuh sangat lebat dan padat bisa menyebabkan perubahan pada warna air laut yang bisa terlihat.
Fitoplankton merupakan jenis plankton yang umumnya beraktifitas pada pagi hingga siang hari. Hal ini dikarenakan fitoplankton merupakan jenis tumbuhan mikroskopis yang dapat berfotosintesis.
Fitoplankton sangat baik untuk makanan burayak dan benih ikan, udang, kepiting, serta kerang-kerangan. Selain disukai oleh ikan-ikan pemakan plankton, fitoplankton diperlukan juga oleh ikan-ikan dewasa seperti tambakan, mola, dan bandeng.
Beberapa jenis fitoplankton tersebut dapat dibudidayakan secara intensif dan massal. Jenis fitoplankton yang telah dapat dibudidayakan antara lain Skeletonema, Chaetoceros, Tetraselmis, Dunaliella, Isochrysis, Chlorella, Nannochloropis, dan Spirulina.
Pada prinsipnya, kedua jenis pakan baik itu pakan buatan maupun alami sama-sama memiliki nutrisi yang baik untuk pertumbuhan benih atau benur. Untuk mendapatkan pakan alami saat ini dirasa sangat sukar didapat, oleh sebab itu tidak ada salahnya untuk pembudidaya mencoba memproduksi pakan alami sendiri.

Selanjutnya Baca di majalah Info Akuakultur