Aquatec, Pionir Budidaya Lobster di Indonesia

Dedy H. Sutisna

Penulis adalah Dosen Sekolah Teknik Perikanan (STP)

 

Lobster merupakan salah satu komoditas yang masih menjadi primadona, lobster mutiara berukuran 1 kg ke bawah saja bisa dijual di pasaran dengan harga Rp. 600.000/kg, sedangkan lobster mutiara berukuran 1 kg ke atas bisa dijual dengan harga Rp. 1.200.000/kg.

Harga yang sangat mahal ini memberikan margin keuntungan yang sangat besar bagi pembudidaya lobster yang mampu menghasilkan lobster budidaya dengan kualitas tinggi, apalagi mereka yang mampu membudidayakan lobster ukuran di atas 1 kg.

Dengan diperbolehkannya budidaya lobster melalui Permen KP no. 12 tahun 2020, kini kesempatan untuk budidaya lobster terbuka bagi siapa saja. Bagaimana cara budidaya lobster?

Sebelumnya, mari kita tinjau kondisi budidaya lobster di Indonesia saat ini. Kerapkali di Indonesia, lobster dipelihara di keramba tradisional berbahan bambu dengan jaring berada dekat dengan permukaan air. Berada dekat dengan permukaan air, lobster sering merasa terganggu dengan aktifitas pembudidaya di keramba dan mogok makan.

Begitu hujan datang, sebagian besar bahkan hingga 70% dari lobster yang dipelihara bisa mengalami kematian karena salinitas air berkurang. Akibatnya, tidak ada pembudidaya di Indonesia yang bisa membesarkan lobster hingga 1 kg dengan menggunakan keramba tradisional berbahan bambu.

Umumnya lobster yang dibudidayakan di Indonesia hanya berukuran 150-300 gram saja. Sangat disayangkan, lobster yang merupakan komoditas bernilai tinggi menjadi tidak bisa untung karena metode yang digunakan salah dan fasilitas keramba tidak memadai.

Budidaya lobster bukanlah merupakan hal yang sulit, namun memerlukan kedisiplinan yang tinggi disertai dengan alat yang memadai. Untuk mempelajari cara budidaya lobster, Direktur Utama PT. Gani Arta Dwitunggal (Aquatec), Budiprawira Sunadim bersama dengan Ketua Hipilindo Effendi Wong, juga Prof. Dr. Ketut Sugama, M.Sc telah mempelajari teknik budidaya lobster secara mendetail di Vietnam selama 3 bulan.

Beberapa poin penting dari kunjungan tersebut adalah: 1) Lobster sangat sensitif terhadap perubahan salinitas perairan (apabila salinitas menurun, lobster akan membengkak dan mati), 2) Lobster senang bersembunyi di tempat yang gelap (dalam terumbu karang) dan sangat sensitif terhadap gerakan, 3) Lobster akan menyerang dan memakan sesamanya apabila tidak diberi pakan yang cukup dan segar.

Menanggapi poin 1 dan 2 akan pentingnya kestabilan salinitas air dan sifat lobster yang sensitif terhadap gerakan, pembudidaya di Vietnam mengakalinya dengan memelihara Lobster dalam kerangkeng yang dibenamkan di dalam air. Metode ini, yang disebut dengan metode kerangkeng terbenam, adalah metode paling modern yang menghasilkan survival rate terbaik berkisar 50-60% dari ukuran puerulus hingga di atas 1 kg, jauh lebih baik daripada menggunakan keramba tradisional berbahan bambu.

Metode inilah yang diadopsi dan disempurnakan oleh Aquatec. Aquatec menerapkan keramba modern berbahan HDPE metode kerangkeng terbenam, dengan dipelihara dalam kerangkeng terbenam, lobster senantiasa berada pada salinitas yang konsisten.

Apabila hujan datang, tidak ada lobster yang mati akibat perubahan salinitas dikarenakan perubahan salinitas hanya terjadi di permukaan air, tidak mempengaruhi ke dalam air. Lobster juga makan dengan lahap karena tidak terpengaruh aktifitas pembudidaya di keramba. Pipa keramba dilapisi anti-biofouling dan net kerangkeng terbenam mengandung anti-biofouling, sehingga tidak mudah ditumbuhi lumut dan teritip.

Dengan demikian, biaya maintenance menjadi ringan, teknologi ini merupakan yang pertama di dunia dan hanya ada di Aquatec. Keramba HDPE bisa bertahan di laut berombak hingga ketinggian 1,5 meter, dengan umur pakai 25 tahun.

Melalui 3 tahapan kerangkeng terbenam tersebut, survival rate akhir lobster dari puerulus hingga 1 kg adalah 80% x 80% x 80% = 51,2%. Angka ini didapat berdasarkan uji coba yang sukses dilakukan di Sumatera Utara, yang mana telah berhasil dilakukan panen lobster berukuran 1 kg yang dibesarkan dari puerulus. Dengan menggunakan metode kerangkeng terbenam dan sarana yang modern, tingkat kesuksesan budidaya lobster terukur dengan jelas, dengan waktu Break Even Point (BEP) 2 tahun.

Makanan yang cocok bagi lobster adalah ikan yang dicacah, udang kecil, dan kerang yang dihancurkan. Pemberian pakan dilakukan pada jam 4 sore dengan menggunakan selongsong, dan pembersihan sisa pakan dilakukan setiap pagi dengan cara diserok. Dengan FCR lobster berkisar 7-18 (FCR 7 untuk lobster pasir hingga berukuran 300 gram, FCR 18 untuk lobster mutiara hingga berukuran 1 kg), diperkirakan biaya pakan lobster hanya berkisar 20% dari harga jual lobster.

Dengan demikian, penjualan lobster masih menyisakan margin sebesar 80% untuk menyerap biaya operasional, dan pembudidaya masih berpotensi untuk menikmati 50% penjualan sebagai keuntungan. Hal ini membuktikan bahwa budidaya lobster memiliki potensi keuntungan yang luar biasa.

Berikut adalah kondisi air laut yang ideal untuk budidaya lobster:

Disediakan juga alat bantu katrol untuk mengangkat kerangkeng terbenam L, kompresor diving untuk membantu diver memeriksa kerangkeng terbenam, dan alat lainnya.

Saat ini, China dan Hongkong mengurangi impor lobster yang berasal dari Vietnam dikarenakan oleh isu lingkungan. Baru-baru ini, China dan Hongkong mengetatkan persyaratan impor lobster mereka.

Sebagian dari lobster yang dibudidayakan di Vietnam menggunakan keramba kayu dalam kondisi tercemar, sehingga terdepak oleh peraturan tersebut. Hal ini membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menggantikan Vietnam menjadi supplier lobster budidaya terbesar di dunia. Indonesia memiliki segalanya: benih lobster yang melimpah, air yang bersih, dan teknologi. Tunggu apa lagi? Mari berbudidaya lobster!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.