Teknologi Resirkulasi, Jadi Alternatif Budidaya Udang Vaname

Teknologi Resirkulasi, Jadi Alternatif Budidaya Udang Vaname

Oleh

Suprapto

Tim Teknis SCI Banyuwangi

 

Beberapa tahun terakhir ini, pembudidaya banyak yang mengalami kegagalan yang disebabkan oleh serangan penyakit baik viral maupun bakterial. Penyakit viral yang sering menjadi momok bagi petambak adalah white spot dan myo. Sedangkan penyakit bakterial yang banyak menimbulkan kegagalan adalah serangan penyakit kotoran putih atau white feces disease dan vibriosis yang sering berkolaborasi dengan pathogen lainnya.

Dulu banyak yang beranggapan bahwa penyakit disebabkan oleh satu macam pathogen. Namun belakangan ternyata serangan penyakit ditimbulkan oleh adanya ketidak seimbangan mikroba dalam ekosistem. Penyakit muncul akibat meningkatnya bakteri pathogen dan berkurangnya dominasi mikroba yang menguntungkan. Saat ini muncul konsep microbium (komunitas mikroba total dalam tubuh organisme) dan pathobium (mikroba pathogen).

Semakin beragam jenis mikroba yang ada dalam tubuh udang maupun dalam ekosistem perairan maka semakin mantab ekosistem tersebut, dan udang tidak mudah terserang penyakit. Namun bila terjadi goncangan kualitas air atau cuaca yang menyebabkan berubahnya komposisi mikroba maka dapat menyebabkan ketidak seimbangan ekosistem mikroba baik dalam perairan maupun dalam tubuh udang.

Teknologi Resirkulasi, Jadi Alternatif Budidaya Udang Vaname
Skema kolam budidaya yang menerapkan sistem resirkulasi (RAS)

Perubahan kualitas air laut atau air sumber yang lain menjadi salah satu pemicu minculnya penyakit. Perubahan kualitas air laut, maupun tawar tidak terlepas dari ulah manusia. Termasuk tambak yang membuang air tanpa melalui IPAL dan tidak sesuai dengan standar baku mutu air buangan.

Suatu ketika tidak terasa bahwa air yang kita ambil dari laut atau muara sungai tidak lebih baik daripada air buangan kita. Baik di di salah satu sisi  tetapi jelek di sisi yang lain. Bila kita terjebak dengan kondisi perairan yang sudah seperti ini maka memperbaiki air buangan kita untuk kita pergunakan lagi adalah solusi yang lebih baik. Dengan kata lain, kita mendaur ulang air buangan tambak untuk dipergunakan budidaya lagi. Teknologi ini dikenal dengan teknologi daur ulang air dalam budidaya atau istilah lain RECIRCULATING AQUCULTURE SYSTEM.

Resirkulasi bukan teknologi baru

Pada tahun 1995, serangan penyakit white spot dan Vibrio harveyi pada budidaya udang di tambak, luar biasa ganasnya. Sementara itu, untuk mendapatkan benih udang windu yang SPF sangat sulit dan terbatas jumlahnya. Sebagian besar usaha pembesaran udang windu di tambak mengalami kegagalan dan kerugian yang sangat besar. Banyak kejadian udang dipanen belum waktunya. Ukurannyapun tidak mencapai 10 gram, sehingga harganya sangat rendah. Biayapun tidak tertutup.

Penerapan tandon, penggunaan berbagai bahan kimia sebagai desinfektan di tambak sudah tidak bisa lagi diandalkan untuk mengendalikan penyakit. Hal ini menyebabkan sebagian petambak beralih membudidayakan udang jenis lain yaitu udang putih jenis udang jerbung dan udang peci. Udang jerbung (Penaeus indicus) dan udang peci (Penaeus merguiensis) digunakan sebagai spesies alternatif sebelum udang vaname (Litopenaeus vannamei)resmi diluncurkan. Selain itu, juga ada yang mencoba (Penaeus chinensis) meskipun dalam jumlah yang tidak banyak.

Selain mencoba jenis lain, untuk seleksi jenis udang yang lebih tahan penyakit, beberapa pembudidaya juga mencoba dengan teknik budidaya yang berbeda-beda. Ada yang mencoba dengan polikultur udang windu dengan ikan bandeng, udang windu dengan ikan nila dan ada juga yang mencoba dengan sistem tertutup, sedikit ganti air serta teknologi daur ulang atau resirkulasi.

Penerapan teknologi resirkulasi tampak memberikan harapan. Dari lahan yang ada hanya dimanfaatkan 50% untuk budidaya dan selebihnya digunakan untuk tandon treatment. Air buangan dari kolam udang diambil kembali dan dimasukkan ke dalam kolam pengendapan. Dari kolam pengendapan air masuk ke kolam perlakuan biologi yang berisi kekerangan dan ikan bandeng dan rumput laut jenis Gracillaria, selanjutnya air masuk ke tandon yang dipasang aerator untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut hingga mencapai sekitar 5 mg/L O2. Tandon yang dilengkapi dengan aeraator / kincir adalah tandon terakhir yang airnya siap dimasukkan ke kolam udang. Dengan teknologi ini tampak memberi harapan baru. Banyak yang menerapkan dan terbukti berhasil. Teknologi ini dipelopori oleh salah satu perusahaan pakan PT Central Proteina Prima yang dimulai pada tahun 1993.

Dari windu beralih ke vaname

Dengan masuknya spesies baru udang putih dari amerika Penaeus (Litopenaeus) vannamei, maka petambak beramai ramai menebar jenis udang yang baru tersebut. Udang vaname dikenal sangat bandel dan tahan penyakit. Awalnya padat tebar yang diterapkan 70 ekor/m2, umur 70 hari sizenya mencapai 70 ekor/kg dan harganya cukup mahal yaitu mencapai Rp 70.000. Sehingga dikenal dengan sebutan serba 70. Udang windupun ditinggalkan dan beralih ke udang vaname.

Bila udang vaname padat tebar 70 ekor/m2, peebaran udang windu hanya 30 – 35 ekor/m2. Jadi Cuma separo dari penebaran udang vaname. Bila udang windu produksinya berkisar 4 – 5 ton / ha saat itu karena banyak serangan penyakit, maka udang vaname bisa mencapai lebih dari 10 ton/ha. Adapun biaya produksi hampir sama. Dapat dikatakan budidaya udang vaname jauh ebih menguntungkan daripada udang windu yang banyaktantangannya.

Tambak yang diisi benih udang windu dan terserang penyakit, baik penyakit white spot maupun vibrio harvey, serta banyak kematian langsung ditebar benih udang vaname tanpa melalui proses pngeringan dan persiapan. Udang vaname yang ditebarpun panen sukses. Dengan kemudahan proses budidaya, yang awalnya padat tebar cukup 70 ekor/m2 petambak berusaha meningkatkan penebarannya menjadi 100 ekor/m2. Sukses dengan penebaran 100 ekor/m2,penebaran ditingkatkan menjadi 120 ekor/m2. Meningkatlagi ke 150ekor/m2 hingga 300 ekor/m2. Teknologi budidaya mulai ditinggalkan, tidak lagi menggunakan sistem resirkulasi, close system, tidak juga menggunakan tandon. Sistem budidayanya berubah ke Open system yaitu dengan melakukan banyak ganti air secara langsung dari air laut. Produksi pun bersaing ada yang 20 ton/ha dan ada yang hingga 50 ton/ha.

Vaname mengalami penurunan akibat serangan penyakit

Akhir-akhir ini banhyak petambak yang gagal akibat serangan penyakit. Penyakit yang menyerang diantaranya WFD, EHP, IMN, WS dan Vibriosis. Jenis bakteri yang sering menyerang udang terutama bakteri Vibrio parahaemolyticus. Gejala klinis yang tampak dilapangan antara lain, usus kosong, hepatopancreas pucat dan esofagus juga kosong. Udang yang terserang, mulai umur 2 minggu hingga mendekati panen, atau menyerang semua umur. Terjadi kematian, secara terus menerus. Bahkan diantara petambak ada yang kehidupan udangnya tinggal 25 atau 30% saja.

Serangan penyakit bisa disebabkan oleh satu patogen atau beberapa pathogen menyerang bersama-sama sehingga tingkat kematiannya cukup timggi. Serangan penyakit dipicu oleh goncang  kualitas air yang terjadi secara mendadak. Seperti kematian plankton, plankton yang terlalu pekat sehingga goncangan pH tinggi serta kebutuhan oksigen di malam hari tidak mencukupi. Penurunan total bakteri dan peningkatan populasi vibrio, yang sering ditandai dengan kurangnya busa yang muncul. Penggunan desinfektan dan imunostimulan serta penambahan vitamin dan mineral melalui pakan dapat mengurangi tingkat serangan. Penggunaan desinfektan dan feed additif akan menambah ongkos produksi. Untuk itu, perlu dipertimbangkan penggunaan obat yang benar-benar efektif.

Polikultur dan Resirkulasi, alternatif yang memberi harapan

Polikultur udang dan ikan nila telah lama diujicobakan. Polikultur udang windu dengan ikan nila tahun 1990an pada tambak semi intensif terbukti cukup sukses dan dapat terhidar dari serangan penyakit MBV serta vibrio. Demikian juga teknologi resirkulasi yang diterapkan pada pada udang windu di tahun 1993 hingga tahun 2000 dapat mencegah serangan penyakit white spot dan vibriosis.

Tahun 1995 hingga 1999, penulis telah menerapkan sistem resirkulasi pada budidaya udang windu, dengan memanfaatkan kekerangan (Crassostrea sp) dan ikan bandeng (Chanos chanos F) sebagai biofilter, sementara ditempat lain menggunakan ikan nila, bandeng dan keting. Semuanya berhasil baik dan mampu mendongkrak kondisi perusahaan yang hampir bangkrut menjadi berjaya kembali.

Uji coba yang dilakukan penulis penerapan polikultur udang vaname dengan ikan nila tahun 2020 juga memberikan hasil yang cukup memuaskan dan terhindar dari serangan penyakit WFD dan IMNV. Demikian juga aplikasi teknologi resirkulasi pada udang vaname yang menggunakan ikan nilasebagai biofilter pada penebaran akhir tahun 2021, dapat terhindar dari serangan vibriosis dan IMNV, sementara kolam lain yang menerapkan sistem biasa sejak 15 hari sudah terjadi kematian dan umur 40 hari sudah dikeringkan semua. Sementara yang menggunakan sistem resirkulasi hingga umur 60an masih selamat dan berlanjut tanpa kematian di dasar.

Ikan nila sebagai biomanipulator lingkungan

Penggunaan ikan nila baik yang menggunakan sistem resirkulasi maupun polikultur memiliki peran yang luar biasa. Hal ini sesuai dengan perilaku ikan nila yang dapat digunakan sebagai biomanipulator lingkungan.

  1. Ikan nia punya sifat suka mengaduk dasar tambak sehingga akan mencegah kondisi yang anaerob dan memudahkan proses biorimediasi.
  2. Ikan nila memiliki sifat filter feeder dalam mencari makan sehingga akan mengurangi plankton yang ukuran lebih besar dan plankton yang halus seperti Chlorella, akan lolos dan mendominasi. Hal ini akan membantu mensatabilkan kualitas air dan menekan popuasi vibrio.
  3. Ikan nila dapat memanfaatkan sisa pakandanmau makan plankton mati / kelekapsehingga mengurangi pencemaran air dan dasar tambak.
  4. Lendir ikan nila bersifat anti mikroba yang dapat mengurangi bakteri maupun virus.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.