Kipas G-16: Solusi Mudah dan Murah untuk Meningkatkan DO Serta menghemat listrik

Cara meningkatkan kadar oksigen terlarut di dalam air tambak adalah salah satu metode budidaya udang yang tak kalah wajib diketahui oleh para petani tambak udang. Berbicara tentang tambak udang tentu erat sekali kaitannya dengan sumber daya laut yang melimpah. Budidaya udang atau usaha tambak udang menjadi salah satu pilihan orang-orang Indonesia karena memiliki peluang omzet yang menjanjikan.

Sebab memiliki peluang omzet yang menjanjikan tersebut, oleh sebab itu terkait cara meningkatkan kadar oksigen terlarut di dalam air tambak juga merupakan hal penting yang wajib dikuasai oleh petani tambak udang. Dengan terjaganya kadar oksigen terlarut di dalam air tambak, menjadi parameter bahwa kualitas air di dalam tambak memang memiliki standar yang bagus. Salah satu cara meningkatkan kadar oksigen di dalam air yaitu dengan menggunakan kincir air.

Penggunaan kincir di dunia perikanan hingga saat ini terus berlanjut seiring dengan kemajuan teknologi. Selama ini kita sering menemukan perkembangan teknologi pada kincir air dimulai sejak adanya pemakaian kincir dompeng sampai dengan kincir yang menggunakan tenaga LPG serta tenaga surya.

Begitu pula dengan perkembangan teknologi pada sisi spare part-nya. Kita banyak menemukan set kincir yang menggunakan bevel gear maupun tanpa bevel gear. Sedangkan pada kipas kincir, selama ini kita hanya mengetahui bentuk kipas kincir yang seperti itu-itu saja, memiliki 8 helai daun kipas dan berwarna kuning. Namun baru-baru ini, PT. Maxima Arta Prima melakukan inovasi yang sangat revolusioner di bidang spare part kincir air yaitu dengan melakukan penambahan jumlah helai daun pada kipas kincir. Kipas kincir ini diberi nama G-16.

G-16 (Green – 16) adalah kipas kincir yang berwarna hijau serta memiliki 16 helai daun kipas, G-16 sudah dipatenkan di 7 negara termasuk dengan Indonesia. Dengan bentuk yang aerodinamis, G-16 disinyalir dapat membantu meringankan kinerja motor. G-16 mengibas air dalam 1 putaran penuh tanpa adanya celah yang besar di antara helai daun kipasnya. Sehingga G-16 dapat membantu meningkatkan DO dalam air dan juga membantu mengefektifkan pemakaian daya listrik sampai dengan 20%. Gelembung yang dihasilkan oleh G-16 pun relative lebih halus dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh daun kincir biasa. G-16 dapat digunakan untuk segala jenis dan type kincir air karena memiliki dimensi yang sama persis dengan kipas kincir pada umumnya. Memiliki diameter lubang as sebesar 250 mm dan diameter kipas kincir sebesar 650 mm. Kipas kincir G-16 juga memiliki bentuk yang senyawa (unibody).

 

 

Johan
Johan

Menurut Johan – Business Develoment Manager PT. Maxima Arta Prima (Equipment Division), “G-16 akan sangat membantu para petambak dalam hal penghematan cost listrik kincir air, karena dapat menurunkan Ampere listrik sampai dengan 20%”.

Kincir air dalam budidaya perikanan juga bukan hanya berfungsi agar adanya antisipasi dari kurangnya pasokan oksigen, tetapi juga agar ikan ataupun udang yang ditambak tetap hidup karena memiliki ekosistem yang disamakan dengan kehidupan aslinya.

 

 

 

Herman
Herman

Ali Suherman – Business Development Manager PT. Maxima Arta Prima (Equipment Division) menambahkan, bahwa dengan menggunakan G-16, DO akan lebih cepat naik. Dalam waktu 3 sampai 7 menit, kenaikan DO sangat signifikan apabila dibandingan dengan penggunaan kipas kincir biasa.

Selain itu, kincir air pada budidaya perikanan adalah cara antisipasi agar memberikan bantuan dalam menyatukan air dari tambak dan juga air dari ekosistemnya. Sehingga air yang diberikan untuk perawatan ikan dan udang yang akan dipanen memiliki lapisan air yang bisa dibilang relatif sama dan juga sesuai dengan yang aslinya.

Hal ini bisa dibilang sebagai cara untuk pembentukan kualitas air dalam melakukan pemupukan kualitas air yang stabil dan benar-benar dibutuhkan. Baik itu soal dari kecerahan air dan juga warna air yang menggunakan kincir akan lebih praktis. Di mana petambak tidak akan kesulitan untuk terus mengganti air tambak setiap harinya karena telah terjadi proses dari kincir air dalam mengolah kualitas air tersebut. Selain itu juga, biasanya petambak melakukan penyebaran pupuk yang dibutuhkan untuk men-stimulasi pertumbuhan plankton. Dengan G-16, penyebaran pupuk tersebut akan lebih menyeluruh dan juga merata tentunya. Dikarenakan G-16 dapat menghasilkan arus air yang lebih deras dan lebih jauh apabila dibandingkan dengan arus air yang dihasilkan oleh kipas kincir biasa.

G-16 merupakan solusi yang sangat tepat dan sangat mudah diterapkan untuk meningkatkan DO serta memperbaiki kondisi perairan pada tambak udang dan ikan. Karena hanya dengan mengganti kipas kincir, DO dan arus air akan meningkat.

Tabel 1: Perbandingan Ampere Listrik dan DO G-16 dengan Kipas Kincir Biasa

Time G-16 Kipas Kincir Biasa
Ampere DO Ampere DO
4,7 4,7
Start Awal 1,4 4,7 1,9 4,7
5 Menit 1,2 7,3 1,7 7,0
10 Menit 1,2 7,4 1,7 7,3
20 Menit 1,2 7,6 1,7 7,4

 

 

Imported & Distributed by:

Maxima Arta Prima

Galeri Niaga Mediterania II Blok N8-B

Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara

021-5884223/ 08970707077

Pertama di Indonesia Ekspor Perdana Keramba Jaring Apung Offshore Submersible AquaTec ke Negeri Tirai Bambu

Keramba jaring apung offshore submersible buatan anak bangsa berhasil menembus pasar China untuk menghadapi taifun di bulan Juli.

Pemecahan kendi agar sukses kedepannya
Pemecahan kendi agar sukses kedepannya

 

Dalam upayanya mengembangkan teknologi budidaya ikan di laut lepas, AquaTec tak henti-hentinya berinovasi. Perusahaan produsen peralatan kelautan dan perikanan terbesar di Indonesia itu kini telah berhasil menciptakan keramba jaring apung offshore submersible. Keramba jaring apung offshore submersible adalah keramba yang dapat ditenggelamkan sebelum badai datang dan dapat diapungkan kembali ketika cuaca sudah membaik. Oleh karena keramba ditenggelamkan di kedalaman 10-15 meter dari permukaan air, keramba jaring apung offshore submersible dapat bertahan di cuaca dengan ombak setinggi 11 meter. Selain itu, penenggelaman keramba juga dapat dilakukan untuk menghindari plankton booming dan pencurian. Keramba jaring apung offshore submersible merupakan solusi yang paling tepat dalam menghadapi tantangan-tantangan budidaya ikan di laut lepas dalam kondisi cuaca apapun, dan inovasi buatan anak bangsa dari AquaTec kini telah menembus pasar ekspor ke China.

 

Pertama dan Satu-satunya di Asia Tenggara

Pengemasan Barang ke Container
Pengemasan Barang ke Container

Selama ini, negara yang mampu memproduksi keramba jaring apung submersible hanyalah beberapa negara di Eropa. Kini dengan AquaTec, Indonesia menjadi negara pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara yang mampu memproduksi keramba dengan teknologi ini. Berbeda dengan produk keramba jaring apung submersible dari Eropa yang masih bergantung pada ketinggian permukaan air laut, kedalaman penenggelaman keramba jaring apung offshore submersible  AquaTec  berpatokan pada dasar laut, sehingga sangat akurat dalam proses penenggelaman maupun pengapungan kembali keramba, dan tidak bergantung pada ketinggian permukaan air laut yang selalu berubah karena pasang surut dan ombak.

Beberapa keunggulan keramba jaring apung offshore submersible AquaTec jika dibanding produk keramba jaring apung submersible dari Eropa adalah :

Keramba jaring apung offshore submersible Aquatec
Keramba jaring apung offshore submersible Aquatec
  1. Keramba jaring apung submersible paling simple di dunia
  2. Proses penenggelaman keramba hanya membutuhkan waktu kurang dari 5 menit dan dapat ditinggalkan, sedangkan proses pengapungan kembali keramba hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, menjadikan keramba jaring apung offshore submersible Aquatec sebagai yang tercepat di dunia untuk proses penenggelaman dan pengapungan. Terlebih, proses penenggelaman keramba tidak membutuhkan penyelam. Ketika ditenggelamkan, bentuk net keramba tetap bisa dipertahankan.
  3. Keramba jaring apung submersible paling murah di dunia ( <$ 100.000/unit)
  4. Satu satunya Keramba jaring apung submersible yang bisa dirakit langsung oleh pembudidaya (User Do It Yourself)

    Pemberangkatan Container
    Pemberangkatan Container

Keramba jaring apung offshore submersible AquaTec telah sukses diuji sebanyak 4 kali yaitu di Lampung dan di Bali dengan hasil yang memuaskan. Alhasil, investor pertama yang membeli keramba jaring apung ini adalah investor dari luar negeri, yaitu dari investor swasta dari China. Teknologi keramba ini sangat dibutuhkan di China dikarenakan kondisi cuaca laut di China yang sering terkena taifun dengan ombak setinggi 11 meter.

 

Kualitas Lebih Tinggi dari Eropa, Ekspor Perdana Ke China

Ekspor perdana keramba jaring apung offshore submersible AquaTec dilakukan pada tanggal 17 Juni 2017. Nantinya keramba ini akan dipasang di Provinsi Hainan-China, dan akan langsung menghadapi taifun di bulan Juli mendatang. Saat ini China membutuhkan banyak keramba jaring apung offshore seperti ini.

Direktur Utama PT. Gani Arta Dwitunggal menjelaskan, dirinya sangat bangga bisa menciptakan keramba jaring apung offshore submersible dan langsung mengekspor ke negara China. Harapan beliau adalah supaya keramba jaring apung offshore submersible AquaTec juga dipakai secara luas di Indonesia yang memiliki wilayah laut 70% dari total wilayah negara. Sebab Indonesia memiliki potensi budidaya ikan laut lepas yang besar, dan produk dalam negeri karya anak bangsa sanggup untuk menyediakannya. Budiprawira yakin bahwa produknya memiliki teknologi dan kualitas yang lebih tinggi dari Eropa, dengan harga yang jauh lebih ekonomis.

“Saya berharap pemerintah mau mendukung kemajuan teknologi buatan kami untuk memanfaatkan potensi laut lepas Indonesia. Di sini AquaTec memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari workshop, mesin pipa, mesin injection kapasitas 2000 ton, mesin ecowood, dan mesin pembuat jaring tanpa simpul (knotless) standar Jepang. AquaTec mampu menghasilkan teknologi kelautan dan perikanan modern yang bisa dibanggakan oleh Indonesia di kancah internasional. Apalagi jika didukung oleh negara, niscaya industri kelautan dan perikanan Indonesia akan mendominasi dunia.” ujarnya.

 

Video keramba jaring apung offshore submersible AquaTec dapat dilihat di www.youtube.com/c/aquatecindonesia dengan judul video “Offshore Submersible Cage Aquatec”

Informasi lebih lanjut dapat dilihat di www.aquatec.co.id/keramba-jaring-apung-submersible

 

 

Dinas Perikanan Belitung, Serius Kembangkan Kerapu

Didominasi oleh perairan laut, Dinas Perikanan Belitung serius kembangkan kerapu

Pembangunan perikanan sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Belitung mempunyai peran strategis dalam pencapaian visi “Terwujudnya Sumberdaya Perikanan dan Kelautan yang Lestari dengan Jasa-Jasa Kelautan yang Menjadi Sumber Penghidupan Sebagai Pilar Pembangunan Ekonomi Masyarakat yang Berkualitas dan Sejahtera “.

Ir. Destika Efenly, MM
Ir. Destika Efenly, MM

Kepala Dinas Perikanan Belitung Ir. Destika Efenly, MM mengatakan, program-program pembangunan perikanan akan diarahkan kepada terciptanya iklim usaha perikanan dan peningkatan partisipasi masyarakat.

“Secara khusus, usaha-usaha pembangunan perikanan diarahkan kepada usaha budidaya yang bertanggung jawab dan sustainable,” tegasnya.

Melihat kondisi geografis kabupaten Belitung yang sebagian besar didominasi perairan laut, Dinas Perikanan Belitung berimplikasi pada sistem usaha budidaya perikanan terutama mariculture yang selama satu dasawarsa terus dikembangkan.

Selain mariculture, ungkap Destika, budidaya ikan air tawar (Nila dan Lele) juga terus dikembangkan dengan memanfaatkan kolong ex tambang timah sebagai lokasi budidaya dengan sistem keramba jaring apung (KJA) konvensional maupun HDPE.

Menurut Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Belitung

Firdaus Zamri, S.Pi
Firdaus Zamri, S.Pi

hal ini seiring dengan bertambahnya jumlah pembudidaya yang mencapai 380 pembudidaya dengan rincian pembudidaya ikan air tawar 251 orang dan 129 pembudidaya kerapu.

“Dinas Perikanan Belitung terus mengembangkan dan intensifikasi budidaya baik laut maupun tawar,” kata Firdaus.

Destika melanjutkan, namun untuk peng

embangan budidaya air tawar perlu dipikirkan lebih lanjut karena melihat kondisi, harga dan pola kebiasaan masyarakat Belitung yang lebih dominan mengkonsumsi ikan laut daripada ikan air tawar yang menyebabkan stagnansi pasar ikan air tawar dan berdampak terhadap pola distribusi.

Beda dengan budidaya kerapu, kata Destika, yang semakin tahun semakin menggeliat karena didukung potensi wilayahnya yang dikelilingi perairan yang tenang. Berkat dukungan dari pemerintah daerah, telah berkembang segmentasi pembenihan yang dilakukan oleh Balai Benih milik Dinas Perikanan Belitung dan 5 unit HSRT yang berhasil memproduksi rata-rata 350 ribu ekor benih kerapu hybrid per tahun.

 

Tabel Produksi

Untuk produksi budidaya pada tahun 2016 ini, jelas Destika, mencapai 154,8 ton yang berasal dari Kerapu, Lele, Nila, Patin dan spat tiram mutiara. Dari angka produksi tersebut kontribusi terbesar adalah berasal dari budidaya kerapu yang mencapai 76 ton, kemudian disusul budidaya lele dan nila sebesar 74,9 Ton.

“Adanya pola kemitraan antara pembudidaya dan pengepul menjadikan usaha ‘high risk’ ini dapat terus berjalan dan menjadi mata pencaharian alternatif selain nelayan,” jelas Destika.

Komoditas Kerapu Dinas Perikanan Belitung

saat akan panen
saat akan panen

Saat ini ada 4 komoditas kerapu yang sedang dikembangkan di kabupaten Belitung yaitu Kerapu Macan, Kerapu Cantang, Kerapu Cantik, dan Kerapu Sunu. “Khusus untuk Kerapu Sunu masih mengandalkan tangkapan dari alam dengan menggunakan alat tangkap yang diperbolehkan (bubu) yang kemudian dibesarkan di dalam KJA,” ujar Firdaus.

Firdaus menjelaskan bahwa sentra budidaya kerapu di kabupaten Belitung menitik beratkan pada wilayah yang berpotensi menghasilkan pakan rucah dan sebagian dapat menunjang industri pariwisata bahari di kabupaten Belitung.

Wilayah yang dimaksud meliputi desa Keciput, Kec. Sijuk, Desa Tanjung Rusa, Lassar Kec. Membalong serta sebagian perairan barat kab. Belitung.

“Kedepannya kita akan menjadikan kabupaten ini menjadi sentra budidaya laut, khususnya kerapu di wilayah propinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui program Minapolitan berbasis Perikanan Budidaya, sehingga percepatan peningkatan produksi dalam sebuah sistem yang terintegrasi dari hulu sampai hilir dengan konsep pemberdayaan dan kemandirian masyarakat dapat segera terwujud,” papar Firdaus.

Penggunaan KJA HDPE Aquatec

aktivitas budidaya kerapu di Tanjung Rusa, Belitung
aktivitas budidaya kerapu di Tanjung Rusa, Belitung

Adapun luas lahan yang dipergunakan adalah 5,5 Ha untuk budidaya air tawar dan 1,8 Ha untuk budidaya Kerapu. “Dari segi penggunaan sarana budidaya KJA, kabupaten Belitung menggunakan KJA HDPE Aquatec. Dinas Perikanan Belitung sendiri memiliki 1.530 petak untuk KJA Laut yang terdiri dari 194 petak KJA HDPE Aquatec dan 1.336 petak KJA kayu,” kata Firdaus.

KJA HDPE Aquatec milik Dinas Perikanan Belitung merupakan murni Bantuan dari APBD dan APBN yang dialokasi di wilayah pengembangan.

“Kita sengaja memilih KJA HDPE Aquatec karena memiliki umur ekonomis yang panjang, tahan ombak, dan ramah lingkungan apabila dibandingkan dengan KJA kayu konvensional yang sarat akan bahan kayu yang semakin susah didapat,” terang Firdaus.

Selain itu, tambahnya, KJA HDPE Aquatec dinilai sangat cocok digunakan di perairan Dinas Perikanan Belitung, serta perawatan KJA HDPE Aquatec sangat mudah dan dapat dibongkar-pasang (knock-down), ditambah desain jaring pemeliharaan yang tidak memiliki simpul (knotless) dapat meminimalisir luka pada tubuh ikan akibat gesekan sehingga secara langsung mengurangi resiko penyebaran bakteri sekunder dan meningkatkan survival rate.

Firdaus menuturkan, sajauh ini tidak ada kendala berarti dalam pemeliharaan kerapu di daerahnya, hanya saja pembudidaya berharap adanya tambahan bantuan KJA HDPE dari pemerintah pusat.

Menurut informasi dari kelompok pembudidaya di daerah Tanjung Rusa, KJA HDPE Aquatec yang diberikan oleh DJPB tahun 2016 sangat membantu dalam keberlanjutan usaha. Karena pengepul meminta benih untuk ditambah, otomatis perlu adanya penambahan KJA. (ADV)

Kontak Dinas Perikanan Belitung

Jalan Dok Kelurahan Kota, Tanjungpandan, Belitung Kode Pos 33411

Telp. (0719) 21137 Fax. (0719) 21137

E-mail: [email protected] Website: belitungkab.go.id

Kontak PT. Gani Arta Dwitunggal – Aquatec

Kawasan Industri Batujajar Permai, Jl Raya Batujajar Km. 2.8 Padalarang, Bandung Barat 40553

Telp. (022) 6864016 Fax. (022) 6864015

Email: [email protected] Website: aquatec.co.id

Dari Aquatec, Untuk Indonesia!

Foto 3Memajukan perikanan budidaya Indonesia butuh peran setiap elemen, baik dari pemerintah, perusahaan swasta, akademisi, paraktisi, maupun masyarakat. Aquatec siap menjadi mitra untuk urusan penyedia sarana dan prasarana budidaya.

Awal Februari lalu, PT Gani Arta Dwitunggal produsen sarana kelautan perikanan dengan Merk Aquatec, menggelar workshop bertajuk “Membuat Keramba Jaring Apung Bundar Do It Yourself” langsung di pabriknya yang beralamat di Kawasan Industri Batujajar Permai Jl. Raya Batujajar Km 2,8 Padalarang-Bandung Barat.

Workshop ini dimaksudkan agar peserta yang hadir menyadari bahwa Indonesia sebagai salah satu Negara kepulauan terbesar di dunia perlu memanfaatkan potensi lautnya dengan menggunakan keramba-keramba jaring apung bundar. Dengan demikian, produksi di sektor perikanan budidaya air laut dapat ditingkatkan.

Owner PT. Gani Arta Dwitunggal Budiprawira Sunadim mengatakan, dengan kondisi laut begitu mendukung, Indonesia mempunyai potensi budidaya ikan yang nyaris tidak bisa diukur. “Pemanfaatan potensi membutuhkan partisipasi swasta dengan didukung oleh pemerintah,” ujar Budiprawira.

Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar, memiliki garis pantai 95.000 km. Ini merupakan 3 kali lipat dari China yang hanya memiliki garis pantai 30.000 km. Selain itu, Indonesia punya luas ZEE 6.159.000 km2, sedangkan China hanya memiliki luas ZEE 877.000 km2. Namun, dalam hasil produksi, Indonesia baru menghasilkan ikan budidaya 3.100.000 ton/tahun, sedangkan China sudah mampu menghasilkan ikan budidaya 39.000.000 ton/tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan laut Indonesia masih jauh tertinggal oleh China. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini terjadi karena jumlah keramba jaring apung yang digunakan di Indonesia baru 30.000 unit, sedangkan di China sudah mencapai 1.500.000 unit.

Foto 5 aDari realita tersebut, perikanan budidaya China merupakan yang terdepan karena mereka dapat memaksimalkan pemanfaatan laut untuk perikanan budidaya menggunakan keramba jaring apung. Melalui workshop ini, Aquatec ingin pembudidaya dapat memanfaatkan potensi laut Indonesia dengan membuat keramba jaring apung bundar sendiri. Dengan mengajarkan cara membuatnya, harga keramba dapat ditekan sehingga keramba jaring apung bundar dapat tersebar lebih banyak, dan Aquatec siap menjadi mitra.

General Manager PT Gani Arta Dwitunggal Andi J. Sunadim mengatakan, Aquatec memiliki teknologi penyambungan pipa butt fusion extra dimana ketebalan sambungan pipa 2 kali lebih tebal daripada yang biasa, sehingga 2 kali lebih kuat. Selain itu, penyambungan ini juga dilengkapi dengan 2 membran anti bocor sehingga pipa aman dari kebocoran. Penghubungan pipa dapat dibongkar pasang sehingga proses perangkaian menjadi mudah.

Selain Andi, hadir juga dua pembicara lain seperti Peneliti Ikan Tuna Litbang KKP Agus Cahyadi, S.Pi, M.Si., yang membawakan materi penerapan keramba jaring apung bundar dan sistem tuna pakan mandiri (TPM). Selain itu hadir Sekjen Dewan Kelautan Indonesia Dedy H. Sutisna, MS, yang membawakan materi implementasi produk terapung Aquatec menjadi destinasi wisata.

Respon dari peserta rupanya sangat baik. Kepala Bidang Perikanan dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kab. Bandung Barat Chandra Suwarna mengatakan, workshop yang dilaksanakan oleh PT Gani Arta Dwitunggal sangat baik. Pembangunan perikanan membutuhkan inovator dan investor seperti yang dilakukan oleh PT Gani Arta Dwitunggal.

Lanjut Chandra, produk yang dihasilkan oleh PT Gani Arta Dwitunggal memang merupakan produk yang dibutuhkan masyarakat perikanan, yaitu sarana dan prasarana yang sangat high technology.

Setelah paparan, Aquatec mengajak para peserta untuk melihat dapur pembuatan keramba jaring apung. “Dari situ kita melihat pemilihan bahan yang ketat dan komposisi bahan yang digunakan, yaitu bahan prime grade sehingga tak heran hasilnya sangat bermutu,” ungkap Chandra.

Senada dengan Chandra, Farm Manager Indonesia Mariculture Industries Abdul Latif menjelaskan, workshop ini sangat bermanfaat terutama bagi pelaku budidaya, sehingga kita mengetahui bahan pembuatan keramba serta cara membuat keramba jaring apung.

“Produk-produk Aquatec sangat inovatif dan sangat diperlukan untuk perikanan budidaya Indonesia. Saya harap ke depannya acara workshop ini akan terus ada,” tambah Abdul.

Perwakilan Akademisi yang hadir Andi Yuslim Patawari mengungkapkan sebagai anak bangsa sangat bangga dengan produk dalam negeri ini. “Ini bukan hal yang mudah dan murah, karena produk Aquatec memerlukan ide serta penelitian, dan negara harus bangga akan ini,” jelas Yuslim.

Kepala Bidang Pengujian dan Dukungan Teknik Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, Yulianto. ST menuturkan bahwa produk Aquatec sudah banyak dimanfaatkan di lapangan dengan baik. “Saya berharap ke depan Aquatec terus berinovasi mengikuti kebutuhan para pelaku budidaya yang selalu berkembang serta menjalin komunikasi, koordinasi, kerja sama, dan komitmen demi keberhasilan budidaya,” tambahnya.

Hadir pula perwakilan dari Maluku dan Maluku Utara yang antusias mengikuti workshop. Pangdam Patimura, Bapak Hendri mengatakan, workshop ini merupakan ajang silaturahmi sekaligus berterima kasih kepada Aquatec atas kerja sama yang telah dijalin dalam mengembangkan perikanan budidaya demi mensejahterahkan rakyat di Maluku.

Setelah workshop ini, Budiprawira berharap akan terus terjalin komunikasi dengan beberapa stakeholder terutama mereka yang sudah datang dari jauh. Melalui workshop diharapkan mereka dapat membuat keramba jaring apung sendiri dengan biaya terjangkau. (Adit/Resti)

Informasi selengkapnya dapat dilihat di www.aquatec.co.id

Aquatec Gelar Workshop “Membuat Keramba Jaring Apung Bundar Do It Yourself”

Dengan Aquatec, Membuat Keramba Jaring Apung Bundar Dapat Dilakukan Sendiri
Untuk mendukung program pemerintah dalam menggalakkan industri perikanan budidaya kakap putih di tahun 2017, dibutuhkan keramba jaring apung (KJA) dalam jumlah besar dan memiliki kualitas yang sudah teruji. Aquatec sebagai pionir keramba jaring apung bundar di Indonesia pada awal Februari mendatang akan menggelar Workshop yang bertajuk “Membuat Keramba Jaring Apung Bundar ‘Do It Yourself’” pada tanggal 6 Februari 2017. Keramba Jaring Apung Bundar HDPE Aquatec sudah teruji kekuatan dan ketahanan ombaknya, dan sangat cocok digunakan untuk budidaya kakap putih. Produk ini sudah banyak dipakai di berbagai balai penelitian di Indonesia maupun swasta.
Workshop kali ini cukup unik, karena digelar langsung di pabrik PT Gani Arta Dwitunggal yang terletak di jalan Raya Batujajar Km 2.8 Padalarang, Bandung Barat. Perserta akan diperlihatkan dan diajarkan bagaimana proses membuat KJA bundar berstandar SNI. Tujuan dari workshop ini adalah untuk mendorong munculnya pengusaha-pengusaha KJA bundar di daerah-daerah.
Selain General Manager PT. Gani Arta Dwitunggal Andi J. Sunadim sebagai pembicara dan tour guide saat kunjungan ke pabrik, hadir pula pembicara yang tentunya berkompeten di bidangnya yang akan memberikan paparan terkait keramba jaring apung bundar.
Pembicara yang hadir seperti Prof. Dr. Ketut Sugama, M.Sc (Ahli Peneliti Utama Badan Litbang Kelautan dan Perikanan) yang akan membawakan materi tentang “Evolusi Keramba Jaring Apung HDPE”, Dr. Ir. Dedy Sutisna, Ms (Sekjen Dewan Kelautan Indonesia) yang akan membawakan materi tentang “Keramba Jaring Apung Untuk Pariwisata”, dan Agus Cahyadi, S.Pi M.Si (Peneliti Ikan Tuna Litbang KKP) yang akan membawakan materi tentang “Penerapan Keramba Jaring Apung Bundar Dan Tuna Pakan Mandiri Di Balai Perekayasaan Wakatobi” turut meramaikan acara tersebut. Setelah itu, akan dilakukan praktek lapangan teknik penyambungan pipa metode butt fusion dan perangkaian keramba jaring apung akan dibimbing oleh R & D Aquatec.
Pada workshop kali ini Aquatec juga akan mengajarkan kepada para peserta mengenai ilmu dasar dan pengenalan konstruksi keramba jaring apung bundar, pengenalan bahan polyethylene, penghitungan daya apung keramba, teknik penyambungan pipa metode butt fusion, teknik perangkaian keramba jaring apung menjadi produk yang siap digunakan, dan pembahasan SNI KJA Bundar. Pembahasan akan dilakukan secara mendetail dan menyeluruh sehingga pelaku budidaya ikan dapat membuat keramba jaring apung bundar sendiri di lapangan dengan menyuplai dan menyambung sendiri pipa polyethylene sebagai alat apung. Dengan demikian, biaya pembuatan KJA dapat ditekan hingga 30% atau bahkan lebih, terutama untuk daerah Indonesia Timur.
Tidak ketinggalan pula akan dibahas inovasi-inovasi terbaru Aquatec yang dapat diterapkan di keramba jaring apung bundar. Fasilitas workshop mencakup free lunch, sertifikat, dan goodie bag.
Peserta yang diundang adalah dari kalangan pelaku budidaya, BUMN, Kementerian/Lembaga bidang Kelautan, dan Kemendesa. Target peserta adalah 30 orang. Diharapkan dengan adanya workshop ini para pelaku budidaya ikan di Indonesia menjadi sadar bahwa membuat keramba jaring apung bundar itu mudah dan bisa dilakukan oleh siapa saja dengan biaya terjangkau, dan dengan kualitas standar SNI.
Sudah saatnya seluruh stakeholder bergandeng tangan untuk sama-sama memajukan perikanan budidaya Indonesia.
Formulir keikutsertaan workshop dapat didownload di www.aquatec.co.id/news diemailkan/dikirimkan paling lambat 30 Januari 2017 ke [email protected] atau ke Jalan Raya Batujajar Km 2.8 Padalarang, Bandung Barat.
Informasi lebih lengkap dapat menghubungi Elga 0822 1701 8008.

Ambon Punya Bubara!

Foto 4Tumbuh lebih cepat, Bubara pilihan tepat.
Komoditas andalan perikanan budidaya Indonesia kini sudah semakin bervariasi. Meskipun mayoritas masih dipegang rumput laut dan udang vaname, namun di beberapa balai perikanan pemerintah sudah dikembangkan komoditas-komoditas ‘kuda hitam’ yang juga punya potensi menjanjikan.
Jika di BPBL Batam ada bawal bintang, BPBL Situbondo dengan kerapu hybrid-nya, di BPBL Ambon kini sedang dikembangkan budidaya ikan bubara atau ikan kuwe.
Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, Tinggal Hermawan, S.Pi, M.Si., mengatakan saat ini untuk pasar ikan bubara (hidup) di Ambon, didominasi oleh permintaan rumah makan, jumlah mencapai 400 kg/minggu/rumah makan. Harga jual sekitar Rp. 60.000 – 70.000/kg.
“Prospek budidaya ikan bubara pada saat ini dinilai sangat menguntungkan, dengan permintaan benih yang tinggi khusus dalam negeri,” tambah Tinggal.
Untuk itu, kata Perekayasa Muda atau Penanggung Jawab Induk Divisi Pembenihan BPBL Ambon, Heru Salamet, M.Si., BPBL Ambon memprioritaskan kegiatan saat ini adalah memproduksi benih ikan bubara yang sampai saat ini mencapai 40.000 ekor/siklus dan sudah kontiyu dan produksi benih clownfish mencapai 20.000 ekor/bulan.
Selain itu, ikan bubara memang dikenal karena rentang waktu pemeliharaan pembesaran lebih pendek (5 bulan) jika dibandingkan dengan komoditas lainnya menjadikan ikan bubara ini layak untuk dikembangkan.
BPBL Ambon sebelumnya, secara bertahap telah berhasil meningkatkan produksi benih kerapu bebek, kerapu macan, budidaya udang vaname di keramba jaring apung (KJA), sehingga secara pasti akan mampu memenuhi di wilayah kerjanya.
Saat ini juga BPBL Ambon sedang mengembangkan ikan kerapu kertang, kerapu sunu dan menambah jenis koleksi laut lainnya yakni pengembangan ikan hias laut dan pemijahan berbagai jenis ikan hias laut yang hampir punah.
“Berbagai capaian prestasi dari BPBL Ambon diantaranya sebagai penghasil telur kerapu bebek terbaik di Indonesia,” tambah Tinggal.
BPBL Ambon sendiri merupakan salah satu unit pelayanan teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) yang berlokasi di Ambon atau di wilayah timur Indonesia, bagian kerjanya dari mulai Sulawesi sampai ke Papua.
Heru menuturkan, BPBL Ambon telah melakukan berbagai perekayasaan diantaranya produksi benih ikan, rumput laut maupun pembesaran ikan konsumsi. Hasil kegiatan perekayasaan tersebut telah di implementasikan di masyarakat melalui kegiatan diseminasi.
“Semua kegiatan tersebut pada dasarnya diarahkan untuk menjadi bahan kebijakan dalam mengembangkan budidaya laut khususnya di wilayah indonesia Timur maupun di Indonesia pada umumnya,” papar Heru.
Pembenihan dan Pembesaran di Keramba Jaring Apung HDPE Aquatec
Balai perikanan yang menjadi kiblat di timur Indonesia ini sudah melakukan pengembangan pembenihan ikan bubara pada tahun 2012 dan keberhasilan pembenihan massal dicapai pertengahan tahun 2016 ini.
Saat ini, jelas Heru, benih ikan bubara yang dihasilkan, sudah terdistribusi pada kelompok pembudidaya melalui program bantuan benih. “Menurut pembudidaya benih ikan bubara yang berasal dari BPBL Ambon, memiliki pertumbuhan yang cepat dengan SR yang cukup tinggi,” pungkas Heru.
Kegiatan pembenihan ikan bubara dimulai dengan melakukan seleksi induk sehat dan tidak cacat. Perbandingan induk jantan dan betina yang digunakan adalah 1 : 1.
Induk yang akan dipijahkan dipindahkan dari keramba HDPE Aquatec ke bak induk. Induk bubara memijah ketika bulan terang sekitar tanggal 14 – 15 bulan hijriah. Prosedur kanulasi dilakukan pada induk yang akan dipijahkan, untuk mengetahui tingkat kematangan gonad (TKG) yang optimal.
Induk disuntik menggunakan hormon sebanyak 2 kali, dan induk akan memijah. Selama masa pemeliharaan, induk diberikan pakan ikan rucah dan beberapa multivitamin. Telur dipanen pada pagi hari dan ditetaskan di bak pemeliharaan larva hatchery indoor.
Pada saat pembesaran, ikan bubara akan diletakan di keramba HDPE. Selain memiliki pertumbuhan yang relatif singkat, ikan ini juga memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan, mudah mendapat bibit dari alam sehingga teknik budidaya sederhana serta perawatan dan tahan terhadap penyakit.
Budidaya ikan khususnya ikan bubara di keramba HDPE merupakan salah satu usaha yang sangat prospek untuk dikembangkan di Indonesia mengingat potensi lahan perairan dan ikan masih sangat besar.
Menjawab tantangan teknologi pembesaran ikan laut saat ini yang semakin berkembang maka diperlukan sarana dan prasarana keramba jaring apung yang modern, bertujuan untuk lebih meningkatkan efisiensi dan efektifitas budidaya sehingga kegiatan pembudidayaan atau pembesaran semakin kompetitif, ekonomis dan menguntungkan untuk diusahakan.
Saat ini BPBL Ambon memiliki 80 lubang keramba jaring apung HDPE Aquatec untuk pemeliharaan semua komoditas. Menurut Tinggal, keramba HDPE Aquatec merupakan andalan BPBL Ambon karena sudah sangat teruji kualitasnya dan terbukti tahan lama.
“Hal yang menjadikan kami memilih keramba jaring apung Aquatec ini karena perawatannya yang mudah sehingga sangat efisien dalam hal cost perawatan dan waktu, dan tahan ombak” ujar Tinggal.
Selain itu, keramba jaring apung Aquatec juga menggunakan jaring tanpa simpul (knotless) standard Jepang yang halus. Dengan jaring tanpa simpul, sisik ikan terjaga sehingga Survival Rate (SR) ikan juga meningkat.
Kondisi ini merupakan peluang yang terus dimanfaatkan oleh BPBL Ambon guna menjadikan komoditas ini sebagai andalan hasil perikanan budidaya serta meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir, nelayan, masyarakat pembudidaya dan para pelaku bisnis perikanan. (Adit/Resti)

Aquatec Siap Majukan Industri Kakap Putih Indonesia

IMG_8464Peran anak bangsa memajukan perikanan budidaya kakap putih Indonesia
Kakap putih, ikan yang mendapatkan julukan sebagai ‘Salmon Asia’, merupakan komoditas unggulan Indonesia untuk industrialisasi budidaya perikanan. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kakap putih memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan salmon dan memiliki pasaran yang sangat luas, baik ekspor maupun lokal. Saat ini, pasaran ekspor kakap putih dalam bentuk fresh atau frozen terbuka di USA, Uni Eropa, Australia, dan Asia.
Hal ini ditegaskan oleh Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) yang menggelar workshop bertemakan “Membangun Industri Barramundi Nasional” di Jakarta 9 Desember lalu, juga oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) yang merencanakan pembangunan budidaya ikan dengan metode keramba jaring apung (KJA) lepas pantai atau KJA Offshore tahun 2017 di tiga lokasi yakni Karimun Jawa Provinsi Jawa Tengah, Pantai selatan Jawa, dan Sabang Provinsi Aceh.
Pembangunan KJA Offshore ini bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan potensi lahan budidaya laut di Indonesia, dimana diketahui bahwa potensi budidaya laut yang tergarap baru dua persen dan saat ini didominasi oleh kekerangan (62%) dan kerapu (25%). Produksi kakap putih baru mencapai 8%.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan, ada lima manfaat pembangunan KJA Offshore, yaitu untuk meningkatkan pemanfaatan lahan, meningkatkan produksi ikan budidaya, meningkatkan nilai tambah melaui processing, diseminasi teknologi budidaya ikan modern lepas pantai kepada masyarakat, penyerapan tenaga kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Berdasarkan statistik perikanan budidaya, data sementara produksi ikan kakap putih pada tahun 2015 mencapai 2,292 ton. Diharapkan dengan adanya KJA Offshore ini dapat memberikan kontribusi produksi yang signifikan lebih dari tahun-tahun sebelumnya.
General Manager PT. Gani Arta Dwitunggal (produsen KJA Aquatec) Andi J. Sunadimmengatakan, Aquatec telah sukses mendukung budidaya ikan kakap putih di Indonesia selama 10 tahun terakhir dan siap mendukung program-program pemerintah untuk budidaya kakap putih Indonesia di masa depan, dengan menyuplai KJA offshore buatan dalam negeri. Saat ini pihaknya telah memiliki produk keramba yang mampu bertahan di ombak 6 meter, yang dinamakan KJA heavy duty.
Sebagai penyedia KJA No. 1 di Indonesia, produk KJA Aquatec sendiri sudah banyak digunakan balai-balai perikanan milik pemerintah untuk budidaya kakap putih. Tercatat beberapa balai seperti Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, dan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung untuk budidaya kakap putih.
Kepala BBPBL Lampung Mimid Abdul Hamid mengatakan, potensi kakap putih di Indonesia cukup besar karena teknologi budidaya telah dikuasai, demikian juga dengan potensi budidaya dan pasar.
Kakap putih dapat dibudidayakan di KJA pantai, tambak dan KJA Offshore. Potensi tambak di Indonesia cukup besar, kata Mimid, kakap putih sangat dimungkinkan sebagai komoditas alternatif selain udang.
Melihat potensi perairan laut Indonesia yang dinilai cocok untuk budidaya kakap putih, Mimid mengungkapkan, penggunaan KJA yang tepat harus diperhatikan agar aktivitas budidaya aman dan efisien.
KJA Aquatec telah digunakan di BBPBL Lampung sejak tahun 2011. Mimid menambahkan, Penggunaan KJA Aquatec tidak hanya untuk kakap putih, melainkan komoditas lain seperti Kakap Merah, Kerapu Bebek, Kerapu Macan, Bawal Bintang, Cobia, Kerapu Kertang dan budidaya Udang Vaname di KJA.
Menurut Mimid, produk KJA hasil karya anak bangsa ini memiliki bermacam-macam produk (bentuk) yang dapat dipilih menyesuaikan kondisi lokasi setempat, menggunakan bahan ramah lingkungan, berkualitas tinggi, dapat dibongkar pasang dan didesain memiliki kelenturan terhadap ombak di laut. Salah satunya adalah KJA submersible yang dapat ditenggelamkan dan diapungkan kembali sehingga tidak terpengaruh dengan cuaca laut, yang saat ini terpasang di BBPBL Lampung.
Senada dengan Mimid, Dony Prastowo Perekasaya BPBAP Situbondo juga menjelaskan mengenai budidaya kakap putih. Menurutnya, potensi kakap putih sangat bagus karena teknologi produk dimulai dari induk sampai pembesaran telah tersedia, serta kebutuhan pasar untuk kakap juga sangat tinggi.
Oleh sebab itu, kata Dony, masyarakat perlu mencoba budidaya kakap putih sebagai diversifikasi budidaya ikan laut karena pasar kerapu sedang lesu, sehingga perlu dikembangkan budidaya kakap putih.
Dalam budidaya kakap putih, sangat perlu diperhatikan media pemeliharaannya yaitu KJA. Di BPBAP Situbondo, kata Dony, sudah menggunakan KJA Aquatec untuk budidaya ikan laut seperti kakap putih.
“KJA Aquatec kita gunakan karena memang sudah terbukti ramah lingkungan, tahan menghadapi ombak ketinggian 3 meter, angin musim barat dan timur serta konstruksinya mudah untukdirawat,” jelas Dony.
Tidak jauh berbeda dengan Dony, Koordinator Pembesaran KJA BPBL Batam Sahidan Muhlis mengatakan, selama berbudidaya sampai saat ini KJA Aquatec masih teratas dalam hal kualitas dan daya tahan dibandingkan KJA HDPE yang sejenis.
Apalagi semakin kesini, tambah Muhlis, inovasi teknologi dan perbaikan-perbaikan ke arah yang lebih maju semakin dikembangkan oleh Aquatec. Hal mendasar KJA selain ramah lingkungan, harus mudah dioperasikan dan perbaikan.
“Saya berharap pihak perusahaan tidak berhenti terus berinovasi dan meningkatkan pelayanan purna jualnya,” jelas Muhlis.
Produksi ikan kakap putih di dalam negeri, kata Muhlis, memang masih terbatas. Tetapi jika pemerintah bersama para stakeholder serius dalammemperhatikanserapanpasar, niscayaproduksiakanmeningkatdengantajam. (Adit)

Konsisten Produksi Benur Berkualitas

Foto 4 Untuk membangun sebuah perusahaan hatchery berskala besar tidaklah mudah, dibutuhkan banyak komponen yang harus dipenuhi. Mulai dari lahan yang luas, fasilitas yang lengkap sampai tenaga ahli dalam setiap bidang yang dibutuhkan.
PT Esaputlii Prakarsa Utama berhasil menjawab semua tantangan untuk menjadi perusahaan hatchery yang fokus memproduksi benur berkualitas. Wakil General Manager PT Esaputlii Prakarsa Utama Ir. Tuwuh Tamid mengungkapkan, Perjalanan untuk menjadi besar sangat berat, pasang dan surut ombak harus dilewati dari mulai berganti-ganti nama perusahaan sampai pemilik saham, namun itu semua berhasil teratasi.
Berdiri sejak tahun 1984, PT Esaputlii Prakarsa Utama pada saat itu masih bernama PT Ebar Jaya yang mengelola usaha penggelondongan benur yang memasok produksi benur dari PT Mega Mariculture, Kep. Seribu, Jakarta.
Seiiring berjalannya waktu, pada tahun 1986 PT Ebar Jaya kemudian berganti nama menjadi PT Bidadari Laut dengan tiga orang pemegang saham yaitu Drs. H. Eddy Baramuli, Rita Baramuli dan Tejo atau David. PT Bidadari Laut sendiri pada saat itu beroperasi sebagai pembenihan udang windu.
Tidak sampai di situ, PT. Bidadari Laut pada tahun 1989 kembali berganti nama menjadi PT Mutiara Samudera Fishery Industries dengan pemilik saham tunggal sepenuhnya oleh Drs. H. Eddy Baramuli.
Lalu pada tahun 1998 melalui Akte Notaris Sitske Limowa No. 62 tahun 1998, PT Mutiara Samudera Fishery Industries berubah nama menjadi PT Esaputlii Prakarsa Utama dan tetap mempertahankan nama dagang “Benur Kita”.
Kegiatan budidaya
Foto 3Saat ini PT Esaputlii Prakarsa Utama tidak hanya memproduksi benur udang vaname saja, tetapi juga nener bandeng. “Komoditas andalan kami saat ini adalah memproduksi benur udang vaname dan nener bandeng unggulan,” jelas Tuwuh.
Berbagai macam kegiatan budidaya dilakukan di hatchery yang terletak di jalan Poros Makassar, Parepare Km. 138, Kab. Barru ini. Kegiatan tersebut meliputi pembuatan Naupli dalam bak induk, pemeliharaan larva vaname, Tambak Percontohan Supra Intensif dari hasil produksi benur udang vaname dan produksi nener bandeng.
Perjalanan panjang yang sudah dilalui membuat PT Esaputlii Prakarsa Utama semakin matang dan sudah banyak dikenal baik dari kalangan pembudidaya, pengusaha, bahkan kalangan pemerintahan. Hal tersebut, kata Tuwuh, terlihat dari beberapa kerja sama dengan pemerintahan guna terus menjaga standar kualitas produksi.
Bentuk kerja sama dengan pemerintah tersebut seperti dengan Balai Karantina Makasar yang memberikan pengawalan terhadap induk yang datang dari Hawaii, mulai dari bandara sampai ke lokasi hatchery PT Esaputlii Prakarsa Utama.
Kemudian Balai Karantina senantiasa melakukan pengawasan terhadap indukan sampai dinyatakan lolos uji PCR di laboratorium Balai Karantina Makasar, yang dinyatakan dengan surat atau sertifikat lolos uji PCR.
Untuk terus menjaga standar kualitas benur, Tuwuh menjelaskan, Balai Karantina Makasar melakukan uji PCR secara rutin (setiap bulan) terhadap produk hatchery mulai dari Naupli, Zoia, Mysis, dan Post Larva di “Benur Kita” PT Esaputlii Prakarsa Utama.
Tidak sampai di situ, PT Esaputlii Prakarsa Utama terus menjalin kedekatan dengan para pembudidaya udang. Kedekatan tersebut tertuang dalam kerja sama rutin Tim “Benur Kita” dari PT Esaputlii Prakarsa Utama melakukan penyuluhan-penyuluhan kepada pembudidaya tentang teknik budidaya yang benar.
Selain itu, PT Esaputlii Prakarsa Utama memberikan bantuan penggunaan kincir dengan bahan bakar gas (ketinting) kepada pembudidaya “Benur Kita” untuk meningkatkan produktifitas tambak dengan meningkatkan padat penebaran.
Produksi besar
Saat ini PT Esaputlii Prakarsa Utama sukses menjadi penyuplai benur udang vaname terbesar di Sulawesi bahkan Indonesia. Wilayah pemasaran benur udang vaname hingga saat ini sudah meluas ke seluruh Nusantara.
Bagai mana tidak, kapasitas produksi benur perbulan PT Esaputlii Prakarsa Utama adalah sebanyak 350 juta ekor (benih) atau 4,2 Milyar ekor/tahun dengan penggunaan sarana Hatchery unit 1 terdiri dari 7 modul dengan jumlah 86 bak dan Hatechery unit 2 terdiri dari 6 modul dengan jumlah 120 bak.
“Rencana akan ada pengembangan produksi di tahun 2017 sebanyak 400 juta ekor/bulan atau 4,8 Milyar ekor/tahun dan 530 juta ekor/bulan atau 6,3 Milyar ekor/tahun di tahun 2018,” tutur Tuwuh.
PT Esaputli Prakarsa Utama pada tahun 2014 pernah memanen udang hingga 29 ton dan mampu meraih keuntungan hingga Rp 18 milar. Dalam rilisnya, rahasia sukses tersebut dengan memanfaatkan teknologi untuk hasil tambak yang maksimal.
Pencapaian ini di klaim sebagai rekor dunia panen udang terbesar, dengan hasil 29 ton per satu kali penen untuk 1 petak tambak dengan luas 3000 meter persegi.
Produksi nener sendiri dengan jumlah induk produktif 600 ekor, jumlah telur 35 juta butir/bulan dan memiliki bak larva sebanyak 146 bak dengan kapasitas produksi 25 juta ekor/bulan, produksi pertahun sebanyak 300 juta ekor (benih).
Wilayah pemasaran produksi PT. Esaputlii Prakarsa Utama meliputi Sulawei Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku Utara, Kalimantan Timur, Sumbawa, Pulau Jawa, Pangkal Pinang (Bangka Belitung), Sumatera Utara, Aceh, Bengkulu, Lampung bahkan ke Malaysia. “Untuk pemasaran nener ikan bandeng sendiri kita hanya di Sulawesi saja,” tambah Tuwuh. (Adit)

BIODATA PT Esaputlii Prakarsa Utama
Kantor Pusat:
Jl. H. Andi Mappanyukki No. 09
Kel. Kunjung Mae
Kec. Mariso
Makassar – Sulawesi Selatan
Telp. (0411) 871 411
Fax. (0411) 830 064
E-mail: [email protected]

Kantor Produksi & Pemasaran:
Jl. Poros Makassar – Parepare Km. 138, JalangE
Kel. Mallawa
Kec. Mallusetasi
Kab. Barru
Telp. 0813 3841 1999 / 0821 9747 6486
E-mail: [email protected]

BPBAP Situbondo, Rumah Kerapu Hybrid

 

            Situbondo bangga menjadi sentra produsen benih kerapu terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara!

Ikan kerapu merupakan salah satu komoditas hasil perikanan budidaya yang memiliki nilai ekonomis tinggi di pasar regional maupun internasional. Indonesia menghasilkan ikan kerapu dalam bentuk benih (3 cm), fingerling (gelondongan 3-12 cm), dan ukuran konsumsi (400-1200 gram/ekor).

Market demand (permintaan pasar) untuk ikan kerapu ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini memacu upaya eksplorasi dan eksploitasi sumber daya ikan kerapu secara intensif dan ekstensif.

Dukungan pengembangan, adopsi, dan aplikasi teknologi terapan budidaya perikanan dan kebijakan pemerintah dalam menciptakan iklim usaha untuk pengembangan merupakan salah satu hal yang mutlak untuk mendukung sistem sustainable aquaculture (budidaya berkelanjutan). Jika hal ini bisa berjalan dengan baik maka prosperity (kesejahteraan) pelaku budidaya akan terwujud dan pada gilirannya akan menciptakan sovereignity (kedaulatan) di bidang perikanan.

Dukungan teknologi budidaya dalam rangka mendukung 3 pilar pembangunan nasional adalah sistem backyard hatchery (pembenihan ikan kerapu skala rumah tangga). Kegiatan ini dimulai dari penyiapan sarana budidaya, manajemen sistem penyiapan air, produksi pakan alami, penebaran telur, manajemen pemeliharaan larva, dan manajemen lingkungan.

Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo selama ini dikenal sebagai rumah dari ikan kerapu. Bagaimana tidak, hampir semua jenis ikan kerapa dibudidayakan dan dikembangkan di balai tersebut, sampai ikan kerapu hasil persilangan yang biasa dikenal dengan sebutan kerapu hibrid.

Foto 1Kepala BPBAP Situbondo Ir. Ujang Komarudin, M.Sc, mengatakan di balai ini ada dua komoditas utama yaitu ikan kerapu dan udang vaname. Kerapu sendiri sudah cukup berkembang, BPBAP Situbondo saat ini sudah bisa mengembangkan kerapu persilangan antara kerapu Kertang dengan kerapu Macan dan disebut kerapu Cantang.

Kerapu Cantang hasil persilangan ini punya banyak keunggulan, kata Ujang, salah satunya adalah pertumbuhannya yang sangat cepat. “Jika dulu pembudidaya butuh satu tahun untuk memanen kerapu, dengan hibrid ini ikan kerapu untuk konsumsi yang siap dipasarkan bisa dipanen hanya dalam waktu 5 sampai 6 bulan saja,” jelas Ujang.

Selain kerapu Cantang, ada juga hasil hibrid dari kerapu Macan dengan kerapu Batik yaitu kerapu Cantik. Kerapu ini juga punya keunggulan salah satunya dari pertumbuhannya yang cepat serta mempunyai ketahanan terhadap serangan penyakit.

Bahkan ada hibrid kerapu Tiktang dari kerapu Tikus dan kerapu Kertang namun belum di-release. Dalam hibridisasi kerapu, BPBAP Situbondo termasuk yang terdepan. Ujang menuturkan, BPBAP Situbondo memiliki induk-induk kerapu yang sangat produktif baik kerapu Macan, Bebek, Kertang, dan Batik dan sudah digunakan oleh masyarakat pembenih khususnya yang ada di daerah Situbondo.

Sampai saat ini, di Situbondo ada sekitar seratus hatchery skala rumah tangga (HSRT) yang memproduksi benih kerapu. Jelas Ujang, paling tidak rata-rata BPBAP Situbondo dalam sebulan men-supply sekitar 50 juta butir telur kepada pembeli dan benih-benih dari Situbondo ini disebarkan ke seluruh Indonesia bahkan diekspor ke luar negeri.

“Atas prestasi tersebut di mana Situbondo merupakan sentra produsen benih kerapu terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara, pemerintah daerah setempat menobatkan bahwa Situbondo adalah Kota Kerapu,” ungkapnya.

Atasi Keterbatasan

Seksi Uji Terap Teknis dan Kerjasama BPBAP Situbondo Iwan Suwandono Adhi Foto 3Setyawan, S.Pi, mengungkapkan, BPBAP Situbondo memiliki 5 instalasi (Pecaron Gelung, Tuban, Pasuruan, dan Gundil)  dimana kelima instalasi tersebut memiliki fasilitas sarana dan prasarana budidaya yang perlu ditingkatkan.

“Sampai saat ini yang baru memenuhi standar hanya di Pecaron saja, kalau selebihnya 4 instalasi itu masih perlu ditingkatkan dan dioptimalkan,” tambah Iwan.

Menanggapi hal tersebut, Ujang mengatakan, jika dizinkan BPBAP Situbondo ingin menambah keramba jaring apung (KJA). Hal ini tentu saja karena lahan darat yang ada di Situbondo semakin terbatas dan mahal, sehingga untuk pengembangan produksi ikan terutama ikan-ikan yang biasa dipelihara di KJA seperti kerapu dan berapa jenis bawal bahkan bandeng.

“Bahkan udang vaname bisa dipelihara di KJA, kita tinggal mengembangkan teknologinya saja seandainya ada kesempatan kami untuk menambah kja pemeliharaan atau produksi ikan,” tutur ujang.

Bahwa Indonesia tidak kalah dalam urusan budidaya perikanan, hampir semua jenis komoditas masing-masing balai milik pemerintah sudah memiliki spesialisasi tersendiri dalam pengembangan sebuah komoditas. BPBAP Situbondo berharap pemerintah terus menambah sarana KJA di Situbondo untuk untuk terus mengembangkan industri perikanan budidaya di Situbondo.

Pemeliharaan di Keramba Jaring Apung

BPBAP Situbondo menggunakan keramba jaring apung (KJA) HDPE dari Aquatec sejak tahun 2014. Awalnya hanya budidaya air payau di tambak, namun saat ini BPBAP Situbondo telah melakukan ekspansi di laut karena banyaknya komoditas unggulan yang dipelihara di laut.

Untuk pengembangan komoditas yang berkelanjutan, saat ini BPBAP Situbondo memiliki 66 lubang keramba jaring apung Aquatec yang berlokasi di Pecaron. Ujang menambahkan, seluruh pembesaran ikan kerapu dilakukan di KJA.

Keramba jaring apung Aquatec milik BPBAP Situbondo digunakan juga untuk calon indukan, ada 3 unit KJA Bundar Aquatec diameter 10 meter yang salah satunya digunakan untuk pemeliharaan calon induk ikan bandeng yang dikenal sebagai perenang cepat dan aktif.

“Kita juga ada rencana membudidayakan udang vaname skala besar di KJA namun masih dalam kajian,” tambahnya.

Foto 2Perekayasa Pertama BPBAP Situbondo Dony Prastowo, S.Pi, mengatakan, penggunaan keramba jaring apung Aquatec sangat membantu dalam pembesaran dan pemeliharaan calon indukan. Keunggulan dari KJA Aquatec karena memiliki bahan yang kokoh dan ramah lingkungan, dalam penerapannya posisi KJA adalah di laut lepas bukan di teluk, jadi dibutuhkan KJA yang kuat terhadap terpaan ombak besar.

Senada dengan Dony, Ujang menuturkan bahwa keramba jaring apung Aquatec bisa diandalkan dari sisi kekuatannya, selain itu dari sisi pengelolaan dan penanganan pemeliharaan juga mudah dirawat, sehingga pembudidaya tidak disulitkan dengan pemeliharaan yang rumit.

Keramba jaring apung Aquatec sendiri dijadikan untuk percontohan kepada masyarakat sekitar Situbondo yang ingin tahu bagaimana melakukan budidaya dengan menggunakan KJA HDPE, karena mayoritas masyarakat di sana masih menggunakan KJA tradisional yang terbuat dari kayu.

 (Resti/Adit)

Bawal Bintang Akan Menjadi Bintang

Foto 5

Optimalisasi budidaya; manfaatkan strategi penggunaan sarana dan prasarana yang tepat

Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam telah mengembangkan produksi Ikan Bawal Bintang yang efektif dan efisien sehingga mudah diaplikasikan pada masyarakat. Selain bawal Bintang yang menjadi komoditas utama, Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Batam Drh. Toha Tusihadi mengatakan, Kakap Putih dan Kerapu Macan juga menjadi komoditas andalan di BPBL Batam.

Bicara mengenai Bawal Bintang, BPBL Batam memang pertama kali yang mengorbitkan komoditas satu ini. Toha mengatakan, BPBL Batam adalah balai pertama di Indonesia yang berhasil memijahkan bawal bintang dan saat ini sudah mampu menghasilkan indukan di mana indukan yang dihasilkan sudah dikirim ke Lampung, Kalimantan, bahkan Ambon.

Senada dengan Toha, Koordinator pembesaran Keramba Jaring Apung BPBL Batam Sahidan Muhlis, S.Pi, MP mengatakan, “Balai pertama yang bisa memijahkan Bawal Bintang adalah BPBL Batam, selain itu kami menguasai teknologi yang bahkan Malaysia pun tidak bisa, jadi kami sudah bisa produksi sendiri,” pungkas Muhlis.

“Saat ini 90% benih Bawal Bintang berasal dari BPBL Batam. Hampir seluruh budidaya Bawal Bintang di Indonesia sumber benihnya adalah dari BPBL Batam, serta dominasi produksi benih di balai kami ialah benih bawal bintang,” tutur Toha.

Seperti yang dilansir BPBL Batam dalam situsnya, untuk terus memenuhi permintaan para pembudidaya melaksanakan program BPBL Batam dalam bantuan benih, maka Unit Pembenihan Balai Perikanan Budidaya Laut Batam telah melakukan pemanenan larva Bawal Bintang sebanyak 529.000 ekor.

Penebaran dilakukan dalam 4 bak ukuran 6 m3 dengan  padat tebar 15 ekor/liter.  Dari penebaran ini diharapkan dapat dipanen sebanyak 70.000 ekor, benih ukuran 3-4 cm pada umur 35 hari.

Selain untuk penebaran di BPBL Batam, larva yang dihasilkan juga dikirim ke unit pembenihan binaan BPBL Batam, yaitu di Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Pengujan sebanyak 200 ribu telur.

Melihat kontribusi tersebut, Toha memberikan apresiasi kepada Tim Unit Foto 1(2)Pembenihan di bawah kendali (Ipong Adiguna, S.St.Pi) sebagai pelaksana. “Dengan keberhasilan panen ini kita harapkan permintaan dan bantuan untuk masyarakat khususnya para pembudidaya di bawah binaan BPBL Batam dapat terpenuhi,” ujar Toha.

Tidak hanya itu, Toha menuturkan, produksi benih Kakap Putih juga termasuk andalan BPBL Batam. Bahkan, tambah Toha, BPBL Batam mengirimkan larva Kakap Putih umur satu hari ke Ambon, Lombok, Bali, dan Karawang.

“Nanti di sana dibenihkan dengan memanfaatkan telur dan larva dari tempat kami, jadi nanti prosesnya panjang mungkin benih yang ada di sana telurnya dari di sini,” tambahnya.

Gunakan keramba jaring apung aman dan nyaman

Selain didukung dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten, kata Toha, salah satu faktor suksesnya budidaya perikanan adalah ditunjang dari penggunaan sarana prasarana yang berkualitas, aman dan nyaman.

Pada lingkup budidaya, sarana dan prasarana tersebut ialah keramba jaring apung (KJA). Menggunakan KJA yang berkualitas serta ramah lingkungan adalah pilihan yang logis dan realistis. Seperti balai perikanan lainnya, KJA Aquatec menjadi pilihan BPBL Batam untuk menunjang budidaya perikanan yang modern.

Toha menjelaskan, dahulu BPBL Batam menggunakan KJA kayu namun hanya bertahan sekitar 2-3 tahun saja, sekarang BPBL Batam menggunakan KJA Aquatec karena dikenal kokoh bisa sampai 20 tahun penggunaan masih tetap prima.

Foto 2(1)Berbeda dengan dulu, ungkap Muhlis, sebelumnya BPBL Batam menggunakan lubang KJA tradisional dari kayu namun sudah hanyut semua karena terpaan ombak besar. Sebelumnya KJA impor dari luar negeri juga sudah dicoba, akan tetapi sudah rusak dan tidak dipakai.

Lanjut Muhlis, sejak tahun 2013 sampai sekarang BPBL Batam menggunakan KJA Aquatec produksi dalam negeri untuk memenuhi 206 lubang. “Pilihan KJA Aquatec karena kekuatannya, daya apungnya lebih kuat, lebih memudahkan kita untuk bekerja, serta tidak repot dalam hal maintenance,” tambah Muhlis.

Sama halnya Muhlis, Toha menuturkan, KJA Aquatec memiliki keunggulan dalam hal kekuatan bahan dan struktur, daya tahan pakai lebih lama, tahan terpaan ombak, modifikasi lebih mudah karena bisa dilakukan banyak modifikasi yang telah disediakan.

Hasil penen dari penggunaan KJA Aquatec cukup baik, Toha menambahkan, hal penting adalah kenyamanan dan keamanan pembudidaya saat berada di atas KJA, produk ini sudah teruji tahan ombak serta tidak terlalu banyak perbaikan otomatis berpengaruh pada efektivitas kerja

Optimalisasi

Di BPBL Batam, KJA Aquatec digunakan untuk pembesaran guna mempersiapkan calon indukan seperti induk ikan bawal, kerapu macan, kakap putih yang nantinya diserahkan ke divisi induk.

Balai ini tahu betul kualitas KJA yang identik dengan warna biru dan kuning ini. Hal tersebut terlihat dari apa yang disampaikan Toha, menurutnya BPBL Batam ingin terus mengoptimalkan penggunaan KJA yang ada.

Jadi, kata Toha, optimalisasi tersebut akan dibuat pola siklus sehingga nanti ketersediaan ikan konsumsi itu ada di sepanjang waktu. “Jadi kita punya program misal bulan ini harus menebar berapa, bulan selanjutnya menebar berapa. Dari program tersebut akan ada target dari setiap komoditas seperti Bawal Bintang, Kakap Putih, dan Kerapu yang bisa memproduksi masing-masing 1-2 ton per bulan,” tambahnya.

Optimalisasi tersebut terlihat hasilnya, penggabungan antara strategi budidaya dan penggunaan KJA yang tepat, program sudah dirintis dari bulan September lalu mendapatkan hasil yang maksimal.

Namun, optimalisasi tidak hanya sampai di situ saja. Muhlis mengatakan, perlu adanya pasar yang lebih luas,  jangan hanya ketergantungan di pasar lokal saja. Dengan jumlah keramba dan SDM yang mumpuni dirasa mendapatkan hasil panen 1–2 ton itu tidak terlalu sulit, namun yang menjadi kendala jika hasil melimpah tetapi pasar yang tersedia terbatas, akan ada hasil yang tidak termanfaatkan.

“Di sini gudangnya bawal, ingin produksi berapapun bisa, namun harus ada perluasan dalam sektor pemasaran, tidak hanya pasar lokal saja agar seluruh hasil penen dapat termanfaatkan secara maksimal,” jelas Muhlis. (Resti/Adit)