Alih Teknologi dan Sinergi

Budidaya udang di timur Bumi Sang Bumi Ruwa Jurai ini terus menggeliat. Sebagai bagian dari provinsi penyumbang—sekaligus lumbung—udang nasional, Lampung Timur menunjukkan gelagat ke arah produksi udang vaname. Hal ini terlihat dari peningkatan produksi udang vaname yang begitu pesat.

Data Statistik Perikanan Budidaya Tahun 2018 menunjukkan kenaikan produksi udang vaname Lampung Timur secara signifikan, meninggalkan jauh produksi komoditas kerabatnya, yaitu udang windu. Secara berturut-turut, produksi udang vaname dari tahun 2014—2018 dalam ton yaitu 507,3; 974,05;1.481,27; 6.448,78; dan 15.000. Sementara produksi udang windu dari tahun 2014—2018 dalam ton berturut-turut 318,38; 384,47; 382,22; 467,02; dan 346.

Apakah produksi masih bisa ditingkatkan? Jawabnya tentu saja, masih. Masih dari data Statistik Perikanan Budidaya Tahun 2018, terungkap bahwa potensi lahan yang bisa dijadikan tambak seluas 8.775 hektar. Sementara pemanfaatan secara faktual saat ini baru 5.865 hektar. Artinya, masih tersisa 2.910 hektar yang bisa dimanfaatkan untuk menggenjot produksi. Ini baru dari pendekatan ekstensifikasi.

Dari pendekatan intensifikasi? Ada peluang pengembangan teknologi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi. Pasalnya, dari luas lahan yang telah dimanfaatkan untuk tambak, baru 1.095 hektar yang digarap secara intensif. Sementara itu, 970 hektar digarap secara semi-intensif dan 3.800 hektar masih menggunakan sistem tradisional plus. Artinya, 81,32% lahan bisa dinaikkan kapasitasnya menjadi tambak bersistem intensi yang tingkat produktivitasnya jauh lebih baik. Tentu saja, jika dilaksanakan sesuai standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

Apakah mungkin meningkatkan kualitas semua tambak menjadi intensif? Jawabannya adalah pasti. Jika semua pihak terkait mau untuk saling bersinergi mewujudkannya.

Kendala besar pada budidaya udang di Lampung Timur saat ini masih berkutat pada masalah penyakit, terakhir WSSV (white spot syndrome virus). Jika menyerang, penyakit ini bisa mengakibatkan kematian massal. Bahkan pada Triwulan I Tahun 2019, serangan WSSV berdampak turunnya produksi hingga 30%.

Awalnya, serangan WSSV diketahui muncul di musim pancaroba, antara Bulan April—Mei dan antara Bulan September—Oktober. Namun, penyakit yang dianggap paling merugikan ini banyak ditemui sepanjang waktu.

Meskipun solusi pencegahan mewabahnya penyakit telah banyak disosialisasikan, tak ayal, program tersebut tak semua bisa dipraktikkan di lapangan. Penyebabnya bisa beragam. Ada dugaan, seringnya muncul kejadian serangan WSSV ini disebabkan akibat penggunaan air media yang sama, antara air buangan (outlet) dan air yang masuk ke tambak (inlet). Sementara itu, adanya sedimentasi pesisir pantai membuat petambak kesulitan mengambil air laut.

Pengadaan tandon masuk dan keluar petak tambak bisa saja menghadapi kendala. Maklum, secara perhitungan kasar, luasan petak tandon tentu bisa menghasilkan jika digunakan sebagai petak tambak. Apalagi bagi petambak sistem tradisional yang hanya mengandalkan luasan kolam. Logika sederhanya, pengadaan kolam tandon akan mengurangi jatah petak produksi. Semakin sempit petak produksi, semakin sedikit pula udang yang dihasilkan.

Di sinilah pentingnya pergeseran pola budidaya, dari tradisional menjadi intensif. Meskipun petak lebih sedikit akibat pengadaan tandon, tetapi bisa memberikan hasil yang sama atau justru lebih banyak. Untuk itu dibutuhkan teknologi yang mendukung budidaya dengan padat tebar yang lebih tinggi.

Meningkatkan teknologi sama dengan meningkatkan hasil, sekaligus meningkatkan biaya pengadaan alat dan teknologi. Bagi petambak bermodal cekak, tentu hal ini menjadi pertimbangan khusus. Di sinilah letak pentingnya sinergi berbagai pihak untuk memudahkan terjadinya peralihan sistem dan teknologi.

Masuknya para investor dengan dana yang cukup akan sangat membantu petambak untuk memperbaiki sistemnya. Hal ini telah terbukti dari berubahnya beberapa tambak, dari tambak tradisional menjadi intensif. Jika awalnya petak tambak tradisional berukuran 1—2 hektar, menjadi tambak intensif berukuran 1.000—2.000 meter persegi dengan peran investor dari luar daerah. Hasilnya, perkembangan produksi udang vaname melejit.

Faktor penting lain yang menjadi harapan petambak adalah pendalaman saluran air untuk mengatasi masalah pendangkalan akibat sedimentasi. Dengan normalisasi saluran tersier melalui program PITAP (Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif), tentu akan sangat membantu para petambak. Di sinilah peran instansi terkait sangat berperan bagi kemajuan industri perudangan Lampung Timur.

Maklum, pergeseran sistem dari tradisional ke intensif bukan saja prestise bagi Lampung Timur sebagai salah satu penghasil udang vaname, tetapi secara nyata juga akan meningkatkan pendapatan para petambak. Dengan beralih teknologi, seorang petambak bisa menghasilkan 1—1,5 ton udang per 1.500 meter persegi. Padahal, tambaknya dulu hanya menghasilkan udang sebanyak 2 kuintal dan bandeng 3 kuintal per hektar. Nah, ingin lebih baik, mari bersinergi. (Rochim)

Peraturan Baru, Proses Perizinan Lebih Cepat

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Rapat Koordinasi perkembangan Regulasi Pakan dan Obat Ikan pada 15 April 2019 di Gedung Mina Bahari IV KKP, Jakarta. Acara tersebut di gelar dalam rangka sosialisasi kebijakan peredaran Bahan Baku Pakan Ikan dan dan Obat Ikan.

KKP percepat pelayanan perijinan pakan dan obat ikan. Ketentuan ini tercantum dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan : Permen KP No. 55 Tahun 2018 tentang Pakan Ikan dan Permen KP No. 1 Tahun 2019 tentang Obat Ikan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya saat sosialisasi Permen KP bidang pakan dan obat ikan di Jakarta. Perubahan Permen KP dilakukan sebagai upaya perbaikan pelayanan perijinan di bidang pakan dan obat ikan yang mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perijinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (online single submussion).  Menurutnya ada ketentuan dalam perijinan yang direvisi agar lebih efisien, transparan dan akuntabel.

“Kita ingin melalui Permen KP yang baru, proses perizinan bisa lebih cepat, sehingga pelaku usaha lebih diuntungkan karena sistem sudah online dan berbagai persyaratan tidak berbelit belit. Selain itu, percepatan layanan sertifikasi Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB) dan Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik (CPOIB) akan memberikan jaminan kualitas pakan dan obat ikan yang digunakan pembudidaya ikan” tambah Direktur Pakan dan Obat ikan, Ir. Mimid Abdul Hamid, M.Sc.

David Alfian dari PT Biotek Saranatama, menyatakan bahwa perubahan permen KP terkait pelayanan perijinan bidang pakan dan obat ikan sangat membantu pihaknya, karena perijinan saat ini lebih simpel, transparan dan waktu pelayanan yang lebih cepat.

“Sangat berterima kasih atas upaya KKP dalam perbaikan pelayanan ini. Kami berharap kedepan sosialisasi terus dilakukan jika ada peraturan baru, sehingga kami lebih faham jika ada isu isu baru yang berkembang”, pinta David dalam keterangannya.

Dalam kegiatan sosialisasi Permen KP No. 55 tahun 2018 dan Permen KP No. 1 tahun 2019, yang juga dihadiri oleh stakeholder perikanan budidaya, disebutkan bahwa setidaknya ada 2 (dua) poin penting yang telah direvisi yakni terkait prosedur layanan perijinan yang semula tidak terintegrasi menjadi berbasis OSS (online single submission) dan lama waktu proses layanan yang lebih cepat dari sebelumnya.

Business Manager West Indonesia PT Evonik Indonesia, Lucia Monia Simanjuntak, acara ini sangat membantu terutama untuk memfasilitasi  penerapan Permen yang baru, terutama untuk para importir, dengan adanya kebijakan ini akan bisa menentukan langkah kedepannya seperti apa termasuk yang perlu di highliight adalah penerapan sistem OSS KKP yang nantinya akan di launching 22 April 2019 ini.

“Kedepannya kita akan lebih fokus ke arah online untuk submit data dan lain sebagainya, jadi bagi kami cukup membantu karena kita jadi lebih efektif dan efisien dalam berurusan dengan hal yang berkaitan dengan importasi maupun registrasi produk baru, jadi tidak perlu lagi bolak-balik ketemu langsung dengan pihak KKP,” tutur Lucia.

Seperti yang sudah diketahui, dalam bidang pakan ikan, layanan Surat Keterangan Teknis (SKT) impor bahan baku dan/atau pakan ikan dari semula 7 hari kerja menjadi 5 hari kerja. Layanan pendaftaran pakan ikan dari semula 25 hari kerja menjadi 20 hari kerja, dan layanan sertifikasi Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik dari semula 37 hari menjadi hanya 15 hari kerja.

Sedangkan di bidang obat ikan, untuk layanan Penerbitan Surat Keterangan Teknis bahan baku, obat ikan dan sampel obat ikan dari semula 3 hari kerja menjadi 2 hari kerja; layanan penerbitan Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik (CPOIB) dari semula 25 hari menjadi 15 hari; dan layanan pendaftaran obat ikan dari semula 12 hari kerja menjadi hanya 10 hari kerja.

Di samping itu dalam Peraturan yang baru ini, pelaku usaha dapat langsung menjalankan usahanya setelah mendapatkan NIB (Nomor Induk Berusaha) dan pernyataan kesanggupan komitmen.

Assistant. Manager Purchasing PT Malindo Feedmill. Handy Christian, pertemuan kali ini berguna karena menjadi tahu tentang peraturan-peraturan, administrasi, regulasi dari KKP dan import perdagangan. “Diharapkan terus dilakukan sosialisasi jika ada perubahan peraturan baru agar informasi yang akan diterima lebih up to date,” ucap Handy. (Resti/Adit)

Bahu-membahu Hadapi Penyakit

Mengenal lebih jauh potensi perudangan di Desa Labuhan Maringai, Kabupaten Lampung Timur. Explore perudangan Lampung Timur di awali dari Jakarta, tim redaksi Info Akuakultur memulai perjalanan dan menyeberangi  Selat Sunda dari Merak ke Bakaheuni.

Akses menuju ke Maringgai terbilang ekstrim dengan jalan berbatu yang mengharuskan mobil tidak lebih berjalan 30 kilimeter/jam, dari pusat kota Bandar Lampung waktu yang ditempuh mencapai 3 – jam perjalanan.

Cuaca terik dan panas menemani perjalanan, tepat matahari berada di atas kepala kami tiba dan di sambut ramah dengan Muhyar (petambak). Cuaca yang membakar kulit tidak menahan laju kaki para petambak untuk datang ke kediaman Muhyar untuk menghadiri temu petambak sekaligus sharing informasi langsung dengan para teknisi lapangan dari perusahaan yang hadir.

Antusiasme petambak yang hadir sungguh luar biasa, mereka aktif bertanya langsung dengan Joko Waluyo (Technical Support Behn Meyer) terkait penyebaran dan penanganan penyakit udang yang saat ini sedang menyerang tambak-tambak mereka.

Selain itu, Muhammad Fitri (Teknisi Pakan Gold Coin) dibanjiri pertanyaan-pertanyaan dari petambak seputar kandungan dan manajemen pemberian pakan yang baik dan tepat guna meminimalisir terjadinya over feeding yang dapat merusak lingkungan tambak.

Seperti yang sudah diketahui, terjadi penurunan produksi budidaya udang semenjak adanya serangan penyakit yang diduga disebabkan oleh white spot syndrome virus (WSSV). Segala upaya terus dilakukan petambak untuk terhindar atau paling tidak meminimalisir kerugian akibat ulah penyakit yang meyerang tambak udang mereka.

Penuturan petambak di sana, serangan penyakit mempengaruhi pendapatan dari hasil panen. Sebelum adanya serangan penyakit, modal Rp40 juta bisa menghasilkan Rp100 juta sampai Rp110 juta. Keuntungannya bisa Rp70 juta sampai Rp80 juta.

Saat ini, modal Rp40 juta, untungnya Rp 5 juta dalam 2 bulan. Saat merugi, kerugiannya lumayan besar. Modal Rp40 juta bisa habis, jika tidak ada kontrol pada udangnya, dari modal Rp40 juta, bisa rugi hingga Rp20 juta.

Oleh sebab itu, dibutuhkan peran segala stakeholder mulai dari pemeintah, perusahaan swasta dan petambak itu sendiri untuk terbuka dan sharing informasi guna mencari solusi terbaik mengatasi serangan penyakit yang menyebabkan kerugian. (Adit)

INOI: Panduan Tepat Memilih Obat Ikan

Buku Indeks Obat Ikan Indonesia

Peranan obat ikan dalam aktifitas budidaya perikanan sangatlah penting, namun jangan sembarangan memilih obat karena dapat berakibat fatal terlebih menggunakan obat hewan illegal yang belum terdaftar resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Buku Indeks Obat Ikan Indonesia (INOI) adalah panduan yang tepat bagi siapapun pelaku usaha budidaya perikanan yang ingin memilih dan menggunakan obat ikan yang legal atau terdaftar resmi.

Buku Indeks Obat Ikan Indonesia
Buku Indeks Obat Ikan Indonesia

Kini telah terbit Buku INOI Edisi IV 2019, buku ini berisi produk obat ikan yang beredar di Indonesia yang sudah resmi mendapatkan nomor pendaftaran dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Sajian informasi obat ikan dalam buku ini meliputi sediaan kategori Farmasetik, Premiks, Probiotik, Biologik, Herbal (Obat Alami). Masing masing produk dijelaskan bentuk sediaan,  komposisi, indikasi, dosis dan cara pemakaian, kemasan, dan klasifikasi obat ikan.

Buku juga dilengkapi daftar produsen dan importir obat ikan yang sudah mendapatkan izin usaha. Tak kalah menariknya, khusus edisi IV ini buku dilengkapi dengan Peraturan Menteri KKP no 1/2019 tentang obat ikan.

Ini adalah peraturan menteri terbaru yang ruang lingkupnya sangat lengkap meliputi aturan tentang penyediaan dan peredaran obat ikan, layanan sertifikasi dan surat keterangan, pelaporan dan pengawasan.

Merupakan hal yang wajib bagi para pelaku usaha budidaya perikanan memiliki buku ini, dengan harga yang sangat terjangkau anda akan mendapatkan segudang manfaat seputar obat ikan.

Siap Berperan di Sektor Budidaya Udang Indonesia

Di sela-sela rapat yang digelar selama dua hari, 27-28 Maret 2019 di Hotel Santika BSD City, Himpunan Perekayasa Indonesia (Himperindo) memanfaatkan waktu untuk diskusi majalah Info Akuakultur guna membahas kerjasama terkait banyak informasi yang belum terinformasikan kepada masyarakat budidaya perikanan mengenai teknologi perikanan budidaya terkini. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan MOU majalah Info Akuakultur dengan Himperindo pada saat seminar nasional Outlook Penyakit Ikan dan Udang akhir tahun 2018 lalu.

Hadir dalam acara tersebut Ketua Umum Himperindo Prof I Nyoman Jujur dan para pengurus Himperindo yang merupakan pakar dari berbagai instansi, antara lain Prof Dr Ir Suhendar I Sachoemar (Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan BPPT), Dr. Andi Eka Sakya (Presiden WMO RA V), Ir. Maskur MSi (mantan Direktur Kesehatan Ikan dan Lingkungan KKP, sekaligus Ketua
Indonesian Network on Fish Health Management /INFHEM) dan lain-lain.

Menurut Ketua Himperindo I Nyoman Jujur, kerja sama ini diharapkan bisa terjalin solid karena banyak informasi dari anggota Himperindo yang juga merupakan perekayasa dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) belum banyak terpublikasikan. “Dengan adanya kerja sama dengan majalah Info Akuakultur diharapkan informasi dari hasil-hasil temuan teknologi yang aplikatif dapat diterima oleh seluruh stakeholder perikanan budidaya,” tambah Nyoman.

Diskusi berlangsung hangat dan santai , tidak hanya membahas soal publikasi informasi teknologi perikanan budidaya saja, namun juga ide lainnya antara lain rencana diadakannya seminar tematik serta seminar udang skala nasional.

Di mana seminar tersebut nantinya akan mengangkat isu-isu perudangan Indonesia baik soal teknologi buddidaya, penyakit terkini, hingga persoalan kesehatan dan lingkungan.

Pemimpin Redaksi majalah Info Akuakultur Bambang Suharno menilai pertemuan dan diskusi ini sangat positif, sebab akan melahirkan kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat dalam hal informasi seputar budidaya perikanan khususnya udang. Ia menambahkan, dalam penerbitan Info Akuakultur yang akan datang porsi artikel seputar teknologi dan bisnis udang akan lebih dominan sesuai dengan permintaan market.

“Majalah Info Akuakultur sebagai media yang posisinya berada di tengah, siap menjembatani informasi dan komunikasi dari stakeholder perikanan budidaya serta tentunya akan mendukung terselenggaranya setiap acara kegiatan,”. pungkas Bambang.

INDO FISHERIES 2019 EXPO & FORUM

InfoAkuakultur_INDOFISHERIES
Indonesia will host its biggest – fisheries industry event at Grand City Convex, Surabaya – Indonesia, from 3 – 5 July 2019.

INDO FISHERIES 2019 EXPO & FORUM are fully supported by all sectors of fisheries industry and will be the largest business gathering of fish farmers, fishermen, veterinarians, feedmillers, food processing industries, retailers and many more.

INDO FISHERIES 2019 EXPO & FORUM inconjuction with INDO LIVESTOCK, INDO FEED & INDO DAIRY 2019 EXPO & FORUM – widely recognized by the industries as one of the most successful event.

INDO FISHERIES 2019 EXPO & FORUM is designed only for business and open for trade buyers and business seekers. With these comfort business ambiance, exhibitors will be able to make contacts with key decision makers over 3 days in one location.

It is therefore, our privilege to invite your company / organization / institutions to participate at INDO FISHERIES 2019 EXPO & FORUM.

 http://www.indofisheries.id/

Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2019

 

Penandatanganan MoU Majalah Info Akuakultur dan Himpunan Perekayasa Indonesia

Diawali dengan penandatanganan MoU antara Info Akuakultur dan Himpunan Perekayasa Indonesia (HIMPERINDO), oleh Pemimpin Redaksi, Ir. Bambang Soeharno dan Ketua Himperindo, Dr. I Nyoman Jujur.  Untuk Publikasi Dan Penyebaran Inovasi Teknologi Hasil  Kerekayasaan budidaya perikanan, Seminar Nasional Outloock Penyakit Ikan dan Udang 2019 digelar di Ruang Lawu 2, Gedung Pusat Niaga, Jakarta International Expo, Jakarta (29/11).

 

Acara tahunan yang dilaksanakan atas kerjasama Info Akuakultur dan INFHEM ini dihadir para pembicara diantaranya Guru Besar FPIK UNDIP, Prof. Dr. Slamet Budi Prayitno, M.Sc, selanjutnya Head of Animal Health Service PT. Central Proteina Prima, Dr. Heny Budi Utari, M.Kes, kemudian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yaitu Dr. rer. Nat. Rahmania Admirasari, M.Sc dan Ir. Heru Dwi Wahyono, M.Kom.

 

Sambutan sekaligus jalannya acara ini dimoderatori oleh Ketua Indonesia Network on Fish Health Management (Infhem), Ir. Maskur, M.Si. Peserta yang hadir dari berbagai kalangan tidak kurang dari 100 Orang, diantaranya terdiri dari perusahaan swasta, pemerintah, universitas, dan seluruh stakeholder perikanan yang ada di Indonesia.

 

Para Pembicara Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2019

Prof. Dr. Ir. Slamet Budi Prayitno, MSc, menjelaskan outlook penyakit ikan dan udang 2019. Penyakit ikan dan udang menjadi sangat penting dengan adanya intensifikasi budidaya dan aktifitas manusia. Penyakit infeksi dan non-infeksi dapat menyebabkan kematian ikan sampai 100% dalam waktu kurang dari 5 hari.

 

“Puncaknya, usaha budidaya bisa colaps seperti di era 90a-an penyakit yang menyerang udang windu dan EMS pada tahun 2013,” ujarnya.

 

Untuk sukses dalam budidaya, kata Budi, pasca panen dan rantai tata niaga sangat dipengaruhi oleh penerapan biosekuriti, higienis, akses dan sistem tata niaga. “Untuk penyakit ikan 2019 berangkat dari tahun 2018, akan berdampak buruk jika penanggulangan di tahun sebelumnya kurang baik,” jelas Budi.

 

Ancaman penyakit ikan masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya seperti upwelling di keramba jaring apung (KJA), Tilv, khv, masih bisa terjadi. Sedangkan di tambak, wfd, wssv, dan imnv juga masih bisa terjadi.

suasana acara outlook penyakit ikan dan udang 2019

Dr. Heny Budi Utari, M.Kes, menjelaskan perkembangan penyakit udang di Indonesia. lanjutnya, penyebab kerugian ekonomi di sektor perudangan wilayah Asia dan Indo Pasific setidaknya terjadi sebab empat penyakit utama Virus (WSSV, IMNV, IHHNV, TSV dan SIHV), Bakteri (AHPND dan Vibrio sp), Parasit (Microsporidia dan Haplosporidia) dan Penyakit non-infeksi (Insang hitam, Toksik plankton, kram otot, dll).

 

Penyakit udang yang disebabkan oleh virus seperti merupakan momok utama petambak udang di Indonesia. “Perkembangan penyakit udang di Indonesia seperti Mio masih akan menjadi kendala udang di Indonesia. WFD dan Mio masih banyak merebak di Indonesia dan harus bisa ditangani dengan baik,” jelas Heny.

Penyebaran Mio di Indonesia, di awali dari Jawa Timur Situbondo, kemudian menyebar karena banyak petambak yang mencari benur murah yang tidak jelas kelayakannya sehingga terjadi penyebaran. Hingga di tahun 2008 area Bali dan Lombok positif,  sampai Lampung, Bangka, dan daerah lainnya.

 

Bahkan, ungkap Heny, werus atau ebi yang ada di Indonesia sebagian sudah positif WSSV. Hubungan suhu dan infeksi WSSV erat kaitannya, udang dalam tambak yang bersuhu 33 derajat yang dipindahkan ke suhu 27 derajat akan langsung drop.

 

“Menurut Heny, suhu 25-27 derajat adalah suhu favorit WSSV,” ujar Heny.

Pelajaran dari yang sudah terjadi, petambak harus melakukan eliminer potential carries yang sering diabaikan. Penting untuk memasang saringan 200 micron untuk cegah telur kepiting dan ikan (50-500 micron), karena itu merupakan sumber utama masuknya carriers WSSV ke petak tambak.

 

“Kuncinya adalah waspada dengan kondisi petak, jangan membiarkan plankton drop karena sama saja culture hibrio. udang mati tidak dibuang akan menjadi bahan makanan hibrio. intinya semua pelaku budidaya harus meningkatkan biosekuriti.,” pungkas Heny.

Para pembicara beserta perwakilan dari sponsor

Di sektor pakan, Dr. rer. Nat. Rahmania Admirasari, M.Sc menjelaskan tentang pengembangan microalgae dalam mendukung industri akuakultur, dimana  penggunaan alga perlu dikembangkan untuk sumber pakan ikan dan udang. Aplikasi dari alga banyak sekali, bukan hanya di sektor akuakultur saja tapi juga bisa jadi bahan bio diesel.

 

Alga bisa menjadi basic food akuakultur. Sebab, kata Rahmania, kandungan energi yang tinggi atau bahkan tertinggi. Serta penggunaan micro algae perlu dikembangkan untuk sumber pakan ikan.

 

Ir. Heru Dwi Wahyono, M.Kom., menjelaskan pengembangan monitoring kualitas air dengan system online untuk mendukung industri akuakultur. Dimana teknologi digital untuk monitoring kualitas air perlu disederhanakan agar sesuai dengan kondisi  perikanan  indonesia. (Adit/Resti)

Ikatan Alumni Perikanan Undip dan BBPBAT Sukabumi Inisiasi Penerapan Culture-Based Fisheries di Situ Tujuh Muara Tangerang Selatan

TANGERANG SELATAN – Alumni Universitas Diponegoro Semarang yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Perikanan Undip ( KERAPU) se- Jabodetabek bekerjasama dengan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi melakukan penebaran ratusan ribu ikan nilem dan mas di Situ  Tujuh muara, Kota Tangerang Selatan. Minggu (30/9). Penebaran ratusan ribu benih ikan ini untuk mengawali inisiasi usaha perikanan berbasis budidaya (culture-based fisheries/CBF) yang nantinya bisa diadopsi masyarakat sekitar waduk.
Demikian disampaikan Tri Hariyanto, Sekretaris Ditjen Perikanan Budidaya sekaligus sebagai Ketua Kerapu DPD Jabodetabek, usai melakukan tebar benih bersama ratusan alumni dan masyarakat sekitar Situ . Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Perikanan Kota Tangerang Selatan, para penggiat lingkungan, dan masyarakat sekitar.
“Kita ingin memperkenalkan konsep CBF ini ke masyarakat. Ada 2 manfaat, pertama untuk memulihkan stok sumberdaya ikan di Situ  yang semakin menurun dan yang ke dua dengan CBF nanti masyarakat bisa memanfaatkan nilai ekonominya. Kita harus mulai edukasi masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya perikanan itu secara berkelanjutan”, jelas Tri.
Diakui Tri, sebagai insan perikanan, Ikatan Kerapu Jabodetabek merasa terpanggil untuk hadir memberikan sesuatu yang nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Terlebih menurutnya, potensi perikanan Indonesia luar biasa besar, namun harus diakui pemanfaatannya masih minim.
“Potensi sumberdaya perikanan Indonsia ini luar biasa besar dan mestinya memberikan nilai manfaat ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat. Kami sebagai alumni perikanan Undip tentu merasa memiliki tanggungjawab moral untuk turut berkontribusi memajukan perikanan nasional. Terlebih saat ini jurusan perikanan Undip sudah berdiri selama setengah abad. Oleh karenanya, kegiatan ini kami lakukan agar bisa menjadi agenda rutin ke depan”, imbuhnya.
Tri juga menghimbau setelah kegiatan ini masyarakat agar membentuk kelembagaan lokal dalam pengelolaan CBF. Termasuk, melakukan pengawasan dan  memastikan agar perairan Situ  dan sekitarnya terjaga kebersihannya, utamanya dari sampah plastik.
Dalam kesempatan sama, Ketua Umum Alumni Perikanan Undip, Abdul Kadir Karding, dalam keterangannya menyampaikan bahwa peran intelektual perikanan menjadi sangat penting dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan perikanan nasional. Oleh karena, dirinya sangat mengapresiasi peran alumni perikanan yang konsisten melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Aksi-aksi nyata semacam ini saya rasa sangat penting dan patut dijadikan rujukan oleh stakeholders lainnya. Sebagai wadah intelektual perikanan, memang sudah saatnya memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan”, jelas Karding, yang juga duduk di Komisi VIII DPR RI ini.
Sebagaimana diketahui, jumlah ikan yang ditebar di Situ  Tujuh muara tersebut sebanyak 250 ribu ekor yang merupakan benih hasil breeding program yang dilakukan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPAP) Sukabumi, yakni masing-masing untuk jenis ikan nilem sebanyak 200.000 ekor, dan ikan mas sebanyak 50.000 ribu ekor. Perlu diketahui BBPBAT Sukabumi telah menodrong pengembangan berbagai jenis ikan local, guna mempertahankan keragaman jenis ikan asli Indonesia.
Sebelumnya, ikatan Kerapu Jabodetabek juga telah melakukan pelepasliaran puluhan ribu benih rajungan dan penanaman ribuan pohon mangrove untuk memperbaiki ekosistem di pesisir Kabupaten Tangerang.
Ketua Penyelenggara, Abdul Wahid dalam keterangannya menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan aksi nyata para alumni. Ia memastikan kegiatan konkrit semacam ini telah menjadi agenda utama yang akan dilakukan secara periodik di wilayah Jabodetabek.
Antusiasme juga terlihat dari kalangan masyarakat sekitar Situ  yang merasa terbantu dengan kegiatan tersebut.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ikatan Kerapu Jabodetabek atas kegiatan ini. Tentunya akan sangat bermanfaat  khususnya bagi ekonomi masyarakat”, ungkap Farlan mewakili masyarakat sekitar Situ .

Era Revolusi Industri Perikanan 4.0

Tim redaksi Majalah Info akuakultur yang diwakili oleh Resti Setiawati pada 29 Agustus 2018 berkesempatan menghadiri undangan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan dalam acara seminar dan kick off Aquatica Asia dan Indoaqua 2018 dengan mengusung tema “Transform Aquaculture Business Into Industry 4.0”, di Jakarta.

Peluang pasar ekspor perikanan terus meningkat, seperti disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto. Di Asia saja, pada tahun 2020 diperkirakan kekurangan supply ikan sebanyak 26 juta ton. Berbagai peluang ini tentunya harus ditangkap melalui pemanfaatan sumberdaya akuakultur secara optimal.

Pada acara ini hadir pula para narasumber, para Kepala Dinas KP Provinsi/Kabupaten/Kota, para Kepala UPT Lingkup DJPB, para pimpinan/CEO Start-up di Bidang Akuakultur, para pakar, akademisi, dan pelaku usaha di Bidang Akuakultur.

Tidak hanya peluang pasar ekspor, akuakultur juga dihadapkan pada berbagai tantangan, diantaranya di era persaingan global, khususnya era yang saat ini sedang hangat yaitu era Revolusi Industri ke-4 atau Industri 4.0.

Pada edisi September, Laporan Utama Majalah Info Akuakultur fokus membahas mengenai budidaya singkat kebutuhan benur windu meningkat, menjaga kontinuitas budidaya, selain itu masih banyak artikel menarik dan bermanfaat tentunya.

 

 

Tiga hal penting, dalam Transformasi Industrialisasi Akuakultur

Di era Industri 4.0 menuju otomatisasi dan digitalisasi, persaingan semakin ketat, begitupun yang dirasakan dalam dunia budidaya perikanan.  Seperti yang disampaikan Direktur Perikanan Jenderal Budidaya Slamet Soebjakto  dalam acara seminar serta Kick Off Aquatica Asia dan Indoaqua 2018, pada 29 Agustus lalu, diantaranya:

 

Pertama, transformasi dari berorientasi pada eksploitasi Sumberdaya Alam (SDA) menuju efisiensi SDA, jasa, dan peningkatan nilai tambah dan produktivitas;

 

Kedua, transformasi dari penggunaan unskilled tenaga kerja menuju penciptaan lapangan kerja yang benar-benar diperuntukkan bagi SDM terlatih sedangkan lapangan kerja untuk unskilled tenaga kerja dapat berkurang;

 

Ketiga, transformasi dari kondisi akses pasar yang terbatas dan daya saing produk yang rendah menuju akses pasar yang terbuka luas (hyperkoneksi), berdaya saing tinggi dan manajemen yang efisien;

 

Oleh karena itu dalam masa transformasi ini, kita sebagai masyarakat pembudidaya perlu terus meningkatkan kemampuan, agar tidak tertinggal oleh zaman, dan tetap berjaya di dunia perikanan.(Resti)