Kekuatan Kerjasama Tim

Ketika saya sedang mengendarai motor hendak pergi ke supermarket, mata saya menoleh melihat bangunan megah yang sepertinya rumah hunian sedang dibangun. Dalam pikiran saya, hebat betul bangunan tersebut, selain megah bangunannya terlihat kokoh dan pastinya sangat menakjubkan jika bangunan tersebut sudah seratus persen rampung.

Namun, saya berpikir bukan soal megahnya bangunan, tetapi kepada para pekerja atau kuli bangunan yang bekerja bergotong-royong dan cekatan merealisasikan keiinginan si pemilik rumah. Kemudian, saya berpikir ternyata kuli bangunan juga mengusung filosofi teamwork dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Teamwork menjadi kunci keberhasilan kuli bangunan dalam bekerja, di mana dalam dunia “perkulian” ada yang disebut Tenaga atau Laden biasa juga orang menyebutnya Layan. Tenaga atau Laden sendiri bertugas melayani apa saja kebutuhan Tukang dalam bekerja.

Kemudian Tukang, yang bertugas mengerjakan proses berdirinya suatu bangunan. Tentu saja Tukang tingkatnya lebih tinggi dibanding Tenaga atau Laden. Karena itu bayaran hariannya berbeda. Tukang juga terbagi lagi menjadi dua, yaitu Tukang Kayu dan Tukang Batu, biasanya kedua Tukang ini bekerjasama berdasar keahlian, tapi terkadang ada juga yang mampu merangkap, kemudian di atas Tukang ada Mandor yang mengkoordinasi dan mengontrol kerja keseluruhan.

Dari situ saya langsung teringat nasihat Direksi PT Gallus Indonesia Utama (GITA), Pak Gani, pada saat acara Annual Meeting kantor beberapa waktu lalu. Beliau mengatakan, untuk menciptakan target dan hasil kerja yang maksimal dibutuhkan kelancaran kerja antar divisi yang saling berantai.

Artinya, semua karyawan saling berkaitan satu sama lain, semua harus bekerja sama dengan mengerahkan semua kemampuan yang dimiliki. Jika ada salah satu yang tidak maksimal – bisa karena berhalangan, sakit, tidak semangat atau bermalas-malasan – hasil yang akan didapat pun tidak akan sesuai target.

Untuk sesekali, mungkin pekerjaan yang tidak terselesaikan dari salah satu karyawan bisa saja di-backup oleh karyawan lain. Namun, hal tersebut tidak bisa terus-menerus terjadi sebab bisa mengganggu konsentrasi kerja rekan lainnya sehingga terjadi ketidaksinambungan koordinasi di antara divisi.

Selain itu, Pak Gani juga mengatakan untuk menjadi sebuah perusahaan yang tangguh ada tiga hal yang harus dimiliki oleh setiap karyawan, yakni Profesionalitas, Teamwork, dan Intergritas.

Berbicara mengenai profesionalitas sudah pasti berkaitan dengan memahami tugas dan tanggung jawab, kemudian bekerja dalam koridor SISPRO (sistem dan prosedur), serta memiliki target oriented. Kemudian Teamwork di mana setiap karyawan harus saling bekerja sama untuk menciptakan kerja yang saling berantai dan berkesinambungan. Setelah itu, harus punya integritas tinggi yang mana dalam bekerja harus mencintai pekerjaan itu sendiri agar setiap yang dikerjakan.

Pun dengan kuli bangunan, mereka harus saling berhubungan dari mulai Layan sebagai pengadaan barang atau alat, Tukang kayu dan batu dengan bagian kerjanya masing-masing, Mandor dengan pengontrol agar sesuai prosedur dan mencapai target, sehingga si pemilik rumah selaku customer mendapatkan hasil yang memuaskan.

Namun, untuk membentuk suatu tim kerja yang solid memang bukan perkara yang mudah, karena setiap orang dengan talenta yang berbeda dan disatukan dalam sebuah tim memerlukan sebuah proses penyatuan yang memerlukan kesamaan tujuan atas terbentuknya tim tersebut.

Tim tidak akan bisa bekerja optimal jika tanpa komunikasi yang baik. Saling memotivasi juga merupakan bentuk komunikasi. Sekalipun seseorang itu mencintai pekerjaannya, rasa lelah dan malas pastilah ada. Namun  dengan saling memotivasi, kekompakan dalam tim sudah dipastikan akan selalu terjaga.

Tim yang solid juga didapat dari kepercayaan yang diberikan antara satu dan yang lainnya. Selama saling percaya kepada rekan satu tim, maka akan saling mempercayai. Namun kepercayaan tidak sebatas kepada rekan kerja, melainkan juga kepada konsumen yang telah mempercayai kami sebagai produsennya.

Kesuksesan sebuah tim tergantung dari seberapa solid tim itu bekerja, customer menggunakan jasa kami karena mereka percaya terhadap pelayanan dan kualitas yang diberikan. Artinya, tim kerja harus mampu memberikan kepuasan tersebut dengan sebaik-baiknya. Jadi jangan remehkan kehebatan kerjasama tim, dengan kemauan untuk saling mendengar, saling berbagi ide dan dengan komando yang tepat, ada banyak hal yang bisa terselesaikan dengan kerjasama dan sudah tentu akan banyak pelajaran yang didapat sebab banyak ide dari kepala yang berbeda.

Oleh: Aditya Permadi, Penulis adalah Staf Redaksi Majalah Info Akuakultur

Coba Sekali Lagi!

 

Our greatest weakness lies in giving up. The most certain way to succeed is always to try just one more time. Demikian yang dikatakan Thomas Alfa Edison dalam sebuah kata mutiaranya, yang berarti “Kelemahan terbesar kita adalah menyerah. Sementara cara yang paling pasti untuk meraih kesuksesan adalah mencoba sekali lagi”.

Kata-kata Edison tersebut bukan bualan belaka. Sebelum sukses menemukan bola lampu pijar, puluhan kegagalan telah ia lalui. Berpuluh-puluh bahan yang ia coba sebagai penghasil cahaya pada lampu pijar tidak bekerja sesuai harapan. Ia dan asistennya sempat frustasi, tetapi tak sampai membuatnya berhenti. Dicobanya sekali lagi, lagi, dan lagi. Pada akhirnya, lampu bohlam pijar listrik pertama di dunia hadir di muka bumi.

Kegagalan yang datang berkali-kali tidak menghentikan langkah Edison. Bahkan, ia pun tidak mengakui hadirnya kegagalan itu dalam prosesnya menukju sukses. “Saya tidak mengalami kegagalan. Namun, saya justru menemukan ratusan cara yang tidak bisa bekerja untuk mewujudkan penemuan saya.” Kurang-lebih, demikian Edison memandang semua kegagalan yang menghampirinya.

Ketika satu bahan gagal digunakan, Edison mencoba lagi dengan bahan yang lain. Ketika bahan yang lain gagal, ia kembali mencobanya dengan bahan yang lainnya lagi. Bisa jadi, Edison akan menghabiskan semua peluang kegagalan yang ada hingga hanya satu peluang yang ada untuknya, kesuksesan!

Napoleon Hill, seorang trainer dan motivator sukses di Amerika menuliskan kisah seorang agen asuransi berprestasi dalam bukunya, Think and Grow Rich. Sebelum meniti karir di dunia asuransi, agen yang bernama R.U. Darby ini pernah mengikuti pamannya menambang emas. Untuk usaha ini, mereka pergi belayar menuju daerah pertambangan dan mulai mencoba peruntungannya.

Misi pertama berhasil. Sekian banyak emas mereka kirimkan ke tempat asalnya dan kembali ke pertambangan sekaligus membawa peralatan tambang dengan skala lebih besar. Demam emas melanda mereka.

Hingga suatu saat, urat emas seakan lenyap. Mereka berusaha mencari jalur yang terputus dengan terus melakukan penggalian. Meskipun begitu, tak satu pun emas menampakkan diri. Hingga paman Darby memutuskan menjual tambangnya dan kembali ke daerah asalnya.

Si pembeli melanjutkan usaha pertambangan, setelah sebelumnya mempelajari kondisi dan memutuskan membeli pertambangan itu. Tak diduga, urat emas kembali ditemukan, tepat tiga langkah dari galian terakhir yang dilakukan Darby beserta pamannya. Berapa jauh? Ya, tiga langkah!

Dari kejadian tersebut Darby mengambil pelajaran berharga yang tak terlupakan. Hingga saat meniti karirnya sebagai agen, ia tak surut dan menghentikan langkah saat orang yang ia tawari mengatakan “tidak”. Hasilnya, ia mampu menjual asuransi jiwa senilai lebih dari satu juta dolar dalam setahun. Sebuah prestasi luar biasa di masa itu.

Sebagaimana jodoh, maut, dan rezeki, kesuksesan adalah misteri. Untuk meraihnya, satu-satunya cara adalah dengan terus melangkah hingga jalan yang kita tempuh menuntun langkah ikhtiar kita menuju keberhasilan.

Masih ingat, ketika kita belajar berjalan di waktu kecil? Dari berbaring, kita belajar tengkurap. Dari tengkurap, kita belajar merangkak. Dari merangkak, kita belajar berdiri. Kemudian, kita mulai sedikit demi sedikit belajar melangkahkan kaki setapak demi setapak. Pertanyaannya, apakah dalam rentang waktu proses belajar itu tanpa ujian sama sekali?

Jawabnya, tentu tidak. Kaki yang masih lemah ternyata tak mampu menopang badan lebih lama. Kita pun terjatuh. Daya keseimbangan antara otot kaki dan posisi badan belum sepenuhnya sempurna. Miring sedikit, kita pun jatuh. Seringkali kita menangis, tetapi apakah kita lantas berhenti untuk mencobanya lagi?

Melihat orang-orang baik di sekeliling kita memberi semangat, kita pun kembali bangkit. Berdiri, berjalan, dan jatuh lagi. Namun, latihan yang terus-menerus akhirnya membuat kerjasama antara otak, saraf, dan otot-otot tubuh dan kaki kita menjadi lebih terlatih dalam menyeimbangkan diri. Menolak berhenti, terus bergerak, dan mencoba lagi membuat kita akhirnya bisa berlari.

Sebagaimana air, ikhtiar harus terus bergerak mengalir. Air mengalir banyak mengandung oksigen dan menyegarkan. Air segar yang kaya oksigen membuat ikan dan makhluk hidup di dalamnya merasa nyaman. Lain halnya dengan air yang terhenti, tak bisa mengalir, dan diam. Semakin lama, air akan mati, begitu pula makhluk hidup di dalamnya, mati.

Jika saat ini Anda belum mencapai kesuksesan dalam berbudidaya, berniaga, atau menjalankan usaha lainnya, yakinlah, ada cara atau jalan lain yang mungkin belum Anda coba. Oleh karena itu, cobalah sekali lagi, lagi, dan lagi! (Rochim Armando)

Selamat Jalan Sang Kreator ! (Mengenang Rudi E Alamsyah)

Sore itu, Minggu 12 November 2017,  sepanjang jalan dari RSUD Bekasi menuju Pasar Minggu Jakarta Selatan diguyur hujan rintik. Seperti biasanya, lalu lintas menjadi tersendat. Sepanjang jalan tol lingkar luar Jakarta menuju Jl TB Simatupang kami harus menikmati suasana jalan padat merayap. Sesekali berhenti. Doa kami panjatkan sepanjang jalan. Bukan doa perjalanan, melainkan doa untuk Wakil Pemimpin Umum dan sekaligus Pemimpin Usaha Majalah Info Akuakultur Rudi E. Alamsyah yang tengah terbaring di RSUD Bekasi. Kami baru saja menjenguknya

Sejak dirawat di RS Selasa malam 7 November 2017 kondisinya sempat membaik , Bahkan di hari Rabu ia bisa ngobrol dengan kami dengan suasana hangat. Namun Minggu pagi kondisinya menurun, bahkan tak sadarkan diri. Meskipun begitu, melihat raut mukanya yang tampak cerah, tidak pucat, hati kami memilih untuk berpikir positif, bahwa ia, dengan izin Allah SWT akan pulih dan kembali beraktivitas.

Namun sore itu pukul 18.30, di tengah hujan gerimis di jalan tol menuju pulang ke rumah, kami menerima kabar duka.”Mohon dimaafkan yang Pak, Pak Rudi sudah dipanggil”, ujar putrinya di ujung telepon dengan suara tersendat.

IMG_4169
Rudi E Alamsyah (Alm)

Innalilahi wainna ilaihi rojiun. Semua milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Mau tidak mau, kami harus memaknai betul kalimat itu. Rudi Alamsyah adalah milik Allah SWT dan kini kami harus ikhlas bahwa ia kembali kepada-Nya. Tak ada yang bisa mencegahnya.

Lalu lintas pun terasa berhenti. Rintik hujan itu seperti ingin menemani kami yang dalam suasana duka.

***

Setiap kematian adalah sebuah pelajaran, kata Pak Ustad. Rudi Alamsyah adalah perintis penerbitan majalah Info Akuakultur. Ia telah puluhan tahun menggeluti bidang penerbitan media peternakan dan perikanan. Ia termasuk generasi pertama awak media peternakan. Pernah di majalah Ayam & Telur (kini sudah tidak terbit), Poultry Indonesia, ikut merintis majalah Trobos, dan sejak tahun 2015 seusai pensiun dari Trobos, ia merintis penerbitan majalah Info Akuakultur yang didirikan bersama pengurus Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI).

Sahabat dan kerabat pun berkumpul di rumah duka, mulai dari pejabat dari Kementerian Perikanan Kelautan, kalangan dunia usaha peternakan dan perikanan, serta tentu saja para pimpinan dan karyawan media peternakan, perikanan dan pertanian, di antaranya Majalah Poultry Indonesia, Majalah Trobos, Agrina, Sinar Tani, Swadaya, Mina Indonesia, tentu saja kami dari satu atap kantor majalah Infovet, Cat & Dog dan Info Akuakultur.  Tampak pula mantan Direktur Kesling KKP yang kini ketua INFHEM (Indonesia Network For Fish Health Management) Ir Maskur,, sejumlah pejabat Humas KKP dan pejabat lainnya.

Semangatnya untuk berkreasi adalah pelajaran penting bagi kami. Di dalam hatinya kami melihat  api yang membara, sangat bercahaya, yang bernama semangat.

Kami pahami, bahwa semangat merupakan bekal yang diberikan Tuhan yang ditanamkan di dalam hati sanubari setiap manusia. Ia adalah energi untuk bertahan hidup  dan berkembang.

Semangat membara tak akan padam dengan situasi dan kondisi apapun; kesempitan hidup, penyakit, atau ujian-ujian kehidupan lain. Jika masih tersimpan semangat dalam hati dan digunakan dengan maksimal, manusia yang berada dalam ‘titik nol’ pun dapat bertahan hidup. Itulah yang tergambar dari semangat Rudi Alamsyah.

Semangat bak api abadi yang membara, tak padam hanya dengan siraman air hujan bahkan terpaan badai sekalipun. Padamnya semangat dalam diri manusia hanya terjadi ketika manusia tersebut tak lagi bernafas dan tak terdengar lagi jantung yang berdetak.

Yang terpenting dari semua itu adalah bahwa semangat dapat menular ke lingkungan. Seperti halnya sebuah tim sepak bola yang sedang bertanding, terkadang tim yang punya materi pemain ‘pas-pasan’ dapat mengalahkan tim dengan pemain bintang, karena dukungan semangat dari para pemain dan juga supporter yang membara.

Demikian halnya Jenderal Soedirman yang dalam keadaan sakit paru-paru, memimpin perang gerilya. Itu adalah semangat yang luar biasa, hingga menular ke semua pasukan di seluruh pelosok. Bagaimana mungkin pasukan mundur jika sang pemimpin yang sedang sakit pun “terus maju pantang mundur” sebagaimana semboyan perjuangannya.

Itulah semangat!!

Dalam memimpin Tim Majalah Info Akuakultur Rudi meninggalkan warisan yang harus dijaga,  yakni semangat dalam tim untuk berkarya sebaik-baiknya, tanpa mengenal lelah serta taat beribadah, mendirikan sholat dengan tertib dan disiplin. Tetap positif dan tersenyum jika ada yang bersikap negatif. Kami bersyukur menjadi bagian dari generas perintis majalah Info Akuakultur.

Selamat Jalan Pak Rudi, Sang Kreator. Meskipun jasadmu telah tiada namun warisan semangatmu tak akan pernah padam dan terus bersemayam di dalam hati sanubari kami, rekan kerja seperjuanganmu.

Semangatmu akan terus kami jaga dan kami rawat, karena kami sadar Manusia bukan apa-apa tanpa semangat! ***

Penulis: Bambang Suharno (Pemimpin Umum Majalah Info Akuakultur) dan Aditya Permadi  (Mantan Wartawan Info Akuakultur)

Kesadaran Diri dalam Berdialog

Bambang Suharno

 

Sebuah diskusi di stasiun televisi nasional berlangsung seru. Topiknya mengenai kinerja presiden Jokowi. Tiga orang narasumber proJokowi, di seberangnya 3 orang kontra jokowi. Di antara kedua pihak, seorang wanita sebagai host acara yang hampir kewalahan menghentikan perdebatan. Sejak awal kedua belah pihak berseberangan dalam menilai pemerintah. Kadang kedua belah pihak berebutan bicara, yang membuat saya sebagai penonton merasa tidak nyaman melihat tontonan ini. Namun saya tetap tertarik melihat acara ini. Hingga akhir acara, keduanya tetap pada pendirian mereka masing-masing, yaitu “saya pasti yang benar, dan kalian yang berbeda dengan saya adalah pihak yang salah dan bodoh”.

 

Bisa jadi penonton ikut larut dalam posisinya masing-masing, pro Jokowi atau sebaliknya. Pandangan saya, ini adalah tontonan yang dampaknya mempertajam perbedaan. Bukan sebuah dialog sebagaimana disebutkan oleh pemandu di awal acara. Sebagai sebuah tontonan yang bertujuan untuk meningkatkan rating TV, acara ini bisa dibilang sukses, namun dilihat sebagai acara dialog, acara ini gagal membentuk kesadaran para narasumber untuk membuka pikiran mereka. Kedua pihak sudah tertutup terhadap opini yang berseberangan.

 

Saya jadi ingat sebuah sebuah penelitian yang menyebutkan, kebanyakan manusia dalam berdiskusi tidak membuka pikiran, melainkan mencari-cari argumen agar sesuai dengan opini yang sudah terbentuk di benaknya. Padahal, pikiran itu seperti parasut, ia bisa berfungsi dengan baik apabila terbuka. Jika tertutup, maka ketika pikiran itu dipakai, justru dapat mencelakakan diri sendiri.

 

Banyak masalah dalam hidup ini menjadi semakin ruwet karena tidak adanya sikap dialog yang baik.  Orang mengira pendapatnya sendiri sebagai benar, dan pendapat orang lain dianggap pasti salah. Ketika berdiskusi, mereka tidak mau mendengar orang lain sehingga sering menimbulkan salah paham. Ketika pihak lain berbicara, ia tidak menyimak, tapi menyiapkan kalimat untuk menyerang. Akibatnya, banyak masalah tak selesai, sementara masalah baru datang bermunculan.

 

Dialog adalah upaya untuk memahami maksud dan cara berpikir seseorang dengan cara berbicara langsung dengan pihak lain. Ia adalah landasan utama  untuk suksesnya penyelesaian masalah. Konflik antar etnis, antar golongan, antar negara dan berbagai macam masalah lainnya bisa selesai secara tuntas jika diselesaikan dengan dialog yang baik. Namun jika penyelesaiannya dengan kekuatan fisik, maka satu pihak akan bersiap-siap meningkatkan kekuatan dan suatu saat akan berkonflik lagi.

 

Peter Senge di dalam bukunya The Fifth Discipline dan Chade Meng Tan di dalam bukunya Search Inside Yourself sepakat, bahwa dasar terpenting dari dialog adalah Mindfulness.  Menurut Marsha Lucas, Ph.D penulis buku Rewire Your Brain For Love, sebagaimana dikutip beritagar.id, Mindfulness adalah memusatkan perhatian sedemikian rupa, dan menghayati apa yang sedang Anda lakukan, tanpa melakukan penilaian.

 

Banyak kejadian dimana orang melakukan sesuatu tanpa kesadaran diri karena banyaknya masalah yang harus dipikirkan. Bangun pagi karena alarm, bergegas ke kamar mandi. Satu tangan menyikat gigi, tangan lain pegang ponsel. Pikiran pun melayang ke email, padahal tubuh belum sepenuhnya bangun. Selesai bersiap, lantas sarapan, tanpa benar-benar merasakannya. Saat seperti ini ia bisa mencari-cari kacamata atau ponsel yang sebenarnya sedang dipegang sendiri.

 

Sebuah dialog bisa berjalan baik jika pesertanya memiliki sikap mindfulness. Ini membuatnya tetap tenang dan jernih, sehingga bisa menyampaikan maksudnya secara jelas dan sopan. Inilah yang disebut berbicara dengan kesadaran (mindful speaking). Tanpa pola ini, orang akan cenderung berbicara dengan emosi dan menimbulkan kesalahpahaman dari pihak lain. Ini bisa dilihat dari tontonan acara televisi yang saya uraikan di atas. Masing-masing pihak sangat emosional dalam menyampaikan pandangannya, tanpa menyadari apa yang sedang terjadi di dalam dirinya dan apa yang keluar dari mulutnya.

 

Untuk bisa berbicara dengan penuh kesadaran, orang juga harus belajar mendengar dengan kesadaran. Orang perlu menyimak sepenuhnya pembicaraan orang lain, tanpa menghakimi atau melakukan penilaian atau analisis apapun. Inilah yang disebut dengan mindful hearing (kesadaran mendengar). Jika tidak jelas, orang boleh bertanya kepada orang tersebut. Itu pun dilakukan dengan penuh kesadaran.

 

Dasar dari mendengar dan berbicara dengan kesadaran adalah hidup yang berkesadaran (mindful living). Hidup yang berkesadaran berarti hidup yang penuh perhatian pada setiap gejolak di dalam tubuh yang terjadi saat ke saat. Ini berarti memperhatikan semua perasaan, emosi, pikiran dan sensasi panca indera yang muncul di sini dan saat ini.

 

Kesadaran diri bukan hanya penting dalam berdialog namun juga untuk semua kegiatan kita sehari-hari. Penelitian mengungkap, mindfulness secara efektif dapat mengurangi gejala gangguan sakit kronis, depresi, gangguan kecemasan, penyalahgunaan obat, gangggun makan dan gangguan kesehatan lain. ***

Berjalan Cepat Ketika Beban Berat

Ketika memikul beban di pundak, manusia akan berjalan lebih cepat.

Sekali-kali amatilah orang yang sedang berjalan dengan memikul beban. Apakah mereka berjalan lebih lambat disbanding orang lain yang berjalan tanpa membawa apa-apa? Pada umumnya, mereka yang memikul beban akan bergerak lebih cepat menuju tujuan. Sebaliknya orang yang tidak punya beban, besar kemungkinan akan berjalan dengan santainya, bahkan tak jelas ia mau pergi kemana, karena yang mereka lakukan hanya untuk mengisi waktu.

Demikian pula kita dalam kehidupan sehari-hari. Manakala kita menghadapi masalah-masalah yang berat, besar kemungkinan kita akan bergerak secepatnya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Pada mulanya kita bias tertekan (stress) menghadapi beban hidup, namun lama-kelamaan kita terlatih untuk menyelesaikannya.

Apakah jika masalah terlalu berat dapat membuat kita tak mampu bergerak? Ya, sama seperti kita kita memikul beban, jika beban terlampau berat maka kita akan menyerah karena tidak mampu memikul dan membawanya.

Untunglah Tuhan berjanji tidak akan member ujian yang melampaui batas kemampuan umat manusia. Ini artinya apabila kita merasa masalah yang kita hadapi sedemikian berat, itu adalah karena kita belum banyak belajar menyelesaikan masalah kehidupan dengan baik.

Sama saja ketika kita menghadapi ujian sekolah, ada yang lulus dengan nilai bagus, ada yang lulus dengan nilai sedang, ada juga yang tidak lulus. Ini bukan karena soal ujiannya melampaui kemampuan siswa, melainkan siswa itu sendiri yang belum belajar secara optimal sehingga tidak dapat lulus ujian.

Jika Anda termasuk orang yang merasa saat ini beban hidup semakin berat, pikirkanlah bahwa itu adalah hasil dari cara Anda menangkap informasi dengan pikiran yang bernuansa negatif. Coba kalau Anda menangkapnya dengan pikiran positif, yang akan Anda temukan adalah rasa syukur bahwa hidup saat ini lebih mudah dibanding  30 tahun lalu.

Anda pikirkan saja bahwa 30 tahun lalu dunia belum mengenal internet. Biaya telepon mahal, telepon seluler belum ada, apalagi medsos. Mencari alamat demikian sulitnya karena belum ada aplikasi peta online. Untuk mendengarkan lagu bagus harus membeli kaset. Mencari informasi apapun harus membeli buku atau bertanya pada orang yang lebih senior.

 

 

Lantas kenapa banyak orang mengatakan hidup ini semakin sulit? Itu karena ia belum mampu menyesuaikan dengan perubahan dunia yang bergerak semakin cepat. Ingatlah hukum yang dikemukakan Charles Darwin bahwa “species” yang mampu bertahan hidup bukanlah yang paling kuat melainkan yang paling mampu menyesuaikan diri dengan perubahan.

Mari kita lihat perubahan yang sangat cepat akhir-akhir ini, yakni gelombang perubahan dari offline menjadi online di segala lini kehidupan. Saat tulisan ini disusun, diperoleh kabar bahwa delapan gerai toko Ramayana telah ditutup, dan akan disusul dua gerai Matahari di Blok M dan Manggarai, Jakarta Selatan. Sementara itu pasar Glodok yang dulu dikenal sebagai pusat perbelanjaan elektronik yang ramai, belakangan semakin sepi pengunjung karena masyarakat lebih suka berbelanja secara online.

 

Di Eropa sudah 48 ribu kantor bank ditutup Karena terpengaruh budaya online. Masyarakat sudah lelah bermacetria di jalan untuk sekedar ke bank, parkir yang mahal sampai antri di depan kasir. Lebih enak pencet-pencet gadget sambil santai di rumah dan transaksi pun berjalan mulus.

 

Beberapa took buku juga semakin sepi pembeli karena sebagian pembaca memilih mencari informasi melalui gadget. Beberapa penerbit buku mengeluh karena buku resep masakan dan kamus yang selama ini menjadi andalan mereka, kini semakin kurang laku. Penerbit harus memutar otak mencari ide buku baru yang lebih laku.

 

Sudah bias kita bayangkan situasi beberapa tahun mendatang, dimana Indonesia diprediksi akan masuk dalam5 negara pengguna handphone terbanyak di dunia.

 

Apakah perubahan ini merupakan masalah baru bagi dunia usaha?  Apakah ini pertanda beban hidup akan semakin berat?

 

Perubahan besar ini bias saja mengakibatkan pengangguran semakin banyak. Namun pada saat yang bersamaan peluang baru juga semakin banyak.

 

Jadi tidak perlu khawatir. Perubahan tidak perlu dilawan, justru harus disyukuri karena yang terjadi sekarang ini adalah perubahan untuk membuat kehidupan menjadi lebih mudah, bukan perubahan karena perang atau bencana alam.

 

Kalau ini terasa menjadi beban,maka segeralah bergerak melakukan penyesuaian. Mau tidak mau, Anda akan dituntut bergerak cepat untuk mengatur strategi dan menyesuaikan diri dengan perubahan.***

Mesin Cetak Uang

Pesta olah raga dunia Olimpiade merupakan kegiatan bergengsi bagi negara manapun yang dipercaya sebagai tuan rumah. Itu sebabnya berbagai negara berlomba-lomba untuk menjadi tuan rumah Olimpiade. Namun pada saat awal Oimpiade diselenggarakan, tuan rumah olimpiade  selalu menghabiskan uang negara yang cukup banyak demi suksesnya kegiatan kelas dunia tersebut.

Untuk memperkecil kerugian, penyelenggara biasanya melarang stasiun TV untuk menyiarkan langsung kegiatan akbar tersebut. Alasannya, jika stasiun TV melakukan siaran langsung maka stadion akan kekurangan penonton dan pendapatan dari penjualan tiket bisa merosot.

Begitulah yang terjadi bertahun-tahun. Situasi itu berubah ketika AS menjadi tuan rumah Olimpiade.  Negeri Paman Sam ini mengubah cara pandangnya terhadap olimpiade. Jika semula stasiun TV tidak boleh melakukan siaran langsung, maka tuan rumah AS membebaskan stasiun TV untuk meliput dan melakukan siaran langsung. Dengan adanya siaran langsung tersebut, stasiun TV bisa memperoleh iklan yang banyak, sehingga penyelenggara bisa menerapkan hak siar kepada stasiun TV dengan tarif tertentu.

Demikian pula nilai sponsor berupa banner yang terpasang di pinggir lapangan, tarifnya bisa dinaikkan beberapa kali lipat karena penyelenggara menjamin logo atau iklan perusahaan akan dilihat oleh jutaan pasang mata di berbagai negara, bukan hanya dilihat oleh penonton yang berada di lapangan sebagaimana biasanya.

Sejak itulah penyelenggara olimpiade bisa memperoleh pendapatan yang besar dari penjualan hak siar dan sponsor sehingga bisa menutupi biaya penyelenggaraan. Bahkan kemudian, oimpiade bukan hanya berdampak pada ramainya pertandingan melainkan juga meningkatnya arus wisata pada dan setelah momen olimpiade.

Inilah yang disebut money making model, jika dulu olimpiade merugi dan menguras APBN karena belum menemukan money making model yang sesuai, sekarang olimpiade menjadi sebuah kegiatan bisnis yang menguntungkan. Sejak berubah modelnya, pendapatan meningkat tajam.

Kekhawatiran bahwa dengan siaran langsung membuat lapangan pertandingan jadi sepi penonton, ternyata tidak terbukti. Masyarakat justru semakin penasaran ingin melihat langsung karena berbagai stasiun TV mempromosikan jadwal pertandingan dan profil para atlet dari berbagai negara.

Banyak hal bisa berubah dari merugi menjadi untung ketika sudah menemukan money making model alias pola mesin cetak uangnya. Ketika internet mulai dipakai oleh masyarakat umum, banyak orang mencari cara bagaimana kemudahan komunikasi melalui internet bisa menghasilkan uang.

Awalnya toko online dirancang dengan memindahkan model toko konvensional menjadi lay out website. Asumsinya, orang makin malas pergi ke swalayan dan akan memilih belanja online. Itu terjadi di periode menjelang awal abad 21. Ternyata banyak perusahaan berbasis internet  berguguran pada saat itu. Karena belum menemukan model mencetak uang yang tepat, idenya hanya memindahkan toko offline menjadi online.

Barulah setelah berkembang berbagai  model bisnis market place seperti tokopedia, OLX dan sebagainya, mulai terbentuk model mencetak uang. Tokopedia tidak memindahkan toko offline, tapi cukup menyediakan tempat jualan untuk UKM.

Begitupun sistem transportasi online, bukan dibuat dengan memindahkan taksi konvesional menjadi online, namun justru membuat model sharing economy dimana semua orang berhak memiliki taksi.

Perkembangan model baru dalam e-commerce adalah contoh perubahan cara pikir tentang money making model yang berpengaruh sangat besar bagi  pola bisnis di seluruh dunia. Model bisnis baru market place, portal berita, social media, search engine dan sebagainya telah mengubah cara-cara menjual barang dan jasa di dalam negara dan antar negara. Jenis pendapatan pun berkembang dengan model baru misalnya google adsense, pay per click, pay per sales dan sebagainya.

Namun perlu diingat money making model bukan hanya perlu untuk bisnis modern. Di bisnis konvensional kini juga perlu pemikiran kreatif untuk menciptakan penghasilan yang lebih efektif. Kalau anda berjualan ayam goreng, apakah pendapatannya paling banyak dari penjualan ayam goreng? Belum tentu. Bisa saja dari minumannya.

Dengan begitu Anda bisa merancang usaha ayam goreng yang relatif murah untuk mendongkrak penjualan jus, air putih, teh manis dan jenis minuman lainnya yang biasanya mencetak margin keuntungan lebih besar.

Apakah beternak sapi potong hasil utamanya harus dari penjualan sapi? Di Sulawesi Selatan ada peternak sapi yang  penghasilan utamanya dari pupuk organik dan probiotik. Peternak ini sangat kreatif menciptakan model “mesin cetak uang”.

Cobalah Anda pikirkan, kenapa google menyediakan informasi apa saja yang kita butuhkan secara gratis. Kenapa social media seperti facebook, twitter, Line gratis untuk kita semua? Itulah hasil inovasi tentang money making model. Mereka tidak menjual informasi, melainkan mengumpulkan banyak orang dan menjual space iklan.

Bagaimana dengan bisnis Anda?

Tujuan Yang Jelas

 

Salah satu kunci sukses yang disampaikan banyak motivator adalah memiliki cita-cita atau tujuan yang jelas. Hampir semua orang ingin menjadi warga yang berguna bagi bangsa dan negara. Ini adalah tujuan umum yang perlu dibuat spesifik yang masing-masing Pribadi berbeda-beda. Dengan tujuan yang jelas maka lebih mudah untuk memulai dan mengarahkan semua sumber daya yang ada.

Ibarat sebuah perjalanan, kita bisa mengevaluasi sebuah pencapaian kalau kita tahu hendak kemana kita akan pergi. Sebuah penelitian di Yale University mengungkapkan, hanya 3% dari lulusan perguruan tinggi tersebut yang memiliki cita-cita atau tujuan yang jelas. Penelitian selanjutnya, setelah 20 tahun, mereka yang memiliki tujuan yang jelas rata-rata memiliki tingkat keberhasilan yang lebih baik

Belakangan, diketahui bahwa tujuan yang jelas saja tidaklah cukup. Tanadi Santoso, seorang konsultan dan pembicara seminar mengatakan, setelah memiliki tujuan, kita perlu melakukan tindakan  yang nyata. Jika manusia memiliki tujuan yang jelas namun tidak melakukan tindakan yang nyata untuk menuju tujuan tersebut, maka besar kemungkinan akan sia-sialah tujuan itu.

Nah tujuan itu sendiri harus dikemas menjadi sebuah gairah, sebuah spirit untuk menjadi cita-cita yang hebat, dengan segala resikonya. Jika tujuan itu sudah menyatu dalam spirit hidup, pada umumnya akan ditemukan cara untuk mengarah ke tujuan itu. Di sini berlaku hukum tarik-menarik atau law of attraction. Hukum ini mengatakan apa yang terjadi saat ini adalah hasil dari pikiran kita di masa lalu, entah pikiran baik maupun pikiran buruk. Maka jagalah pikiran Anda agar menjadi positif.

Bila Anda ingin menjadi penulis, maka dengan sendirinya Anda akan sering bertemu dengan banyak hal yang berkaitan dengan dunia tulis menulis.  Sama halnya ketika Anda ingin membeli mobil baru, katakanlah merek Kijang Innova.  Karena energi “impian” memiliki mobil Innova itu begitu besar, maka kemana Anda pergi akan mendapatkan informasi tentang mobil tersebut. Ketika nonton TV, tiba-tiba melihat iklan mobil Innova, ketika baca Koran, lihat gambar innova. Tatkala di jalan raya, Anda melihat banyak mobil Innova, padahal sebelumnya terasa jarang mobil tersebut di jalan. Energi ini demikian besar,  maka Anda sebaiknya mengambil tindakan nyata untuk memiliki mobil tersebut. Anda bisa memulai dengan mencari informasi dealer mobil, informasi keunggulan dan kelemahan mobil yangAnda inginkan, test drive dan sebagainya.

Begitupun jika Anda punya cita-cita tertentu. Seorang yang bercita-cita masuk TNI, akan dengan sendirinya mencari informasi tentang hebatnya menjadi TNI. Mungkin saja pada akhirnya dia tidak diterima sebagai TNI, namun jika energi impian TNI itu tidak hilang, kelak akan ada suatu momen yang masih terkait dengan TNI. Mungkin saja jika dia menjadi pengusaha yang  berhubungan lagi dengan TNI sebagai  pemasok peralatan tempur, atau menjadi seorang pelatih olah raga yang dipercaya sebagai pelatih para prajurit maupun hal lainnya.

Di saat saya masih SMA, kepala sekolah saya berkisah tentang cita-citanya  sebagai TNI yang tidak tercapai. Ia sangat senang berkisah tentang sejarah perjuangan, pengalaman sebagai tentara pelajar dan lain-lain. Karena spirit tentaranya tetap terjaga, maka beberapa kegiatan sekolah pun termasuk bakti sosial selalu bekerjasama Kodam setempat . Ia begitu dekat bergaul dengan tentara. Jika menjadi inspektur upacara, memberi hormat maupun gaya bicaranya selalu bergaya tegas, tak berbeda dengan kepemimpinan seorang jenderal.

Masih terkait dengan kesuksesan dalam meraih cita-cita. Ada hal penting yang perlu dilakukan dalam meraih dan menjaga kesuksesan, yakni inovasi terus-menerus. Di era persaingan bebas sekarang, produk yang hari ini laku keras belum tentu bulan depan masih ada. Bisnis akan gampang terkubur dalam lautan persaingan bisnis, jika berjalan tanpa inovasi. Contohnya media sosial (Medsos) pada awalnya yang terkenal hanya friendster, kemudian menyusul facebook, twitter, line, whechat dan lain-lain. Belakangan ada lagi instagram, path dan sebagainya. Semua bergerak meraih pasar yang tumbuh pesat.

Jika inovasi sudah dilakukan, berikutnya perlu  sikap tahan banting atau pantang menyerah. Tanadi Santoso mengatakan, ketika kita mulai melangkah menuju impian, akan ada banyak hambatan menuju ke sana. Tak ada jalan yang rata untuk menuju sukses, kata Andrie Wongso. Lihatlah riwayat orang-orang hebat baik pengusaha, penyanyi , atlet, penulis. Mereka pasti melalui hambatan besar dan pantang menyerah terhadap kesulitan.

Jika Anda sudah memenuhi syarat-syarat di atas, langkah selanjutnya, serahkanlah semuanya kepada Yang Maha Pengambil Keputusan, karena pada hakekatnya semua sukses yang kita raih adalah atas izin dari-Nya. ***

 

Beruntung dengan Ilmu Langit

 

 

Segala sesuatu di dunia ini terjadi karena keberuntungan “atas izin Tuhan”

Jika kita bekerja keras dan berhasil meraih target, kita mengatakan bahwa kita berhasil alias sukses. Jika kita bekerja biasa saja tapi mendapatkan suatu prestasi yang luar biasa, kita mengatakan itu faktor keberuntungan. Jika kita lahir keluarga kaya raya, itu disebut keberuntungan.

Apakah yang anda capai hari itu sebuah keberhasilan atau keberuntungan? Percayakah Anda pada faktor keberuntungan? Arvan Pradhiansyah , penulis buku The 7 Law of Happiness, baru-baru ini mendiskusikan perihal keberuntungan dan kesuksesan di radio Smart FM Jakarta, dengan kajian yang cukup menarik.

Ia mengatakan, ada tiga cara pandang (paradigma) manusia  mengenai keberuntungan. Ketiga paradigma ini dapat menggambarkan evolusi pemikiran manusia mengenai keberuntungan itu sendiri.

Paradigma tingkat pertama mengatakan, semua terjadi karena keberuntungan. Orang yang menganut paradigma ini percaya bahwa yang membuat sukses bukanlah usaha tetapi keberuntungan. Bukankah ada banyak sekali orang yang yang mendapatkan kekayaan karena terlahir sebagai anak orang kaya? Bukankah banyak orang yang sukses karena mereka cantik, tampan, pandai, terkenal dan termasyhur? Bukankah kepopuleran seringkali membuat orang lupa pada kualitas individu yang sesungguhnya?

Intinya adalah semua hal di dunia ini terjadi karena keberuntungan. “Paradigma ini tidak sepenuhnya salah, namun mengandung bahaya yang cukup besar. Orang yang percaya pada paradigma ini pasti tidak suka bekerja keras. Ini pada gilirannya hanya akan memperburuk pencapaian mereka,” kata Arvan.

Paradigma kedua adalah paradigma yang tidak percaya pada keberuntungan. Ini terbalik dari paradigma pertama. Penganut paradigma ini percaya bahwa keberuntungan itu berada di tangan mereka sendiri dan bisa diciptakan dengan usaha dan kerja keras.

Paradigma kedua percaya bahwa di dunia ini berlaku hukum sebab akibat.  Mereka yang rajin dan bekerja keras akan beroleh kesuksesan, sebaliknya orang-orang yang malas akan menemui kegagalan. Orang Amerika mengatakan, jika Anda miskin, itu salah Anda sendiri, pasti Anda malas bekerja. Ini pertanda bahwa mereka menganut paradigma kedua. Kepercayaan ini tentu saja membuat orang-orang ini berjuang keras untuk mencapai keberhasilan. Tak heran kalau mereka benar-benar mencapai apa yang mereka perjuangkan. Mereka percaya keberuntungan sepenuhnya ada di tangan mereka sendiri.

Apakah ini adalah paradigma yang terbaik yang dapat membuat kita benar-benar sukses? Sukses sejati, menurut Arvan, bukanlah karena paradigma ini. Ada paradigma yang lebih tinggi dan lebih indah lagi daripada ini. Yaitu paradigma ketiga yang berbunyi: segala sesuatu di dunia ini terjadi karena keberuntungan “atas izin Tuhan”. Saya sengaja pakai tanda kutip karena kalimat aslinya yang disusun Arvan sama persis dengan paradigma yang pertama.

Saya menyebut paradigma ketiga ini sebagai evolusi pemikiran dari paradigma pertama.Mereka yang menganut paradigma ketiga adalah orang-orang yang berusaha dan bekerja keras untuk mencapai keberhasilan. Tetapi mereka juga percaya bahwa “sebab” tidak selalu berkorelasi langsung dengan “akibat”. Antara sebab dan akibat ada satu kekuatan yang sungguh dahsyat. Kekuatan inilah yang disebut dengan: izin Tuhan.

Bukankah segala sesuatu di dunia ini terjadi karena izin Tuhan? Bukankah banyak upaya yang keras mengalami kegagalan – bukan karena kurangnya usaha – tetapi karena Tuhan memang belum mengizinkannya? Bukankah bahkan tidak ada jaminan bahwa kue yang sedang kita pegang bisa masuk ke dalam mulut kita dengan selamat tanpa izin Tuhan?

Orang yang memiliki cara pandang kelompok ketiga inilah yang terbaik dalam menyikapi kehidupan. Bekerja dan berusaha sebaik mungkin adalah kewajiban manusia, jika sudah berhasil namun Tuhan mengambilnya, itu kehendakNya yang mungkin menjadi rahasia yang akan terbuka di kemudian hari.

Dengan paradigma ketiga ini kita akan terus bekerja keras untuk mencapai keberhasilan, tetapi kita terhindar dari rasa angkuh, sombong dan membanggakan diri. Kita akan sadar bahwa segala sesuatu terjadi karena rahmat Tuhan .

Sebagaimana pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan Kemerdekaan Republik Indonesia itu “Atas Berkat Rakhmat Allah yang Maha Kuasa”. Ini menunjukkan bahwa para pendiri negeri ini tidak angkuh dengan mengatakan kemerdekaan hanya semata-mata karena kerja keras para pejuang kemerdekaan.

Jadi, paradigma ketiga ini adalah paradigma keberuntungan yang benar, yang tidak hanya berdasar pada ilmu logika, tapi juga berdasarkan pada “ilmu langit”. Dengan cara berpikir seperti ini maka hidup manusia akan menjadi lebih bahagia. Sementara paradigma kedua bisa membuat orang sukses sekaligus mudah membuat orang frustasi, karena mereka memandang segala hal adalah semata-mata karena manusia.

Bekerja keras adalah kewajiban kita , hasilnya adalah atas izin Tuhan. Apapun keputusan Tuhan, itulah yang terbaik.***

Kelemahan Menjadi Kekuatan

 

Ciri pemimpin adalah mampu mengubah tantangan menjadi peluang, mampu mengubah kelemahan menjadi kekuatan dan mampu memberikan kejelasan tatkala orang lain bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi (Dr. Soehadji)

Ini kisah tentang si gagap yang sukses menjual buku, melebihi salesman lainnya yang normal. Salesman yang normal hanya mampu menjual 15 buku paling tinggi, sedang si Gagap mampu menjual buku yang dibawanya sebanyak 25 eksemplar.

Bagaimana tidak bingung melihat kejadian ini. Managernya pun terheran-heran. Suatu pagi sang manager tidak tahan untuk segera membongkar rahasia kesuksesan si Gagap ini. “Bagaimana rahasianya kamu bisa menjual buku ini selalu habis? Tolong ceritakan!”

Dengan suara tergagap-gagap dia bercerita “ Sa..sa..sa.. saya ju..ju..ju…jualan door to..to..to..to door. Dan sa..sa..saya bi..bi…bilang : ma..ma mau beli bu..bu..bu..bu  buku ini a a a atau sa..sa..sa..sa saya ba..ba..ba bacakan sa..sa..sa.. sam..pai ha..ha..habis!”

Hehehe. terang saja, orang yang ditawari buku, buru-buru merogoh kocek untuk beli buku daripada dibacakan isi buku itu sampai habis oleh si gagap. Terlepas ini fiktif atau tidak, namun kita bisa menyimpulkan bahwa kelemahan bisa menjadi senjata yang justru mematikan. Closing Ratio yang sempurna 100%, karena  semua yang ditawari buku lebih memilih beli daripada dibacakan sampai habis oleh si gagap.

Dalam dunia nyata, kelemahan dapat menjadi kekuatan. Kalau contoh cerita si Gagap itu kemungkinan fiktif, berikut ini kisah nyata rekan saya guru bahasa Inggris privat Anang Sam yang mampu menciptakan keunggulan dari kelemabahannya.

Suatu hari ia dalam kondisi ekonominya sangat sulit dan masih punya hutang usaha jualan telur asin yang bangkrut. Dia berpikir keras untuk bisa menyambung hidup. Akhirnya diputaskan untuk menawarkan diri sebagai pengajar kursus privat Bahasa Inggris. Karena Bahasa Inggris pas-pasan maka ia akan membidik segmen anak-anak. “Walaupun Bahasa Inggris saya belum lancar, kalau mengajar untuk anak-anak pasti bisa,” ujarnya untuk memotivasi dirinya sendiri.

Maka ia pasang iklan baris di sebuah tabloid. “Kursus Privat Bahasa Inggris, hubungi anang sam telp…..,” demikian bunyi iklan barisnya.

Setelah ia memasang iklan, ternyata seorang ibu menelepon menanyakan tentang iklan kursus privat. Anang pun lalu bertanya kepada si penelpon, “anaknya umur berapa?”.

Si ibu menjawab, “saya yang mau belajar Bahasa Inggris mas, bukan anak saya.”

Wah, keringat dingin keluar. Anang sangat khawatir kalau nanti ketahuan kalau kemampuan Bahasa Inggrisnya belum memadai.

Maka demi memuaskan pelanggan ini kursus singkat kepada temannya yang guru Bahasa Inggris profesional, tentang bagaimana mengajar dengan metoda yang praktis. Singkat cerita, sesuai kesepatakan ia pun datang ke rumah si ibu, sebagai pelanggan pertamanya, dan mulailah ia membuka pelajaran pertamanya dengan permainan kartu bergambar untuk menghafal kosa kata Bahasa Inggris.

Untuk menutupi kelemahannya, ia mengajarnya dengan pelan-pelan.

This is a card. In the card there is a picture…..” katanya dengan volume suara yang cukup keras tapi membacanya lambat

Nah, ternyata setelah sesi pertama mengajar si ibu ituberkomentar “mas anang enak ngajarnya, bicaranya pelan-pelan jadi saya cepat mengerti maksudnya”…

Seperti mendapat durian runtuh, hari itu ia sangat bahagia mendengar pujian sang murid. Ternyata “kelemahan” mengajar “pelan-pelan” itulah yang kemudian menjadi kekuatannya sebagai guru privat Bahasa Inggris.

Dr Soehadji, seorang mantan Dirjen di Kementerian Pertanian  pernah mengatakan, ciri pemimpin adalah mampu mengubah tantangan menjadi peluang, mampu mengubah kelemahan menjadi kekuatan dan mampu memberikan kejelasan tatkala orang lain bertanya tentang apa yang sedang terjadi.

Dalam dunia bisnis, banyak keunggulan yang sebenarnya dari sebuah kelemahan atau kekurangan jika dipandang oleh logika umum. Diferensiasi produk nyatanya tidak harus memberikan keunggulan teknis, tapi cukup dari konteksnya atau cara menyampaikannya saja. Deferensiasi kadang adalah sebuah kelemahan. Minuman kopi yang baik secara teknis adalah yang serbuknya halus dan larut dalam air. Makan kopi modern jika diminum tidak ada sisanya. Namun kopi yang kasar yang sebenarnya sebuah kelemahan, bisa disampaikan ke publik sebagai kopi rasa Indonesia.

Anda boleh membangun hotel dengan fasilitas canggih untuk wisatawan mancanegara. Namun jika anda punya rumah penginapan di puncak bukit yang terpencil janganlah berkecil hati karena banyak kekurangannya, karena anda bisa menjual dengan kata-kata “menikmati keindahan alami dipuncak bukit, sejuk dan nyaman”.

Justru wisatawan akan melihat rumah di puncak bukit yang sulit dijangkau bisa menjadi keunggulan, karena menawarkan penginapan yang alami tanpa perlu AC (Air Conditioner). Kalau perlu tanpa listrik, biar wisatawan asing menikmati segala suasana pedesaan asli. Dan itu sudah terbukti.

Anda memelihara ikan dan ternak secara alami? Sebut saja itu peternakan atau perikanan organik, maka harganya jadi mahal.

Begitulah, jika anda jeli, banyak hal yang dipandang sebagai kelemahan, dapat menjadi kekuatan. ***

Ketika Aku Bersyukur

 

 

Bambang Suharno

 

Ketika aku ingin hidup kaya

Aku lupa bahwa hidup itu sebuah kekayaan

Ketika aku takut memberi

Aku lupa bahwa semua yang aku miliki juga adalah pemberian

Ketika aku takut rugi

Aku lupa bahwa hidupku adalah sebuah keberuntungan karena anugerah-Nya

Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu bersyukur kepada-Nya

(WS Rendra)

 

Hari ini saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk menulis artikel Inspirasi di majalah ini. Kesempatan untuk menulis artikal adalah kesempatan yang langka, jika saya mengeluh bahwa menulis adalah sebuah beban, sungguh sangat tidak patut. Betapa banyak orang lain yang ingin menampilkan artikelnya di media cetak nasional. Sejatinya betapa banyak yang harus saya syukuri, tapi saya lebih banyak mengingat hal yang saya anggapburukbagiku.

Agama mengajarkan, jika kita bersyukur  maka Tuhan akan menambah nikmat kita, dan sebaliknya jika kita kufur, maka akan datang azab Tuhan yang sangat berat.

Mari kita coba pahami sikap Syukur dari kajian ilmuwan. Sudah banyak ahli yang meneliti tentang sikap bersyukur. Bahkan “gratitude research” atau “penelitian tentang sikap bersyukur” menjadi salah satu bidang yang banyak diteliti ilmuwan abad ke-21 ini.

Profesor psikologi asal University of California, Davis, AS, Robert Emmons, sekaligus pakar terkemuka di bidang penelitian “sikap bersyukur”, telah memperlihatkan bahwa dengan setiap hari mencatat rasa syukur atas kebaikan yang diterima, orang menjadi lebih teratur berolah raga, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit, dan merasa secara keseluruhan hidupnya lebih baik.

Saya sempat berpikir kenapa orang bersyukur jadi rajin olah raga? Rupanya kalau kita mensyukuri kesehatan, secara spontan menjadi bersikap menjaga kesehatan, yakni dengan olah raga.

Dikatakan dalam penelitian itu bahwa dibandingkan dengan mereka yang suka berkeluh kesah setiap hari, orang yang mencatat daftar alasan yang membuat mereka bersyukur akan, bersikap lebih menyayangi, memaafkan, gembira, bersemangat dan berpengharapan baik mengenai masa depan mereka. Di samping itu, keluarga dan rekan mereka melaporkan bahwa kalangan yang bersyukur tersebut tampak lebih bahagia dan lebih menyenangkan ketika bergaul.

Dalam sebuah penelitian Prof Emmons mewajibkan sebagian mahasiswa untuk menuliskan lima hal yang menjadikan mereka bersyukur setiap hari. Sedangkan mahasiswa selebihnya diminta mencatat lima hal yang menjadikan mereka mengeluh. Tiga pekan kemudian, mahasiswa yang bersyukur memberitahukan adanya peningkatan dalam hal kesehatan jiwa-raga dan semakin membaiknya hubungan kemasyarakatan dibandingkan rekan mereka yang suka menggerutu.

Di tahun-tahun berikutnya, profesor Emmons melakukan aneka penelitian yang melibatkan beragam kondisi manusia, termasuk pasien penerima organ cangkok, orang dewasa yang menderita penyakit otot-saraf dan murid kelas lima SD yang sehat. Di semua kelompok manusia ini, hasilnya sama: orang yang memiliki catatan harian tentang ungkapan rasa syukur mengalami perbaikan kualitas hidupnya.

Penelitian lain dilakukan dengan melatih pembiasaan sikap bersyukur setiap hari pada diri sendiri. Kondisi positif seperti: waspada, bersemangat, tabah, penuh perhatian, dan daya hidup pada orang muda dewasa meningkat akibat pembiasaan sikap bersyukur. Perbaikan kondisi sebaik ini tidak dijumpai pada orang yang dilatih bersikap menggerutu.

Orang sakitpun tak luput dari penelitian ini. Dengan melibatkan sejumlah orang dewasa pengidap penyakit otot-saraf, pelatihan membiasakan sikap bersyukur berdampak baik pada pasien tersebut. Di antaranya adalah kualitas dan lama tidur yang lebih baik, lebih optimis dalam menilai kehidupan, lebih eratnya perasaan persahabatan dengan orang lain, serta suasana hati tenteram yang lebih sering dibandingkan dengan mereka yang tidak dilatih bersikap syukur.

Pribadi-pribadi yang bersyukur dilaporkan memiliki sifat materialistis yang rendah. Mereka tidak begitu menaruh perhatian penting padahal-hal yang bersifat materi. Mereka cenderung tidak menilai keberhasilan diri sendiri dan orang lain dari jumlah harta benda yang mereka kumpulkan.

Dibandingkan dengan kaum yang kurang berterima kasih, kalangan yang bersyukur cenderung tidak berwatak pendengki terhadap kaum kaya, dan bersikap mudah memberikan apa yang mereka punya kepada orang lain.

Profesor Emmons menuangkan hasil-hasil temuan ilmiahnya itu dalam buku terkenalnya “Thanks! How the New Science of Gratitude Can Make You Happier” (Terimakasih!Bagaimana Ilmu Baru tentang Bersyukur Dapat Menjadikan Anda Lebih Bahagia). Buku ini memaparkan pula 10 kiat untuk menanamkan rasa syukur sepanjang tahun demi mendapatkan nikmat karunia yang bermanfaat dalam kehidupan.***