Celebrate Indonesia

CELEBRATE INDONESIA

April 1994, Rwanda porak poranda.  Delapan ratus ribu meninggal dan 2 juta warga menggungsi menyeberang perbatasan. Negara di Afrika tersebut koyak karena beberapa suku bentrok. Tragedi kemanusiaan yang tak termaafkan akibat kekerasan politik dan etnis.

Membahas masalahnya tak akan pernah bisa mengurai. Hanya satu pertanyaan tersisa.

Bisakah kita melihat perbedaan wajah mereka? Sama sekali tidak. Mereka mirip dan serupa. Mereka kehilangan momentum berbangsa yang satu. Tujuan berbangsa adalah yang utama, bukan pengembangan perbedaan karena kesukuan. Akankah hal serupa bisa terjadi di negeri ini ? Dulu kita pernah mengalami.  Semoga kita tidak akan pernah lagi mengalaminya. Selamanya.

Apakah semua suku bangsa kita mirip dan serupa? Tidak. Berbeda-beda tetapi kita tetap satu bangsa. Saat berjalan di negara tetangga, kita akan tetap menjawab Indonesia, walaupun disapa dengan menggunakan Bahasa Inggris, Melayu, Tagalok, Thai, dan atau bahasa lainnya.

Saya duduk di bangku tanah, di pinggir sungai, di pedalaman Kalimantan Barat. Belasan perenang sedang berjuang keras memenangkan lomba menangkap bebek di sungai. Bebek itu meliak-liuk menghindar. Pekik membahana mewarnai lomba. Di belahan daerah lainnya, ada banyak jenis lomba lainnya. Ini adalah bagian dari perayaan ulang tahun kemerdekaan kita. Ramai sekali. Sangat ramai. Di batin saya, keramaian itu  bahkan mengalahkan keriuhan pesta kembang api di sungai Delaware, Philadelphia.  Perayaan kembang api hari kemerdekaan Amerika Serikat.

Dalam kamus, Celebrate di definisikan sebagai ‘to take part in special enjoyable activities in order to show that a particular occasion is important’. Terjemahan bebas saya adalah merayakan apa saja yang patut dan penting untuk dirayakan. Termasuk Kemerdekaan kita, 17 Agustus.

Memandang Indonesia tidak boleh hanya seperti melihat TV hitam putih. Tidak boleh banya melihat keragaman dari sisi jumlah pulau, jumlah suku, jumlah bahasa, dan jumlah-jumlah lainnya. Tak hanya keragaman kuliner  seperti puluhan jenis soto.  Dari  soto medan, soto padang, soto madura, soto banjar, dan seterusnya.  Pulau sebanyak  17.504  itu hebat. Bahasa sebanyak 742 itu luar biasa. 1.340 suku bangsa itu hebat dan luar biasa.

Kita harus melihatnya lebih dari  jumlah angka-angka . Kita harus melihat Indonesia seperti TV berwarna. Seperti lukisan tiga dimensi. Apa yang lebih luar biasa dari semua hal keragaman dalam angka diatas? Perasaan. Perasaan kita sebagai satu bangsa. Perasaan sebagai Bangsa Indonesia. Walaupun baru 77 tahun sejak deklarasi kemerdekaan, kita telah berjalan jauh dalam membangun ke-Indonesia-an kita.

Perhatikan saat kita sedang liburan, saat hari besar keagamaan. Saat sebagian dari kita berbondong-bondong pulang ke kampung halaman.  Tetangga kita bernama Made pulang kampung ke Kendari, bukan ke Bali. Tetangga kita bernama Nasution pulang kampung ke Kupang, bukan ke Sumatera Utara. Tetangga kita bernama Foeng pulang kampung ke Bogor, bukan ke Singkawang. Tetangga kita bernama Sunarto pulang kampung ke Binjei, bukan ke Jawa Tengah.

Tetangga kita bernama Barnabas pulang kampung ke Garut, bukan ke Papua. Kita sudah tak mempermasalahkan lagi kampung asal kita. Kita sudah ada di mana-mana, di mana saja kita ingin tinggal dan menetap. Pencapaian yang luar biasa sebagai bangsa. Masih banyak hal pernik-pernik kecil perekat yang telah rekat dengan erat. Sangat erat bahkan, tanpa kita sadari.

Kita berhak merayakan 17 Agustus sebagai tanda ke Indonesiaan kita.

Kita berhak merayakan Indonesia. Selain, tentu mengisinya dengan sepenuh jiwa raga.

Ismail Marzuki bernyanyi,
Disana tempat lahir beta,
Dibuai dibesarkan bunda,
Tempat berlindung di hari tua,
Tempat akhir menutup mata.

Bisakah kita berteriak lebih keras dengan empat bait-nya Ismail Marzuki? Siapkah kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.