Srikandi dari Kupang

Dari Industri ke Kampus dengan Ilmu, Aksi, Dedikasi

Siapa sangka, perjalanan Riris Yuli Valentine Sinaga  di dunia perikanan bermula dari tambak keluarga.

Sejak kecil, Riris sering melihat ayahnya mengurus tambak sepulang mengajar. Awalnya hanya sekadar bermain, tapi lama-lama ia mulai tertarik melihat bagaimana udang dan ikan tumbuh. Dari sanalah Riris menemukan jalan hidupnya.

Lahir di Bandar Lampung, 29 Juli 1990, dalam keluarga pendidik, kedua orangtuanya adalah guru, Riris tumbuh dengan nilai disiplin dan semangat belajar yang kuat.

Setelah lulus SMA, ia memilih melanjutkan studi di Diploma 3 Budidaya Perikanan di Politeknik Negeri Lampung. Selama tiga tahun, dirinya banyak belajar melalui praktik langsung di lapangan, yang semakin memperkuat keyakinannya untuk berkarir di dunia perikanan.

Setelah lulus, ia sebenarnya sudah mendapat tawaran kerja, tetapi dorongan orang tua membuatnya memilih melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Riris berhasil meraih beasiswa alih jenjang ke Universitas Padjadjaran dan merantau ke Bandung.

Setelah menyelesaikan sarjana, Riris langsung melanjutkan ke program magister di kampus yang sama. Selama studi, dirinya juga bekerja sebagai asisten konsultan, terlibat dalam perencanaan tambak di Sungai Liat, Bangka, dan budidaya ikan nila di Jawa Barat.

Bangkit Setelah Badai

Namun, di tengah perjalanan, saya mengalami momen terberat dalam hidup—kepergian ibu tercinta secara mendadak. “Bagai tersambar petir siang bolong, kepergian ibunda tercinta secara mendadak membuat saya kehilangan semangat, tetapi saya sadar bahwa menyelesaikan pendidikan adalah cara terbaik untuk menghormati impian beliau,” kenang Riris kepada Majalah Info Akuakultur.

Dengan tekad yang kuat, ia bangkit, menuntaskan pendidikan, dan membawa harapan ibunya dalam setiap langkah Riris. “Perjalanan dari tambak keluarga hingga dunia akademik penuh dengan tantangan, tetapi semua itu membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat,” kata Riris.

Dirinya percaya, ilmu dan kerja keras adalah kunci meraih cita-cita. Kini dirinya ingin terus berbagi ilmu dan menginspirasi mereka yang sedang berjuang agar tidak takut bermimpi dan terus melangkah maju.

Seperti pesan ayahnya yang selalu ia pegang, “Apa pun yang kamu lakukan, lakukan dengan sepenuh hati, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Begitu pula dengan ibu, yang selalu menekankan betapa pentingnya pendidikan. Inilah yang menjadi alasan saya terus melangkah, meskipun jalannya tidak selalu mudah,” ucap Riris dengan tegar.

Perjalanan Karir dari Industri ke Dunia Akademik

Perjalanan karirnya dimulai di dunia industri, bekerja sebagai Marketing Executive di perusahaan alat kesehatan dan bioteknologi di Jakarta Barat. Pekerjaan ini membawanya berkeliling ke berbagai provinsi secara gratis, memberi pengalaman berharga dalam bisnis dan pemasaran teknologi.

Namun, hatinya selalu tertarik pada perikanan, hingga akhirnya ia beralih menjadi Supervisor Laboratorium Tambak Udang di Lampung. Di sini, Riris belajar lebih dalam tentang kualitas air, kesehatan udang, dan manajemen tambak.

Tantangan berikutnya datang saat ia ditugaskan ke Sumbawa Besar untuk menangani pembuatan mini laboratorium tambak udang, yang semakin memperkaya pengalamannya di bidang budidaya.

Meski menikmati dunia industri, kata Riris, dirinya merasa terpanggil untuk kembali ke dunia pendidikan. “Keinginan almarhum ibu saya agar saya menjadi dosen selalu teringat di benak saya. Sebelum beliau meninggal, beliau sempat menyampaikan harapannya agar saya mengabdi di dunia akademik. Saat itu, saya belum memahami sepenuhnya, tetapi Tuhan punya cara-Nya sendiri,” tuturnya.

Setelah melewati berbagai pengalaman kerja, akhirnya ia menyadari bahwa semua perjalanan itu ternyata menjadi bekal berharga sebagai dosen. Kemudian, ia bergabung sebagai dosen kontrak di Politeknik Negeri Lampung, sebelum akhirnya lulus seleksi CPNS pada 2018 dan menjadi dosen tetap di Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang.

Menurut Riris, mengajar di Nusa Tenggara Timur bukan hal mudah, tantangan budaya dan akses pendidikan membuatnya harus terus belajar dan beradaptasi. Namun, ia terus melangkah dengan keyakinan, apalagi dengan dukungan penuh dari suami yang juga sibuk membangun bisnisnya sendiri.

Saya selalu percaya bahwa keseimbangan antara karir dan keluarga itu penting. Pagi-pagi, sebelum berangkat ke kampus, saya menyempatkan ngobrol sebentar dengan anak-anak, sekadar mendengar cerita mereka.

Akhir pekan jadi momen berkualitas bersama keluarga, entah hanya makan bersama atau jalan-jalan sebentar ke tempat favorit. Meski pekerjaan kadang menyita waktu, saya selalu berusaha hadir dalam momen-momen kecil yang berarti bagi keluarga.

“Saya bersyukur memiliki pasangan yang selalu mendukung karier saya,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur.

Dosen Teladan Berprestasi

Tahun 2024 menjadi salah satu momen paling membanggakan dalam perjalanan karir Riris. Ia menerima penghargaan sebagai Dosen Teladan Berprestasi di kampus, sebuah pencapaian yang tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga untuk taruna dan rekan kerja yang selalu mendukungnya.

Riris menuturkan, penghargaan ini adalah hasil dari kerja keras, semangat berbagi ilmu, dan dedikasi dalam dunia Pendidikan. “Namun bagi saya, penghargaan bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” ujarnya.

Kepada Majalah Info Akuakultur, Riris ingin terus menjadi berkat bagi lingkungan sekitar, berkontribusi lebih banyak bagi dunia akademik dan perikanan, serta menginspirasi generasi penerus untuk tidak pernah berhenti belajar. Perjalanannya dari dunia industri ke dunia akademik, dari mengelola tambak hingga mengajar di ruang kelas, mengajarkan bahwa setiap pengalaman punya makna.

“Semua itu membentuk siapa saya hari ini dan memberi semangat untuk terus berbagi ilmu serta membuka lebih banyak peluang bagi mereka yang ingin berkembang,” kata Riris.

Bangun Tim yang Solid

Riris mengatakan, dalam perjalanan karirnya banyak bekerja dengan tim yang beragam, mulai dari rekan kerja sebaya, tenaga pendidik lokal, hingga taruna dari berbagai daerah. Tentunya banyak tantangan, namun ia percaya, kunci utama adalah komunikasi yang terbuka dan saling menghargai peran masing-masing.

Setiap orang punya latar belakang dan cara kerja berbeda, tapi jika bisa memahami satu sama lain, tim jadi lebih solid dan nyaman untuk bekerja sama. Mengajar di Kupang memberinya pengalaman baru dalam membangun tim. Rekan kerja datang dari berbagai latar belakang, begitu juga taruna yang ia didik.

Namun demikian, meski ada kendala budaya dan cara komunikasi yang berbeda, tapi ia belajar bahwa kunci utama adalah saling menghormati dan memahami. “Sekarang, bekerja dalam tim bukan lagi tantangan, tapi justru bagian yang paling saya nikmati,” ucap Riris.

Sebuah Harapan dan Impian

Setiap orang tentu punya harapan, begitupun dengan Riris. Ia memiliki harapan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral, karena ini bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga bagian dari perjalanan karier akademiknya.

Keinginannya untuk melanjutkan studi doktoral semakin kuat setelah bertemu dengan tiga profesor hebat. Riris kagum dengan wawasan dan dedikasi mereka dalam dunia akademik. Saat memberikan buku karya saya kepada mereka, saya berpikir, ‘Mungkin suatu hari nanti, saya juga bisa seperti mereka’.

“Saya ingin terus belajar, berkontribusi, dan memberikan manfaat lebih besar untuk institusi serta taruna saya,” harapnya.

Gelar doktor bukan sekadar simbol akademik, kata Riris, tetapi juga peluang untuk meningkatkan kompetensi diri, memperkuat kontribusi dalam penelitian dan pengabdian, serta membangun institusi tempatnya mengabdi.

Saat ini, jumlah dosen bergelar doktor masih terbatas, dan ia ingin menjadi bagian dari mereka yang dapat memberikan dampak lebih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, terutama di bidang perikanan dan pendidikan vokasi. Riris berharap, melalui pendidikan ini, ia dapat memberikan manfaat lebih luas bagi taruna, rekan kerja, serta perkembangan dunia akademik dan industri perikanan.

“Semoga Tuhan membuka jalan menuju impian ini. Saya percaya, jika Tuhan berkenan, impian ini akan terwujud di waktu yang tepat. Semoga perjalanan menuju pendidikan doktoral ini dapat menjadi berkat, tidak hanya bagi saya sendiri, tetapi juga bagi institusi tempat saya bekerja dan lingkungan akademik yang lebih luas,” pungkasnya. (Adit)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.