Belajar Adalah Seni Kehidupan

“Success is walking from failure to failure with no loss of enthusiasm”

Begitulah kiranya kutipan dari Winston Churchill, seperti mengisahkan perjalanan karir Dony Riadi S. St. Pi yang kini menjabat sebagai Manager Pakan Ikan Global Feed – De Heus.

Dony meniti karir dari titik terbawah dimulai pada tahun 2000, saat itu dirinya ditempatkan sebagai nursery di salah satu farm Central Proteina Prima (CPP) di Cianjur selama 6 bulan, berlanjut hingga ke farm comercial CPP di Jatiluhur.

“Di Jatiluhur saya ditempatkan di pembesaran ikan nila merah, alhamduliah profit setelah saya handle,” ungkapnya penuh syukur.

Karirnya terus berlanjut hingga di tahun 2002 – 2004 dirinya dipercaya oleh CPP untuk meng-handle farm – farm kemitraan CPP di wilayah Bogor (nila merah dan lele). Pada awal tahun 2005 disitulah karir di marketing pakan ikan di mulai.

“Saya kembali ke Jatiluhur sebagai marketing, pada saat saya masuk di wilayah tersebut kondisi omset sedang tidak bagus, pelan-pelan dengan kerja keras dengan tim, atasan saya Bapak Sindu saat itu ikut serta management mulai naik dan melebihi target yang perusahaan bebankan di wilayah saya,” tuturnya.

Memasuki Agustus 2012, Hendi salah satu tim di CPP mengajaknya untuk bertemu seseorang dari Feedmill yaitu Global Feed dan menawarkan dirinya untuk bergabung dengan kondisi yang berbeda,

“Menurut saya ini adalah suatu tantangan yang sangat menarik, akhirnya saya terima tawaran tersebut dan mulai bergabung dan memulai dari nol,” ujar Dony dengan antusias.

Dengan berbagai tantangan bisnis yang pernah Dony rasakan, dirinya sangat berterima kasih kepada semua rekan kerja yang telah bekerjasama dengannya, “Saya sangat berterima kasih kepada Tim Produksi dan Management Global Feed yang sangat mendukung saya dan tim, terutama Pak Edi Wahyu yang membimbing saya dalam menjalankan kepercayaan sebagai Manager Marketing Pakan Ikan Global Feed, tentunya tidak terlepas dari CPP yang juga telah menggembleng saya, membesarkan serta memberikan pengalaman yang sangat berharga,” pungkasnya.

Tim Yang Solid

Kini dirinya menjadi bagian dari keluarga De Heus, “menurut saya ini sangat akan lebih menarik dan baik, karena De Heus adalah salah satu perusahaan besar di dunia, tentunya akan lebih banyak tantangan kedepannya untuk kemajuan perusahaan dan kemajuan sektor perikanan di Indonesia, dan saya sangat senang.”

Ketika ditanya bagaimana pandangannya terhadap perkembangan budidaya perikanan di Indonesia, Dony menuturkan bahwa perkembangan budidaya ikan di Indonesia sangat pesat selama 10 tahun terakhir, ini bisa lihat dari penjualan pakan ikan secara total dari tahun ke tahun selalu tumbuh, dan itu adalah peluang yang sangat baik,

“Saya rasa masyarakat Indonesia mulai merubah pola pikir dalam mengkonsumsi ikan air tawar, karena fresh dan harganya relatif terjangkau di semua kalangan. Untuk mengenai penyakit di ikan air tawar relatif tidak sehebat di udang, jadi masih bisa teratasi dengan baik,” kata Dony.

Saat ini De Heus mempunyai beberapa produk untuk di ikan air tawar, Pakan Lele, Ikan Mas, Pakan Ikan Nila, Pakan Ikan Gurame, Pakan Ikan Patin, Pakan Ikan Bandeng dan Pakan untuk Bibit ikan dan semua itu adalah unggulan produk De Heus dengan mempunyai kelebihan FCR yang bagus, pertumbuhan lebih cepat serta membuat daging ikan menjadi tebal.

Selain produk yang berkualitas ada rahasia lain yang menjadikan De Heus mampu bersaing hingga saat ini, “kestabilan kualitas yang baik itu menjadi komitmen  perusahaan, customer manjadi Independent Partner dan tentu saja ini semua tidak terlepas dari tim yang solid,” ungkap Dony.

Lebih lanjut Dony menambahkan, “Intinya bahwa kita harus menyamakan presepsi bahwa kita berpikir untuk kemajuan perusahaan dengan karyawan dilingkungan kerja, sehingga kita tidak ada yang berpolitik untuk kepentingan pribadi, kita kerja bersama, saling support sehingga tercipta suasana kerja yang nyaman, dan saya di tim saya saya tidak pernah menganggapnya sebagai bawahan saya, atau saya sebagai bos, tapi saya menganggapnya sebagai rekan kerja dan teman,” tambahnya.

Sikap low profile yang dimilikinya ternyata dipelajari melalui tokoh-tokoh besar yang menjadi motivatornya dalam berbisnis, seperti Bill Porter yang memiliki kegigihan, kesabaran Bill Porter merupakan seorang sales marketing dengan kekurangan dari fisiknya, tapi dia mampu manjadi the best sales dengan penjualan terbanyak. Karena menurut pandangan Dony sukses adalah jika kita mempunyai nilai yang baik untuk keluarga, lingkungan dan rekan kerja. (Vira)

Nama: Dony Riadi S. St. Pi

Jabatan dan Instansi: Manager Pakan Ikan Global Feed – De Heus

Karena Setiap Usaha Tak Akan Mengkhianati Hasil

Untuk anda pelaku usaha yang bergerak di sektor perikanan budidaya, mendengar nama CV Pradipta Paramita pasti yang terbersit di pikiran adalah sosok wanita tangguh di belakangnya, yaitu Dra. Agnes Heratri, MP.

Agnes Heratri

Wanita yang menjabat Direktur ini, dikenal pebisnis sejati. Naik dan turun, mengecap asam garam sudah dirasakan, Sosok yang akrab disapa Ratri ini, mengawali karirnya saat masih berkuliah di Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada (UGM) sebagai asisten laboratorium di beberapa laboratorium.

Ratri dikenal sosok pemikir dan menyukai bidang science, dirinya memang sangat menyukai pekerjaan di laboratorium. Begitu lulus kuliah dari Universitas Gadjah Mada (UGM), ketika ada kesempatan lowongan kerja di laboratorium dengan kriteria pengalaman 1 tahun, lantas Ratri tidak berpikir panjang untuk mencobanya.

Hasilnya, dengan berbekal surat keterangan asisten praktikum di beberapa laboratorium, dirinya bisa diterima kerja dan dipercaya untuk membuat laboratorium microbiology serta membawahi laboratorium procces control, sampai 20  tahun lebih.

Karirnya terus berlanjut, lepas dari bekerja secara formal, Ratri memutuskan resign dari tempat Ia bekerja sebelumnya. Kemudian, dengan menekuni usaha pembasmi lalat dan probiotik, yang sudah berjalan beberapa tahun sebelumnya dan diawasi oleh sang suami Ir. Agustinus Yani Rustana, kini bisnis tersebut sampai merambah dunia akuakultur.

 

Naluri pebisnis juga Ratri tularkan kepada anaknya. Ia menuturkan, “anak saya yang kecil sejak semester empat sudah saya minta untuk mengurus cafe di Jogja, sambil kuliah, jadi asisten di labaratorium, dan kegiatan lain. Semuanya harus beres, jadi semua urusan baik belanja maupun urus pegawai sudah sudah diserahkan dan dipercayakan kepada anak bontotnya,” jelas Ratri.

CV Pradipta Paramita adalah bukti ketekunan Ratri dan suami, bagaimana berbisnis dari nol menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk kemajuan dunia peternakan dan akuakultur Indonesia, kini dia dan suaminya bersama seluruh staf karyawannya tinggal meneruskan dan merasakan hasil manis dari sebuah ketekunan.

Cinlok

Tidak habis kata menceritakan kisah karir dari jebolan UGM ini. Dalam hal asmara, ada kisah unik yakni cinlok atau cinta lokasi. Memang benar adanya jodoh merupakan rahasia Tuhan, namun kampusnya menimba ilmu menjadi saksi pertemuan dirinya dengan suaminya, yang sekaligus menjadi tempat menuntut ilmu kedua putrinya saat ini.

Saat bersama keluarga tercinta

“Suami saya adalah teman satu organisasi, waktu kuliah hanya berbeda fakultas, suami saya dari Fakultas Peternakan UGM. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau akan jadi isteri dari suami saya saat ini,” tutur Ratri sambil tersipu malu.

Disela-sela waktu luang, dirinya suka pergi ke Jogja atau sekedar menghabiskan waktu bersama cucu dan melakukan hobinya bercocok tanam, “Saat ini saya sedang asik dengan menanam hidroponik sayuran dan lain-lain di lantai dua rumahnya,” ucap Ratri.

Untuk bercocok tanam, kata Ratri, selain menyalurkan hobi ada kepuasaan saat panennya berhasil, namun tidak jarang juga tanamannya mengalami kegagalan, “Mengurusi tanaman hidroponik, bisa membuat saya betah berlama-lama dan senang melihat hasil yang ada. Jika gagal jadi lebih semangat dan semakin penasaran mencari cara agar bisa berhasil panen,” pungkasnya.

Didikan orangtua

Bila kini dirinya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, bisa jadi itu juga merupakan salah satu bentuk didikan orangtuanya dalam membentuk karakternya.

“Besar sekali peran orangtua saya, khususnya dalam pendidikan karakter dan kepribadian, Bapak saya sangat mengajarkan artinya kejujuran, dan itu hal yang sangat bisa digunakan untuk bekal hidup,” kata Ratri.

Lebih jauh, Ratri juga mengatakan bagaimana menghadapi hidup dengan harus selalu berusaha, jangan meyerah pada keadaan. “Bapak saya mengajarkan jika bekerja jadi pegawai harus bisa menambah gaji dengan berbisnis, karena makin tinggi jabatan, tuntutan standard hidup juga makin tinggi, jadi biaya hidup akan lebih tinggi dan kesempatan menabung makin kecil. Kalau punya usaha tidak usah terlalu terburu-buru untuk menikmati usaha sebelum merasa aman dalam usaha,” ungkapnya.

Berfoto bersama dengan seluruh Staf Karyawan CV Pradipta Paramita

Sementara sang Ibu mendidiknya dengan cukup keras sedari kecil, anak-anak dilatih agar tidak mudah ‘cengeng’ dan menyerah, dengan tujuan kelak di kehidupan mendatang dirinya harus mampu bertahan dalam setiap keadaan. Meski begitu, Ratri menuturkan, bahwa di balik sikap yang disiplin yang diajarkan, Ibunya ternyata adalah sosok pekerja keras yang juga humoris.

Dalam mendidik anak, sedkit banyak Ratri menjadikan Ibunya sebagai role model. Diakuinya, ketika anak-anak masih kecil dirinya juga menerapkan kedisiplinan terhadap mereka.

“Ketika anak-anak saya masih kecil, saya cenderung tegas, untuk dapat menekankan disiplin dan membuat anak bisa mandiri, tidak manja. Setelah anak-anak dewasa saya menekankan demokrasi, jadi jika ingin mengambil suatu keputusan akan dibicarakan bersama-sama,” ujar ibu dari dua orang putri ini.

Sebab, kedisiplinan akan melahirkan kesuksesan. Menurut Ratri, yang ia kenang dari almarhum ayahnya adalah, orang sukses itu harus bahagia baik lahir dan bathin, tidak harus menunggu materi berlimpah, dan mengaplikasikan rasa syukur dalam setiap keadaan adalah adalah bentuk kesuksesan yang sebenarnya. (Vira/Adit)

Biodata

Nama Lengkap                        : Dra.Agnes Heratri,MP

Jabatan dan Instansi                : Direktur CV Pradipta Paramita

Pendidikan;

Sekolah Dasar (SD) PIUS Sidareja Cilacap

Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen, Sidareja Ciacap

Sekolah Mengah Atas (SMA) Bruderan Purwokerto

S1 Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada (UGM)

S2. Fakultas Agronomi UNS ( S2)

 

Sukses Adalah Banyak Beri Manfaat

Kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas
Beribadah, termasuk didalamnya bekerja untuk mencari nafkah adalah sebuah keharusan bagi manusia manusia yang dikarunia akal. Sehingga bekerja bukanlah semata mencari nafkah dan kepuasan duniawi, apalagi hanya sekedar untuk hal-hal yang bersifat fisik.
Kualitas diri seseorang bukan hanya sekedar dinilai dari seberapa banyak dia mampu melakukan sesuatu, tetapi niatan yang memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu. Bekerja adalah bagian dari amanah Tuhan, karena sesungguhnya setiap langkah kita adalah menjalankan amanah Tuhan. Sehingga manusia yang baik adalah bukan bekerja untk menjadi yang terbaikk, tetapi dapat memberikan manfaat dan kebaikan kepada sesamanya.
Hal tersebutlah yang selalu menjadi pegangan Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam drh. Toha Tusihadi. Menurut Toha, kesuksesan adalah bagaimana seseorang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain.
Kesuksesan pribadi itu, ungkap Toha, bukan seberapa yang mampu dicapai tapi seberapa besar kita mampu manfaatkannya untuk kebaikan orang lain, masyarakat, bangsa dan negara. “Jadi, bukan posisi apa yang telah didapat tapi konstribusi apa yang sudah kita berikan,” ujar Toha.
Namun menurut Toha, dirinya merasa masih kurang manfaat terhadap orang lain dan juga masyarakat. Sehingga ia selalu melakukan pembenahan, evaluasi diri bagaimana saya supaya lebih bermanfaat dan bisa selalu meningkatkan konstribusi sesuai dengan tugas dan amanah yang diberikan.
Terkait dengan amanah yang diberikan saat ini, Toha merasa bermanfaat apabila institusinya mampu berkontribusi dalam melakukan inovasi teknologi yang tepat guna. Semakin banyak teknologi terapan bidang perikanan budidaya yang diadopsi oleh masyarakat, pada saat itu pulalah yang bersangkutan merasakan kepuasan batin dalam bekerja.
Toha selalu menanamkan tiga kata kunci dalam bekerja dan itu juga ia tularkan kepada rekan-rekannya di BPBL Batam. Menurutnya, dalam bekerja manusia harus kerja keras, cerdas, dan ikhlas. Toha selalu berusaha untuk kerja lebih keras, lebih cerdas, dan lebih ikhlas. “Kemudian dengan dibarengi dengan doa, konsistensi dan fokus insyaAllah kesuksesan yang sesungguhnya akan didapatkan,” jelasnya.
Toha lahir di Kulon Progo, 17 November 1974 silam. Ia habiskan masa kecilnya di sana, sejak Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) ia tamatkan di kota kelahirannya.

Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah dan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Hewan (1997) dan Dokter Hewan (1999) di Universitas Gajah Mada (UGM). Awalnya, Toha sama sekali tidak berfikir untuk menjadi PNS. Namun akhirnya, kehendak Tuhanlah menuntunnya untuk mengabdi di Departemen Pertanian, dengan penempatan di Balai Budidaya Laut Lampung.
Ia mengawali karir di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung tahun 2000 dengan penempatan di Laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan selama 11 tahun. Setelah itu, selama 5 tahun Toha dipercaya menjabat sebagai Kepala di Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LPPIL ) Serang, yang antara lain tugasnya di bidang penyakit, obat, residu, lingkungan. Kemudian sejak April 2016 hingga sekarang, Toha diberikan amanah sebagai Kepala BPBL Batam.
Nilai kehidupan
Kedua orang tua Toha adalah Pegawai Negeri Sipil, merupakan sebuah keluarga yang sederhana. Ayah dan Ibunya adalah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupannya. Banyak nilai-nilai kehidupan yang dicontohkan kedua orang tuanya yang sangat membekas dalam dirinya.
Bapak saya, kata Toha, selalu memberikan contoh tentang kedisiplinan, ketegasan dan tanggung jawab. Toha kecil, sejak dini sudah dilatih untuk bangun pagi-pagi dan diberikan tanggung jawab untuk mengurusi ternak ayam dan lainnya. Bahkan Toha kecil, sejak kelas 6 SD sudah dibiasakan untuk berkurban seekor kambing dari kambing yang dia pelihara sendiri. Toha mengatakan, dari situlah ia mendapatkan peajaran arti penting dari tanggung jawab.
Lain halnya dari sang ayah, dari ibunya Toha belajar tentang kelembutan, kesabaran dan kedamaian. Pria penyuka jus jeruk dan jambu ini belajar tentang bagaimana seseorang dapat berempati dengan kehidupan orang lain. “Saya rasakan bagaimana Ibu saya harus membiayai keempat anaknya kuliah, karena setelah sepeninggal ayah saya, usahanya yang dirintisnya juga ikut meredup” terang Toha.
Dari perjalanan kehidupannya, ia juga berusaha menanamkan warisan nilai-nilai luhur kepada ketiga anaknya. Tentunya yang lebih penting dan utama adalah bekal pengetahuan agama untuk kehidupan panjang yang akan mereka lalui.
Terkait etos kerja, selain kedisiplinan dan tanggung jawab, kemampuan sosial juga sangat penting dalam menjalin hubungan kerja dengan semua pegawai. Selain kesibukannya, Toha berusaha menyempatkan bertemu dengan keluarganya di Jogja, tempat yang direncanakannya tinggal bersama di suatu saat nanti, ketika amanah sudah selesai ditunaikan. (Adit)

Bersyukur adalah Kunci Nikmat

 

Dan (ingatlah), tatkala Tuhan kamu memberitahu: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscahaya Aku akan tambah nikmatKu kepada kamu. (QS. 14:7)

Itulah sepenggal kalimat di Surat Ibrahim Ayat 7 dari Ayat Suci Al-Qur’an yang menggambarkan apabila manusia pandai bersyukur atas segala pemberian Yang Maha Kuasa, maka nikmat hidup akan didapat. Karena syukur adalah ibadah yang paling mudah untuk dilakukan semua orang namun pahala dan imbalan yang dijanjikan Tuhan begitu besar.

Redaksi Majalah Info Akuakultur sangat beruntung bisa bertemu dan mewawancarai Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol, Ir. Bambang Susanto, M.Si yang memberikan pengalaman bagaimana dahsyatnya ilmu syukur ini.

Menurutnya, syukur merupakan kunci dari pintu nikmat dan ia selalu menanamkan ilmu syukur ini kepada isteri dan kedua anakanya.

Bambang lahir di Kraksaan 55 tahun lalu. Masa kecilnya dihabiskan di Kraksaan hingga tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebelum ia melanjutkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang Peternakan di SPP-Snakma Malang. Setelah, lulus dari SMK ia melanjutkan ke jenjang Strata 1 di Universitas Islam Malang (Unisma) jurusan Peternakan dan berhasil mendapatkan gelar Masternya di Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Bioteknologi tahun 2002.

Banyak pengalaman menarik selama ia mengenyam bangku pendidikan, dahulu pada saat masih di bangku kuliah ia pernah mengajar di SMK peternakan, pertanian, pembangunan. Bambang juga dikenal sosok yang cerdas dan pekerja keras karena ia juga pernah menjadi asisten dosen di kampusnya.

Di dalam keluarga, Bambang dikenal sosok pemimpin yang bijaksana dan sayang kepada keluarga. Banyak nilai-nilai kebaikan yang ia dapat dari pengalaman hidupnya seperti jujur, bersyukur, dan giat berusaha, kini ditanamkan kepada kedua anaknya.

Menurut Bambang, keluarga adalah faktor penting dalam perjalanan karirnya. Sosok paling berpengaruh dalam perjalan hidupnya adalah sang isteri. “Isteri saya selalu mendorong saya untuk terus maju, isteri saya juga sosok sederhana dan selalu mengajarkan untuk bersyukur, itu yang memacu saya untuk menjadi sukses”, ujarnya.

Dalam menghabiskan akhir pekan, biasanya Bambang melakukan “out of the box”, kalau biasa di kantor berhubungan dengan perikanan namun jika di rumah ia gemar menanam tanaman dalam pot. Tanaman tersebut berupa ketimun, pepaya, terong, tomat, lombok, bayem, dan lain-lain yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Mulai dari nol

Untuk meraih kesuksesan memang tidak mudah, sama halnya Biksu Tong San Chong yang harus melewati 1000 rintangan untuk mengambil kitab suci ke barat. Begitu juga yang dirasakan oleh Bambang dan sang isteri.

Bambang menceritakan, dirinya mengawali karir sebagai honorer di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol, saat itu honornya sekitar 60 ribu rupiah sampai ia menikah dan dikaruniai satu orang anak.

Keadaan sangat sulit sebelum akhirnya ia beserta keluarga kecilnya menempati rumah dinas yang terletak di sekitar balai. Rumah yang ia tempati pada saat itu hanya rumah kecil yang masih kosong tanpa ada barang-barang satupun.

Berbekal alat rumah tangga seadanya seperti piring dan gelas yang masing-masing hanya ada dua buah serta satu kompor minyak tanah. Bahkan jendela rumahnya ia harus buat dengan menggunakan koran bekas, namun di sinilah awal Bambang dan sang isteri memupuk harapan untuk kehidupan ke depan yang lebih baik.

Perlahan kehidupan Bambang dan keluarganya lebih baik, Bambang mengatakan, awalnya kita harus menerima dengan lapang dada pemberian Tuhan, setelah itu syukuri, baru kemudian berusaha untuk lebih baik.

Dirinya juga selalu diamanatkan oleh sang isteri agar selalu mencari dan menggunakan rezeki yang halal dan jelas asal-usulnya. “Isteri saya selalu menanyakan jika saya dapat uang dari mana. Jika jelas asalnya boleh diterima, namun jika belum jelas isteri saya tidak akan mau pakai sampai ada kejelasan”, tuturnya.

Apa yang dilakukan Bambang dan isteri sudah sepatutnya menjadi contoh, bahwasanya perilaku dan sikap seseorang ditentukan sejak awal yaitu dari apa yang mereka makan, apakah rezeki yang digunakan jelas atau tidak.

Mengemban amanat

Tidak jauh berbeda dengan di rumah, di kantor Bambang merupakan sosok pekerja keras dan patuh terhadap pimpinan. Dirinya sangat disiplin dalam menjalankan tugas yang sudah diamanatkan kepadanya.

“Cara bekerja saya adalah melaksanakan tugas sesuai dengan sistem dan aturan yang ada karena sistem dan aturan merupakan bentuk perencanaan.  Sukses menurut saya adalah jika semua yang direncanakan bisa selesai dikerjakan”, jelas Bambang.

Menurutnya, pekerjaannya sangat menarik apalagi kalau apa yang dihasilkan bisa diaplikasikan ke pembudidaya atau masyarakat. Sebelum menjabat sebagai Kepala BBPPBL Gondol, Bambang sudah bekerja sejak tahun 1989 di sana.

Bambang banyak belajar dari para senior dan rekan kerjanya seperti Dr. Ir. Zafril Imran Azwar, MS, Dr. Ahmad Taufik, MS, Prof.Dr. I Ketut Sugama, M.Sc, Dr. Adi Hanafi, M.Sc, Prof. Dr. I Nyoman Andiasmara Giri, MS, Dr. Tri Heru Prihadi, M.Sc, DR. Rudhy Gustiano, M.Sc, dan lainnya.

Bagi Bambang, rekan-rekan di balai adalah bagian dari keluarga. “Kita diajarkan bekerja tidak menonjolkan kemampuan diri tapi diajarkan harus kompak kalau satu yang kurang ditutup oleh yang lainnya sehingga menjadi baik”, ungkapnya.

Singkat cerita, pada tahun 2014 saat itu sore hari, tidak di sangka sangka Bambang diinstruksikan berangkat ke Jakarta untuk dilantik. Begitu mendengar berita tersebut, ungkap Bambang, dirinya sempat stres karena tidak ada sedikitpun terpikir untuk menjadi kepala balai dan mengelola balai ini.

“Kalau memungkinkan saya jadi fungsional atau peneliti. Karena ini amanah dari pimpinan dan sudah ditugaskan saya ijin dulu ke isteri, kata isteri saya kalau sudah ditugaskan harus siap”, ujarnya.

Awalnya Bambang berharap hanya menjabat satu tahun saja karena menurutnya banyak yang lebih baik dari dirinya. Namun ceritanya lain, pada saat Bambang mengikuti lelang jabatan ternyata ia kembali dilantik menjadi Kepala BBPPBL Gondol sampai saat ini.

Saat ini BBPPBL Gondol di bawah kepemimpinan Bambang, banyak melakukan program-program. Diantaranya adalah bentuk kerjasama langsung kepada pembudidaya dan masyarakat untuk terus meningkatkan hasil budidaya yang berkualitas.

Bambang berharap ke depan akan ada kerjasama secara sinergitas antara pembudidaya dan pemerintah serta penelitian dari BBPPBL Gondol sehingga dapat menghasilkan teknologi yang bisa diaplikasikan kepada para pelaku usaha budidaya. (Resti/Adit)

 

Drh. A. Harris Priyadi, “Industri Akuakultur Perlu Kembangkan Vallue Added Chain”

Keunggulan sektor akuakultur kita yang masih EMS (Early Mortality Syndrome) free, harusnya ditonjolkan dan dijaga. Saat ini ada kasus “white feces” yang ditengarai sebagian pihak adalah awal sebelum terjadinya EMS, sepertinya pihak industri mencoba melakukan dan mencari solusinya sendiri-sendiri.

 

Begitulah pernyataan menarik dari Drh Akhmad Harris Priyadi, Country Manager Sales & Marketing PT Trouw Nutrition Indonesia, dalam sebuah perbincangan dengan majalah Info Akuakultur usai Rapat Panitia Munas Asosiasi Obat Hewan (ASOHI) belum lama ini.

Drh Harris sedang foto selfie di pabrik Pasuruan

Harris, demikian panggilan akrabnya, menambahkan, di negara kita jarang pihak universitas melakukan secara serius dan benar-benar “blusukan” mencari solusi bersama dengan platform kerja yang jelas dan sinergis. Sinergi segitiga antara pemerintah, swasta dan akademisi harusnya sama sisi dan bahu-membahu berkolaborasi.

“Situasi yang ideal adalah kebijakan yang “nyambung”, penelitian dan keilmuan yang bermanfaat langsung (bukan hanya teori) serta swasta yang kooperatif dan supportif, “ tambahnya. Ia mengaku khawatir dengan kasus white feces karena beberapa kejadian di negara lain, mewabahya penyakit EMS (Early Mortality Syndrome) di beberapa lokasi didahului dengan kasus white feces.

Hari itu wawancara dengan Harris di kantor ASOHI dilakukan dengan mencuri waktu di sela-sela serangkaian rapat pengurus ASOHI. Di organisasi yang menghimpun sekitar 180 perusahaan obat hewan ini Harris menjabat Ketua ASOHI Bidang Hubungan Antar lembaga. Sedangkan pada panitia Munas VII ASOHI yang rencananya akan berlangsung 6-7 Mei 2015, ia dipercaya sebagai Ketua Sterring Committee (panitia pengarah), sebuah posisi penting yang ikut menentukan jalannya sejumlah sidang yang membahas penyempuraan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga , Kode Etik , Program Kerja Organisasi serta Tata Tertib Munas dan proses pemilihan ketua umum.

“Saya harus lebih sering lagi mondar-mandir ke kantor ASOHI, nih,” ujarnya di sela-sela wawancara dengan Info Akuakultur. Perbincangan pun berlangsung singkat namun banyak hal yang diperoleh dari alumni Fakultas Kedokteran Hewan IPB tahun 1989 ini.

Harris lahir di Bandung 27 Mei 1965 di tengah-tengah keluarga guru (Almarhum ayahanda adalah guru kimia yang pernah menjadi dosen kimia di UKM Malaysia dan Kepala Sekolah Indonesia di Kairo). Ia menempuh pendidikan SD dan SMP di Surabaya, selanjutnya melanjutkan SMA di Sekolah Indonesia di Kairo Mesir, karena harus mengikuti tugas ayahnya. Lulus SMA tahun 1983, ia kembali ke Indonesia untuk melanjutkan kuliah di FKH IPB, sementara orang tuanya masih bertugas di Mesir.

Ia mengaku kurang berminat kuliah di Kairo misalnya di Universitas Al Azhar , karena kendala bahasa dan basic pendidikannya bukan dari pesantren. Ditanya soal pilihannya ke FKH ia menegaskan“Saya pilih Fakultas Kedokteran Hewan karena sejak kecil senang dunia hewan dan mata pelajaran biologi”.

“Selain itu saya masuk melalui jalur perintis II, yaitu jalur masuk tanpa test. Ini kan kesempatan bagus, saya kalau nggak diambil,” tambahnya lagi.

Sejak lulus dari IPB tahun 1989, ayah berputra 3 ini meniti karirnya di perusahaan obat hewan, baik perusahaan asing maupun lokal. Tercatat sudah 6 perusahaan yang ia “singgahi” sebagai tempat berkarya. Dan tahun 2009 ia memasuki perusahaan ke-7 untuk menjalankan amanah sebagai Country Manager Sales & Marketing PT Trouw Nutrition Indonesia, sebuah perusahaan feed additive & feed supplement yang pabriknya di kawasan Industri MM-2100 Cibitung, Bekasi. Pabrik ini memproduksi feed supplement untuk pasar Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.

 Prospek Cerah

Mendiskusikan soal prospek perikanan Indonesia, Harris dengan nada semangat mengatakan, prospek perikanan sangat bagus untuk jangka menengah dan jangka panjang, walaupun jangka pendek masih banyak kendala. “Kelak, saat pendapatan masyarakat makin meningkat, katakanlah 5.000 USD per kapita per tahun, masyarakat tentu tidak setiap hari makan ayam, telur dan daging sapi, tapi ada variasi ikan. Jadi bukan dari segi ketercukupannya, tetapi ada level optimal yang konsumen akan jenuh dan butuh variasi yang halal dan thoyib, yaitu dari perikanan,” kata Harris.

Eksekutif yang hobi baca novel ini melihat perkembangan perikanan di Indonesia masih lambat tapi cenderung makin cepat. Produksi pakan ikan saat ini hanya sekitar 1,6 juta ton per tahun (pakan unggas di atas 14 juta ton per tahun), namun pertumbuhan produksi pakan ikan bergerak lebih cepat setidaknya dua tahun terakhir.

Setelah cukup lama mendalami dunia bisnis peternakan dan perikanan melalui industri feed additive, Harris menyimpulkan, para pelaku usaha perikanan perlu didorong untuk lebih kreatif menciptakan pengembangan di Value Added Chain. “Kalau hanya berfokus pada produksi dan efisiensi, akhirnya fokus pada saving yang kalau kebablasan akan mengorbankan mutu dan bisa jadi bumerang, misalnya ledakan penyakit akibat mengurangi aspek biaya kesehatan”.

Terobosan sebaiknya bukan hanya di budidaya, tapi juga di pasca panen. Misalkan saat ini sudah ada produk Pompano fillet, Patin fillet dan sejenisnya. Kalau bisa dibuat Mujaher fillet atau Nila fillet yang sudah berbumbu dan sebagainya melalui proses riset yang mendalam tentang rasa dan kecocokan selera, niscaya peluang keberhasilan akan makin baik.

Di pasar unggas dunia, Brazil dikenal sebagai produsen unggas termurah alias paling efisien, namun negara Eropa lebih memilih daging ayam dari Thailand. “Ini perlu dijadikan pelajaran bagi kita, bahwa yang paling efisien bukan berarti yang paling diterima di pasar. Ada aspek lain, yaitu value added chain, entah itu berupa pelayanan, kreativitas produk dan sebagainya,” tegasnya. Kalau hanya berpikir harus lebih murah, Indonesia akan kewalahan, dan akhirnya secara psikologis “mengakui” sebagai bangsa yang kalah bersaing. Agaknya inilah yang menjadi kekhawatiran sekaligus kepedulian Harris.

 Baca Novel

 Di tengah kesibukannya sebagai country manager, Harris masih menyempatkan untuk menjalankan hobinya travelling bersama keluarga dan membaca novel. Waktu SMA dan kuliah, ia suka novel petualangan asli berbahasa Inggris. Ini adalah cara paling praktis belajar bahasa Inggris. “Jadi saya pegang novel dan kamus. Dengan mengikuti alur cerita, saya cepat menghafal kosa kata Bahasa Inggris,” katanya, mengungkap rahasia cara cepat belajar Bahasa Inggis.

Khusus untuk novel Indonesia, Harris menyukai novel karya Habiburrahman, antara lain yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih” dimana keduanya novel best seller yang diangkat ke layar lebar. Karena pernah tinggal di Mesir, ia bisa menyelami cerita novel tersebut yang setting ceritanya sebagian di Mesir. (bams) ***

 

BIODATA

 

Nama                                      : Akhmad Harris Priyadi, drh.

Tempat, tanggal Lahir        : Bandung, 27 May 1965

E mail                                      : [email protected]

Jabatan                                   : Country Manager Sales & Marketing PT Trouw Nutrition Indonesia.

Nama Istri                               : Sinto Wulandari drh

Anak                                        :

1. Muhammad Bagus Harianto

  1. Maulana Ichsan Harianto
  2. Prasetyo Rahadi (keponakan ikut dari kecil).

 Pendidikan                             : FKH IPB lulus 1989

Personal Development Training : .Elanco Training development, Kemin University,             Gustav Kasser, Miller Heinman, CCL – Singapore, Emergenetics dan lain-lain