Prospek Bisnis Akuakultur di Indonesia

Prospek Bisnis Akuakultur di Indonesia

Jakarta, infoakuakultur.com. Industri budidaya udang terus mengalami pertumbuhan. Hal ini disampaikan oleh Denny D Indradjaja pada Diskusi Majalah Info Akuakultur yang berlangsung via Zoom Meeting pada Jumat, 22 April 2022.

Denny D Indradjaja merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran dan mengemban pendidikan S2 di ITB dan Australia. Ia memiliki sejumlah jabatan yaitu sebagai General Manager di PT Central Proteina Prima, wakil ketua GPMT, sekjen Masyarakat Akuakultur Indonesia, dan anggota Komisi Teknis Perikanan Budidaya Badan Standarisasi Nasional. Sepak terjang selama lebih dari 30 tahun di bidang akuakultur menjadikannya sebagai narasumber diskusi yang kompeten dan berpengalaman.

Diskusi ini dipandu oleh drh. Michael Indra Wahyudi dan dihadiri oleh tim redaksi dan kontributor akuakultur. Tujuan diskusi ini untuk mengetahui perkembangan situasi terkini dari bisnis akuakultur, mengetahui peluang bisnis yang akan tercipta pada masa yang akan datang, serta untuk meningkatkan pemahaman redaksi majalah Info Akuakultur mengenai perkembangan bisnis akuakultur di Indonesia.

Denny D Indradjaja sebagai narasumber mengatakan bahwa dampak pandemi Covid-19 tidak seburuk dari yang diperkirakan. Konsumsi pakan ikan turun sebesar 11,6%, yang semula memiliki omset sebesar 1.371.000 MT pada tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 1.224.000 MT pada tahun 2020. Hal sebaliknya terjadi pada konsumsi pakan udang yang mengalami kenaikan 11,8%. Bahkan ekspor udang naik 18,5% pada tahun 2020 dibandingkan tahun 2019. Peningkatan konsumsi udang diikuti oleh tingginya minat masyarakat terhadap makanan sehat dan kaya nutrisi saat kondisi Covid-19 seperti sekarang.

Pandemi ini juga memberikan dampak pada budidaya air tawar, air laut, maupun air payau. Pembudidaya air tawar memiliki kesulitan memasarkan ikan di awal pandemi. Hal ini menyebabkan turunnya volume penjualan. Penjualan ikan lele juga mengalami permasalahan, semakin besar ukuran ikan maka harga jual akan semakin menurun. Budidaya kerapu di perairan laut juga memiliki kesulitan karena sulitnya kapal Hongkong untuk masuk sehingga menghambat kegiatan ekspor. Sedangkan budidaya air payau hampir tidak terpengaruh meskipun terjadi panic selling di awal pandemi. (ayu)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.