Menyongsong Budidaya dengan Optimis

Menyongsong Budidaya dengan Optimis

Achmad Wahyudi yang kini menjabat sebagai Technical Director PT. Grobest Indomakmur, merupakan alumni Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang.

Siapa sangka bermula dari Penelurusan Minat dan Kemampuan (PMDK) semasa kuliah, langkah awal ini justru membawa Wahyudi mendalami dunia perikanan. “Perkenanlan saya dengan dunia perikanan berawal dari tahun 1984 ketika saya masuk Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK).”

Usai lulus kuliah dan diwisuda tahun 1989 Wahyudi meniti karirnya dengan bergabung bersama sebuah shrimp farming company di Situbondo sebagai supervisor (teknisi) budidaya yang membuat saya semakin mengenal perikanan budidaya (terutama udang) dan mengantarkan dirinya bertemu dengan multinasional company di tahun 1990 yang kemudian berkembang pesat menjadi integrated aquaculture company terbesar di Indonesia.

Perkembangan Budidaya Saat Ini
Budidaya udang di Indonesia berkembang pesat setelah terjadi shifting dari Penaeus monodon (black tiger shrimp) ke Penaeus vannamei (pacific white shrimp) di sekitar tahun 2004. Produksi udang nasional meningkat hingga lebih dari 3 kali lipat setelah pergantian species ini karena jenis udang ini bisa dibudidaya dengan stocking density jauh lebih tinggi dibandingkan udang windu dan jenis udang lainnya.

Melalui species budidaya inilah yang berhasil mengantarkan Indonesia menjadi produsen udang terbesar dunia di tahun 2017 dengan total produksi udang yang dilaporkan KKP sebesar 1,37 juta ton. Namun produksi ini terus menurun hingga titik terendahnya di tahun 2020 sebesar 435 ribu ton.

“Penyebab paling dominan dalam penurunan produksi adalah adanya wabah penyakit yang bertubi-tubi menyerang dunia budidaya udang mulai dari merebaknya infectious myonecrosis virus (IMNV), enterocitozon hepatopenaei (EHP) yang berujung pada munculnya white feces disease (WFD) hingga yang paling memperburuk situasi budidaya yaitu merebaknya early mortality syndrome (EMS) yang saat ini lebih dikenal dengan acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND),” tutur Wahyudi.

Bahkan penyakit ini telah dilaporkan menjadi penyebab utama turunnya produksi udang dunia sejak ditemukan pertama kali kemunculannya di China pada tahun 2009 yang kemudian disusul negara-negara produsen udang lainnya seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, Meksiko dan Philipina.

Maka dari itu dibutuhkan standard operating procedure (SOP) yang lebih adaptif terhadap setiap perubahan situasi budidaya yang berkembang di lapangan. Hanya pelaku budidaya yang agile, adaptive dan creative yang mampu bertahan dan terus produktif dalam situasi budidaya seperti saat ini.

“Namun kalau kita bicara potensi, masih sangat besar dan terbuka lebar peluang budidaya di tahun ini dan tahun-tahun ke depan. Keyakinan ini sangat beralasan karena masih banyak kawasan potensi budidaya di Indonesia yang belum digarap secara optimal,” ungkap Wahyudi.

Memang tidak mudah untuk mengembangkan kawasan baru budidaya ini. Setidaknya dibutuhkan dukungan penuh dari pemegang otoritas kebijakan (pemerintah) dalam mempermudah perijinan, penyediaan sarana dan prasaran transportasi, pasokan energi hingga jaminan keamanan investasi.

Dengan mulai membaiknya situasi ekonomi pasca pandemic, pasti akan mengembalikan daya beli konsumen terhadap produk perikanan (udang dan ikan) sehingga ini akan membangun kembali sinergi yang mutualistic antara produsen dan konsumen, dan mendorong terciptanya kembali keseimbangan antara supply and demand yang akan menjamin terwujudnya kestabilan harga yang menjadi dambaan setiap pelaku usaha di industri ini.

Bounding Dengan Tim
Selain menetapkan planning, staffing, leading dan control, ada hal penting yang sangat membantu organisasi menjadi solid dan produktif, yaitu pemberian motivation dan time management  yang efektif dan efisien. Trik atau kiat paling efektif untuk mendukung hal tersebut adalah manajemen partisipatif dimana kita selalu memberi peluang kepada setiap anggota dalam tim untuk ambil bagian secara aktif dalam menyampaikan gagasan.

“Membangun tim yang solid dan professional (setia pada profesi, bukan pada personal) serta membangun company image yang positif, sehingga ketika saya sudah pensiun, ada legacy yang selalu dikenang. Lebih luas lagi, membangun kepercayaan dunia usaha (investor) bahwa bisnis perikanan (budidaya udang) tetap bisa menjadi bisnis andalan di masa datang,” ucapnya.

Grobest sejak awal kiprahnya di dunia pakan akuakultur dikenal sebagai produsen pakan yang konsisten melakukan research and development terkait high quality feed additives melalui research center andalan yang berlokasi di Taiwan. Terbukti hingga saat ini Grobest telah exist di delapan negara produsen utama udang dan ikan yaitu China, Taiwan, Vietnam, Thailand, India, Indonesia, Malaysia dan Philipina.

Di awal tahun 2022 Grobest telah meluncurkan konsep 360o Nutrition Solution yang berfokus pada keunggulan feed additive spesifik yang hanya dimiliki oleh Grobest dan tidak bisa diperoleh di pasar bebas.

Feed additive spesifik tersebut meliputi : (1) NutriHepto+TM yang berfungsi menghambat pertumbuhan pathogen dan menjaga kesehatan hepatopancreas udang; (2) XtraGroTM yang berfungsi merangsang nafsu makan dan meningkatkan pertumbuhan serta meningkatkan efisiensi pakan; (3) NutriMetaTM yang berfungsi meningkatkan kesehatan usus, absorbsi dan kecernaan pakan; (4) NutriRxTM yang berfungsi meningkatkan imunitas dan daya tahan tubuh udang. Keempat feed additive tersebut melengkapi dua standar nutrisi lainnya yaitu (1) Balanced Essential Nutrients dan (2) Vitamins and Organic Minerals.

Khusus untuk meningkatkan kekebalan udang terhadap penyakit, Grobest secara konsisten memproduksi Functional Performance Feed (FPF) White dan Functional Performance Feed (FPF) Brown untuk mempercepat pertumbuhan. Selain itu Grobest saat ini sedang mengembangkan produk Horizon yang berfokus pada pakan lower protein – high nutrition untuk pengendalian kualitas lingkungan sehingga mendukung terwujudnya aquaculture sustainability.

Kenangan Masa Kecil
Saya lebih banyak menghabiskan masa kecil di tanah kelahiran yang merupakan daerah pesisir di Timur Surabaya yaitu kota kecil Probolinggo. Daerah ini merupakan sentra budidaya udang terbesar ketiga di Jawa Timur setelah Banyuwangi dan Sitobondo. Selain sebagai kota penghasil udang, Probolinggo juga dikenal sebagai produsen anggur dan mangga yang menjadi kebanggaan Indonesia.

“Orangtua saya selalu mengajarkan kesederhanaan dalam hidup, mengutakan kejujuran dan menjunjung tinggi nilai agama. Bapak dan Ibu saya tidak menempatkan diri sebagai superior atau bahkan otoritarian, namun selalu menempatkan diri sebagai tempat berdiskusi dan bekerjasama dalam banyak hal sehingga perjalanan hidup menjadi terasa lebih ringan dan damai Itulah yang kemudian menginspirasi gaya kepemimpinan saya baik di keluarga maupun di pekerjaan hingga saat ini,” tutur Wahyudi.

Di tengah kesibukannya, Wahyudi tetap berusaha menyempatkan untuk meluangkan waktu untuk keluarganya, terutama dalam membina pendidikan dan karir anak-anak. Memanfaatkan waktu semaksimal mungkin dengan berbagi rasa dan saling menghargai waktu adalah pendekatan paling tepat yang saya rasakan.

“Terbukti saya berhasil membina anak pertama, Syafira,diwisuda dengan predikat cumlaude dari Hubungan Internasional FISIP Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, bahkan sempat mengenyam pendidikan di Melbourne University, Australia dan Yonsei University, Korea Selatan, serta anak kedua, Haydar, kuliah di IT Telkom University, Bandung. Tentunya dukungan dari istri tercinta, Sifak Unisak, alumni Sastra Indonesia FKIP Universitas Negeri Jember, sangat berperan dalam keberhasilan studi anak-anak hingga saat ini,” ucapnya penuh rasa syukur.

Rekreasi dan silaturahmi menjadi kegiatan paling sering dilakukan bersama keluarga saat liburan. Termasuk mengisi liburan dengan rekreasi di tempat kerja, sekaligus mengenalkan anak-anak tentang dunia kerja dan kegiatan apa saja yang saya lakukan di tempat kerja, terutama yang berada diremote area (jauh dari pusat kota).

Wahyudi mengaku sangat bangga terhadap anak-anaknya karena Respect terhadap pekerjaannya. Appreciate terhadap setiap hasil jerih payah orangtua. Responsible terhadap pilihan (sekolah, kerja, usaha) yang mereka ambil dan never give up dalam menghadapi setiap tantangan. (Vira/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *