GENUINE

GENUINE

Sore itu, suasana cukup cerah di kota saya. Saya duduk di bangku kayu sebelah pos satpam, sebuah komplek ruko. Datang mobil bagus dan nampak masih baru dibeli. Parkir dekat tempat saya duduk, dengan kaca jendela sisi driver tepat di depan saya. Saya sekilas melihat bayang-bayang ibu yang drive mobil tersebut. Rapi, nampak berkerudung, dan berkelas.

Selang beberapa lama kemudian, kaca terbuka. Membuang sampah tissue dan kemudian tutup jendela dengan dingin pula. Sama sekali tanpa merasa rikuh, didepannya ada seseorang yang duduk menghadap mobilnya. Saya ambil tissuenya. Saya buang ke tempat sampah dekat pos satpam. Dia membuka kaca, mengatakan  “Maaf pak” dan menutup kaca jendela lagi. Tanpa perasaan berdosa sama sekali.

Tentu saya tidak membalas ucapannya. Hanya memandangnya lama dan sambil berpikir, dimana akar masalahnya. Bagaimana menjelaskan seorang ibu yang dari pakaiannya kita tahu bahwa seharusnya meyakini kebersihan adalah sebagian daripada iman. Sama sekali tidak kelihatan dari tabiatnya dalam berhubungan dengan tissue kecil. Mungkinkah orang tua si ibu tersebut juga tidak mengajari saat kecil mengenai adap membuang sampah?

Saat gelaran piala dunia sepakbola di Rusia, viral video supporter Jepang memunguti sampah di stadion. Ternyata mereka sudah membawa kantong besar saat menonton pertandingan. Tim Jepang kalah saat itu. Tetap saja mereka memunguti sampah di stadion. Itu pula yang mereka lakukan dimana mana, termasuk saat piala dunia di Brasil. Sebenarnya, ada satu tim lainnya yang melakukan hal yang sama di Rusia, tetapi mengapa yang dari Jepang lebih menarik perhatian kita?

Supporter Jepang melakukannya  genuine. Lebih asli. Lebih iklhas. Lebih biasa, bukan sesuatu yang luar biasa. Karena hal itu sudah menjadi kebiasaannya saat kecil, di lingkungan keluarga, desa, kota, dan negaranya. Kebersihan adalah bagian dari hidupnya.

“Ah, ngiri ya” dalam batin saya. Lihat saja apa yang terjadi di Asian Games 2018 Jakarta. Salah satu tayangan tv swasta kita memperlihatkan begitu banyaknya sampah berserakan dan ditinggalkan dalam stadion. Tanpa perasaaan bersalah sedikitpun.

Genuine dalam kamus didefinisikan ‘it is real and exactly what it appears to be. Atau bisa juga ‘ if people or emotions are genuince, they are honest and sincere’. Kata lainnya adalah authentic.

Si ibu buang sampah di atas dan penonton di GBK juga genuine. Tetapi genuine yang tak perlu dipertahankan. Supporter Jepang, juga genuine. Genuine yang berkelas.

Dalam konteks pengembangan organisasi perusahaan, genuitas pada seseorang kandidat perlu kita temukan.  Hal ini ternyata tidak mudah dilakukan saat rekruitmen karyawan baru. Setiap karyawan baru, berusaha menampilkan yang terbaik, bahkan sering tidak genuine. Ada pencitraan. Tetapi pencitraan terus menerus adalah hal sulit. Pasti kembali ke aslinya. Nah, selama masa percobaan, managemen seharusnya mencoba menemukan genuisitas dari seseorang. Bisa juga dengan merasakannya.

Genuisitas diri itu yang akan muncul dengan sendirinya, walaupun kadang perlu waktu cukup lama setelah mereka bergabung dengan perusahaan. Jika genuine-nya adalah sifat tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diinginkan perusahaan, maka tentu akan menimbulkan kerugian, baik uang maupun waktu. Masa percobaan adalah waktu kritis perusahaan untuk berani memutuskan meng-hire sebagai karyawan tetap atau berhentikan prosesnya sampai ditahap ini saja.

Tampil genuine itu membahagiakan. Karena apa yang anda sukai anda jalankan. Nggak capek menjalaninya. Semua jadi menyenangkan. Sebaiknya, genuine di rumah, genuine di komunitas, dan genuine di kantor.

Berusahalah agar kita selalu mencoba untuk tampil genuine dan jujur terhadap diri kita sendiri.

Kita lahir genuine. Lingkungan membawa ke jalan apa yang ingin kita pilih,  jalan apapun itu. Pilih mana? Terserah kita. Terserah anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *