Prof. Dr. Ir. Hj. Yushinta Fujaya, M.Si, anak pertama dari pasangan Yahya Fujaya dengan Surianty lahir di Makassar pada 23 Januari 1965. Masa kecilnya dihabiskan di Makassar sebagai anak Lorong di sekitar Pantai Losari.
Besar dari keluarga petambak membawa Yushinta memilih Jurusan Perikanan saat memperoleh kesempatan masuk ke Universitas Hasanuddin. Yushinta tidak pernah menduga jika pilihan penelitian kepiting saat tugas akhir S1 membawanya sampai pada titik ini yang dikenal sebagai ‘professor kepiting’. Suatu pilihan yang tidak banyak orang memilihnya.

Judul Penelitian waktu itu adalah “Pengaruh Padat Penebaran terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Kepiting”. Benih kepiting diperoleh dari Desa Pallime Kabupaten Bone. Karena tidak banyak referensi tentang kepiting pada saat itu, ia memberanikan diri ke Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk studi literatur.
“Nasib memang punya caranya sendiri untuk membawa kita pada tujuannya,” kutip Yushinta.
Singkat cerita, setelah diterima menjadi dosen Jurusan Perikanan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin pada tahun 1989, Yushinta melanjutkan Pendidikan S2 dan S3 di IPB, dan penelitiannya tetap pada bidang kajian Kepiting.
Saat kuliah S3, Yushinta untuk pertamakalinya mendapat kesempatan berkunjung ke luar negeri (ke Jepang). Sesuatu yang didambakannya sejak SMA. Dengan didampingi dosen pembimbing Dr. Sulistiono, waktu itu beliau belum professor, Yushinta mengunjungi Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT) melalui fasilitasi Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) dan Watanabe sensei pada 2003 untuk belajar kepiting.
Saat itu, Yushinta sudah membangun keluarga kecilnya sendiri. Beruntung, Suami dan Anak-anak mendukung penuh dan menjadi garda terdepan dalam setiap perjalanan kariernya.
Setelah mendapat gelar Doctor di IPB pada tahun 2004, Yushinta kembali ke Universitas Hasanuddin untuk melajutkan pengabdian sebagai dosen dan terus melakukan penelitian tentang kepiting hingga pada 2008 mendapatkan gelar professor dari Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono.Satu tahun kemudian, hasil penelitian tentang penggunaan ekstrak bayam untuk mempercepat molting pada produksi kepiting cangkang lunak mendapat penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu karya inovasi yang sangat prospektif.
Kepiting telah membawa Yushinta berkeliling dunia, baik untuk symposium, conference, maupun workshop dan menjalin kemitraan dengan Universitas ataupun Lembaga yang memiliki minat yang sama terhadap pengembangan budidaya dan inovasi teknologi untuk keberlanjutan usaha ini.
Support sistem orang tua

Kedua orang tua Yushinta punya peran besar terhadap perjalanan karirnya. Ia menuturkan, semasa sekolah kadang terpaksa digendong untuk melewati banjir menuju becak yang menunggu di depan lorong agar sepatu tidak basah.
“Itulah perjuangan dan keteguhan orang tua terutama ibu yang sangat gigih agar anaknya dapat bersekolah,” tuturnya.
Pun saat melakukan penelitian, kedua orang tuanya menjadi supporter utama saat harus mengambil juvenil kepiting di Kabupaten Bone, Pallime.
“Mereka senantiasa mendampingi putrinya menempuh perjalanan bukan saja perjalanan darat, tetapi juga harus menelusuri Sungai Cenrana untuk dapat sampai di Desa Pallime,” ungkapnya.
Komoditas penting dan menjanjikan
Menurut Yushinta, kepiting adalah salah satu komoditas penting di Indonesia dan dunia, yang memberikan mata pencaharian bagi masyarakat dan banyak pihak. Namun, juga memiliki tantangan keberlanjutan bila tidak dikelola dengan benar.
“Disinilah concern saya untuk memberikan perhatian dan upaya dalam mengembangkan budidaya kepiting,” ujarnya.
Berangkat dari semua itu, Yushinta berkesempatan memperluas kemitraan dan meningkatkan kompetensi ketika berhasil mendapat award dari Fullbright untuk melakukan visiting research ke Smithsonian Environmental Research Center (SERC) di Maryland, USA selama enam bulan.
Fulbright adalah program pertukaran pelajar internasional yang didanai oleh pemerintah Amerika Serikat. Program ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan persahabatan antara warga Amerika Serikat dan warga negara lain. Kegiatan utama adalah belajar bagaimana Amerika melakukan pengelolaan terhadap sumberdaya kepitingnya. Setelah Kembali dari Amerika pada tahun 2023, Kerjasama penelitian terus dilakukan dengan SERC melalui program Stock Enhancement in Indonesia.
Bersama FAO, Yushinta terlibat dalam tim penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan Kepiting Republik Indonesia pada tahun 2022 dan ikut berkontribusi dalam FAO expert workshop on the status, technological innovations, and industry development needs of mud crab (Scylla spp.) aquaculture bersama para ahli kepiting di dunia pada akhir tahun 2023.
Pada tahun 2024, Yushinta mendapat penghargaan dari Universitas Hasanuddin sebagai Academic Leader bidang kemaritiman. Saat ini Yushinta menjadi ketua Thematic Researc Group (TRG) Tropical Crab Universitas Hasanuddin, yang merupakan wadah kemitraan para peneliti dan pemerhati kepiting tropis dari dalam dan luar negeri.
Silahkan hubungi https://trg.unhas.ac.id/tropicrab/ untuk informasi lebih lanjut.
Selain mengurus kepiting, Yushinta juga mendapatkan tugas dari Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) untuk mengurus Lembaga Sertifikasi Profesi Akuakultur Indonesia (https://lspakuakultur.id/) sebagai direktur. (Adit)

