Memilih Disinfektan Dengan Bijak Untuk Mewaspadai Serangan Penyakit Berisiko Tinggi

Memilih Disinfektan Dengan Bijak Untuk Mewaspadai Serangan Penyakit Berisiko Tinggi

Oleh : Rico Wibisono, COO FisTx

Industri budidaya udang memiliki peran yang cukup signifikan dalam sistem pangan global, utamanya sebagai sumber mata pencaharian dan kontributor terhadap pasokan nutrisi manusia. Berdasarkan data yang dikeluarkan Boston Consulting Group pada 2019, Indonesia sendiri telah memberikan kontribusi sebesar 10% dari nilai market Pasar Udang Global (33 Milyar US Dollar).

Namun, saat ini, industri budidaya udang sedang menghadapi tantangan besar salah satunya adalah serangan penyakit berisiko tinggi yang disebabkan oleh kegiatan budidaya tak ramah lingkungan seperti praktik pengelolaan limbah yang sembarangan dan kecenderungan pembudidaya yang lebih memilih menyalurkan limbah tambak langsung ke laut. Hal ini disertai dengan jumlah peningkatan lahan budidaya udang yang terus mengalami peningkatan namun tidak dibarengi dengan nilai produksi udang yang meningkat secara signifikan.

Budidaya tidak ramah lingkungan ini, menyebabkan ekosistem tambak yang tidak ideal bagi pertumbuhan udang. Pasalnya, pengelolaan limbah yang sembarangan dapat mengakibatkan penurunan kualitas air pada tambak yang berujung pada meningkatnya potensi serangan penyakit berisiko tinggi dalam ekosistem pertambakan. Kemunculan penyakit berisiko tinggi sendiri terus meningkat selama satu dekade terakhir.

Secara umum, kualitas air telah menjadi parameter wajib yang harus diperhatikan oleh para pembudidaya udang, karena potensi peran air sebagai agen dalam penularan penyakit berisiko tinggi. Oleh karenanya, untuk menciptakan ekosistem perairan yang ideal bagi udang, pembudidaya perlu bijak dalam memilih disinfektan yang aman untuk pencegahan serta pengobatan dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri, vibrio, dan virus.

Salah satu disinfektan yang dapat menjadi opsi terbaik bagi pembudidaya adalah produk disinfektan yang memiliki kandungan ion Nano Copper. Pasalnya, kandungan copper dalam disinfektan dapat menghancurkan membrane sel bakteri dengan menghalangi metabolisme dan mematikan bacteria, merangsang produksi reaktif oksigen dan menyebabkan kerusakan hingga gen dan DNA, membunuh bakteri, bahkan menghalangi bakteri untuk bermutasi. FisTx, telah melalukan percobaa penggunaan disinfektan yang mengandung ion Nano Cooper pada tambak dengan volume air 23.000 m3 dan dosis sebesar 0,05 ppm. Hasil menunjukan penurunan yang signifikan pada jumlah Yellow Vibrio dan Green Vibrio.

Solusi disinfeksi lainnya untuk budidaya udang adalah dengan menggunakan teknologi UV. Sementara virus bereplikasi dengan cepat, disinfeksi menggunakan teknologi UV juga dapat membunuh virus dan pathogen dengan cepat pada sistem budidaya udang yang sudah terkontaminasi. Hasil penelitian dari The Environmental Research Laboratory di The University of Arizona, menunjukan bahwa teknologi UV dapat menghilangkan efek infektivitas virus dan pathogen dengan efektif. Selain itu, pengunaan teknologi UV sebagai disinfeksi pada budidaya tambak udang memiliki kelebihan sebagai berikut:

  1. Efektif membunuh virus dan pathogen hingga 99%
  2. Lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan residu dibandingkan dengan penggunaan disinfektan kimia seperti klorin.
  3. Memiliki biaya investasi yang medium tetapi dari sisi biaya produksi dapat menurunkan biaya desinfeksi hingga 70% ibandingkan dengan penggunaan disinfektan kimia.
  4. Waktu pengimplementasian yang singkat sehingga dapat optimalisasi lahan budidaya.
  5. Menjaga tingkat mikrobiologi tetap terkendali.

Penggunaan produk disinfektan yang bijak dan aman dapat memudahkan pembudidaya udang untuk melakukan kontrol kualitas air dengan lebih mudah. Penggunakan produk disinfektan yang memiliki kandungaan Nano Copper dan optimasi teknologi UV dalam sistem tambak udang dapat mencipatkan lingkungan yang lebih ideal bagi pertumbuhan udang karena ekosistem air bebas dari virus dan pathogen. Apabila manajemen kualitas air telah dilakukan secara optimal maka diharapkan lingkungan tambak sesuai dengan habitat hidup udang sehingga tercipta produktivitas yang optimal pada komoditas udang (Putra dan Manan 2014).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.