Kejar Produksi, Saprotam Jangan Diabaikan

Capai target produksi udang, industri sarana produksi tambak (Saprotam) tidak boleh diabaikan

Target pemerintah untuk meningkatkan produksi udang mencapai 250% pada tahun 2024 harus direspon dengan baik. Fokusnya tidak hanya pada petambak, akan tetapi pada semua komponen, mulai dari hatchery/benih, pakan, sarana produksi tambak dan packer/gudang beku.

Selain itu, kenyamanan bertambak harus mendapat perhatian pemerintah, terutama Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dan jajaran KKP dari Pusat hingga daerah.

“Tentu saja diharapkan berkoordinasi dengan pihak kementerian dan lembaga negara terkait, misalnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kepolisian, dan lain-lain,” ungkap Andi Tamsil, Dosen FPIK UMI Makassar, Sekjen SCI 1988 2017.

Di samping itu, peranan industri pendukung, seperti perusahaan obat dan penyedia sarana produksi tambak, juga sangat berperan dalam menghadapi tantangan budidaya, di antaranya serangan penyakit.

Menurut Wawan Siswanto, Senior Account Manager, Inve Aquaculture, strategi dalam menghadapi tantangan yang ada saat ini seperti penyakit AHPND dan EMS yang mulai merata melanda hampir semua sentra udang. Strateginya harus kembali pada SOP budidaya  gunakan Post Larva (PL) berkualitas dari hatchery yang mempunyai standard biosecurity, manajemen nutrisi dan penanganan yang baik.

Strategi perusahaan obat dalam mendukung para petambak, kata Wawan untuk meningkatkan hasil produksi di antaranya memberikan kualitas produk terbaik yang benar-benar bekerja di tambak untuk meningkatkan produktivitas.

Di samping itu, semua pemangku kepentingan menerapkan standar budidaya yang baik, menerapkan biosekuriti ketat termasuk mempunyai pengolahan buangan yang bisa menjamin penyakit tidak terbuang ke lingkungan.

Kondisi ekonomi berangsur pulih

Menurut Cicik Kurniawati, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kota Batam, prospek pemasaran hasil produksi udang di Indonesia ke depan masih ada peluang. Dengan berangsur–angsur pulihnya kondisi ekonomi, kebutuhan konsumsi udang sudah dapat dikatakan hampir mendekati normal.

Untuk menyiasati daya beli masyarakat, pembudidaya dapat mengantisipasi dengan  memproduksi udang ukuran lebih kecil yang harganya terjangkau. Selain itu bahan baku industri pengolahan hasil perikanan berbahan baku udang seperti kerupuk udang, terasi, petis, udang tepung beku dan udang kupas beku dalam negeri juga masih membutuhkan pasokan udang.

Industri udang akan tetap menggiurkan

Menurut Mohammad Nadjib, Direktur PT IANDV BIO Indonesia dan PT Invendo Akuakultur Konsultan, industri udang akan tetap menjadi industri akuakultur yang paling menarik.  Kesulitan akan menjadi faktor ujian. “Karena apa saja yang mudah maka harganya akan turun,” paparnya. Dengan prospeknya yang cerah, ia memprediksi, akan semakin banyak pengusaha baru masuk ke bisnis udang.

Hal senada juga diungkapkan Didi Junaedi, Teknisi PT Karua Hanesa Jaya. Menurutnya, industri udang masih memiliki prospek yang bagus. Hal ini mengingat biaya produksi masih di kisaran 60 – 65%. “Berarti profit masih pada kisaran 35 – 40%. Tentunya pakan yang merupakan biaya terbesar sangat perlu dikelola sehingga FCR tidak lebih dari 1,4,” kata Didi.

Ia melanjutkan, pemangkasan biaya dapat dilakukan di beberapa sisi. Misalnya, penggunaan listrik, pengoprasian kincir dapat dibatasi sesusai dengan kebutuhan oksigen untuk udang (DO) secukupnya namun tidak dibawah ambang batas (dibawah 4 ppm).

Berikutnya, untuk benur, penentuan jumlah tebar (m3) menyesuaikan dengan sarana dan prasarana tambak guna menghasilkan produksi yang maksimal sesuai daya dukung tambak. Selanjutnya, adalah obat-obatan: penggunaan pupuk yang sesuai dengan kebutuhan udang berdasarkan analisis laboratorium sehingga dapat membantu mengurangi biaya yang tidak seharusnya dikeluarkan.

Di lain pihak, Wawan berpendapat, konsumen udang merupakan kalangan menengah ke atas yang daya belinya hampir tidak terpengaruh oleh adanya pandemi. Ia memprediksi, prospek udang di masa depan akan tetap bagus.

Perkiraan pemasaran ekspor udang Indonesia akan tetap bagus karena permintaan masih selalu kurang. Di samping itu, pandemi yang segera berakhir akan meningkatkan permintaan udang.

Prospek industri obat

Dalam pandangan Dedy Safari, Commercial and Technical Manager, Benchmark Genetics, strategi perusahaan obat sebaiknya lebih memprioritaskan produk untuk pencegahan penyakit udang. Kualitas produk-produk probiotik dan vitamin sebaiknya terus ditingkatkan untuk menjaga kestabilan kesehatan udang selama budidaya. Prospek perusahaan obat juga akan tetap baik sejauh iklim budidaya bisa terjaga dengan baik dan tambak masih bisa beroperasi dengan Day of Culture (DOC) yang panjang.

Di lain pihak, Febri, CV Pradipta Paramita, mengungkapkan, perusahaan obat dengan kondisi lingkungan budidaya saat ini harus mulai mengarah ke produksi sarana produksi tambak yang berbasis ramah lingkungan. “Jangan sampai lingkungan budidaya kita semakin tercemar dengan bahan kimia yang tidak ramah lingkungan,” sarannya. (noerhidajat/adit/resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *