Peluang Budidaya Kepiting dan Rumput Laut. “Kita ingin menjadi champion di budidaya, salah satunya lobster. Kita harus bisa menjadi juara di 5 komoditi utama atau strategis dalam 10, 15, 20, atau 30 tahun yang akan datang.” Demikian ucap Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, di Gedung KKP, Jakarta Pusat. Kelima komoditas utama atau strategis tersebut yaitu udang, lobster, kepiting, nila, dan rumput laut.
Peluang Budidaya Kepiting dan Rumput Laut dari Matra Bahari


“Kenapa lima komoditas ini? Karena memiliki pangsa pasar yang tinggi sehingga akan berperan penting pada pertumbuhan ekonomi Indonesia dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,”ujar Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, Tb Haeru Rahayu dalam Focus Group Discussion (FGD) Pembangunan Perikanan Budi Daya Berkelanjutan Mendukung Ketahanan Pangan Nasional di Jakarta, sebagaimana dikutip dari kkp.go.id (15/10/2023).
Lobster, kepiting, dan rumput laut menjadi komoditas unggulan Indonesia dari budidaya matra bahari atau laut karena kontribusi ekonominya yang signifikan dan permintaan yang terus meningkat. Misalnya, industri lobster memainkan peran penting dalam ekonomi global dengan nilai pasar mencapai miliaran dolar setiap tahunnya.
“Contohnya harga beli lobster dari nelayan per bulan Mei 2024—yang bersumber dari beberapa eksportir di Jakarta dan Surabaya—berkisar Rp.400.000—Rp.600.000/kg, ungkap Rizki Nugraha Saputra, CEO Fisherynesia.
Rizki juga mengungkapkan bahwa kepiting pun menjadi komoditas berharga dengan nilai ekonomi yang tinggi, terutama di pasar Asia. Begitu pula dengan rumput laut yang semakin diakui nilainya karena sifatnya yang multifungsi dalam berbagai industri—mulai dari makanan hingga kosmetik—serta kontribusinya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan laut.
“Secara angka, komoditas-komoditas tersebut memiliki market value atau nilai pasar yang cukup besar, yaitu rumput laut sebesar US$ 16,7 miliar; kepiting US$ 879 juta; dan lobster US4 7,2 miliar,” terang Rizki mengutip pernyataan Menteri KKP dalam Aquaculture Business Forum, 2024.
Menimbang potensi budidaya lobster dan kepiting
Lobster, kepiting, dan rumput laut merupakan komoditas perikanan yang diminati oleh pasar ekspor dan domestik Indonesia dengan beragam jenis atau varietas yang memiliki potensi pasar yang besar. Menurut Rizki, beberapa daerah di Indonesia telah menonjol sebagai sentra budidaya lobster, di antaranya pesisir utara Jawa Timur (Probolinggo, Situbondo, Sumenep); Nusa Tenggara Barat; dan Pangandaran (Jawa Barat). Sementara daerah seperti Pulau Seribu di sebelah utara Jakarta, Pangandaran, Sulawesi Selatan, Bangka, dan Balikpapan menjadi sentra budidaya kepiting yang signifikan.
“Untuk lobster, jenis lobster pasir (Panulirus homarus), lobster bambu (Panulirus versicolor), dan lobster mutiara (Panulirus ornatus) adalah beberapa varietas yang sangat diminati oleh pasar ekspor dan domestik. Kepiting juga memiliki varietas yang cukup diminati pasar seperti kepiting bakau (Scylla serrata), yang memiliki permintaan stabil, terutama di pasar Asia,” terangnya
Pendapat senada disampaikan Andi Jayaprawira Sunadim. General Manager PT Gani Arta Dwitunggal, dengan brand Aquatec-nya ini, mengatakan bahwa varietas yang paling bernilai tinggi adalah lobster mutiara. “Lobster mutiara bisa tumbuh hingga di atas 1 kg dan memiliki nilai jual 1—2 juta rupiah per kilogram. Sementara varietas yang memiliki pasar luas adalah lobster pasir dengan ukuran jual 200 g dan nilai jual berkisar 500 ribu rupiah per kilogram,” terangnya.

Menurut Andi, saat ini Vietnam menghasilkan lobster budidaya dengan nilai USD 120 juta (setara1,9 triliun rupiah) per tahun. Padahal, panjang pesisir pantai Vietnam hanya berkisar 3.260 km atau setara dengan pulau Jawa. Sementara sebagian besar benih lobster (sekitar 80%) yang dibesarkan di Vietnam berasal dari Indonesia.
“Jika Indonesia bisa mengembangkan industri budidaya lobster sendiri, niscaya USD 120 juta ini akan mudah sekali tercapai, bahkan lebih. Hal ini disebabkan panjang pesisir Indonesia yang lebih panjang, yaitu 95.000 km. Itulah alasan mengapa lobster masuk dalam komoditas perikanan yang diunggulkan,” tambahnya.
Bicara soal teknologi budidaya lobster, Andi mengatakan bahwa budidaya lobster saat ini masih menggunakan keramba ikan di permukaan air. Metode ini dianggap tidak efisien untuk membesarkan lobster. Pasalnya, saat hujan deras, salinitas air di permukaan berubah menjadi lebih tawar sehingga menyebabkan kematian masal dan terhambatnya pertumbuhan. Kegiatan pemberian makan oleh pembudidaya di keramba juga membuat lobster enggan untuk makan.
“Teknologi budidaya unggulan yang tepat untuk lobster adalah dengan system kerangkeng terbenam, yang saat ini dipakai secara luas dan sukses di Vietnam,” ungkap Andi.
Pembesaran lobster dalam kerangkeng yang dibenamkan di dalam air membuat salinitas air tidak akan terpengaruh jika terjadi hujan besar. Hal ini disebabkan perubahan salinitas hanya terjadi di permukaan air. Dengan demikian, survival rate (SR) dari budidaya lobster akan meningkat secara signifikan. Selain itu, kerangkeng yang ditenggelamkan jauh di dalam air membuat lobster tidak terganggu oleh aktifitas pembudidaya sehingga penyerapan pakan lebih maksimal. Di Indonesia sendiri, metode ini sudah dikembangkan secara modern dan diproduksi oleh Aquatec.
Tak hanya di luar ruangan (outdoor), budidaya lobster juga bisa dilakukan di dalam ruangan (indoor). Seperti diungkapkan oleh Rizki, teknologi recirculating aquaculture system (RAS) telah menjadi pilihan di beberapa negara, termasuk Indonesia. Sistem ini memungkinkan kontrol yang lebih baik terhadap lingkungan budidaya seperti suhu air, kualitas air, dan nutrisi sehingga meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan lobster secara signifikan.
Adapun kepiting bisa dibudidayakan dengan berbagai sistem, termasuk tambak tradisional, tambak semi-intensif, dan tambak intensif. Namun, tambak intensif dengan penggunaan sistem air bertekanan dan pengaturan kondisi lingkungan yang ketat menghasilkan pertumbuhan dan kualitas kepiting yang lebih baik. “Salah satu inovasinya yaitu apartemen kepiting, yang banyak diminati pembudidaya karena diharapkan bisa menjadi solusi tingginya tingkat kematian kepiting dalam budidaya serta mencapai ukuran produksi yang seragam,” jelas Rizki.
Peluang basah dari rumput laut
Sebagai bagian dari segitiga karang (coral triangle) dunia, Indonesia memiliki 550 jenis varian rumput laut bernilai ekonomis tinggi. Pada tahun 2019, Indonesia menjadi produsen nomor satu rumput laut Euchema cottoni dan menguasai 80% pasar global, dengan volume produksi mencapai 9,6 juta ton rumput laut basah (sumber: FAO).
“Untuk rumput laut, varietas yang paling diminati adalah Euchema cottoni dengan harga antara Rp.3.000—Rp.9.000/kg basah. Itulah mengapa rumput laut juga masuk dalam komoditas perikanan yang diunggulkan,” terang Andi Jayaprawira Sunadim.
Selain Eucheuma cottonii, Rizki Nugraha Saputra mengatakan bahwa jenis Kappaphycus alvarezii juga merupakan varietas utama yang diminati oleh pasar ekspor dan domestik. Rumput laut ini digunakan dalam berbagai industri, termasuk makanan, farmasi, kosmetik, dan industri lainnya,” ujarnya.
Soal teknologi budidaya rumput laut, Rizki mengatakan bahwa sistem budidaya vertikal (vertical farming) telah menjadi salah satu teknologi unggulan. Sistem ini memungkinkan budidaya rumput laut secara intensif di perairan dangkal dengan menggunakan jaring apung. Penggunaan bioreaktor juga mulai diterapkan untuk meningkatkan produksi rumput laut dengan memantau dan mengatur kondisi lingkungan budidaya.
Untuk potensi rumput laut Indonesia belum diketahui, tetapi minimal bisa mencapai 20 juta ton atau 2 kali dari produksi pada tahun 2015 dengan menggunakan metode yang benar dan tidak mencemari lingkungan,” ujar Andi.
Menurut Andi, budidaya rumput laut di Indonesia masih menggunakan botol plastik bekas yang diikat dengan tali dan digantungi bibit rumput laut. Umumnya, botol plastic bekas hanya digunakan untuk satu siklus panen, lalu dibuang menjadi sampah.
Berdasarkan data dari Kompas.com, industri rumput laut di Nunukan menghasilkan 25 ton limbah botol plastik bekas setiap bulannya. Dalam 1 tahun, limbah botol plastik yang dihasilkan di satu kabupaten Nunukan saja sudah mencapai 300 ton per tahun. Hal ini tidak ramah lingkungan serta tidak scalable maupun sustainable.
Tidak hanya botol plastik bekas yang mencemari lingkungan untuk jangka panjang, kapasitas produksi juga tidak bisa digenjot disebabkan kebutuhan pengadaan botol plastik bekas setiap memulai siklus baru budidaya rumput laut. Botol plastik bekas juga mudah rusak dan mudah tenggelam, sehingga rumput laut yang digantung tidak bisa terlalu besar. Dengan demikian, kapasitas produksi rumput laut Indonesia per hektar juga terbatas. Itulah salah satu penyebab utama produksi rumput laut di Indonesia terus menurun sejak tahun 2015.
Untuk menggantikan botol plastik bekas dibutuhkan alternatif pelampung bagi industri rumput laut. Buoy dari bahan HDPE dengan kontruksi yang kuat dan ketebalan memadai memiliki umur pakai minimal 10 tahun hingga 20 tahun. Jika panen rumput laut dilakukan 8 kali setahun, ketahanan dari buoy HDPE tersebut minimal 80 siklus panen, yaitu 80 kali lebih lama dari cara tradisional menggunakan botol plastik bekas. Di akhir masa pakai 20 tahun, buoy HDPE bisa didaur ulang. Daya apung pelampung yang besar juga memungkinkan dipanennya rumput laut dengan berat lebih besar, meningkatkan volume, kapasitas, dan nilai produksi rumput laut nasional Indonesia.
“Penggantian botol plastik bekas ke pelampung HDPE ramah lingkungan mudah dilaksanakan. Hal yang dibutuhkan adalah kesadaran pembudidaya terhadap pentingnya meminimalkan sampah botol plastik bekas dalam produksi rumput laut. Saat ini, buoy HDPE tersebut sudah diproduksi dan dikembangkan didalam negeri oleh Aquatec,” terang Andi.
Merajut asa
“Pengembangan budidaya lobster, kepiting, dan rumput laut di Indonesia telah menunjukkan potensi yang besar. Namun, diperlukan perhatian khusus dalam beberapa aspek seperti keberlanjutan pengelolaan sumber daya laut,” tutur Rizki.
Penggunaan praktik budidaya yang tidak berkelanjutan seperti penggunaan pakan yang tidak ramah lingkungan dan penggunaan bahan kimia berbahaya bisa berdampak negatif pada lingkungan laut. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan dan regulasi yang terkontrol untuk memastikan praktik budidaya yang ramah lingkungan.
Selanjutnya adalah peningkatan investasi dalam riset dan pengembangan teknologi budidaya yang inovatif. Selain itu, pelatihan dan pendampingan bagi para pembudidaya ikan laut mengenai praktik budidaya terbaik juga sangat penting untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam mengelola budidaya secara optimal.
Perluasan pasar ekspor dan diversifikasi produk pun diperlukan. Diversifikasi produk turunan dari lobster, kepiting, dan rumput laut bisa memberikan nilai tambah dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
“Terakhir, kerjasama antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga riset juga perlu ditingkatkan untuk menciptakan kebijakan yang mendukung dan mengarahkan pengembangan industri perikanan budidaya secara berkelanjutan,” pungkas Rizki. (RA/Adit/Resti)

