Optimalkan Budidaya Udang yang Lebih Ramah Lingkungan

Optimalkan Budidaya Udang yang Lebih Ramah Lingkungan

Belum lama ini Paguyuban Aquaculturis Kaur menggelar kembali seminar budidaya udang, kali ini bekerjasama dengan PT Suri Tani Pemuka (STP) dan PT Agrinusa Jaya Santosa (AJS) bertempat di Hotel Zalfa Bintuhan-Bengkulu (31/8).

Tema yang diusung yaitu mengoptimalkan management tambak untuk budidaya udang yang lebih ramah lingkungan, dan menghadirkan beberapa pembicara yang ahli dibidangnya. Materi yang dijelaskan cukup lengkap untuk benur pembicara dari STP, tim TS benur, Syaeri; kemudian dari TS shrimp feed STP,  Rudy Kusharyanto, serta Marketing Manager PT. AJS, Margaretha.

Dalam paparannya beberapa pembicara membahas mengenai kondisi budidaya saat ini baik mengenai update proses di hatchery, budidaya maupun supporting dari obat-obatan. Peran paguyuban dalam mengembangkan budidaya sangatlah penting.

Bijak dalam memilih bibit yang berkualitas dan bebas penyakit, Menurut TS benur PT STP, Syaeri hal ini menjadi salah satu upaya dalam pencegahan dini serangan penyakit yang berasal dari induk yang kurang berkualitas (sangat di sarankan untuk memilih benur yang melampirkan sertifikat bebas penyakit).

Technical Support shrimp feed PT STP Rudy Kusharyanto, mengatakan penggunaan probiotik serta vitamin sangat di sarankan untuk mempertahankan atau mengelola kualitas air di tambak, untuk menambah daya tahan udang.

Lanjutnya, untuk management pakan dan management kualitas air harus diperhatikan, terutama menentukan saat penambahan serta pergantian air agar mengurangi goncangan atau fluktuasi di water parameter quality, yang menyebabkan makin tidak nyamannya udang di kolam terutama saat penyakit sudah masuk ke sistem budidaya.

Marketing Manager PT. AJS, Margaretha menambahkan, para petambak sebaiknya lebih bijak dalam penggunaan bahan kimia yang berlebihan di tambak, karena efek negatif kedepan yang di timbulkan (bakteri dan virus akan makin resisten terhadap bahan kimia).

Dengan adanya paguyuban tentu akan mempermudah teknisi tambak dan para marketing pakan maupun obat-obatan khususnya di daerah kabupaten kaur untuk saling berkomunikasi. Robi Antoni, selaku Sekdin KKP Kabupaten Kaur berharap Paguyuban Aquaculturis Kaur bisa memberikan contoh untuk keberhasilan budidaya yang berkelanjutan.

Selain itu juga, harus komitmen dalam program jangka pendek budidaya yang berhasil dan tidak menimbulkan penyakit supaya perairan terjaga dengan baik. Jangka panjangnya budidaya yang sustainable sesuai dengan densitas dan daya dukung serta kemampuan sarana yang ada.

Sejalan seperti yang diungkap oleh Farm  Manager PT Dua Putra Perkasa, Penasehat Paguyuban aquaculturis Kaur, Teguh Setyono. “Untuk mengoptimalkan tambak sebaiknya memperhitungkan sarana dan prasarana yang ada perbandingan antara densitas, kincir, pompa dan sumber daya manusia yang ada harus seimbang. Tentunya yang tidak kalah penting adalah IPAL.”

Teguh menghimbau agar melakukan sterilisasi yang optimal, memakai benur yang Spesific Pathogen  Resistance (SPR) dan Spesific Pathogen Free (SPF), pakan dengan protein (30 sd 34)% second grade, memakai probiotik dan mineral untuk menjaga supaya budidaya berhasil agar melakukan pengolahan air sisa budidaya semaksimal mungkin sebelum di buang ke laut/sungai dengan menggunakan desinfektan atau bahan yang ramah lingkungan.

Hal senada pun diungkap oleh Teknisi PT Karua Hanesa Jaya, Didi Junaedi. “Management tambak untuk budidaya yang ramah lingkungan diawali dari air masuk, dari laut, tandon, bak penyaringan, harus diperhatikan betul sebelum masuk ke kolam budidaya ada dalam kondisi bersih (TOM) rendah, begitupun pada saat persiapan tebar disarankan tidak memakai bahan kimia dan lebih mengarah ke bahan bahan yang ramah lingkungan, adapun setelah proses budidaya berlangsung kita harus mencermati dan mengamati buangan dari proses budidaya (siphon)  diarahkan ke tandon pembuangan lumpur/IPAL guna diproses ulang sebelum dikembalikan lagi ke laut,” ujarnya.

Menambahkan Koordinator Budidaya Zona II,  Anton, planning kami kedepan, sebisa mugkin mengontrol/menekan penggunaan bahan kimia maupun organik untuk aktivitas budidaya kami, sehingga kami bisa melakukan budidaya berjangka panjang.

“Target kami para pembudidaya udang di kaur adalah menjaga alam tetap Lestari sehingga kami bisa terus berbudidaya jangka panjang dengan hasil yang maksimal,” tutur Anton.

Sementara kerjasama dengan pemerintah bisa dalam hal bentuk seminar ataupun sarasehan. Dengan begitu himbauan dari pemerintah yang bersifat umum juga bisa ikut agar budidaya yang berkelanjutan terus berkembang supaya anak cucu kita bisa melihat dan merasakannya di masa depan.

Kerjasama paguyuban kaur dengan pemerintah daerah, kata Didi berjalan lancar dan terus digali langkah pemerintah daerah untuk kemajuan dalam bidang budidaya termasuk pabrikan pakan dan obat obatan serta benur.

“Karena rencana jangka pajang supaya bisa terus bekerjasama dengan pemerintah daerah dan pabrikan pakan serta obat-obatan, guna merencanakan/menciptakan lingkungan budidaya yang nyaman dan aman, baik melalui peraturan-peraturan daerah serta dukungan dari pengusaha tambak guna terciptanya kelangsungan berusaha dan diharapkan semua petambak di Kab Kaur sudah menerapkan sistem IPAL yang benar sesuai Juknis kementrian KKP no 75 tahun 2016,” tukas Didi. (Vira/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *