Paguyuban Aquaculturis Kaur: Tingkatkan Produktivitas Budidaya Udang

Paguyuban Aquaculturis Kaur: Tingkatkan Produktivitas Budidaya Udang

Pendekatan penanganan IMNV dan AHPND serta kisah sukses penggunaan pakan bernutrisi tinggi

Belum lama ini Paguyuban Aquaculturis Kaur menggelar kembali seminar penyakit pada budidaya udang, kali ini bekerjasama dengan PT Grobest Indomakmur bertempat di Sentra Kuliner, Kab Kaur-Bengkulu (5/10).

Acara seminar Pencegahan IMNV, AHPND dan Success Story di gelar dua kali, yaitu pada pagi hari di pusat kuliner Kaur, dengan peserta sekitar 80 orang.  Peserta yang hadir perwakilan dari dinas perikananan Kaur, para teknisi tambak, pemilik tambak, sales pakan, sales probiotik, mineral, hatchery.

Kemudian dilanjutkan pada malam hari, yang bertempat di aula pertambakan PT DPP dengan peserta sekitar 30 orang yaitu internal dari PT Grobest Indomakmur dan farm manager serta teknisi, analyst dan team support PT DPP.

Salah satu peserta yang hadir Teknisi PT Dua Putra Perkasa (DPP) Catur Supriyantoro mengungkapkan, “acara ini juga akan membantu promosi kabupaten Kaur dan menggerakkan perkonomian lewat sewa tempat, penginapan maupun kuliner, serta saya harap pemilik usaha tambak berkenan hadir untuk bisa mensinkronkan pemikiran antara bisnis dan update terkini budidaya udang,” ungkap Catur.

Adanya sharing ilmu dan teknologi dari pabrikan pakan dengan mensuport pakan berkualitas dan ramah lingkungan akan menambah wawasan, semangat keberhasilan dan percaya diri untuk sukses bersama, simbiosis mutualisme antara petambak dengan pabrikan yang harapannya akan berdampak untuk peningkatan taraf hidup masyarakat.

Tanggapan lain juga disampaikan oleh Teknisi PT Karua Hanesa Jaya, Didi junaedi, “Pemilihan lokasi tambak sangat menentukan keberhasilan budidaya, dengan menentukan lokasi yang tepat dapat berpengaruh besar terhadap kelangsungan usaha berbudidaya udang serta menjalankan SOP  budidaya secara benar serta kaidah-kaidah berbudidaya agar proses pemeliharaan  tidak mengalami hambatan atau gangguan,” ujar Didi.

Menyimak dari hasil pemamparan para ahli yang disponsori oleh pakan Grobest yang mana sudah teruji fungsional feed bisa mencegah penyakit sehingga produktifitas bisa naik diatas 40 ton/ ha. Contoh farm di Lemong, perbatasan Lampung Bengkulu.

“Apresiasi yang sangat bagus / luar biasa untuk tambak yang sudah 14 siklus kurang berhasil menjadi sangat berhasil dari produktifitasnya yang bisa mencapai lebih 40 ton/ ha, dan berharap anggota paguyuban bisa menangani IMNV dan AHPND sehingga bisa  meningkatkan produktivitasnya.” tutur Manajer Farm PT Dua Putra Perkasa, Teguh Setyono.

Penanganan penyakit harus didekati secara holistic meliputi udang (host), virus, bakteri (pathogen)  dan lingkungan (stress factor). Jadi pendekatannya dimulai dengan tebar benur yang fit dan bebas penyakit (SPF), biosecurity yang ketat untuk menjamin clean pond dan clean water serta pengelolaan kualitas air yang baik untuk menjaga agar air berada dalam kisaran kualitas optimalnya untuk budidaya udang.

National Technical Service Manager PT. Grobest Indomakmur Dany Yukasano, memaparkan antusiasme dari peserta yang hadir, “Alhamdulillah antusias seluruh stake holder budidaya udang di Kaur sangat baik, hal ini menjadi awal yang sangat bagus untuk meningkatkan kinerja budidaya di Kaur pada khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya.”

Dany juga berharap, semoga dengan seminar seperti ini pengetahuan dan wawasan seluruh stake holder budidaya udang mulai dari pabrik pakan, probiotik, hatchery, additives dan utamanya para petambak menjadi semakin baik dan tingkat keberhasilan budidaya udang semikin baik pula.

Penanganan IMNV dan AHPND
Catur menambahkan pendekatan penanganan IMNV dan AHPND dilihat dari sumber penyebabnya, serangan IMNV adalah dari virus yang artinya perlu inang perantara. “Kita harus menihilkan atau menghilangkan yang jadi vektor virus IMNV lewat sterilisasi saat persiapan kolam sebelum tebar,” ujarnya.

Sedangkan AHPND karena sumbernya dari bakteri, penanganannya dengan mencegah tumbuhnya bakteri secara terukur terutama untuk vibrio. Day of Culture (DOC) udang yang rentan terinveksi AHPND harus terpantau untuk menjaga dominansi plankton dengan bakterinya, idealnya 60:40.

Menurut  Teguh, mengatasi IMNV dengan mempersiapkan lahan, sterilisasi, benur dari hachery yang telah bersertifikat, penanganan kualitas air tentunya menghindari NH3 diatas 0.1 ppm menjaga alkalinity diatas 120 dan plankton di jaga di 400 rb /ml , densitas juga di turunkan jadi 170 ek/m dan pola parsial sesuai dengan carrying capasity.

“Mengatasi AHPND mengontrol Vibrio parahemolitikus di bawah  level = 10 ²  dengan aplikasi Bacillus subtilis. Untuk menjinakkan Vibrio  parahemoliticus melalui pakan bisa di campurkan Bakteri Lactobacillus,” tambah Teguh.

Buangan limbah, kata Didi dapat diatur dan diolah dengan baik, dari air masuk sampai selesai berbudidaya sehingga tidak berpengaruh terhadap sumber daya alam dan lingkungan perairan setempat. “Menentukan jumlah tebaran dengan tepat per meter perseginya (m2)  sesuai daya dukung masing masing tambak dari  sarana dan prasarana serta dapat menentukan carrying capasity secara benar,” pungkasnya. (Vira/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *