Diskusi Teknis Budidaya Udang

Menelisik geliat budidaya udang memang semakin menarik untuk dibahas, apalagi budidaya udang memiliki nilai bisnis yang sangat potensial. Meskipun banyak juga tantangan yang dimiliki dalam mengembangkannya.

Untuk mendukung akan perkembangan budidaya udang berskala nasional, berbagai pihak ikut andil untuk ikut serta menyelanggarakan Road show, Diskusi Teknis Budidaya Udang yang berlangsung di Bengkulu-Lampung pada 14-17 Juni 2023.

Pelaksanaan acara diskusi yang sifatnya santai ini di laksanakan di tempat wisata menjadikan diskusi berjalan baik dan antusias dari para peserta diskusi. Acara dipandu oleh Nanang dari Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA), dihadiri sekitar 70 orang dari para teknisi tambak wilayah lemong/pesisir barat lampung sampai wilayah Seluma Bengkulu.

Tantangan budidaya di Kab Kaur  saat ini adalah menghadapi penyakit AHPND dan IMNV. Teguh Setyono, Manager Farm PT Dua Putra Perkasa, mengatakan kebanyakan panen dini antara DOC 60 sampai dengan 80 atau (size 80 sampai dengan 50). Mensiasati penyakit saat ini sebaiknya  harus lebih  berhati-hati dalam menentukan benur,  kualitas air, pakan dan mutlak ada instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Menjaga kualitas air, hati-hati dalam pemberian pakan.

“Acara seperti ini perlu berkesinambungan dan secara berkala dilakukan dalam menyikapi permasalahan tambak maupun keberlangsungan bisnis udang di Indonesia terutama di wilayah pesisir Barat Sumatra,” tambah Catur Supriyantoro Teknisi Tambak Udang PT Dua Putra Perkasa.

Salah satu yang menarik untuk dibahas adalah tantangan budidaya udang di wilayah Kaur,  seperti adanya penyakit Myo dan mulai ditemukan juga penyakit AHPND dari DOC awal budidaya maupun di umur udang besar. Paguyuban Aquaculturis Kaur dengan menggandeng FKPA dan Perusahaan Swasta yang bergerak dalam budidaya udang (Vanamag),  untuk mengajak  narasumber maupun praktisi yang memiliki pengalaman dalam menangani penyakit ini.

Antisipasi penanganan penyakit

Antisipasi dan penanganan penyakit khususnya AHPND, dengan Plankton sistem diawal sebagai dominasi dan pembentukan bakteri sebagai buffer ekosistem serta pentingnya fasilitas laboratorium di tambak untuk mendukung kegiatan budidaya.

“Menyikapi budidaya udang yang semakin banyak tantangan disarankan mulai ada laboratorium pendukung untuk memudahkan analisa data kolam dan terdata. Selain itu juga managemen industri akuakuktur mulai diterapkan dalam mengelola bisnis tambak udang dengan tujuan mengamankan profit bisnisnya,” tutur Abdul Haris atau yang akrab disapa Haris, Farm Manager PT Maju Tambak Sumur (MTS) Group, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang IPTEK FKPA.

Supaya  sehat dan tetep bisa tumbuh, udang perlu pencampuran feed aditif selain dari kualitas air yang selalu terjaga. Budidaya saat ini mutlak diperlukan pencegahan dari kualitas air, sumber benur,  kualitas pakan yang bagus dan sumber daya manusianya yang selalu bisa mengikuti perkembangan dari trend budidaya.

 

Tentu selain menjalin silaturahmi serta memperluas kolega dari berbagai sektor, dari ajang diskusi tersebut juga banyak pihak yang kembali belajar untuk terus meningkatkan pola budidaya udang dengan cara terus belajar dan tentunya memahami lingkungan sekitar, serta mengetahui arah budidaya yang akan dilakukan.

“Tantangan budidaya saat ini yaitu maraknya penyakit AHPND dan IMNV di lingkungan budidaya, solusinya yaitu kembali ke diri kita sendiri, harus lebih disiplin dalam berbudidaya pemilihan saprotam dan persiapan yang matang di awal budidaya,” ujar Anton Asisten Manager PT. Sabar Subur Sejahtera.

Selain itu, harapan agar hasil diskusi ini membawa banyak dampak yang positif dalam perkembangan budidaya udang semakin meningkat dan berprogress ke arah yang positif. Salah satunya dengan meningkatkan lagi komunikasi sesama praktisi budidaya untuk sama-sama menjaga lingkungan sekitar, dan harapannya untuk meningkatkan hasil panen yang maksimal dan budidaya jangka panjang yang lebih stabil.

“Saya sangat terkesan dengan antusias para praktisi dalam diskusi ini. Harapannya acara seperti ini harus sering dilakukan agar praktisi akuakultur Kaur dan sekitar mendapatkan informasi yang up to date,” kata Haris.

Outbreak penyakit udang seperti AHPND, IMNV, dan WFD. Untuk solusi dari FKPA, mengupgrade kemampuan budidaya terkini, berperan aktif kunjungan ke korwil-korwil FKPA yang dimotori oleh team IPTEK FKPA untuk melakukan diskusi budidaya terupdate saat ini serta bertukar pikiran dengan anggota yang notabene praktisi aquaculture, sehingga ada jalan keluar mengatasi dan meminimalisir penyakit udang.

Sejalan dengan hasil yang ingin dicapai seperti yang disampaikan oleh Barlian, Ketua Bidang Internal Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA),  Marketing & Sales Shrimp Feed Supervisor – PT. Suri Tani Pemuka. FKPA  bertekad dan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memajukan dunia perikanan, budidaya tambak udang. Khususnya di bidang teknis budidaya sehingga hasil panen udang bisa stabil untuk meningkatkan produktivitas dan membangun komunikasi sesama anggota FKPA untuk bisa saling sharing dengan harapan ada keterbukaan informasi di korwil masing-masing. (Vira/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.