LSM Saling Anton

LSM Saling Anton (Lembaga Sosial Masyarakat) didirikan atas inisiatif masyarakat yang peduli akan kesejahteraan masyarakat, khususnya di bidang budidaya, dan seiring dengan waktu, kehadiran LSM Saling Anton mampu merubah ekonomi masyarakat, yang semula di bawah angka garis kemiskinan, kini setara dengan taraf hidup masyarakat sebagaimana mestinya.

 

Anggota LSM Saling Anton terdiri dari masyarakat biasa, yang rata-rata terdiri dari petani dan nelayan, yang mau berjuang merubah tradisi masyarakat yang selalu mengharapkan bantuan dari pemerintah dan dibuktikan dengn membuat terobosan baru, dengan budidaya ikan bronang, hemat biaya serta mudah pakannya,

cukup dengan menyediakan bibit ikan baronang saja.

 

Peran LSM Saling Anton dalam kemajuan akuakultur sangatlah banyak, diantaranya mengajarkan masyarakat cara budidaya yang baik, serta memberikan terobosan baru yang akan menguntungkan pembudidaya itu sendiri.

 

Kesulitan LSM Saling Anton dalam sektor akuakultur adalah kurangnya perhatian dari pemerintah mengupdate terobosan yang sebenarnya memang pantas untuk disosialisasikan ke para pembudidaya.

 

Contohnya seperti budidaya ikan bronang yang semula tidak membutuhkan modal banyak, namun hasilnya sangat memuaskan. Bibit ikan baronang bisa diambil langsung dari alam atau membuat indukan sendiri di KJA.

 

Memberi pakan ikan baronang tidaklah serumit budidaya ikan yang lain.

Karena paknnya hanya dari lumut yang menempel di jaring atau sampah daun lamun yang banyak kita jumpai di laut.

 

LSM Saling Anton sudah membawa masyarakat setempat untuk sama-sama berbudidya dan alhamdulillah, 90% masyarakatnya adalah pembudidaya.

 

Struktur LSM Saling Anton

Ketua            ; ABDULLAH

Sekretaris    ; SINARAP

Bendahara  ; BADRUN

MAI Harap Lahirnya Embrio Asosiasi Udang Indonesia

Acara Sarasehan Nasional Bisnis dan Teknologi Budidaya Udang, yang diadakan 27 Maret 2018 di Kampus Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta. Lebih dari 100 orang yang hadir,  peserta merupakan stakeholder di bidang budidaya udang dari berbagai kalangan dan berbagai daerah.

 

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Prof. Dr. Rokhmin Dahuri mengatakan,

Perlu dibentuk Indonesia Aquaculture Incorporated. “Apa itu Indonesia Aquaculture Incorporated? setiap komponen dalam sistem usaha budidaya udang, seperti pengusaha hatchery, pakan, petambak, pengolah, pemerintah, asosiasi, peneliti, dan dosen, harus mengeluarkan atau menyumbangkan kemampuan terbaiknya, sehingga menghasilkan output terbaik. Antar komponen sistem usaha budidaya udang harus solid, care and sharestrengthening to each other, dan bekerja sama secara sinergis.”

 

Pada sarasehan ini, hadir pula berbagai narasum lainnya, yakni Direktur Perbenihan DJPB KKP Coco Kokarkin Soetrisno; Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan, Tuti Prahastuti; praktisi bisnis udang supra intensif Hasanuddin Atjo; CEO PT Bogatama Marinusa (Bomar) Tigor Chendarma; Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Iwan Sutanto; Wakil Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) bidang Perikanan dan Kelautan Yugi Prayanto; serta Hatchery Division PT. Central proteina Prima Fivi Najmushabah; Ketua GPMT Denny D Indrajadja; Ketua AP5I Budhi Wibowo.

 

Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan, Tuti Prahastuti, mengatakan budidaya udang prospeknya sangat bagus begitu juga udang yang sudah jadi makanan olahan dan itu peningkatannya cukup besar. Amerika, Eropa, juga Arab Saudi pun sudah mulai banyak konsumen di sana, dan sudah masuk ke beberapa supermarket yang ada disana juga.

 

Hatchery Division PT. Central proteina Prima Fivi Najmushabah, menurutnya kita berusaha mensuport kebutuhan benur nasional dengan produksi benur yang berkualitas mulai dari kita menyiapkan benur yang bebas virus, serta selalu berusaha untuk memperbaiki kualitas dengan melakukan perubahan dan mengikuti perkembangan di lapangan.

 

Kata Peserta

Senior Sales Executive Skretting Indonesia, Fauzan Bahri, juga memberikan pendapatnya mengenai acara ini kita banyak mendapatkan informasi dan bertemu para stakeholder di bidang tambak untuk meningkatkan optimis dalam bidang perudangan nasional.

 

Pendapat lain juga diungkapkan Regional Sales & Marketing Manager Feed Additive APAC – Clariant, Erika Kusuma Wardani memaparkan, “menurut saya tren perudangan akan membesar, kita pelaku bisnis pasti banya opportunity di depan, saat ini sedang membantu para petambak untuk water treatmennya, bagaimana mengatasi nitrit, ammonia, fosfat.”

 

Erwin Sofyan, petambak dari Marunda Bekasi menuturkan, “acara ini jelas menambah wawasan untuk budidaya untuk ke depannya nanti bagaimanapun proses dari hulu ke hilirnya harus diperbaiki supaya kita bisa mendapatkan benur dan pakan berkualitas. Harapan ke depan pemerintah mau turun tangan untuk bisa memajukan perudangan di Indonesia ini. (Resti/Vira)

 

UPP Mina Kahuripan

Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) Mina Kahuripan Kabupaten Bogor, jadi jembatan pembudidaya untuk sampai ke pemerintah

 

Menurut Ketua UPP Mina Kahuripan, Ook Suherman, UPP terbentuk pada tanggal 30 Oktober 2006. “Yang melatar belakangi dibentuknya UPP adalah agar aspirasi pembudidaya ikan didengar oleh pemerintah yang ada di Kabupaten Bogor, sehingga membantu dari segi  teknologi, pengetahuan, pengolahan hasil perikanan, permodalan dan pemasaran,” ujar Ook.

 

Dalam memajukan perkembangan akuakultur Indonesia UPP Mina Kahuripan memiliki peran yakni menjembatani antara UPP yang berada di Kecamatan, Pengusaha ke Pembudidaya ke Pemerintah serta memberikan informasi yang bermanfaat bagi anggota lainnya. “Peran kami disini lebih mensejahterakan pembudidaya ikan, sehingga bisa meningkatkan devisa negara juga,” tambah Ook.

 

“Anggota dari UPP Mina Kahuripan sendiri cukup banyak, Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan), Kelompok Pengolah dan Pemasaran (Poklahsar), Kelompok Masyarakat Pengawas situ (Pokmaswas), kelompok pakan ikan mandiri (Pokandri), serta para pembudidaya yang dikoordinatori juga oleh UPP di tiap masing masing kecamatan, sampai pembudidaya di Kabupaten Bogor,” jelas Ook.

 

UPP juga bertugas sebagai wadah untuk para pembudidaya, seperti jika ada program-program dari Kabupaten, informasi update perikanan semuanya ke UPP Mina Kahuripan dulu. “Kami mempunyai jadwal setiap hari Selasa berkeliling kepada masyarakat pembudidaya ikan, khususnya yang berada di beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor,” ungkap Ook.

 

Prestasi dari UPP Mina Kahuripan Kabupaten Bogor ini pada tahun 2015 meraih sebagai juara pertama kawasan Minapolitan dengan komoditas lele, serta pada tahun 2016 menjadi juara pertama tingkat provinsi. “Semoga di tahun 2017 ini, meraih juara kembali untuk  tingkat nasional,” tambah Ook.

 

Harapan kedepan, tutur Ook,”UPP Mina Kahuripan bisa berjaya agar para pembudidaya ikan sejahtera, perikanan bisa tetap eksis dan bisa diwariskan ke anak cucu,” tandasnya. (Resti)

Perkumpulan Pembenih Ikan Laut (PERPILA)

Perkumpulan Pembenih Ikan Laut (PERPILA) merupakan sebuah organisasi yang didirikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Situbondo, untuk mendorong  kelompok-kelompok usaha pembenihan ikan dan udang dalam satu kawasan yang tersentralistik.

PERPILA resmi berdiri pada 10 Oktober 2015, Sekretariat PEPRILA Kabupaten Situbondo berada di Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo yang merupakan sentra pembenihan ikan dan udang.

Didirikannya PERPILA juga merupakan strategi pengembangan pembenihan ikan dan udang dengan membentuk sentra produksi benih ikan dan udang.  Hal ini untuk mengatasi berbagai kendala pasokan sumber benih/naupli, proses produksi dan pemasaran.

Fungsi lain PERPILA sebagai lembaga pemberdayaan usaha yang menghimpun seluruh kelompok pembenihan ikan, baik itu pembenihan payau maupun laut.

Pengurus dan Anggota PERPILA terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari PNS, pengusaha kelas menengah ke atas hingga pengusaha kelas menengah ke bawah.

Para anggota kelompok ini berharap dengan adanya Perkumpulan ini akan dapat memiliki posisi tawar yang lebih baik, dibanding berusaha sendiri-sendiri tanpa dinaungi oleh suatu kelembagaan yang dapat memperjuangkan kepentingan para pembudidaya ikan.

Melalui Perkumpulan ini mereka juga ingin menggantungkan kelangsungan usahanya dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat, mengingat rata-rata produk perikanan yang diproduksi sebagian besar merupakan produk ekspor.  Oleh karenanya perlu adanya suatu lembaga yang dapat menyuarakan kepentingan mereka dalam merebut pangsa pasar.

Tujuan didirikannya PERPILA yakni membantu anggota dalam hal :

  1. Kemudahan memperoleh sarana produksi perikanan
  2. Kemudahan memperoleh akses permodalan baik langsung melalui kelompok maupun memfasilitasi melalui perbankan.
  3. Kemudahan memperoleh informasi teknologi dan pemasaran.
  4. Memfasilitasi terbangunnya jejaring pemasaran.
  5. Penguatan kelembagaan Pokdakan dalam menghadapi persaingan usaha.

 

Saat ini PERPILA menjalin kemitraan dengan Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo dalam pengadaan telur ikan kerapu, naupli udang, pakan, serta paket teknologi.

PERPILA juga menjalin kerja sama dengan pihak Perbankan yang berada di wilayah kabupaten Situbondo, untuk fasilitasi Akses Permodalan via jalur Perbankan.

Adapun kegiatan rutin yang dilakukan PERPILA yakni :

  • Melakukan pertemuan rutin setiap 1 bulan sekali untuk membahas perkembangan masing-masing usaha.
  • Melakukan pemantauan hama dan penyakit ikan.
  • Melakukan pemantauan harga produksi perikanan.
  • Melakukan koordinasi dengan BPBAP Situbondo dan UPBL Situbondo.
  • Melakukan Training bagi pelaku usaha perikanan (Karyawan Pembenihan).

 

Dengan adanya kelembagaan PERPILA ini usaha Pembenihan ikan dan udang di Kabupaten Situbondo berkembang pesat. Dengan demikian maka dapat menyerap tenaga kerja masyarakat sekitar lokasi usaha.

Rata-rata pelaku usaha mengambil tenaga kerja dari masyarakat sekitar lokasi usaha, kegiatan sosial budaya lainya yaitu dengan melakukan pemberian bantuan dana dalam kegiatan desa tahunan yaitu kegiatan PETIK LAUT.

Saat ini terdapat 2 desa yang telah ditetapkan dalam RT-RW Kabupaten Situbondo sebagai sentra pembenihan kerapu yaitu desa Bletok dan Desa Pasir Putih Kecamatan Bungatan.

Melalui upaya pembentukan kelompok usaha yang tersentralistik ini diharapkan mampu meningkatkan produktifitas usaha, mutu hasil produksi, pendapatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi serta penyediaan lapangan kerja didaerah sentra-sentra pembenihan ikan dan udang.

Struktur Organisasi

– Ketua                                                 : Ir. Soesyanto Arbono

– Wakil Ketua                                       : Suparno

– Sekretaris                                          : Aditya Utama, S.Si

– Bendahara                                         :Ridho Bagus Pamuji, S.Pi

– Bidang Pembenihan Ikan                    : Vadim Ahsany Taqwim, S.Pi

– Bidang Pembenihan Udang                 : Sueb

Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI)

 

 

Organisasi APCI dibentuk karena mempunyai satu pandangan bahwa Catfish merupakan komoditas potensial masa depan, mengingat keterbatasan sumberdaya lahan dan air serta peningkatan kebutuhan protein pangan.

 

APCI sebelumnya memiliki nama Catfish Club Indonesia (CCI), yang dibentuk pada awal 2009 di Bogor oleh para pelaku budidaya patin dan lele dari Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Anggota CCI adalah individu yang memiliki usaha di bidang budidaya catfish seperti ikan patin dan lele.

 

Pada musyawarah kedua tahun 2013, CCI mengubah namanya menjadi Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI). Kemudian anggotanya bertambah tidak hanya dari kalangan pembudidaya juga para industri pengolahan catfish. Lokasi dari APCI pusat berada di Jakarta dan APCI daerah berada di Provinsi dan Kabupaten.

Susunan Pengurus

Ketua: H. Midhan LA (Kalimantan Selatan)
Wakil Ketua: Imza Hermawan (Jawa Barat)

Suhaemi (Riau)

H. Suhaeli (Jawa Timur)

Suhadi (Kalimantan Selatan)

Susilo (Jawa Barat)

Sekjen : Azam B. Zaidy (Jawa Barat)
Wakil Sekjen: Deni Rusmawan (Jawa Barat)

Zulhairi Nur Afzan (Kalimantan Selatan)

Sujono (Jawa Barat)

Bendahara : Sisilia Eni (Jawa Barat)
Wakil Bendahara: H. M. Fauzan (Kalimantan Selatan)

Purnani (Jawa Barat)

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur Edisi Mei 2016