Bentuk Gugus Tugas Pengendalian Penyakit Ikan, Dr. Murwantoko Nahkodai INFHEM

Ketua infhem 2017-2020 Ir. Maskur, MSi bersama pengurus usai menggelar laporan pertanggung jawaban Indonesia Network on Fish Health Management (LPJ INFHEM 2017-2020), acara tersebut dibungkus melalui zoom meeting, (24/2).

Dihadiri anggota INFHEM, acara dibuka oleh sambutan dari Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan KKP, Tinggal Hermawan, S.Pi., M.Si.

Dalam sambutannya, Tinggal mengatakan, sebagaimana RPJMN tahun 2020 – 2024 yang telah ditetapkan, bahwa ada 2 (dua) tugas besar yang harus dicapai oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, yaitu 1) meningkatkan produksi perikanan budidaya menjadi 10,32 Juta ton (termasuk di dalamnya udang sebesar 1,52 juta ton) pada tahun 2024 atau tumbuh 8,5% per tahun, dan 2) meningkatkan pertumbuhan volume ekspor udang 8% pertahun dan pertumbuhan nilai ekspor udang sebesar 250% pada tahun 2024.

Tugas tersebut bukanlah tugas yang mudah, ucap Tinggal, namun bukanlah suatu hal yang tidak mungkin diwujudkan, melihat besarnya potensi yang dimiliki, serta kemampuan dan komitmen dari semua pihak.

“Permasalahan terkait penyakit ikan dan lingkungan semakin kompleks dengan intensitas yang semakin tinggi, sehingga menjadi faktor utama penghambat capaian tersebut,” ujarnya.

Mitra kerja pemerintah
Selama tahun 2017-2020 INFHEM merupakan mitra kerja Direktorat Jenderal Perikanan sebagai tenaga ahli dalam menangani Penyakit dan Pengelolaan kesehatan ikan.

Menurut Maskur, dalam hal menangani penyakit ikan, anggota INFHEM banyak berperan sebagai Taskforce (Gugus Tugas) dalam menangani penyakit baru (emerging diseases) seperti TiLV pada ikan nila dan EMS/AHPND pada udang.

Selain berperan sebagai anggota Taskforce anggota INFHEM diangkat sebagai tenaga ahli (National expert) bidang Kesehatan Ikan oleh FAO Rome kerjasama dengan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yaitu projek: Surveilan penyakit udang EHP di Jembrana, Bali dengan tenaga ahli Dr. Arief Taslihan dan Bambang Hanggono, MSI; projek Antimicrobial Resistance pada bidang akuakultur sebagai tenaga ahli Mukti Sri Hastuti, MSi; dan projek Progressive Management Pathway for Aquaculture Biosecurity (PMP/AB) dengan tenaga ahli Prof. S Budi Prayitno dan Maskur, MSi.

Kerjasama dengan Politeknik
Kerjasama dengan Politeknik Sidoarjo sejak tahun 2018, dengan kegiatan pemberian materi Sertifikasi Ahli Managemen Kesehatan Ikan untuk Taruna dan Taruni Program studi Teknik Penangan Patologi Perikanan.

Kegiatan ini berlangsung sampai sekarang dan terakhir diadakan pada 15-24 Februari 2021 dengan Narasumber Prof Sukenda, Dr. Murwantoko, drh. Ch. Retna Handayani, drh. Diyah Setyowati, Ellis Mursitorini, SPi, Hendro Sulistiono, S.Si dan saya sendiri.

“Kegiatan ini semula para narusmber datang ke kampus politeknik Sidoarjo, namun sejak ada wabah covid19, dilakukan secara daring. Kami berharap kegiatan ini bisa dilanjutkaan untuk tahun-tahun mendatang,” ungkap Maskur.

Advokasi dan Edukasi
Pemberian pemahaman dan penjelasan tentang pengelolaan kesehatan ikan pada masyarakat atau stakeholders terutama pada penangan dan pencegahan penyakit telah banyak dilakukan sepanjang 2017-2021 dengan melalui beberapa media/forum.

Seperti media WAG Posikandu, sebagai informasi media ini merupakan tempat pelayanan pos kesehatan ikan terpadu (Posikandu) yang anggota 51 Posikandu yang tersebar di berbagai propinsi di Indonesia. Pada media WAG ini anggota INFHEM berperan aktif sebagai pengasuh dan narasumber dalam memberikan solusi maupun penjelasan terkait pengelolaan Kesehatan Ikan.

Oleh sebab itu, Tinggal menuturkan, peran INFHEM sangat penting sebagai salah satu stakeholder perikanan budidaya yang telah banyak berkontribusi dan memiliki komitmen dibidang Kesehatan Ikan dan Lingkungan.

Beragamnya latar belakang keahlian dan bidang yang digeluti (peneliti, akademisi, mahasiswa, penyuluh perikanan, pembudidaya ikan, pengusaha saprokan, dan pengambil kebijakan), menurut Tinggal, akan menjadikan INFHEM sebagai organisasi profesi yang produktif dan diharapkan terus berkembang dan hadir sebagai mitra dan kontributor dalam pengambilan keputusan pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan.

“Beberapa Peran nyata INFHEM yang kita rasakan manfaatnya antara lain penyelenggaraan pelatihan vaksinator dan penyelenggaraan Outlook Penyakit Ikan, serta rekomendasi-rekomendasi teknis pengendalian penyakit ikan,” jelasnya.

Selain itu, Tinggal menambahkan, poin penting yang ingin ia sampaikan adalah evaluasi terhadap tren minat dan munculnya ilmuwan serta praktisi muda dibidang kesehatan ikan dan lingkungan yang akan meneruskan estafet dari capaian yang telah dicapai sampai saat ini.

Tentunnya, semoga kerja keras yang telah dilakukan selama ini menjadi ladang ibadah dan amal kebaikan. “Saya berharap, semoga INFHEM semakin baik dan berkembang di bawah kepengurusan yang baru, sehingga semakin berkontribusi nyata dalam pembangunan perikanan budidaya,”tutupnya.

Dengan terpilihnya Dr. Murwantoko sebagai Ketua infhem, diharapkan dapat mengatasi tantangan perikanan Indonesia agar terjadi sinergi antar stakeholder perikanan Indonesia dari hulu ke hilir.

Seperti yang diketahui suksesnya INFHEM tidak lepas dari berbagai dukungan, salah satu diantaranya dukungan media Majalah Info Akuakultur yang sejak awal berjalan bersama melakukan kegiatan seputar penyakit ikan dan udang.

PENGURUS INFHEM 2021-2024

Ketua : Dr.Ir. Murwantoko, M.Si.
Sekretaris : Dr. Muhammad Rifqi, S.Pi., M.Si.
Bendahara : Dr. Desy Sugiani, S.Pi, M.Si

(Resti/Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.