Genjot Komoditas Ikan dan Udang, Ambil Peluang Pandemi Covid – 19

Genjot Komoditas Ikan dan Udang, Ambil Peluang Pandemi Covid – 19

“Perkembangan usaha perikanan budidaya memiliki prospek yang baik di masa mendatang, karena dalam 5 tahun ke depan pemerintah telah menempatkan subsektor perikanan budidaya menjadi prioritas utama. Diantaranya meningkatkan produksi ikan, menggerakan ekonomi masyarakat, menyediakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” demikian disampaikan Pemimpin Redaksi Majalah Info Akuakultur, Ir. Bambang Suharno saat membuka webinar Nasional Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2021, Selasa, (22/12).

Ir. Bambang Suharno saat memberi sambutan
Ir. Taukhid MS mewakili INFHEM

Tahun 2020 ini dunia dikejutkan oleh terjadinya wabah pandemi Covid-19 yang telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk di bidang kelautan dan perikanan. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melakukan berbagai langkah seperti monitoring dan evaluasi serta koordinasi dengan instansi dan stakeholder.

Untuk memastikan bahwa produksi perikanan budidaya didalamnya tidak mengalami goncangan akibat pandemi Covid-19. KKP telah meluncurkan berbagai program seperti bantuan benih, budidaya teknologi bioflok, percontohan tambak udang milenial dan lain-lain.

Menurut Dirjen Perikanan Budidaya Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, pembudidaya di berbagai daerah di Indonesia perlu memperkuat pangsa pasar global antara lain dengan menerapkan budidaya yang ramah lingkungan.

Hal tersebut khususnya produk udang Indonesia, selain dikirim ke Amerika Serikat, juga dikirim antara lain ke Jepang, negara-negara di Kawasan Uni Eropa, serta Republik Rakyat China, yang memiliki bebagai persyaratan ketat dalam hal perdagangan global.

Oleh sebab itu, ini merupakan bagian dari agenda tahunan, Majalah Info Akuakultur bekerjasama dengan Indonesian Network on Fish Health Management (Infhem) menyelenggarakan Seminar Nasional Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2021 dengan mengusung Tema “Perkembangan Penyakit Ikan dan Udang di Indonesia pada Masa Pandemi Covid-19”.

Seminar Nasional Outlook Penyakit Ikan dan Udang 2021, menghadirkan narasumber yang ahli dibidangnya yaitu Dosen Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Arief Prajitno. MS, yang menjelaskan tantangan penyakit ikan dan udang di tengah pandemi Covid-19. Kemudian Dosen Budidaya Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, DR. Ir. Murwantoko, M.Si yang membahas perkembangan penyakit ikan air tawar 2020 dan prediksi 2021.

Serta menghadirkan praktisi, Head of Free Market Animal Health Service & Laboratory PT. Central Proteina Prima, Dr. Heny Budi Utari, M. Kes yang menjelaskan seputar perkembangan penyakit udang 2020 dan prediksi 2021. Webinar ini dipandu oleh moderator yang juga pengurus Infhem, Dr. Desy Sugiani.

Ir. Taukhid MS mewakili pengurus INFHEM menyampaikan terima kasih atas kepada Info Akuakultur yang telah bermitra dengan INFHEM dalam menyelenggarakan kegiatan seminar outlook penyakit ikan dan udah setiap tahun, serta kegiatan lainnya antara lain pelatihan vaksinator ikan. Ia mengatakan, pada tahun 2020 ini sedianya akan dilakukan pelatihan vaksinator ikan selama 2 angkatan, sebagai tindaklanjut pelatihan serupa tahun 2019, namun mengingat situasi Pandemi Covid-19, pelatihan tersebut tidak dapat dilaksanakan. Dikatakan, pelatihan vaksnator ikan peminatnya cukup banyak, namun tidak dapat dilaksanakan secara virtual karena harus praktek.

Moderator dan pemateri acara webinar

Dalam presentasinya Prof. Arif Prayitno mengatakan. Sub sektor perikanan budidaya dengan komoditas udang diklaim bisa menjadi proyek strategis nasional dan menjadi andalan Indonesia untuk jangka waktu yang lama. Klaim itu muncul, karena udang sampai sekarang masih menjadi salah satu komoditas favorit bagi konsumen dunia dan itu memicu terus meningkatkan permintaan udang di pasar dunia.

Dalam persentasi Arief, upaya meningkatkan produksi adalah dengan diversifikasi usaha budidaya baik ikan dan udang. Selain itu, tambahnya, strategi industrialisasi perikanan budidaya adalah terus melakukan inovasi teknologi produksi (efisiensi), market oriented dan food savety (quality), keberlanjutan ekonomi sosial dan lingkungan, integrasi hulu sampai hilir dan sinergitas lintas sektor.

Sedangkan Murwantoko mengatakan, perikanan budidaya yang berorientasi eksport perlu didukung dengan upaya meningkatkan kapasitas produksinya. “Peningkatan kapasitas produksi perikanan perlu terus dilakukan, mengingat Indonesia merupakan salah satu pemain kunci dalam produksi perikanan global,” ujarnya.

Menurut Heny, faktor penting yang berpengaruh terhadap penyebaran penyakit pada udang adalah kondisi lingkungan. Oleh sebab itu, Heny sangat menekankan kepada para petambak untuk memperhatikan media budidaya.

“Pemeliharaan air dapat dilakukan dengan kontrol rutin terutama untuk mengetahui kondisi alga yang ada di dalam air. Kemudian, manajemen pakan jangan sampai berlebih dan mengatur kecukupan oksigen di dalam media budidaya, karena oksigen penting dalam perombakan bahan organik,” tambah Heny.

Peserta yang hadir di Webinar ini lebih dari 90 orang, yang terdiri dari kalangan pemerintah, swasta, pembudidaya, asosiasi, akademisi dan stakeholder perikanan.

Sebagai informasi, terselenggaranya acara ini berkat dukungan DSM Nutritional Product Indonesia, PT Novindo Agritech Hutama, De Heus, dan PT Hidup Baru Plasindo.

“Dengan sinergi yang baik antara pemerintah, pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya, maka niscaya produktivitas dan daya saing komoditas ikan dan udang yang dihasilkan oleh pembudidaya di dalam negeri bisa berkompetisi di dalam pasar global,” pungkas Desy menutup acara Webinar. (Resti/Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.