Komoditas Ini Tetap Jadi Fokus Lima Tahun Kedepan

Saat di acara Seminar Udang di Botani Square (20/10)

Selama lima tahun kedepan, pemerintah masih memprioritaskan ekspor komoditas udang segar terutama ke Amerika Serikat, Eropa, dan India dengan menaikan target volume ekspor sampai 250 persen.

Seperti yang dikatakan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto pada Seminar Udang yang bertemakan ‘Peningkatan Produktivitas, Efisiensi dan Daya Saing Budidaya Vaname yang Berkelanjutan’ di Botani Square, Bogor (20/10).

“Pemerintah menargetkan ekspor udang segar menjadi 490.000 ton,” ujarnya.

Menurut Slamet, perlu dilakukan peningkatan produksi udang menjadi lebih maksimal. “Oleh sebab itu, saya mengapresiasi kegiatan seminar soal peningkatan produksi udang yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Institut Perikanan Budidaya (IPB) kali ini,” tambahnya.

Slamet mengatakan, pemilihan tema seminar ini cukup tepat karena sejalan dengan program prioritas pemerintah yang masih mengutamakan ekspor komoditas udang hingga lima tahun ke depan. Setidaknya ada tiga jenis udang yang dibudidayakan yaki udang vaname, windu, dan marguensis.

Seperti yang sudah diketahui, kata Slamet, Presiden Jokowi sudah menerbitkan Inpres (Instruksi Presiden) untuk membangun sentra hasil produksi perikanan dengan memprioritaskan komoditas udang dan ikan tuna.

Soal topik ekspor udang ini menjadi topik pembicaraan yang hangat, ucap Slamet, karena harus terus dikembangkan. Karena itu, ucap Slamet, pada seminar ini menampung masukan, usulan, serta pengalaman tentang budidaya udang dan daya saing.

Sementara itu, Rektor IPB Arif Satria mengatakan, budidaya udang masih dan akan tetap menjadi primadona dengan sasaran ekspor udang ke seluruh negara. Tambahnya, untuk peningkatan hasil budidaya udang dan volume ekspor. Dirinya mengusulkan, tiga hal yakni kerangka riset, implementasi dan regulasi.

Menurutnya, pada soal kerangka riset, Indonesia harus terus melakukan riset pembuatan indukan, sehingga tidak tergantung lagi dengan negara lain. Udang vaname itu bukan varietas asli Indonesia.

Arif menghimbau, pemerintah harus cepat mengikuti perkembangan zaman. Seperti pada era perkembangan digital saat ini, maka pemerintah juga harus membuat regulasi yang sejalan dengan perkembangan digital.

Disaat yang bersamaan, juga digelar pameran ikan hias (Bazaar of Aquaculture), Bogor Indonesia Guppy Show (BIGS), Betta Contest and Exhibition (BCE), Quick Setting Aquascape, Aquaculture Center, Tebar Benih, Lomba Mewarnai dan Menggambar, serta GEMARIKAN juga ikut memeriahkan acara AQUAFEST tahun ini. (Resti/Adit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.