Seminar Nasional Perudangan Mengangkat Tema “Anti-Mainstream”

Majalah Info Akuakultur bersama Himpunan Perekayasa Indonesia (Himperindo) menggelar seminar Nasional “Dampak Perubahan Iklim Terhadap Budidaya Udang di Indonesia” di Ruang Komisi Utama Gedung BPPT Lt. 3, MH Thamrin, Jakarta (22/10).

Acara dibuka oleh sambutan dari Dadan Mohamad Nurjaman Sekretaris Utama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dalam sambutannya, Dadan menyampaikan, dalam pidato pelantikannya, Presiden RI Joko Widodomengatakan bahwa di tahun 2020 – 2024 ada lima program utama antara lain: Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pengembangan Infrastruktur, Penyederhanaan Regulasi, Penyederhanaan Birokrasi dan Transformasi Ekonomi.

Dadan melanjutkan, setidaknya ada tiga hal yang berkaitan dengan seminar nasional ini diantaranya pengembangan sumber daya manusia. Dimana sumber daya Iptek menurut Dadan, memegang peranan penting dalam melangsungkan pembangunan nasional karena di dalam UU Sisnas Iptek No 11 tahun 2019 dinyatakan bahwa hasil Iptek akan menjadi landasan pembangunan. Kemudian, Dadan melanjutkan, sesuai dengan amanat PP No. 11 tahun 2017 bahwa setiap profesi diharuskan membuat himpunan profesinya untuk menjaga akuntibilitas sumber daya manusianya.

“Oleh sebab itu, dengan adanya Himperindo ini diharapkan menjadi wadah untuk bisa mendorong profesionalisme dari para perekayasa, tentu ini sejalan dengan misi  Presiden Joko Widodo tentang pengembangan sumber daya manusia,” ujar Dadan.

Akhir sambutannya, Dadan berharap seminar ini dapat menghasilkan rumusan yang bermanfaat bagi para pemain di bidang budidaya udang khususnya dan masyarakat luas juga bagi para perekayasa.

Artikel Populer:  Komoditas Ini Tetap Jadi Fokus Lima Tahun Kedepan

Sementara itu, Ketua Himperindo yang juga Perekayasa BPPT Dr. I Nyoman Jujur menyampaikan, seminar ini merupakan kelanjutan dari perjanjian kerja sama antara Himperindo dengan majalah Info Akuakultur dengan keunggulan dapat berkolaborasi untuk bekerjasama menyebarluaskan informasi ke masyarakat luas mengenai inovasi yang ada saat ini.

Selain itu, kata Nyoman, pembahasan seminar ini juga merupakan sesuatu yang berbeda, artinya melihat dari sudut pandang lain dari budidaya udang di Indonesia. “Semoga bisa menjadi warna informasi baru dalam budidaya udang,” ujarnya.

Nyoman mengatakan, perekayasa mempunyai tugas melakukan pengkajian dan penerapan teknologi, kemudian melakukan tugas kerekayasaan mulai dari pengkajian penerapan teknologi sehingga menghasilkan suatu inovasi dan layanan teknologi.

Saat ini, tambah Nyoman, Himperindo sedang menyusun kode etik dan kode profesi, kedepan Himperindo berharap dapat membuat sertifikasi profesi. “Berkaitan dengan adanya seminar ini dan terntunya kerjasama dengan majalah Info Akuakultur, diharapkan informasi dari hasil-hasil temuan teknologi yang aplikatif dapat terpublikasi dan diterima oleh seluruh stakeholder perikanan budidaya ,” tutupnya.

Foto bersama

Turut hadr para pembicar yang sudah expert di bidangnya masing-masing, yakni Dr. Andi Eka Satya, M.Eng Perekayasa Ahli Utama BPPT di Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BB-TMC), Dr. Albertus Sulaiman Perekayasa Ahli Utama BPPT yang juga Ahli Bidang Analisa Dampak Lingkungan dan Konsultan Kelautan dan Pesisir, Dr. Fadli Syamsudin Perekayasa Ahli Utama yang juga Staf Profesional Program Oceanography BPPT, Dr. Yusuf S. Djajadihardja Perekayasa Ahli Utama yang juga sebelumnya menjabat sebagai Depuiti Bidang Infrastruktur Informasi Geospasial – Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Sidrotun Naim, Ph.D, MP.A Pakar Penyakit Udang, Direktur Pusat Studi Budidaya Berkelanjutan dan Patologi (AquaPath).

Artikel Populer:  Simposium Nasional dan Internasional Kelautan dan Perikanan ke -4

Ir. Maskur, M.Si selaku moderator mengatakan, tema yang diangkat dalam seminar ini antimainstream, yang biasanya biasanya sekedar membahas seputar pakan dan kesehatan lingkungan, kali ini membahas tentang pamanasan global yang berkaitan dengan naiknya suhu perairan serta dampaknya pada budidaya udang pesisir di Indonesia.

Seminar nasional ini banyak memberikan informasi penting, bahwa petambak udang khususnya di wilayah pesisir perlu mengetahui siklus perubahan iklim dan cuaca air laut. Sebab, iklim dan cuaca ekstrim ini berpengaruh pada ekosisteim laut dan tidak terkecuali udang vaname yang peka terhadap suhu, salinitas dan kandungan oksigen.

“Dari seminar nasional ini akan melahirkan ruang diskusi baru dalam budidaya udang,” tutup Maskur.

Peserta yang hadir datang dari berbagai kalangan seperti praktisi, teknisi perusahaan, hingga petambak dari Cilacap yang khusus hadir. Suksesnya seminar nasional kali ini tentunya tidak lepas dari dukungan didukung dari perusahaan diantaranya PT. Suri Tani Pemuka, Biochem Indonesia, PT. Matahari Sakti dan CV Vrisda.

Artikel Populer:  Jalin Sinergitas dalam Perudangan

Similar Posts:

Artikel Sedang Trending
Kurangi cost produksi budidaya udang vaname dengan sistem  Synbiotics Shrimp Club Indonesia (SCI) Lombok &
Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo menghadiri pembukaan Aquatica Asia dan Indoaqua 2019
Di sela-sela rapat yang digelar selama dua hari, 27-28 Maret 2019 di Hotel Santika BSD
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Rapat Koordinasi perkembangan Regulasi Pakan dan Obat Ikan pada
  Penandatanganan MoU Majalah Info Akuakultur dan Himpunan Perekayasa Indonesia Diawali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.