Tepung Serangga untuk Menggantikan Peran Tepung Ikan di Pakan Udang Vannamei

Tepung Serangga untuk Menggantikan Peran Tepung Ikan di Pakan Udang Vannamei

Oleh: Romi Novriadi1
1Kepala Pusat Pengkajian Pengembangan Pakan dan Nutrisi Ikan – Politeknik Ahli Usaha Perikanan, Jakarta

Secara historis, penggunaan tepung serangga yang diperoleh dari lalat Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam  Hermetia illucens dalam formulasi pakan mulai mendapatkan momentum setelah mendapatkan persetujuan dari Uni Eropa di tahun 2017. Momentum ini juga didorong oleh semangat untuk mendukung industri akuakultur menjadi lebih sustainable melalui pengurangan penggunaan tepung dan minyak ikan. Cukup miris kalau melihat data di tahun 2014, bahwa dari sekitar 167 juta ton ikan hasil tangkapan, 93 juta ton diantaranya digunakan untuk produksi tepung dan minyak ikan. Untuk itu, dalam satu konsep perikanan budidaya yang bertanggung jawab, pakan sebagai komponen penting dalam industri akuakultur harus mulai diproduksi dengan kandungan tepung dan minyak ikan seminimal mungkin. Khusus udang, pakan yang digunakan bahkan diupayakan tidak memiliki komponen tepung atau minyak ikan sama sekali.

Beberapa alternatif protein mulai digunakan untuk secara bertahap menggantikan peran tepung ikan, utamanya tepung bungkil kedelai dan tepung jagung. Namun, walaupun kedua bahan baku ini memiliki profil nutrisi yang cukup baik dengan jumlah hasil produksi yang mampu memenuhi kebutuhan industri, ada beberapa faktor yang menghambat penggunaan bahan baku ini dalam jumlah besar dalam formulasi pakan. Keberadaan faktor anti nutrisi, seperti proteinase inhibitors, Lectins, Phytic acid, Saponins, Phytoestrogens dan Phytosterols di dalam tepung bungkil kedelai menghambat pemanfaatan nutrisi secara optimal dari bahan baku ini oleh ikan dan udang, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap laju pertumbuhan dan status kesehatan organisme akuatik yang dibudidayakan. Sementara, penggunaan tepung jagung dan beberapa produk turunannya, seperti corn protein concentrate dan fermented corn protein, dikhawatirkan masih mengandung komponen aflatoxin dan kontaminasi mycotoxins selama proses produksi, yang juga bertanggung jawab untuk penurunan laju pertumbuhan ikan dan udang yang dibudidayakan. Kondisi ini menjadikan strategi blending bahan baku yang tepat dalam formulasi pakan sangat diperlukan untuk menghasilkan pakan yang bersifat sustainable, namun masih mampu memenuhi kebutuhan spesifik dari masing-masing komoditas yang dibudidayakan. Salah satu kandidat protein yang ideal untuk dapat menggantikan tepung ikan dan juga dapat dikombinasikan dengan protein nabati dalam formulasi pakan adalah penggunaan tepung serangga Black Soldier Fly (BSF) Hermetia illucens.

Dari sisi profil nutrisi, tepung serangga memiliki nilai yang comparable dengan nilai gizi tepung ikan premium yang umum diproduksi di Peru, utamanya dari sisi level protein, serat kasar, dan profil asam amino. Namun, jika dibandingkan dengan profil nutrisi tepung ikan yang umum di jumpai di pasar domestik, profil nutrisi tepung serangga masih lebih baik dibadingkan dengan profil nutrisi tepung ikan lokal, utamanya di level protein, lemak, kadar bau, kelembapan dan beberapa sam amino, utamanya untuk first limiting amino acid: lysine dan methionine.

Untuk mengamati pengaruh dari penggunaan tepung serangga untuk subtitusi tepung ikan pada pakan udang putih Litopenaeus vannamei, maka telah dilakukan pengamatan secara intensif selama 90 hari masa pemeliharaan hingga udang mencapai ukuran konsumsi. Produksi pakan dan pengamatan laju pertumbuhan dilakukan di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya Karawang. Jumlah pengamatan dilakukan terhadap 5 perlakuan dengan masing-masing perlakuan memiliki 4 (empat) pengulangan. Media uji coba menggunakan jaring hapa dengan ukuran 2 x 2 m2 dengan padat tebar udang sebanyak 50 udang per m2. Deskripsi perlakuan adalah:

  1. Pakan kontrol, yang diproduksi berdasarkan formulasi pakan komersial dengan menggunakan 20% tepung ikan.
  2. Pakan BSFM 0,5% yang diproduksi dengan menggunakan 0,5% tepung serangga BSF untuk subtitusi tepung ikan
  3. Pakan BSFM 1,0%, menggunakan 1% tepung serangga BSF untuk subtitusi tepung ikan
  4. Pakan BSF 2%, menggunakan 2% tepung serangga BSF untuk subtitusi tepung ikan
  5. Pakan BSF 5%, menggunakan 5% tepung serangga BSF untuk subtitusi tepung ikan

Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan, diperoleh data bahwa semakin tinggi penggunaan tepung serangga untuk menggantikan tepung ikan akan semakin baik pertumbuhan udang Vannamei yang dihasilkan. Selain itu, efisiensi pakan yang dihasilkan untuk penggunaan BSF juga semakin baik berdasarkan semakin rendahnya nilai konversi pakan ketika penggunaan tepung BSF semakin meningkat dalam pakan udang.

Perbaikan laju pertumbuhan dan peningkatan efisiensi pakan pada udang putih Litopenaeus vannamei yang diperoleh pada percobaan ini sangat dimungkinkan mengingat tingginya efisiensi konversi energi pakan dengan menggunakan tepung BSF (Mousavi et al., 2020). Ditambah lagi, penggunaan tepung serangga BSF dalam formulasi pakan tidak hanya menghantarkan konsentrat protein ke udang, tetapi juga menghantarkan chitins, lemak, anti-microbial peptides (AMPs), dan komponen nutrisi lainnya yang tidak hanya mendukung pertumbuhan tetapi juga meningkatkan sistem imun non-spesifik yang dimiliki udang (Nogales‐Mérida et al., 2019)

Daftar Pustaka

Mousavi, S., Zahedinezhad, S., Loh, J.Y., 2020. A review on insect meals in aquaculture: The immunomodulatory and physiological effects. International Aquatic Research 12, 100-115.

Nogales‐Mérida, S., Gobbi, P., Józefiak, D., Mazurkiewicz, J., Dudek, K., Rawski, M., Kierończyk, B., Józefiak, A., 2019. Insect meals in fish nutrition. Reviews in Aquaculture 11, 1080-1103.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.