Protease: Strategi Untuk Meningkatkan Kualitas Pakan Ekonomis

Protease: Strategi Untuk Meningkatkan Kualitas Pakan Ekonomis

Oleh: Romi Novriadi1
1 Kepala Pusat Pengkajian Pengembangan Pakan dan Nutrisi Ikan – Politeknik Ahli Usaha Perikanan, Jakarta

Saat ini, beberapa faktor seperti kondisi pandemik, situasi ekonomi global, biaya logistik hingga kepada kondisi perang di rusia dan ukraina sangat mempengaruhi harga bahan baku pakan, khususnya untuk produksi pakan ikan dan udang. Kita melihat tren kenaikan harga tepung bungkil kedelai,tepung dan minyak ikan, jagung dan terigu sudah tidak dapat terelakkan lagi dan ini tentu linear dengan kenaikan harga produksi pakan. Situasi ini ditambah lagi dengan kenaikan harga minyak subsidi sehingga nilai ekonomi pakan ketika sampai ke para pembudidaya mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini membuat tingkat profitabilitas menjadi terkoreksi dan menjadikan kita bertanya – bagaimana langkah efisiensi produksi yang dapat dilakukan sehingga produksi akuakultur kita menjadi lebih kompetitif dan berdaya saing?

Salah satu konsep yang berkembang untuk meningkatkan efisiensi produksi adalah dengan menggunakan metoda Least Cost Formulation (LCF). Tetapi konsep ini menjadi salah kalau produksi pakan dilakukan dengan menggunakan bahan baku dengan tingkat daya cerna yang rendah dan profil nutrisi yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan minimum nutrisi yang dibutuhkan untuk organisme akuatik tumbuh dan berkembang. Sehingga kedepan, konsep produksi pakan dapat difokuskan kepada konsep unit nutrisi yang dibutuhkan per satu unit pertambahan berat ikan dan udang yang dibudidayakan. Jika setiap satu kilogram penambahan berat ikan dan udang dibutuhkan 200 gram protein, maka kita dapat fokus untuk penyediaan 200 gram asam amino sebagai protein dan energi dalam pakan yang dihasilkan. Pengembangan pakan ini juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan baku lokal, seperti tepung bungkil kelapa sawit atau tepung kopra namun ditambahkan dengan imbuhan enzim protease untuk meningkatkan ketersediaan dan daya cerna protein.

Skenario pengembangan pakan ekonomis namun memiliki kemampuan untuk mendukung laju pertumbuhan yang optimal dapat dilakukan dengan menggunakan strategi blending bahan baku dengan nilai ekonomis berbeda. Khusus untuk sumber protein, strategi blending ini kemudian dapat diperkuat dengan menambahkan protease dalam formulasi pakan. Salah satu bahan baku lokal yang dapat dimanfaatkan adalah tepung bungkil kelapa sawit. Penggunaan tepung bungkil kelapa sawit memiliki nilai strategis tersendiri karena Indonesia sebagai eksportir minyak sawit terbesar tentu memiliki ketersediaan tepung bungkil kelapa sawit yang cukup melimpah. Sebagai bahan baku, tepung bungkil kelapa sawit tersedia di pasar komersial dengan harga berada di kisaran IDR 2,000 – 2,200/Kg (harga loko per Juli 2022). Jikalau bahan ini digunakan untuk menggantikan penggunaan tepung bungkil kedelai yang berada di kisaran harga IDR 9,000 – 10,500/Kg (Juli 2022) tentu akan sangat berdampak signifikan terhadap harga produksi pakan per unit proteinnya. Secara umum, tepung bungkil kelapa sawit memiliki profil nutrisi seperti protein di kisaran 16 – 18% dengan komposisi Lysine 0,48% dan Methionine plus cysteine sebanyak 0,54%. Kandungan lemak juga cukup optimal sebanyak 8,2 % dengan komposisi asam lemak esensial yang cukup baik utamanya untuk kandungan asam Laurat yang dapat berfungsi sebagai anti-bakteri dan anti-inflammasi bagi ikan dan udang.

Untuk mengetahui sejauh mana penggunaan tepung bungkil kelapa sawit dapat digunakan dalam formulasi pakan udang Litopenaeus vannamei untuk menggantikan peran tepung bungkil kedelai dengan profil nutrisi di kisaran 44 – 46% (asal US dan Argentina), maka dilakukan pengamatan selama 90 hari dengan menempatkan udang dengan density 50 udang/m2 di hapa berukuran 2 x 2 m2 di kolam produksi komersial.

Perlakuan yang digunakan ada 4 (empat), yaitu:

  1. Pakan yang diformulasikan dengan menggunakan formulasi pakan komersial dan ditambahkan 0,175% protease (Kontrol)
  2. Pakan dengan 5% tepung bungkil kelapa sawit menggantikan tepung bungkil kedelai dan diberi penambahan 0,175% protease (5 JPKM)
  3. Pakan dengan formulasi komersial tanpa protease (0 PKM)
  4. Pakan dengan 5% tepung bungkil kelapa sawit menggantikan tepung bungkil kedelai tanpa protease (5 PKM)

Dari pakan yang diproduksi, dilakukan pengamatan terhadap komposisi proksimat dan juga profil asam amino pakan dan dirangkum di Tabel 2

Secara umum, dikarenakan pakan di rancang sebagai Iso-nitrogenous (protein sama) dan Iso-lipidic (lemak yang sama), seluruh pakan uji coba memiliki konsentrasi protein dan lemak yang comparable. Setelah pakan diberikan selama 90 hari, pengaruh terhadap laju pertumbuhan udang dapat dilihat di Tabel 3. Laju pertumbuhan udang menjadi lebih baik ketika diberikan penambahan protease. Pakan kontrol yang diformulasikan secara komersial dan diberi imbuhan protease 0,18% memiliki berat akhir 13,86 g lebih baik dibandingkan pakan komersial tanpa protease 13,44 g. Penggunaan tepung bungkil kelapa sawit untuk menggantikan tepung bungkil kedelai sebanyak 5% memiliki pertumbuhan lebih baik dengan imbuhan protease (13,71 g) dibandingkan tanpa protease (13,14 g). Bahkan, penggunaan 5% tepung bungkil kelapa sawit dengan imbuhan protease masih memiliki pertumbuhan yang lebih baik dengan udang yang diberikan pakan dengan formulasi komersial tanpa protease. Perbaikan ini juga terlihat di efisiensi penggunaan pakan dengan FCR yang jauh lebih rendah di kelompok udang yang diberi pakan protease jika dibandingkan dengan grup udang tanpa protease.

Perbaikan laju pertumbuhan udang dengan penambahan protease dapat dikaitkan dengan kemampuan protease untuk mem-break down molekul protein menjadi molekul yang lebih kecil yaitu peptida dan asam amino bebas yang dapat langsung dimanfaatkan dan digunakan oleh organisme akuatik untuk optimalisasi laju pertumbuhan. Kemampuan protease untuk meningkatkan kondisi pencernaan ikan dan udang juga memiliki dampak untuk meningkatkan kapasitas penyerapan nutrisi yang tinggi.

Dari hasil penelitian diatas, imbuhan protease pada pakan dapat dijadikan bagian dari strategi produksi pakan ekonomis untuk meningkatkan efisiensi produksi udang. Kemampuan protease untuk meningkatkan nilai gizi, tingkat ketercernaan pakan, dan perbaikan sistem pencernaan ikan dan udang yang dibudidayakan menjadi nilai tambah yang sangat signifikan untuk meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal, seperti tepung bungkil kelapa sawit, untuk menggantikan penggunaan bahan baku import seperti bungkil kedelai dalam formulasi pakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *