Siasati Naiknya Harga Bahan Baku Pakan, Jaga Harga Pakan Udang Tetap Terjangkau

Siasati Naiknya Harga Bahan Baku Pakan, Jaga Harga Pakan Udang Tetap Terjangkau

Selama tiga tahun kondisi pandemi, disusul dengan perang yang terjadi di Ukraina, berdampak serius terhadap harga bahan baku pakan, biaya produksi, dan logistik. Dampaknya dapat dirasakan terhadap industri pakan dan akuakultur secara global.

Kenaikan harga bahan baku pakan tidak dapat dihindari karena pengaruh situasi global dari meningkatnya harga minyak bumi yang berpengaruh kepada operational cost dan shipping cost. Menguatnya kurs USD terhadap rupiah menyebabkan situasi saat ini menjadi semakin sulit. Situasi ini bagaikan buah simalakama. Agar kualitas pakan tidak berubah, harga harus dinaikkan. Akan tetapi, di sisi lain kenaikan harga berpengaruh kepada daya beli konsumen dan daya saing produk pakan udang.

terkait kenaikan harga bahan baku pakan, Mochammad Heri Edy, Dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, mengungkapkan pendapatanya. Menurut hematnya, kenaikan harga bahan baku pakan seperti tepung ikan yang masih impor dan merupakan bahan baku utama pakan udang sangat mempengaruhi harga pakan udang. Terlebih lagi harga bahan penunjang, seperti bungkil kedelai dan lainnya, ikut naik pula.

“Jika naiknya harga pakan udang tidak diikuti dengan naiknya harga udang, petambak akan jatuh semangatnya untuk meningkatkan produktivitas udang. Ditambah dengan semakin banyaknya permasalahan penyakit udang yang mengganggu produktivitas udang,” tutur Mochammad.

Menurutnya, pabrik pakan dan lembaga yang berperan melayani jasa konsultasi budidaya udang harus  tetap bersemangat dalam melakukan pembinaan budidaya yang baik sehingga petambak terhindar dari kerusakan lingkungan (ekosistem) dan tetap bersemangat meningkatkan produktivitas. Dengan kenaikan harga pakan 1.000-1.500 rupiah maka akan menyebabkan kenaikan 3.000 – 5.000 rupiah di HPP, sementara margin yang didapatkan masih cukup menjanjikan.

“Tinggal bagaimana kita mau mengoptimalkan budidayanya. Mungkin dari sisi servis, pabrik pakan tidak hanya sekadar menjual pakan, tetapi juga memberi bantuan teknis maupun solusi bagi pelanggan agar budidaya masih terjaga dan profit petambak bisa tetap maksimal,” ungkap Mochamad.

Efisiensi produksi, siasati naiknya harga bahan baku
Menurut Guno Gumelar, Pengawas Perikanan dan Pembesaran Udang Intensif BPBAP Takalar, hal yang dapat dilakukan dalam menghadapi kenaikan harga pakan adalah efisiensi produksi dan kestabilan produksi. Efisiensi dilakukan dengan manajemen pakan yang baik sehingga dapat menurunkan FCR, sedangkan kestabilan produksi dilakukan dengan meminimalkan serangan penyakit sehingga produksi dapat stabil, bahkan meningkat. “Upaya nyata yang kami lakukan lebih dari 3 tahun terakhir adalah pengayaan pakan dengan kombinasi bakteri dan mineral sehingga produksi stabil walaupun terserang penyakit,” ungkap Guno.

Efisiensi produksi juga menjadi cara Wiwik Winarti, pengusaha tambak udang, untuk menyiasati kenaikan harga pakan. “Perlu dilakukan efisiensi agar biaya produksi per kilogram udang bisa ditekan serendah mungkin dengan cara pemilihan pakan sesuai kebutuhan dengan tingkat budidaya udang. Sebab, pakan udang intensif berbeda nutrisinya dengan pakan semi intensif. Program pemberian pakan harus efisien agar dicapai FCR yang baik. Sebaiknya juga menggunakan autofeeder yang lebih akurat,” ungkap Wiwik.

Meskipun tidak mudah, efisiensi produksi sebaiknya juga dilakukan oleh feedmill, seperti yang disarankan oleh Ajat Sudrajat, Senior Sales Manager PT. Behn Meyer Chemicals. “Setiap feedmill hendaknya melakukan efisiensi dalam proses produksi karena setiap proses mengandung cost yang tidak sedikit. Nutrisionis dituntut kreativitasnya dalam memformulasikan pakan dan menyusun kembali biaya formulasi dengan nutrisi yang seimbang (balance nutrition) sesuai dengan jenis dan umur budidaya udang, meskipun itu bukan perkara mudah,” ujarnya.

Manfaatkan bahan baku lokal
Kenaikan bahan baku pakan impor juga membuat pihak-pihak terkait lebih keras memutar otak dalam mencari jalan untuk menekan harga pakan udang. Berkaitan dengan hal ini, Angga Rizki Ramadhan, Product Development & Management De Heus Indonesia, berpendapat bahwa kenaikan bahan baku merupakan sebuah challenge bagi kita untuk mempertahankan kualitas pakan, tetap bisa diterima, dan memberikan benefit kepada costumer. “Hal yang dapat dilakukan bermacam-macam, semua memiliki strategi sendiri. Salah satunya dengan mencari alternatif bahan baku. Bukan hanya sebatas alternatif sesaat, tetapi harus bisa sustainable dan berkualitas,” tuturnya.

Hal tersebut juga dikemukakan oleh Ujang Komaruddin, Direktur Pakan dan Obat Ikan DJPB KKP.  Menurutnya, hal yang dapat dilakukan untuk mengimbangi kenaikan harga bahan baku pakan impor adalah pengembangan pakan ikan berbahan baku lokal (tepung ikan rucah, maggot, dedak, tepung tumbuhan indigofera, dan lainnya), serta penambahan nutrient/imbuhan dalam formulasi pakan guna melengkapi nutrisi dasar yang diperlukan suatu spesies (dikenal dengan istilah konsep imbuhan pakan fungsional).

Penggunaan bahan baku lokal juga mendapat dukungan dari Bang Jack, Founder sekaligus Ketua dan Moderator komunitas FIB (Forum informasi Budidaya). Ia memberikan pandangan sebagai berikut:

  • Perlu dicari terobosan teknologi pakan alternatif dari bahan baku lokal yang memungkinkan diproduksi masal di indonesia, misalnya bungkil jagung yang dikembangkan DR. Romi Novriandi.
  • Sistem Bioflock semestinya juga bisa menjadi solusi pengiritan pakan. Konsepnya, memproses limbah/bahan organik dari dalam kolam menjadi SCP (Single Cell Protein) yang aman dimakan udang.

Kombinasi bahan baku lokal yang tepat untuk menyiasati harga pakan juga perlu diperhatikan. Hal ini diungkapkan oleh Abung Maruli Simanjuntak, Technical Expert Manager – Aquaculture PT. DSM Nutritional Products Manufacturing Indonesia. “Salah satu alternatif untuk menjaga kualitas pakan agar tetap diterima oleh petambak, yaitu dengan melakukan kombinasi bahan baku pakan yang tepat dan efektif, terutama menggunakan bahan baku lokal yang berkualitas. Penggunaan asam amino tunggal, attractant, dan feed additive juga dapat digunakan untuk menjaga kualitas performa pakan,” tuturnya.

Melengkapi pendapat sebelumnya, QianLei, QC Manager PT Indonesia Evergreen Agriculture, memberikan dua cara untuk mengatasi masalah kenaikan harga bahan baku pakan. “Pertama, produsen pakan sebaiknya berkomunikasi dengan formulator untuk membuat komposisi formula pakan yang lebih banyak menggunakan bahan baku lokal tanpa mengurangi kualitas produk. Kedua, menaikkan harga jual pakan secara tepat,” ungkapnya.

Tekan biaya, level protein pakan turun
Selain menggunakan bahan baku lokal untuk menyiasati harga, ada strategi lain berkaitan dengan kandungan protein pakan. Hal ini diungkapkan oleh Teguh Setyono, Farm Manager PT Dua Putra Perkasa. Menurutnya, untuk menyiasati harga bahan baku yang naik, yaitu memberikan pakan udang dengan kadar protein 30-32 persen dengan selisih harga  sekitar Rp 1.000 lebih murah dari pakan protein 34-36 persen yang harganya sudah naik sekitar Rp 1.500/kg.

Sejalan dengan pendapat di atas, Budiono, pengusaha tambak udang di Indramayu, mengungkapkan, “Untuk udang vanname sebenarnya pakan dengan kadar protein 30% saja sudah mampu tumbuh dengan baik. Jadi, tidak perlu membeli pakan dengan kadar protein yang lebih tinggi.”

Hal senada juga dikemukakan oleh Catur Supriyantoro, Teknisi PT Dua Putra Perkasa (DPP). Menurutnya, dengan pertimbangan harga bahan baku pakan udang yang semakin mahal dan pengaruh ancaman resesi ekonomi yang berdampak mahalnya harga jual pakan, salah satu alternatif yang dipakai adalah menggunakan pakan yang grade proteinnya lebih rendah tanpa mengganggu pertumbuhan udang. “Kalau biasanya memakai pakan dengan protein 32%, diganti dengan protein 30% atau 28%,  sambil diimbangi dengan penurunan densitas tebar,” ujarnya.

Catur menambahkan, “Alternatif lainnya, pabrikan mencari sumber protein hewani yang lebih murah tanpa mengganggu tingkat kecernaan pakan di usus udang tanpa menaikkan harga pakannya. Bisa juga dengan menambahkan feed aditif untuk menaikkan konsumsi pakan terhadap daging yang diperoleh,” ujar Catur.

Feed additive, solusi tingkatkan kandungan nutrisi pakan
Setelah menemukan bahan baku lokal yang sesuai sebagai substitusi bahan baku impor atau menggunakan protein level lebih rendah, selanjutnya perlu dipikirkan bagaimana agar kualitas nutrisi pakan ini bisa memenuhi standar untuk pertumbuhan udang yang baik.

Menurut Daniel M. Nugraha, GM Animal Health Service Central of Indonesia PT Central proteina prima, Tbk., yang bisa dilakukan sehingga kualitas pakan udang tetap terjaga adalah penambahan nutrisi tambahan atau feed additive pada pakan.

Hal senada juga diungkapkan Dany Yukasano, National Technical Services Manager PT Grobest Indomakmur. Menurutnya, kualitas pakan tidak hanya  dilihat dari nilai proteinnya saja, tetapi juga meliputi nilai nutrisi pakan tersebut. “Pemberian additive yang tepat akan meningkatkan nilai nutrisi pakan yang akan meningkatkan performa pakan.  Dengan metode ini, petambak dapat menggunakan pakan dengan nilai protein yang lebih rendah, tetapi memiliki kualitas nutrisi setara dengan pakan yang memiliki nilai protein di atasnya,” ungkapnya.

Selain meningkatkan nilai nutrisi pakan, feed aditive ternyata memiliki fungsi penting lainnya. Hal ini diungkapkan oleh Arif Faisal Siburian, Senior Technical Sales Executive di PT Behn Meyer Chemicals. “Pabrik pakan harus mengelola biaya produksi seefektif mungkin dan juga dapat memanfaatkan bahan baku pakan lokal. Agar kualitas pakan tetap dapat diterima oleh petambak, pabrik pakan dapat memanfaatkan feed additive yang memang berfungsi untuk memacu pertumbuhan atau meningkatkan produktivitas dan kesehatan udang dan ikan, serta meningkatkan efisiensi produksi.” (noerhidajat/adit/resti).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *