Manajemen Pakan yang Baik, Kunci Sukses Bertambak Udang

Manajemen Pakan yang Baik, Kunci Sukses Bertambak Udang

Manajemen pakan yang baik tak hanya berbicara soal komposisi nutrisi pakan, jumlah pakan, dan frekuensi pemberian pakan. Namun, manajemen pakan yang baik tak melupakan faktor kualitas pakan saat pengangkutan dan penyimpanan.

Kriteria pakan udang yang baik adalah mengandung kualitas dan kuantitas nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan udang. Kualitas nutrisi yang baik adalah kelengkapan semua jenis makronutrisi (protein, lipid, karbohidrat) dan mikro (asam amino, asam lemak, vitamin, dan mineral) dalam pakan. Sementara kuantitas nutrisi adalah jumlah setiap makronutrisi dan mikronutrisi dalam pakan yang berada dalam takaran optimal bagi udang. Jika pakan buatan tidak mengandung makronutrisi dan mikronutrisi sesuai kebutuhan udang, pertumbuhan udang akan terhambat. Akhirnya, produktifitas usaha budidaya udang pun menjadi tidak optimal.

“Kriteria pakan udang yang baik lainnya adalah memiliki water stability yang optimal, strukturnya padat, tidak berdebu dan tidak berpori, berbau khas, atraktanitas dan palatabilitas tinggi, tidak berbau tengik, bersih, serta tidak dihinggapi hewan renik. Selain itu, pakan terasa hangat atau tidak lembap,” terang Ir. Edison Saade, Msc Ph.D, dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Pengamatan faktor tingkat konsumsi
Beberapa faktor yang memengaruhi tingkat konsumsi pakan udang adalah kualitas fisik pakan buatan, atraktanitas, dan palatabilitas. Tak hanya itu, tingkat kesehatan udang dan tingkat keoptimalan kualitas air juga ikut berpengaruh.

Parameter kualitas fisik pakan yang terkait erat dengan tingkat komsunsi meliputi daya pikat, daya lezat, tingkat kekerasan, dan tingkat homogenitas partikel penyusun pakan. Daya pikat merupakan daya tarik udang terhadap pakan buatan yang diberikan. Adapun daya tarik pakan buatan dipengaruhi aroma atau bau berbagai bahan penyusun pakan. Ada kecenderungan bahwa semakin menyengat aroma pakan, semakin cepat pula respon udang dan semakin tinggi konsumsi pakannya.

Daya pikat yang rendah mengakibatkan pakan lebih lama berada di dalam air, yang memungkinkan terjadinya dispersi padatan dan nutrisi. Daya pikat juga berkaitan dengan daya lezat pakan. Semakin lezat pakan, semakin tinggi nafsu makan udang. Adapun daya lezat pakan dipengaruhi kuantitas dan kualitas nutrisi serta atraktanitas atau aroma pakan.

Tingkat kekerasan pakan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan. Pakan buatan yang terlalu keras akan sulit dikonsumsi udang. Sebaliknyanya, pakan buatan yang kurang keras memiliki water stability rendah serta cepat terberai ke dalam air. Hal ini menyebabkan semakin banyak sisa pakan yang tak termakan. Oleh sebab itu dibutuhkan tingkat kekerasan optimal, yang memiliki daya tahan lebih lama di dalam air dan mudah dicabik udang.

Tingkat kesehatan udang termasuk faktor yang berpengaruh pada tingkat konsumsi pakan. Hanya udang sehat yang memiliki kemampuan makan optimal. Perubahan fisika-kimia di dalam air bisa menyebabkan udang kurang sehat dan nafsu makannya menurun.

Tingkat keoptimalan parameter kualitas air merupakan faktor penentu tingginya konsumsi pakan udang. Adapun parameter kualitas air yang sangat erat dengan konsumsi pakan udang meliputi suhu, oksigen terlarut, salinitas, pH, serta kandungan amoniak. Setiap parameter air tersebut memiliki kisaran optimal, tergantung pada spesies serta lokasi atau lingkungan pemeliharaan.

Jika parameter air berada dalam kondisi kurang optimal atau sering terjadi fluktuasi, udang akan mengeluarkan energi yang banyak untuk menyesuaikan diri. Energi yang terpakai mengakibatkan tubuh udang menjadi lemah dan menurunkan nafsu makan. Dalam kondisi ini, jumlah pakan yang diberikan sebaiknya dikurangi dan kembali pada dosis optimal saat parameter kualitas air telah kembali optimal.

Pengaturan jumlah dan frekuensi pemberian pakan
Pengaturan jumlah pakan di dalam tambak terkait erat dengan kekosongan saluran pencernaan, baik lambung atau usus, udang. Pada dasarnya, penentuan jumlah pakan yang diberikan ke udang menghindari terjadinya kekosongan saluran pencernaan. Jika saluran percernaan kosong, jumlah pakan yang diberikan atau frekuensi pemberian pakan kurang. Oleh sebab itu, penambahan dosis dan frekuensi pemberian pakan harus ditambah.

Sebaiknya, petambak tidak terpaku pada teori pemberian pakan, misalnya dosis 3—5% per bobot tubuh dengan frekuensi pemberian empat kali. Pasalnya, standar tersebut adalah standar umum. Seharusnya, jumlah pakan yang diberikan berdasarkan kondisi udang yang dipelihara dan kondisi lokasi budidaya saat itu. Pengamatan kekosongan saluran pencernaan mutlak dilakukan untuk penentuan jumlah pakan harian dan frekuensi pemberian pakan yang tepat pada setiap stadia atau umur udang.

Penyimpanan pakan
Manajemen pakan udang vaname yang baik, khususnya pada penanganan dan penyimpanan pakan buatan, meliputi transportasi atau distribusi dan penyimpanan di gudang. Pada saat transportasi atau distribusi, baik dari pabrik pakan ke pengecer maupun dari pengecer ke konsumen atau pembudidaya udang, pakan harus dijaga agar tidak lembap.

Menurut Edison, yang juga menjabat sebagai Ketua I Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), kelembapan pakan bisa disebabkan faktor cuaca, misalnya karena hujan,  atau pun wadah transportasi atau distribusi yang lembap. Kualitas pakan yang lembap akan mudah menurun dan mudah dihinggapi mikroorganisme, baik berupa bakteri, jamur, maupun serangga.

Mikroorganisme mampu menurunkan atau merubah aroma, atraktanitas (daya pikat), dan palatabilitas (daya lezat). Memaksakan pemberian pakan yang lembap dan telah terserang dengan mikroorganisme bisa berakibat berkurangnya konsumsi pakan, pertumbuhan lambat, dan produktivitas budidaya rendah. Selain itu, jumlah pakan yang tidak termakan akan meningkatkan penimbunan bahan organik di dasar tambak serta menurunkan pH dan oksigen terlarut di media pemeliharaan atau air.

Upaya antisipasi kelembapan pakan juga berlaku di pergudangan atau tempat penyimpanan pakan. Manajemen penyimpanan pakan di pabrik, distributor, atau pengecer diyakini berjalan dengan baik. Namun, tidak semua terjadi pada penyimpanan pakan di konsumen atau pembudidaya udang. Berdasarkan pengamatan Edison, tidak semua pembudidaya udang memiliki tempat penyimpanan pakan yang baik dan benar.

Semakin lama penyimpanan pakan di ruang terbuka, semakin berkurang pula kualitas dan kuantitas nutrisi pakan. Ruang penyimpanan pakan yang paling baik memiliki suhu rendah atau ber-AC di bawah 0 oC. Penyimpanan pakan di ruang beku atau suhu rendah diyakini bisa meminimalisasi penurunan kuantitas dan kualitas kandungan nutrisi pakan.

Sayangnya, pengadaan ruang ber-AC atau ruang beku bagi pembudidaya udang akan menambah biaya operasional. Oleh sebab itu, jika terpaksa disimpan di ruang terbuka, pakan diusahakan tidak mengalami fluktuasi suhu yang tinggi selama penyimpanan. Untuk mengurangi risiko lembap akibat kelembapan udara atau pun tampias air hujan, kemasan pakan (zak) yang telah terbuka harus ditutup kembali dengan baik setelah pengambilan pakan.

Beberapa hal lain yang harus diperhatikan dalam penyimpanan pakan adalah ruangan harus bersih. “Selain itu, karung kemasan tidak bersentuhan langsung dengan lantai dasar, ventilasi ruangan yang cukup untuk ruangan yang tidak ber-AC, dan pakan tidak dicampur dengan bahan-bahan lain, misalnya zat zat kimia,” tambah Edison. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.