Pemilihan dan Penerapan Teknologi Budidaya

Oleh: Widiyatmoko
Pengamat Industri Akuakultur

Teknologi budidaya ikan dan udang berkembang pesat dalam dua dekade terakhir ini, hal ini sejalan dengan pesatnya pertumbuhan industri akuakultur dunia. Indonesia, sebagai salah satu produsen utama ikan dan udang dunia juga turut dalam geliat raksasa perkembangan industri akuakultur.

Berdasarkan data FAO, produksi akuakultur Indonesia dalam 10 tahun terakhir naik sekitar 270% dari 5.832.195MT di tahun 2010 menjadi 15.950.912 MT di tahun 2019 (FAO, 2021). Kenaikan terbesar pada produksi ikan air tawar (270%) dan udang (250%), meskipun demkian produksi akuakultur Indonesia sampai tahun 2019 masih didominasi oleh rumput laut, sebesar 9.918.400 MT (62%).

Peningkatan produksi budidaya tidak lepas dari dukungan teknologi yang dihasilkan oleh lembaga riset pemerintah, lembaga riset independen/swasta, maupun  hasil rekayasa para teknisi budidaya (terutama tambak udang) dalam rangka meningkatkan produksi dan efisiensi usaha budidaya.

Tujuan dari penerapan teknologi budidaya adalah untuk meningkatkan efisiensi usaha dan mengatasi kendala yang dihadapi dalam berbudidaya, misalnya kendala penyakit.  Untuk itu para pelaku budidaya harus jeli dalam memilih teknologi yang akan diterapkan dan cara penerapannya agar sesuai dengan sistem budidaya dan kondisi lingkungan (sumberdaya alam) yang tersedia.

Pemilihan teknologi dan cara penerapannya akan menentukan biaya investasi dan biaya untuk mengoperasikan teknologi tersebut untuk kemudian dibandingkan dengan hasil atau output yang didapat. Kesalahan dalam memilih teknologi dapat berakibat meningkatnya biaya produksi atau menimbulkan inefisiensi.

Ketidaktepatan dalam penerapan teknologi selain meningkatkan biaya produksi, bahkan dapat mengakibatkan kegagalan produksi. Sebagai contoh, usaha budidaya lele atau nila yang berada di daerah pemukiman di perkotaan harus dilakukan secara intensif sebab harga lahan dan biaya tenaga kerja di daerah pemukiman di perkotaan tinggi.

Bahkan kemungkinan diperlukan teknologi RAS karena air limbah usaha budidaya tidak boleh dibuang sembarangan di wilayah pemukiman di perkotaan. Tetapi, perlu diketahui bahwa teknologi RAS tidak mudah untuk diterapkan karena diperlukan pengetahuan ilmiah untuk menjalankannya. Selain itu diperlukan investasi peralatan (dan kolam) agar RAS dapat berfungsi dengan baik.

Kriteria Pemilihan Teknologi
Sebelum kita menentukan teknologi apa yang akan diterapkan, kita harus mengetahui terlebih dulu masalah apa yang dihadapi sehingga kita memerlukan suatu teknologi tertentu. Atau, jika kita baru membuka usaha maka perlu ditentukan jenis usaha seperti apa yang akan kita lakukan.

Untuk menjawab kalimat pertama, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: (1) apakah ada kendala kualitas air, (2) apakah ada kendala kuantitas air, (3) apakah ada serangan penyakit (yang bersifat endemic), (4) apakah ketersediaan lahan terbatas, (5) apakah ketersediaan tenaga kerja terbatas? Dan mungkin masih ada beberapa faktor lain yang perlu diperhatikan yang menjadi masalah atau hambatan dalam kegiatan berbudidaya.

Masalah yang paling umum atau paling sering dihadapi adalah ketersediaan air yang terbatas, baik dalam jumlah maupun kualitas. Masalah ini dihadapi oleh pembudidaya air tawar dan payau, hanya pembudidaya air laut yang mungkin jarang menghadapi masalah kualitas dan jumlah air.

Dalam hal ini kita perlu benar-benar memahami bahwa pada dasarnya kegiatan akuakultur adalah memelihara air sebagai media hidup ikan/udang. Sebagian besar usaha yang dilakukan adalah untuk menjaga agar air tersebut tetap tersedia, dengan kualitas yang memenuhi standar dan stabil.

Selama kualitas air berada dalam kisaran yang normal dan mampu menunjang kehidupan ikan/udang di dalamnya, maka ikan/udang akan hidup dengan nyaman dan tumbuh dengan baik.

Faktor pertama yang seringkali menjadi penghambat adalah ketersediaan oksigen dalam air. Semakin banyak organisme yang ada dalam air maka semakin tinggi konsumsi oksigennya. Oleh karena itu jika oksigen menjadi pembatas perlu diadakan teknologi untuk mengaerasi air.

Dalam hal ini ada berbagai cara untuk mengaerasi air kolam, cara yang paling mudah adalah dengan mengganti air atau membuat budidaya dengan sistem air mengalir seperti halnya pada kolam air deras. Cara ini dapat diterapkan jika sumber air yang digunakan selalu tersedia dan dapat dijamin bahwa kualitasnya lebih baik dibanding air dalam kolam.

Cara lain adalah dengan menggunakan alat/mesin untuk mengaerasi air, misalnya dengan menggunakan kincir atau blower. Nah, disini kita mulai dihadapkan pada pilihan teknologi, yaitu menggunakan kincir atau menggunakan blower. Jika menggunakan kincir juga ada beberapa pilihan sebab jenis kincir juga beragam, masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan.

Sementara untuk blower keragamannya lebih pada sistem distribusi udara dalam kolam, jenis aerasi yang menghasikan gelembung udara, atau penggunaan pipa venturi yang juga mampu menghasilkan gelembung udara di dalam air. Dewasa ini berkembang teknologi aerasi “micro buble” dan “nanno bubble” yang menghasilkan gelembung udara sangat kecil sehingga difusi udara ke dalam air jadi lebih efisien.

Sayangnya setiap produsen alat/mesin menyatakan bahwa alat yang ditawarkan adalah yang terbaik.  Untuk mengetahui kebenarannya cara yang paling mudah adalah dengan melakukan pengujian alat/mesin tersebut di lokasi.  Bagian diuji adalah kemampuan alat tersebut meningkatkan oksigen. Cara menguji adalah dengan mengukur oksigen (DO) sebelum alat dihidupkan, kemudian mengukur oksigen setelah alat dihidupkan setiap 15 menit selama kira-kira 1 jam. Dengan cara ini dapat diketahui berapa kecepatan alat tersebut meningkatkan oksigen dan berapa kadar tertinggi oksigen yang bisa dicapai.

Pada saat dilakukan pengujian perlu dicatat juga salinitas air (jika di air payau/laut),  suhu air, luas kolam dan kedalaman air. Sebaiknya pengujian dilakukan di kolam yang tidak ada ikan/udangnya dengan air yang relatif jernih.

Hal lain yang sering terjadi adalah serangan penyakit, terutama yang disebabkan oleh bakteri dan parasit. Bakteri dan parasit akan timbul terutama jika kualitas air kurang baik, kualitas air yang dimaksud bisa yang berada dalam kolam maupun dari luar kolam (sumber air).

Sebagai contoh, pada musim atau kondisi cuaca tertentu, kualitas air dalam saluran air menurun, terutama saat musim hujan.  Ada kalanya air yang berasal dari saluran ini membawa bibit penyakit masuk ke dalam kolam, selanjutnya bibit penyakit dapat berkembang dalam kolam sehingga ikan menjadi sakit.

Ada berbagai ‘obat’ yang ditawarkan untuk menyembuhkan atau mencegah timbulnya penyakit pada ikan, obat antibiotik maupun non-antibiotik. Berbagai stimulan juga beredar di pasar untuk meningkatkan kebugaran ikan/udang. Pada dasarnya semua bahan tersebut akan efektif jika ikan dalam kondisi sehat.

Ikan yang sudah terserang penyakit sangat jarang dapat disembuhkan dan kembali tumbuh normal.  Biasanya obat yang diberikan hanya dapat menyelamatkan sebagian dari populasi ikan yang belum terserang penyakit, sedangkan ikan yang telah sakit akan mati.

Meskipun demikian penerapan obat-obatan dapat menyelamatkan sebagian dari populasi ikan yang dipelihara. Tetapi perlu diperhatikan bahwa efektifitas obat-obatan juga bergantung pada kondisi kualitas air. Jika kualitas air tetap buruk maka pemberian obat-obatan tidak akan efektif karena ikan tetap dalam keadaan stress. Oleh karena itu hal pertama yang harus dilakukan jika ikan sakit adalah memperbaiki kondisi kualitas air dan menjaga agar tetap stabil. (Ed: Adit)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.