2019: Teropong Peluang Indonesia dalam Pasar Ekspor Udang Dunia

Di pasar ekspor, Indonesia memiliki tiga jenis udang andalan, P. Monodon (udang windu), P. Merguensis (udang putih), dan L. Vannamei (udang vaname). Bagaimana prospeknya?

Ekspor Komoditas Utama Januari – Oktober 2018

Dalam Refleksi 2018 & Outlook 2019 yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), terlihat bahwa udang merupakan ekspor komoditas utama hasil perikanan Indonesia setelah rumput laut dalam kurun Januari—Oktober 2018.

Dari data terlihat bahwa ekspor rumput laut sebanyak 175.640 ton atau 28,27% dari total ekspor hasil perikanan; diikuti udang 165.120 ton (26,58%); cumi-sotong-gurita 118.760 ton (19,12%); tuna 95.750 ton (15,41%), cakalang-tongkol 42.150 ton (6,79%); dan kepiting 23.770 ton (3,83%).

Meskipun menduduki posisi nomor dua dalam volume ekspor, tetapi komoditas ekspor udang menduduki posisi nomor wahid dalam nilai ekspor. Udang menghasilkan USD1.462,09 juta atau 46,87% dari nilai total ekspor hasil perikanan Indonesia. Sementara tuna USD498,37 (15,98%); cumi-sotong-gurita USD429,3 juta (13,76%); kepiting-rajungan USD242 (13,06%); rumput laut USD241,59 (7,75%); dan cakalang-tongkol USD80,43 (2,58%).

Dilihat dari pasarnya, terdapat 5 negara yang menjadi tujuan utama ekspor udang Indonesia, yaitu Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, ASEAN, dan China. Peringkat pertama diduduki Amerika Serikat yang menyerap 69,86% ekspor udang Indonesia; diikuti Jepang 20,76%; Uni Eropa 5,09%; ASEAN 2,40%; dan China 1,89%.

Bersaing dengan India

Berbicara soal pasar dunia tentu tidak lepas dari kompetisi dengan negara produsen komoditas serupa. Begitu pula dengan pasar ekspor udang.

Dilansir dari Bisnis.com, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan bahwa persaingan di komoditas udang tidak mudah. “Kompetitor kita India. Saya dengar mereka sudah membuat sistem konsinyasi dengan importir di AS. Ini barangkali akan sangat berat untuk dilawan,” ujarnya di sela-sela seminar “Innovative Aquaculture” pada Kegiatan Aquatica Asia & Indoaqua 2018 beberapa waktu lalu.

Negara Tujuan Utama Komoditas Udang Januari – Oktober 2018

Sejak akhir Tahun 2018, India memang banyak mengirimkan udang langsung ke pelabuhan Amerika. Para importir di Amerika akan menerima barang, menjualnya, dan baru membayar setelah barang terjual.

Apakah hal ini mempengaruhi harga udang dunia?

Ujang Komaruddin, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, mengatakan bahwa harga udang vaname di akhir 2018 memang mengalami penurunan. Sebagai contoh, di awal Oktober, harga size 100 sekitar Rp. 56.000/kg, sedangkan pada awal Desember turun menjadi Rp. 44.000/kg. Salah satu faktornya adalah hukum suplay dan demand.

“Pada bulan-bulan tersebut, produksi di India sedang melimpah atau panen raya sehingga sangat mempengaruhi harga pasar dunia. Permintaan pasar relatif tetap, sedangkan pasokan melimpah, sehingga harga cenderung turun,” terangnya.

Baca juga  Probiotik Herbal untuk Sukses Budidaya Udang

“Penurunan harga udang di Indonesia juga disebabkan oleh produksi negara lain meningkat, sebagai contoh Ekuador. Ekuador, yang selama ini produksinya kita abaikan, tahun 2018 menghantam pasar dengan total produksi mencapai 500.000 ton,” kata Supito, Perekayasa Madya Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara.

Selain itu, Supito juga mengatakan bahwa India membuka tambak besar-besaran di Gujarat, yang akan dibuka 5.000 ha tambak, belum di tempat lain. Ekuador dan India inilah yang menjadi pemicu turunnya harga udang.

Menurut Harli, Teknisi Tambak PT Maju Tambak Sumur, Lampung, kecenderungan harga udang turun disebabkan beberapa faktor, yaitu lesunya pasar udang dunia karena stok pasar Eropa terpenuhi dan sudah terpenuhinya kuota kontrak cold storage sehingga terlihat cold storage menekan harga ke petambak atau ke tengkulak.

“Harga udang turun bukan karena harga udang dunia turun, tetapi dipengaruhi kuota ekspor yang menurun. Jadi cold storage sekarang menurunkan harganya. Setelah saya diskusi dengan pihak cold storage, kemungkinan akan naik di Februari awal 2019,” ujar Harli.

Pendapat serupa juga dilontarkan Budi Hardja Wibawa, Manajer PT Tirta Mutiara Makmur, Surabaya. Menurutnya, setiap akhir tahun harga udang selalu turun. Rumornya karena cold storage sudah bisa memenuhi kotrak dengan buyer. Udang yang masuk ke cold storage di akhir tahun disimpan dulu untuk pengiriman tahun berikutnya sehingga cold storage menurunkan harga karena mungkin belum dapat kontrak untuk tahun depannya.

“Di awal tahun harga biasanya tinggi karena negara lain penghasil udang umumnya tidak ada panen karena masih dingin,” ungkap Budi.

Baca juga  Inovasi Teknologi Perikanan Budidaya

Menghadapi persaingan pasar dan turunnya harga

“Harga udang selalu dinamis, jadi tidak perlu reaktif menyikapinya. Selama produktifitas bisa dijaga, petambak masih mendapatkan untung,” ujar Yuri Sutanto, Senior Scientist PT Central Proteina Prima. Menurutnya, dari sisi produsen udang—baik pembudidaya, produsen pakan, dan penyedia sarpras lainnya, sebaiknya tetap fokus pada peningkatan produktifitas panen. Hal ini akan bisa mem-buffer dinamika harga udang.

Permintaan udang untuk pasar lokal maupun ekspor sangatlah tinggi. Sementara produsen udang sendiri sebenarnya masih belum mampu untuk mencukupi kebutuhan pasar dunia. “Menurut saya, ini merupakan PR besar untuk pengusaha udang di Indonesia, sekaligus prospek yang bagus ke depannya,” ujar Hadi Wijaya, Junior Business Development Manager PT Maxima Arta Prima.

Menurutnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti, pun mengusulkan agar para pengusaha udang di Indonesia mulai mencoba pasar nontradisional dan membidik negara tujuan ekspor lain seperti Timur Tengah atau Afrika. Selain itu, Susi juga menuntut para pelaku usaha untuk bisa menyajikan produk yang lebih variatif.

Lalu, bagaimana dengan ancaman konsinyasi dari India pada pasar Amerika?

Menurut Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, sistem konsinyasi itu sebetulnya merugikan India sendiri. Pasalnya, harga yang dipasarkan terbilang rendah dan bisa membanting harga di pasaran. India akan lebih banyak mengirimkan hasil produksi udang mereka ke luar, padahal di saat yang sama masih  harus menjaga kualitasnya.

“Kita tidak akan meniru mereka, karena kita tidak akan membanting harga. Bertahan dengan produksi sebanyak-banyaknya dan kualitas terbaik,” ungkap Slamet.

Tingkatkan kemampuan produksi

Moch. Nurhudah, Dosen Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta, mengungkapkan data produksi terakhir yang dikeluarkan oleh KKP dalam acara “Refleksi 2018 dan Outlook 2019” bahwa udang merupakan salah satu komoditas utama budidaya di samping lele, nila, dan rumput laut. Sementara data ekspor udang menempati ranking pertama untuk nilai ekspor dan nomor dua setelah rumput laut untuk volume eksport.

Berdasarkan data FAO, di tingkat internasional, Indonesia merupakan penghasil udang vaname nomor dua setelah China, sedangkan India menempati posisi ketiga. Sementara tingkat pertumbuhan produksinya berada pada urutan kedua setelah India. Dengan demikian, udang masih merupakan komoditas yang memiliki prospek baik untuk dikembangkan.

Baca juga  Ujian Tsunami Bagi Perikanan di Pesisir Banten

Sebagaimana rencana KKP dalam “Outlook 2019”, secara umum kegiatan budidaya diharapkan dapat meningkatkan produksinya hingga 10,36 juta ton di tahun 2019. Berdasarkan data produksi tahun 2015—2017 (yaitu secara berurut  4.364.751 ton; 4.364.751 ton;  5.658.948 ton) dan angka estimasi di tahun 2018 hingga bulan September sebesar 5.601.305 ton, angka tersebut membutuhkan peningkatan lebih dari 30% berdasarkan angka estimasi produksi tahun 2018.

“Pertanyaan penting yang perlu dijawab untuk mencapai target tersebut adalah: siapakah aktor utama yang akan memberikan kontribusi besar dalam keberhasilan peningkatan produksi budidaya tersebut, termasuk udang?” tanya Nurhudah retoris.

“Jawabnya tentu sederhana,” ujar Nurhudah, “ yaitu pelaku budidaya.” Jika komunitas pelaku budidaya kebanyakan adalah pembudidaya kecil atau tradisional, merekalah aktor utama yang harus mendapkatkan perhatian.

Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang melekat pada pembudidaya tradisional maka salah satu pendekatan yang diperlukan adalah pendampingan untuk menjalankan “Knowledge Based Aquaculture”. Oleh karena itu, para sarjana perikanan umumnya dan lulusan dari satuan pendidikan di bawah KKP khususnya bisa diberikan peran untuk mendukung pencapaian target tersebut.

Dari sisi peran KKP, Supito berpendapat bahwa permintaan pasar udang menurutnya tetap stabil dan ada penambahan secara perlahan. Terkadang produksi naik sehingga harga cenderung turun, terkadang turun kuotanya sehingga harga tinggi.

Meskipun demikian, pada harga rendah—contoh size 100 harga 45.000, sedangkan biaya produksi per kilogram udang sekitar 30.000—petambak masih mempunyai margin keuntungan yang tinggi dibanding komoditas budidaya lainnya.

Saat ini, udang dari India dan Ekuador membanjiri pasar, sedangkan kebutuhan pasar Amerika dan Uni Eropa hanya 700 ribu ton. “Harus ada terobosan ke pasar lain ke timur tengah atau pasar dalam negeri, selain diversifikasi produk udang dan tentunya perbaikan dalam proses produksi yang mengacu pada standar yang diminta pasar,” saran Supito.

Peran balai selalu merekayasa teknologi usaha budidaya udang untuk menghasilkan efisiensi produksi. Dengan begitu, produksi yang dihasilkan bisa dioptimalkan melalui beberapa langkah. Pertama, meningkatkan produktivitas persatuan luas dengan teknik parsial. Kedua, meningkatkan kualitas udang dengan mengatur padat penebaran sehingga dihasilkan ukuran udang yang mempunyai harga pasar tinggi. Ketiga, menciptakan manajemen usaha budidaya skala rumah tangga berbasis teknologi pengelolan lingkungan yang aman.

Teknik bisa merubah pemikiran bahwa usaha budidaya udang tidak harus bermodal besar. Rekonstruksi luas tambak tradisional menjadi tambak dengan luas 500—1.000 m2 dengan penerapan teknologi budidaya udang yang tepat mampu meningkatkan produksi dan pendapatan masyarakat pembudidaya.  (Rochim/Adit/Resti)

Related posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.