Inovasi Teknologi Perikanan Budidaya

KJA Bundar di Gondol, Bali

Adanya perkembangan teknologi internet kemudian dikolaborasikan dengan kemajuan teknologi konvensional, sehingga tren digital dan ramah lingkungan saat ini banyak berkembang di Indonesia.

Sedikit menelisik, China dengan garis pantai 30.000 km mampu menghasilkan ikan budidaya laut 15 juta ton pada tahun 2015, Indonesia dengan garis pantai 95.000 km baru mampu menghasilkan ikan budidaya laut 1,5 juta ton pada tahun 2015 (sumber: FAO, tidak termasuk rumput laut). Hal ini menunjukkan potensi budidaya ikan laut Indonesia sangat besar, terutama karena nilai komoditas laut memiliki nilai lebih tinggi dibanding komoditas air tawar.

Kemudian, apa yang seharusnya di lakukan pemerintah untuk terus memaksimalkan potensi budidaya maritim? Pemerintah harus bisa terus memaksimalkan kemajuan teknologi keramba jaring apung lepas pantai (KJA Offshore) dan memaksimalkan potensi lepas pantai menjadi solusi Indonesia menggenjot hasil perikanan maritim, khususnya produksi ikan seperti kakap putih.

General Manager PT Gani Arta Dwitunggal Andi Jayaprawira mengatakan, Indonesia memiliki teknologi perikanan budidaya yang sangat maju di berbagai bidang, melebihi negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Dalam bidang peralatan penunjang KJA misalnya, kata Andi, PT Gani Arta Dwitunggal (Aquatec) yang merupakan perusahaan dalam negeri sudah memproduksi jaring Ultra High Molecular Weight Polyethylene (UHMWPE), yaitu jaring anti predator dengan kekuatan setara kawat baja. Jaring ini terbuat dari bahan Polyethylene khusus yang memiliki kekuatan lebih kuat dari kawat baja yang telah digunakan dalam berbagai industri menggantikan rantai dan seling baja.

Dalam soal KJA, Indonesia telah mengembangkan KJA HDPE Bundar Offshore diameter 20 hingga 50 meter yang dipakai di Balai Besar Penelitian Perikanan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol Bali untuk penelitian dan pemeliharaan ikan Tuna Ekor Kuning.

Indonesia juga telah mengembangkan KJA HDPE Submersible, yaitu KJA yang dapat ditenggelamkan dan diapungkan kembali ke permukaan air. Kegunaan dari KJA ini sendiri adalah untuk dipakai di daerah yang memiliki masalah badai Taifun, di mana KJA HDPE Submersible dapat ditenggelamkan ketika badai Taifun datang, sehingga kegiatan budidaya tidak terganggu dalam cuaca Taifun sekalipun.

Kemudian, Andi memaparkan, KJA HDPE lainnya yang dikembangkan oleh PT Gani Arta Dwitunggal adalah KJA HDPE bebas limbah, yaitu KJA yang dapat menanggulangi hingga 90% limbah pakan dan kotoran yang umumnya dihasilkan oleh KJA tradisional, sehingga KJA HDPE bebas limbah ini sangat ramah lingkungan dan dapat dipakai untuk memecahkan permasalahan yang saat ini sedang dihadapi Waduk Cirata.

KJA HDPE bebas limbah ini merupakan hasil kerjasama PT Gani Arta Dwitunggal dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran (FPIK UNPAD) oleh Dr. Yudi Nurul Ihsan (Dekan FPIK UNPAD). Selain KJA HDPE bebas limbah ini dengan FPIK UNPAD juga telah bersama-sama mengembangkan KJA HDPE untuk kerapu cantang yang telah terpasang di Pangandaran dan panen pada bulan Oktober 2018.

Lalu, perusahaan yang terletak di Bandung tersebut juga telah mengembangkan KJA HDPE khusus kepiting dan lobster. Untuk melengkapi teknologi KJA HDPE, juga mengembangkan sistem pengangkat jaring yang mudah digunakan, sehingga pembudidaya ikan dapat mengangkat jaring dengan mudah untuk panen atau membersihkan jaring.

Tren Digital

Menurut Andi, adanya perkembangan teknologi internet kemudian dikolaborasikan dengan kemajuan teknologi konvensional, sehingga tren digital dan ramah lingkungan saat ini banyak berkembang di Indonesia.

“Tren digital berkembang karena memberikan kemudahan dalam mengawasi kegiatan budidaya ikan, sedangkan tren ramah lingkungan muncul karena kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan juga karena permintaan dari luar negeri,” tambahnya.

KJA buatan Indonesia sejak awal selalu mengedepankan aspek ramah lingkungan dari KJA HDPE dan peralatan penunjangnya. Dalam proses produksinya tidak menghasilkan limbah karena menggunakan bahan Polyethylene yang baru (virgin) dan mengikuti prosedur AMDAL.

Bahan HDPE yang digunakan memenuhi kriteria food grade, kata Andi, yaitu dapat digunakan untuk memproduksi peralatan yang berhubungan dengan penyajian makanan. Dengan demikian, penggunaan bahan Polyethylene tersebut menghasilkan produk yang sangat ramah lingkungan, dan ikan hasil budidaya dalam KJA HDPE dapat diterima oleh negara-negara pengimpor ikan di Eropa, Amerika, Australia, Vietnam, China dan Jepang.

Dampak kemajuan teknologi terhadap kemajuan perikanan budidaya Indonesia sangat besar. Contohnya, beberapa perusahaan perikanan budidaya di Batam, Pesisir Selatan, Pandeglang, Situbondo, Ambon, dan Bali yang memakai produk KJA HDPE dan net UHMWPE Aquatec dapat dengan mudah mengekspor hasil budidaya ikan mereka ke Eropa, Amerika, Australia, Vietnam, China dan Jepang.

Hal ini dikarenakan KJA HDPE buatan Indonesia terbukti ramah lingkungan sehingga ikan yang dibudidayakan di dalam KJA HDPE memenuhi kriteria environmentally friendly dan food safety negara-negara tersebut, sehingga dapat diterima dengan baik.

Selain ramah lingkungan, KJA HDPE yang terkenal tahan ombak dan cuaca juga memudahkan pembudidaya dalam mengurus dan mengembangkan bisnis budidaya ikan. Hal ini terbukti dengan 16.000 KJA HDPE yang telah terpasang di Indonesia dan diekspor ke Malaysia, Singapura, Filipina, China, Maldives, dan Afrika.

“Belasan ribu KJA HDPE yang terpasang di Indonesia inilah yang memampukan Indonesia untuk mencapai rekor penjualan ekspor kerapu beberapa tahun terakhir. Dari 16.000 KJA HDPE yang terpasang, KJA yang rusak dapat dihitung dengan jari atau kurang dari 1 per mil,” tutur Andi.

Kualitas dan ketahanan KJA HDPE buatan anak negeri terhadap ombak besar dan cuaca buruk, juga inovasi yang mempermudah proses kegiatan budidaya ikan inilah yang mendorong pengusaha budidaya ikan untuk tetap memilih produk KJA dalam negeri.

Teknologi Micro dan Nano Bubble

Sistem filtrasi dan microbubble pada RAS budidaya udang vaname ultra intensif

Tidak jauh berberbeda dengan perikanan marikultur, kemajuan inovasi teknologi juga merambah sektor perikanan air tawar dan payau. Belum lama ini sering terdengar teknologi micro dan nano bubble dalam budidaya ikan dan udang, kemudian seperti apa keunggulan teknologi tersebut.

Seperti yang terlansir di Agronet, teknologi ini bekerja memanfaatkan gelembung udara. Prinsip kerja teknologi ini adalah dengan cara memasukkan gas oksigen ke dalam cairan lewat injektor, pembangkit gelembung. Bedanya, pada gelembung nano ukuran gelembung udara sangat kecil dibanding micro.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri dijelaskan, 1 nanometer sama dengan satu per satu miliar meter (1/1.000.000.000 m), dilambangkan dengan (nm). Ukuran ini kira-kira sama dengan 50.000 kali lebih kecil dari ukuran rambut manusia. Dengan mata telanjang, benda dalam skala nano meter tidak dapat terlihat.

Teknologi nano bubble, menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diklaim mampu meningkatkan pertumbuhan ikan dan udang hingga 40 persen dari bobot biasa. Teknologi ini diperuntukan perikanan budidaya agar mempercepat pertumbuhan ikan dan udang sampai 40 persen.

Hal tersebut bisa terjadi, sebab menurut Johan, Bussiness Development Manager PT Maxima Arta Prima, nano bubble dapat menghasilkan gelembung-gelembung udara yang sangat halus sehingga dapat memberikan asupan udara (DO) yang maksimal bagi udang karena gelembung-gelembung udara tersebut tidak cepat naik ke permukaan air.

Johan melanjutkan, walaupun gelembung-gelembung udara yang dihasilkan lebih halus namun DO yang dihasilkan lebih stabil dari kincir konvensional sehingga mudah di kontrol dan tidak perlu khawatir sewaktu penurunan DO yang biasanya terjadi pada malam hari.

Kemudian akhir tahun lalu KKP luncurkan teknologi microbubble budidaya udang vaname skala kecil dengan teknologi mikrobuble ultra intensif. Saat ini, kata Kukuh Adiyana Peneliti dari Pusat Riset Perikanan KKP, saat ditemui di kantornya oleh Redaksi Info Akuakultur, produksi udang pada umumnya belum dapat memberikan dampak terhadap pembudidaya skala kecil atau rumah tangga, karena sebagian besar masih dikuasai oleh petambak bermodal besar.

Kukuh menambahkan, permasalahan lainnya yakni keterbatasan lokasi budidaya karena jauh dari sumber air laut atau payau. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan rekayasa teknologi akuakultur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, salah satunya adalah dengan pengembangan teknologi microbubble dengan integrasi Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk budidaya udang vaname.

Bak pemeliharaan pada RAS budidaya udang vaname ultra intensif

Saat ini juga terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh pembudidaya perikanan, khususnya udang, yaitu biaya listrik yang tinggi dan modal yang cukup besar (untuk skala tambak). Selain itu adanya limbah yang tidak dikelola dengan baik, serangan penyakit, serta daya dukung lingkungan yang menurun.

Kukuh mengatakan, teknologi itu dapat dikembangkan dengan kepadatan kurang lebih 1.000  ekor udang vaname per meter kubik, sehingga produktivitas udang yang dihasilkan sangat tinggi. “Sebelum adanya invensi teknologi baru ini, budidaya udang vaname tertinggi pada budidaya supra intensif dengan kepadatan sekitar 400 ekor udang vaname per kubik,” ujar Kukuh.

Microbubble dengan integrasi RAS itu memiliki beragam kelebihan, diantaranya tidak ada air limbah perikanan yang dibuang ke lingkungan, serta bisa diaplikasikan di tengah perkotaan yang jauh dari sumber air laut, karena pengelolaan media air budidaya dilakukan secara berkelanjutan.

Kelebihan lainnya, menurut Kukuh, adalah tidak memerlukan proses penyifonan, yaitu pembuangan lumpur limbah sisa pakan dan kotoran udang. Limbah padatan pada sistem ini akan tertangkap di filter fisik, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

Sistem dan metode budidaya dan produksi udang vaname ultra intensif ini juga telah didaftarkan patennya melalui Sentra Kekayaan Intelektual KKP, dengan nomor paten P00201810738. Sedangkan teknologi microbubble-nya telah diberi sertifikat paten nomor IDS000002014.

“Teknologi ini dapat diaplikasikan pada skala rumah tangga hingga industri, sehingga pembudidaya kecil dapat diberdayakan,” kata Kukuh. (Adit/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *