Inovasi Teknologi Perikanan Budidaya

KJA Bundar di Gondol, Bali

Adanya perkembangan teknologi internet kemudian dikolaborasikan dengan kemajuan teknologi konvensional, sehingga tren digital dan ramah lingkungan saat ini banyak berkembang di Indonesia.

Sedikit menelisik, China dengan garis pantai 30.000 km mampu menghasilkan ikan budidaya laut 15 juta ton pada tahun 2015, Indonesia dengan garis pantai 95.000 km baru mampu menghasilkan ikan budidaya laut 1,5 juta ton pada tahun 2015 (sumber: FAO, tidak termasuk rumput laut). Hal ini menunjukkan potensi budidaya ikan laut Indonesia sangat besar, terutama karena nilai komoditas laut memiliki nilai lebih tinggi dibanding komoditas air tawar.

Kemudian, apa yang seharusnya di lakukan pemerintah untuk terus memaksimalkan potensi budidaya maritim? Pemerintah harus bisa terus memaksimalkan kemajuan teknologi keramba jaring apung lepas pantai (KJA Offshore) dan memaksimalkan potensi lepas pantai menjadi solusi Indonesia menggenjot hasil perikanan maritim, khususnya produksi ikan seperti kakap putih.

General Manager PT Gani Arta Dwitunggal Andi Jayaprawira mengatakan, Indonesia memiliki teknologi perikanan budidaya yang sangat maju di berbagai bidang, melebihi negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Dalam bidang peralatan penunjang KJA misalnya, kata Andi, PT Gani Arta Dwitunggal (Aquatec) yang merupakan perusahaan dalam negeri sudah memproduksi jaring Ultra High Molecular Weight Polyethylene (UHMWPE), yaitu jaring anti predator dengan kekuatan setara kawat baja. Jaring ini terbuat dari bahan Polyethylene khusus yang memiliki kekuatan lebih kuat dari kawat baja yang telah digunakan dalam berbagai industri menggantikan rantai dan seling baja.

Dalam soal KJA, Indonesia telah mengembangkan KJA HDPE Bundar Offshore diameter 20 hingga 50 meter yang dipakai di Balai Besar Penelitian Perikanan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol Bali untuk penelitian dan pemeliharaan ikan Tuna Ekor Kuning.

Indonesia juga telah mengembangkan KJA HDPE Submersible, yaitu KJA yang dapat ditenggelamkan dan diapungkan kembali ke permukaan air. Kegunaan dari KJA ini sendiri adalah untuk dipakai di daerah yang memiliki masalah badai Taifun, di mana KJA HDPE Submersible dapat ditenggelamkan ketika badai Taifun datang, sehingga kegiatan budidaya tidak terganggu dalam cuaca Taifun sekalipun.

Kemudian, Andi memaparkan, KJA HDPE lainnya yang dikembangkan oleh PT Gani Arta Dwitunggal adalah KJA HDPE bebas limbah, yaitu KJA yang dapat menanggulangi hingga 90% limbah pakan dan kotoran yang umumnya dihasilkan oleh KJA tradisional, sehingga KJA HDPE bebas limbah ini sangat ramah lingkungan dan dapat dipakai untuk memecahkan permasalahan yang saat ini sedang dihadapi Waduk Cirata.

KJA HDPE bebas limbah ini merupakan hasil kerjasama PT Gani Arta Dwitunggal dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran (FPIK UNPAD) oleh Dr. Yudi Nurul Ihsan (Dekan FPIK UNPAD). Selain KJA HDPE bebas limbah ini dengan FPIK UNPAD juga telah bersama-sama mengembangkan KJA HDPE untuk kerapu cantang yang telah terpasang di Pangandaran dan panen pada bulan Oktober 2018.

Lalu, perusahaan yang terletak di Bandung tersebut juga telah mengembangkan KJA HDPE khusus kepiting dan lobster. Untuk melengkapi teknologi KJA HDPE, juga mengembangkan sistem pengangkat jaring yang mudah digunakan, sehingga pembudidaya ikan dapat mengangkat jaring dengan mudah untuk panen atau membersihkan jaring.

Tren Digital

Menurut Andi, adanya perkembangan teknologi internet kemudian dikolaborasikan dengan kemajuan teknologi konvensional, sehingga tren digital dan ramah lingkungan saat ini banyak berkembang di Indonesia.

“Tren digital berkembang karena memberikan kemudahan dalam mengawasi kegiatan budidaya ikan, sedangkan tren ramah lingkungan muncul karena kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan juga karena permintaan dari luar negeri,” tambahnya.

KJA buatan Indonesia sejak awal selalu mengedepankan aspek ramah lingkungan dari KJA HDPE dan peralatan penunjangnya. Dalam proses produksinya tidak menghasilkan limbah karena menggunakan bahan Polyethylene yang baru (virgin) dan mengikuti prosedur AMDAL.

Bahan HDPE yang digunakan memenuhi kriteria food grade, kata Andi, yaitu dapat digunakan untuk memproduksi peralatan yang berhubungan dengan penyajian makanan. Dengan demikian, penggunaan bahan Polyethylene tersebut menghasilkan produk yang sangat ramah lingkungan, dan ikan hasil budidaya dalam KJA HDPE dapat diterima oleh negara-negara pengimpor ikan di Eropa, Amerika, Australia, Vietnam, China dan Jepang.

Dampak kemajuan teknologi terhadap kemajuan perikanan budidaya Indonesia sangat besar. Contohnya, beberapa perusahaan perikanan budidaya di Batam, Pesisir Selatan, Pandeglang, Situbondo, Ambon, dan Bali yang memakai produk KJA HDPE dan net UHMWPE Aquatec dapat dengan mudah mengekspor hasil budidaya ikan mereka ke Eropa, Amerika, Australia, Vietnam, China dan Jepang.

Hal ini dikarenakan KJA HDPE buatan Indonesia terbukti ramah lingkungan sehingga ikan yang dibudidayakan di dalam KJA HDPE memenuhi kriteria environmentally friendly dan food safety negara-negara tersebut, sehingga dapat diterima dengan baik.

Selain ramah lingkungan, KJA HDPE yang terkenal tahan ombak dan cuaca juga memudahkan pembudidaya dalam mengurus dan mengembangkan bisnis budidaya ikan. Hal ini terbukti dengan 16.000 KJA HDPE yang telah terpasang di Indonesia dan diekspor ke Malaysia, Singapura, Filipina, China, Maldives, dan Afrika.

“Belasan ribu KJA HDPE yang terpasang di Indonesia inilah yang memampukan Indonesia untuk mencapai rekor penjualan ekspor kerapu beberapa tahun terakhir. Dari 16.000 KJA HDPE yang terpasang, KJA yang rusak dapat dihitung dengan jari atau kurang dari 1 per mil,” tutur Andi.

Kualitas dan ketahanan KJA HDPE buatan anak negeri terhadap ombak besar dan cuaca buruk, juga inovasi yang mempermudah proses kegiatan budidaya ikan inilah yang mendorong pengusaha budidaya ikan untuk tetap memilih produk KJA dalam negeri.

Teknologi Micro dan Nano Bubble

Sistem filtrasi dan microbubble pada RAS budidaya udang vaname ultra intensif

Tidak jauh berberbeda dengan perikanan marikultur, kemajuan inovasi teknologi juga merambah sektor perikanan air tawar dan payau. Belum lama ini sering terdengar teknologi micro dan nano bubble dalam budidaya ikan dan udang, kemudian seperti apa keunggulan teknologi tersebut.

Seperti yang terlansir di Agronet, teknologi ini bekerja memanfaatkan gelembung udara. Prinsip kerja teknologi ini adalah dengan cara memasukkan gas oksigen ke dalam cairan lewat injektor, pembangkit gelembung. Bedanya, pada gelembung nano ukuran gelembung udara sangat kecil dibanding micro.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri dijelaskan, 1 nanometer sama dengan satu per satu miliar meter (1/1.000.000.000 m), dilambangkan dengan (nm). Ukuran ini kira-kira sama dengan 50.000 kali lebih kecil dari ukuran rambut manusia. Dengan mata telanjang, benda dalam skala nano meter tidak dapat terlihat.

Teknologi nano bubble, menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diklaim mampu meningkatkan pertumbuhan ikan dan udang hingga 40 persen dari bobot biasa. Teknologi ini diperuntukan perikanan budidaya agar mempercepat pertumbuhan ikan dan udang sampai 40 persen.

Hal tersebut bisa terjadi, sebab menurut Johan, Bussiness Development Manager PT Maxima Arta Prima, nano bubble dapat menghasilkan gelembung-gelembung udara yang sangat halus sehingga dapat memberikan asupan udara (DO) yang maksimal bagi udang karena gelembung-gelembung udara tersebut tidak cepat naik ke permukaan air.

Johan melanjutkan, walaupun gelembung-gelembung udara yang dihasilkan lebih halus namun DO yang dihasilkan lebih stabil dari kincir konvensional sehingga mudah di kontrol dan tidak perlu khawatir sewaktu penurunan DO yang biasanya terjadi pada malam hari.

Kemudian akhir tahun lalu KKP luncurkan teknologi microbubble budidaya udang vaname skala kecil dengan teknologi mikrobuble ultra intensif. Saat ini, kata Kukuh Adiyana Peneliti dari Pusat Riset Perikanan KKP, saat ditemui di kantornya oleh Redaksi Info Akuakultur, produksi udang pada umumnya belum dapat memberikan dampak terhadap pembudidaya skala kecil atau rumah tangga, karena sebagian besar masih dikuasai oleh petambak bermodal besar.

Kukuh menambahkan, permasalahan lainnya yakni keterbatasan lokasi budidaya karena jauh dari sumber air laut atau payau. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan rekayasa teknologi akuakultur yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, salah satunya adalah dengan pengembangan teknologi microbubble dengan integrasi Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk budidaya udang vaname.

Bak pemeliharaan pada RAS budidaya udang vaname ultra intensif

Saat ini juga terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh pembudidaya perikanan, khususnya udang, yaitu biaya listrik yang tinggi dan modal yang cukup besar (untuk skala tambak). Selain itu adanya limbah yang tidak dikelola dengan baik, serangan penyakit, serta daya dukung lingkungan yang menurun.

Kukuh mengatakan, teknologi itu dapat dikembangkan dengan kepadatan kurang lebih 1.000  ekor udang vaname per meter kubik, sehingga produktivitas udang yang dihasilkan sangat tinggi. “Sebelum adanya invensi teknologi baru ini, budidaya udang vaname tertinggi pada budidaya supra intensif dengan kepadatan sekitar 400 ekor udang vaname per kubik,” ujar Kukuh.

Microbubble dengan integrasi RAS itu memiliki beragam kelebihan, diantaranya tidak ada air limbah perikanan yang dibuang ke lingkungan, serta bisa diaplikasikan di tengah perkotaan yang jauh dari sumber air laut, karena pengelolaan media air budidaya dilakukan secara berkelanjutan.

Kelebihan lainnya, menurut Kukuh, adalah tidak memerlukan proses penyifonan, yaitu pembuangan lumpur limbah sisa pakan dan kotoran udang. Limbah padatan pada sistem ini akan tertangkap di filter fisik, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

Sistem dan metode budidaya dan produksi udang vaname ultra intensif ini juga telah didaftarkan patennya melalui Sentra Kekayaan Intelektual KKP, dengan nomor paten P00201810738. Sedangkan teknologi microbubble-nya telah diberi sertifikat paten nomor IDS000002014.

“Teknologi ini dapat diaplikasikan pada skala rumah tangga hingga industri, sehingga pembudidaya kecil dapat diberdayakan,” kata Kukuh. (Adit/Resti)

BBPPBL Gondol Memanfaatkan KJA Bundar Berdiameter Besar Untuk Si Perenang Cepat

Ikan tuna dikenal sebagai perenang cepat dan angka kematian terbesar dalam pemeliharaan  dikarenakan tuna sering menabrak dinding. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan penggunaan KJA Bundar sebagaimana yang telah dilakukan di BBPPBL Gondol. 

Terletak di Dusun Gondol, Desa Penyabangan, Kecamatan Grokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, Balai Besar ini berperan penting sebagai pelaksana kegiatan penelitian dan pengembangan strategis perikanan budidaya laut.

Kepala BBPPBL Gondol, Ir. Bambang Susanto, M.Si menjelaskan, banyak program yang sedang dijalankan oleh BBPPBL Gondol saat ini. Program penelitian tersebut diantaranya penelitian dan pengembangan teknologi perbenihan dan pembesaran ikan laut, krustasea dan kerang-kerangan.

“Tak kurang sedikitnya ada 29 kegiatan penelitian dan pengembangan yang tengah dilakukan. Tapi yang utama untuk mendukung program Kementerian adalah program aplikasi teknologi adaptif lokasi,” kata Bambang.

Bambang melanjutkan, saat ini BBPPBL Gondol ada 6 Komoditas yang menjadi unggulan diantaranya, bandeng, tuna sirip kuning, abalon, teripang, kerapu sunu, dan lobster. “Namun yang menjadi fokus di keramba jaring apung (KJA) bundar adalah ikan tuna sirip kuning,”

Ikan Tuna Sirip Kuning yang di budidayakan di KJA Bundar Aquatec
Ikan Tuna Sirip Kuning yang di budidayakan di KJA Bundar Aquatec

Awalnya pada tahun 2001 pemerintah Indonesia dan Jepang melakukan kerjasama dalam bentuk penelitian perbenihan ikan tuna sirip kuning yang dilaksanakan di BBPPBL Gondol hingga tahun 2010. Kerjasama ini telah berhasil mengembangkan teknik penangkapan, transportasi, aklimatisasi calon induk, pemeliharaan induk, pemijahan dan pemeliharaan ikan tuna. Hanya saja, ketika kerjasama dengan Jepang ini berakhir pada tahun 2010, BBPPBL Gondol harus maju menjadi ujung tombak penelitian ikan tuna di Indonesia.

Dr. Eko Prianto, Kepala Bidang Pelayanan Teknis dan Sarana BBPPBL Gondol yang ditemui Info Akuakultur dikantornya menjelaskan bahwa awalnya tuna dipelihara di bak pemeliharaan dengan diameter 18 m agar mudah dalam pengumpulan telurnya. Namun pada saat pemijahan jantan dan betina sering menabrak dinding dan menyebabkan kematian tinggi meski dinding bak sudah diberi warna hitam dan garis-garis agar terlihat seperti jaring.

Kemudian pada tahun 2014, BBPPBL Gondol memindahkan sebagian ikan tuna dari bak dan dari hasil tangkapan ke KJA bundar Aquatec dengan diameter 50 meter. KJA bundar ini dinilai paling cocok untuk jenis ikan yang memiliki karakter perenang cepat.

“Hasilnya ternyata sangat bagus dimana tingkat kelangsungan hidup (survival rate) jantan dan betina yang dipelihara meningkat drastis dengan tidak adanya sudut. Kita bisa panen telurnya menggunakan katamaran dan baru ditetaskan di darat kemudian,” ujar Wawan Andriyanto, M.Sc, Kepala Seksi Kerjasama dan Pelayanan Penelitian dan Pengembangan BBPPBL Gondol melengkapi.

“KJA bundar berdiameter besar dapat digunakan untuk pembesaran dan pemeliharaan induk ikan tuna yang merupakan perenang cepat. Hal ini dikarenakan sesuai dengan habitat hidupnya yang membutuhkan arus dan hidup pada laut dalam, pertumbuhannya pun lebih cepat karena kemauan makannya lebih banyak dibanding tuna yang dipelihara di bak. Selain itu tuna dapat memijah secara alami dan menghasilkan telur,” imbuh Wawan.

Kepala BBPPBL Gondol, Ir. Bambang Susanto, M.Si menyampaikan bahwa keuntungan menggunakan KJA bundar dari Aquatec ini pemasangannya mudah dan dapat dibongkar atau dipindah sesuai kebutuhan. Menurut Bambang, KJA ini sudah berbahan HDPE dan tidak menggunakan styrofoam sehingga ramah lingkungan, memiliki usia pakai lama, dalam hal perawatan sangat mudah serta efisien.

“Selain itu masa pakai KJA bundar juga lebih lama, awet, dan perawatannya lebih mudah. KJA dari bahan HDPE ini tidak mudah ditempeli hewan-hewan laut seperti teritip. KJA Bundar cocok untuk ikan perenang cepat seperti tuna, bandeng, dan kakap. Sementara KJA persegi cocok untuk budidaya kerapu dan lobster,” jelas Bambang mendetail.

Ia menambahkan, biaya pemeliharaan di KJA Bundar dinilai lebih rendah karena tidak perlu listrik. Tidak perlu pompa untuk arus air tapi sesuai dengan kondisi arus di alam. Kalo menggunakan bak perlu listrik 24 jam, belum perawatan untuk pompanya.

“Kekurangannya cuma satu yaitu biaya investasinya lebih mahal dibanding keramba dari kayu atau bambu. Namun jika dibandingkan dengan lamanya masa pakai tentu sangat sebanding dengan nilai investasi yang digelontorkan,” kata Bambang.

“Rencana kita akan menambah unit, di Gondol ini cukup karena stok tuna yang kita miliki belum banyak, tapi untuk KJA di Pegametan karena merupakan sentral budidaya ada kemungkinan menambah karena di sana ada perusahaan swasta baru dan pembudidaya baru yang mencari model-model KJA untuk budidayanya,” tambah Wawan.

Fasilitas di BBPPBL Gondol

BBPPBL Gondol menggunakan dua model budidaya yaitu KJA persegi dan KJA bundar. KJA persegi berada di Pegametan: KJA kayu ada 12 unit dan 52 lubang diisi oleh ikan kerapu sunu, lobster. KJA persegi Aquatec ada 3 unit dan 19 lubang, masing-masing sejak tahun 2010, 2012 dan 2014 serta diisi oleh kerapu cantang. Selain itu ada juga KJA oktagonal Aquatec yang cocok untuk pemeliharaan ikan bandeng karena sifatnya yang cenderung bergerak secara berkoloni.

KJA bundar terletak di teluk yakni 500 meter dari pantai BBPPBL Gondol, dan jarak antara KJA bundar satu dengan yang lain 100 meter, dimana peletakan KJA bundar di kedalaman laut 20-30 meter dengan tekstur permukaan laut berpasir tidak ada karang dan KJA relatif terlindung dari terpaan ombak.

Sejak 2,5 tahun lalu atau sejak 2014 KJA bundar telah diisi ikan tuna untuk induk dan penggemukan, dan saat ini induk berukuran 50-70 kg. KJA bundar Aquatec diameter 50 m ada dua unit, dimana 1 kja bundar digunakan untuk pemeliharaan induk dengan 80 ekor induk dan 1 kja bundar untuk penggemukan. KJA bundar Aquatec berdiameter 32 m diisi 1 ekor tuna yang digunakan untuk penelitian penggemukan. (ADV)

Ikut Andil Majukan Akuakultur Indonesia

Bangkitkan perekonomian Indonesia di sektor perikanan budidaya dengan dukungan sarana dan prasarana yang lengkap serta berkualitas

Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 95.000 km2 dan ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) 6.159.000 km2. Saat ini, Indonesia mampu menghasilkan lima juta ton ikan pertahun dengan nilai budidaya sekitar 0,4 miliar USD pertahun.

KJA Oktagonal Aquatec
KJA Oktagonal Aquatec

Walau masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan China, pertumbuhan budidaya ikan di Indonesia sangat cepat, dikarenakan program infrastrukur dan industri pendukung budidaya ikan yang gencar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

China dikenal budidaya ikan lautnya sangat maju saat ini. Berdasarkan data dari FAO, China saat ini dapat menghasilkan ikan budidaya terbesar di dunia sebanyak 39 juta ton pertahun dengan nilai budidaya 6,9 miliar USD pertahun hanya dengan bermodalkan garis pantai 30.000 km2 dan ZEE  877.000 km2.

Pada dasarnya, teknologi yang mereka gunakan tidak terlalu maju, hanya saja infrastruktur dan industri pendukung budidaya ikan di China sudah lengkap, mulai dari keramba jaring apung (KJA), bibit, pakan, penanggulangan penyakit, otomatisasi, pengolahan, hingga pemasarannya.

Bahkan di bidang pemasaran, masyarakat China dapat membeli ikan hidup secara online, dan dapat diantar ke rumah dalam kondisi hidup. Hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah memberikan arahan program yang jelas kemudian mempercayakan tugas pengembangan teknologi ke swasta dan balai budidaya. Dengan demikian, interaksi pasar akan mendorong dengan sendirinya kemajuan teknologi.

Sedikit demi sedikit, dengan semakin lengkapnya infrastruktur dan industri pendukung budidaya ikan di Indonesia, industri budidaya ikan di Indonesia juga akan terus maju untuk menyaingi negara Tirai Bambu tersebut.

Dengan modal kekayaan alam saat ini, perikanan budidaya Indonesia masih bisa tumbuh setidaknya untuk menyamai China dan bahkan lebih, apalagi lautan di Indonesia kualitas airnya jauh lebih baik daripada kualitas air lautan China.

Melihat hal tersebut, industri perikanan budidaya air laut di Indonesia harus bertumbuh dengan cepat untuk memanfaatkan potensi ini agar tidak dicaplok oleh negara lain. Pertumbuhan industri perikanan budidaya air laut di Indonesia selama lima tahun terakhir ini sangat bagus, akan tetapi harus tetap dipertahankan untuk beberapa tahun ke depan agar Indonesia bisa menjadi negara maritim yang disegani.

Pertumbuhan tersebut tentunya harus didukung dengan sarana budidaya modern yang berkualitas agar ikan dari Indonesia bisa diterima oleh negara luar dan meminimalisasi biaya maintenance. Selain itu, dapat juga diadakan pameran-pameran perikanan budidaya dan forum-forum bisnis dimana pelaku usaha dapat bertemu satu dengan lainnya untuk mendiskusikan kemajuan teknologi.

Untuk memajukan industri perikanan budidaya laut maupun budidaya, Aquatec senantiasa menyuplai KJA HDPE modern beserta sarana pendukungnya. Pada saat ini KJA Aquatec telah terjual sebanyak 12.000 unit di seluruh Indonesia dan telah diekspor ke Singapura, Malaysia, Filipina, bahkan sampai ke Afrika.

Peran positif

Memajukan perekonomian di basis maritim tidak hanya dengan memanfaatkan potensi sumber daya alamnya saja, namun diperlukan sumber daya manusia yang peduli serta ikut andil memajukan perikanan budidaya Indonesia.

Aquatec selaku perusahaan penyedia sarana dan prasarana akuakultur memiliki peran untuk meningkatkan perekonomian Indonesia di sektor perikanan budidaya, baik itu perikanan budidaya air tawar maupun air laut.

Peran tersebut terlihat dari apa yang diproduksi Aquatec untuk membantu para pembudidaya maupun pemerintahan memudahkan proses budidaya ikan. Selain itu, Produk Aquatec juga terbilang lengkap, karena memproduksi sarana dan prasarana melihat apa yang sedang dibutuhkan oleh para pelaku usaha budidaya.

Sarana dan prasarana yang diproduksi pun terbuat dari bahan ramah lingkungan yang tentu saja aman untuk kelangsungan biota air yang dijadikan media budidaya sejalan dengan kampanye go green yang digalakan oleh negara-negara di seluruh dunia.

Aquatec merupakan produk asli Indonesia, di produksi langsung di kawasan Bandung, Jawa Barat, produk-produk yang diciptakan merupakan hasil dari pemikiran dan Inovasi anak bangsa dengan menggunakan teknologi modern yang ramah lingkungan.

KJA menjadi produk unggulan Aquatec, seiring berjalannya waktu KJA yang di produksi memiliki bentuk dan fungsi beragam disesuaikan dengan kebutuhan pembudidaya dalam melakukan usaha budidayanya.

Selain itu, melihat Indonesia yang 70% wilayahnya adalah perairan, Aquatec memproduksi Jukung dan Katamaran. Sarana transportasi anti tenggelam ini sudah banyak digunakan oleh dinas-dinas di seluruh Indonesia, selain memudahkan menjangkau pulau-pulau kecil alat transportasi ini juga merupakan penunjang perekonomian berbasis maritim.

Hadir di Indo Livestock 2016

Pada acara Indo Livestock yang berbarengan dengan Indo Fisheries 2016 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) 27-29 Juli lalu, Aquatec fokus memperkenalkan KJA Kotak, Oktagonal, dan Bundar.

Hal tersebut dikatakan oleh General Manager General Manager PT Gani Arta Dwitunggal, Andi J. Sunadim, “pada pameran kali ini sebenarnya kita memperkenalkan semua produk, namun karena ini berhubungan dengan livestock jadi kita fokus di KJA Kotak, Oktagonal, dan Bundar”, ujarnya.

KJA Bundar Aquatec
KJA Bundar Aquatec

KJA Kotak didesain kuat dan lentur sehingga mampu menghadapi ombak laut hingga ketinggian 2 meter. Bahan yang digunakan Prime Grade Polyethylene (PE) dengan anti-UV yang ramah lingkungan. Tidak menggunakan styrofoam atau bahan yang mencemari lingkungan baik di dalam maupun di luar alat apung.

KJA Oktagonal merupakan salah satu variasi bentuk dari KJA Aquatec, diciptakan sebagai alternatif dari KJA Bundar berdiameter kecil, dimana KJA Oktagonal memiliki daya apung yang lebih besar untuk diameter 7,5 m – 10 m. Bentuk Oktagonal memungkinkan KJA untuk dirangkai satu dengan lainnya membentuk konfigurasi yang rapi dan memungkinkan dipasangi struktur tambahan seperti rumah apung atau tangki air terapung untuk kemudahan dalam berbudidaya.

KJA Bundar Aquatec memiliki dua jenis, yaitu KJA Bundar Multisection dan KJA Bundar Buttfusion Extra. KJA Bundar Multisection adalah KJA bundar pertama dan satu-satunya di dunia yang multisection dan Completely Knock Down (dapat dipasang dan dibongkar tanpa merusak komponen KJA).

KJA Bundar Buttfusion Extra adalah KJA bundar dimana tiap sambungan buttfusion alat apung diberi penambahan ketebalan hingga 2x ketebalan dinding pipa dan juga sekat-sekat anti bocor, menghasilkan sambungan buttfusion yang jauh lebih kuat dan aman daripada sambungan buttfusion konvensional. Dengan demikian, kualitas dan keamanan KJA Bundar Buttfusion Extra Aquatec jauh lebih baik tanpa perlu menambah ketebalan seluruh dinding pipa.

Menurut Andi, diharapkan dengan adanya acara semacam ini dapat memperkenalkan produk-produk original buatan anak bangsa kepada pengunjung yang hadir dari seluruh dunia, sehingga dapat menjelaskan kemajuan sektor akuakultur Indonesia di mata dunia. (ADV)

BBPBL Lampung: Kembangkan Potensi Perikanan dengan Teknologi Keramba Modern

Foto 5Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung tahu betul bagaimana mengembangkan potensi perikanan Indonesia. Selain dengan memanfaatkan SDM yang terampil dan berkualitas, BBPBL juga memanfaatkan teknologi keramba modern sebagai sarana utama dalam budidaya.

Untuk menunjang pelaksanaan program pengembangan budidaya laut di Indonesia berdasarkan KEPPRES RI No. 23 Tahun 1982 dan SK. Menteri Pertanian Nomor 437/Kpts/Um/7/1982, pada tahun 1982 Direktorat Jenderal Perikanan telah merintis pembentukan Balai Budidaya Laut (BBL) Lampung.

Lembaga ini sejak Februari 2014 menjadi Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) berkat berbagai prestasinya di bidang pengembangan teknologi perikanan budidaya laut di Indonesia. Bisa dibilang, bila kita mendiskusikan tentang teknologi budidaya laut, tak akan lengkap jika tidak melibatkan BBPBL Lampung.

BBPBL Lampung membudidayakan berbagai jenis komoditas, di mana komoditas ini merupakan unggulan yang menjadi senjata ekspor Indonesia selain udang. Komoditas tersebut diantaranya Kerapu Bebek, Kerapu Macan, Kerapu Kertang, Kakap Putih, Kakap Merah, Bawal Bintang. Bahkan juga ada Udang Vaname, Ikan Cobia, ikan Badut/ Nemo, Blue Devil, Teripang, Kuda Laut, dan Rumput Laut.

Kepala Bidang Uji Terap Teknik dan Kerja Sama, BBPBL Lampung, Evalawati, SP., MM., mengatakan, “kakap putih sebenarnya pertama berhasil di Balai ini tahun 1987, tapi justru sekarang terkenal di Batam, mungkin karena dulu kami fokus pada kerapu tapi teknologi kami mapan sekali untuk teknologi kakap putih.”

Saat ini program kerja yang dikerjakan BBPBL Lampung selain melakukan kegiatan budidaya,  menjalankan program sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB).

“Seperti mensertifikasi pembenihan kerapu macan, kerapu tikus dan beberapa spesies  di hatchery, dan budidaya di KJA”, jelas Eva.

Eva melanjutkan, BBPBL Lampung juga selalu menjalin kerjasama dengan pihak-pihak lain termasuk pihak swasta, Dinas Perikanan dan Kelautan dari kabupaten lain, Universitas, dan Instansi lainnya. Seperti tahun ini melanjutkan kerjasama dengan Biotrop terkait peningkatan kultur jaringan rumput laut skala laboratorium.

Prestasi BBPBL Lampung, terkait dengan teknologi budidaya laut tahun 2015 pada Rakernis (Rapat Kerja Teknis) di Bogor mendapat prestasi tenaga kerja terbaik peringkat ke-2 dari seluruh UPT DJPB. “Sebenarnya kami belum tahu apa indikator yang membuat prestasi itu tetapi mulai tahun 2013 kami selalu mengerjakan Indikator Kinerja Utama (IKU) secara rutin setiap triwulan. Kami melaporkan tingkat capaian daripada target IKU, mungkin penilaiannya dilihat dari IKU,” tambah Eva.

BBPBL Lampung memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) sebanyak 147 orang. diantaranya PNS, tenaga kontrak, dan penyuluh yang diperbantukan.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana di BBPBL Lampung terbilang lengkap, ada Bak Induk, Hatchery, Bangsal Pendederan, Keramba Jaring Apung, Laboratorium Penguji Kesehatan Ikan, Laboratorium Penguji Kualitas Air, Laboratorium Pakan Alami, Laboratorium Ikan hias, Laboratorium Nutrisi, Instalasi Way Muli.

Manfaatkan teknologi modern

Semua kegiatan pembesaran dan pemeliharaan induk serta penyiapan standar dilakukan di karamba jaring apung yang dipusatkan di kawasan Teluk Lampung, Desa Hanura, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran.

KJA yang digunakan tidak boleh sembarangan, harus yang berstandar. BBPBL Lampung menggunakan produk KJA dalam negeri yang sudah terbukti kualitasnya tidak kalah dengan produk luar negeri.

Perencana Bahan Standardisasi, BBPBL Lampung, Drs. Hidayat Adi Sarwono, M.Sc, mengatakan, BBPBL Lampung menggunakan KJA Aquatec karena produk ini dikenal tahan lama dan aman dari terpaan ombak besar.

“Selain itu KJA Aquatec sebenarnya juga bisa dimanfaatkan untuk wisata bahari, pemancingan, namun di balai ini masih dikuhususkan untuk budidaya saja. Produksi di KJA juga hasilnya lebih bagus dan hasil panennya banyak”, tambah Hidayat.

Budidaya di keramba jaring apung ada di teluk Lampung, 100 meter lebih dari lokasi pinggir pantai balai. Dulu, tutur Eva, sewaktu dirinya masuk ke BBPBL Lampung tahun 1985 KJA masih terbuat dari bambu, berkembang menjadi kayu dan berkembang lagi sampai saat ini sehingga kegiatan budidaya jadi aman.

Eva mengatakan, BBPBL Lampung menggunakan KJA Aquatec sudah tiga tahun yang lalu, awalnya pengadaan sendiri lalu bantuan dari DJPB diserahkan ke UPT, pada tahun kemarin kita mendapatkan beberapa unit.

“Keunggulan KJA Aquatec memiliki daya apung bagus dan lebih tahan terhadap ombak air laut, dengan daya apung lebih bagus membuat ikan lebih nyaman dan orang yang bekerja lebih nyaman”, jelas Eva.

BBPBL Lampung menggunakan KJA Aquatec segi empat untuk pemeliharaan ikan kerapu karena disesuaikan dengan habitat aslinya. diam di tempat tidak berenang bebas, atau disebut juga ikan pemalas. Sedangkan untuk KJA Aquatec bundar agar bisa memanfaatkan ruang ada komoditas tertentu salah satunya bawal bintang, karena pergerakannya aktif.

“KJA Aquatec sangat dirasakan manfaatnya oleh BBPBL Lampung, karena memudahkan kegiatan budidaya dari mulai proses pembesaran ikan konsumsi dan pemeliharaan induk ”, tutur Hidayat.

BBPBL Lampung menggunakan 34 unit KJA Aquatec, dengan 212 lubang. Lubang KJA ada yang dikosongkan agar sirkulasi air menjadi bagus, untuk sarana memindahkan ikan karena secara berkala tiga minggu sekali atau sebulan sekali dilakukan pergantian jaring dan pemindahan ikan. (Resti)

Data Perusahaan:
PT. GANI ARTA DWITUNGGAL
Kawasan Industri Batujajar Permai
Jl. Raya Batujajar Km. 2.8 Padalarang
Kab. Bandung Barat – Indonesia
Telepon (hunting) : 022 – 6864016
Fax                          : 022 – 6864015
Marketing              : Glenn
+6281221673288
Elga
+6285798868830
Website                 : www.aquatec.co.id

Penerapan Keramba Jaring Apung dalam Budidaya

keramba jaring apung, keramba jaring apung bulat, keramba jaring apung bundar, dermaga apung

Salah satu teknik budidaya dalam akuakultur yang berkembang saat ini adalah Keramba Jaring Apung (KJA). Tidak hanya budidaya ikan, KJA juga dapat diterapkan pada budidaya udang.

Teknologi budidaya ikan dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Budidaya dengan sistem keramba jaring apung mulai dikembangkan di perairan pesisir dan perairan danau. Beberapa keunggulan ekonomis usaha budidaya ikan dalam keraamba jaring apung yaitu: 1) Menambah efisiensi penggunaan sumberdaya; 2) Prinsip kerja usaha keramba dengan melakukan pengurungan pada suatu badan perairan dan memberi makan dapat meningkatkan produksi ikan; 3) Memberikan pendapatan yang lebih teratur kepada nelayan dibandingkan dengan hanya bergantung pada usaha penangkapan.

Berdasarkan laporan yang disusun oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim Republik Indonesia (DNPI) 2014, KJA adalah suatu saraana pemeliharaan ikan atau biota air yang kerangkanyaa terbuat dari bambu, kayu, pipa pralon atau besi bebentuk persegi yang diberi jaring dan diberi pelampung seperti drum plastik atau styrofoam agar wadah tersebut terapung di dalam air. Kerangka dan pelampung berfungsi untuk menahan jaring agar tetap terbuka di permukaan air, sedangkan jaring yang tertutup di bagian bawahnya digunakan untuk memelihara ikan selama beberapa bulan.

Selanjutnya Baca di Majalah Info Akuakultur

 

 

Dukung Kemajuan Perikanan dan Kelautan, Aquatec Pamerkan Produk Unggulan

 Berdiri sejak tahun 1972, PT Gani Arta Dwitunggal diawali dari usaha produksi tekstil yang berlokasi di Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat.

AK10 Advetorial 5 1Seiring perkembangan industri, Gani Arta Dwitunggal mulai merambah produksi peralatan penunjang aktivitas bisnis lain, salah satunya perikanan. Terobosan ini dilakukan sejak tahun 2008, ketika perseroan terbatas tersebut mulai memproduksi peralatan perikanan budidaya dengan merek ‘Aquatec’. Tak hanya menonjolkan fasilitas perikanan budidaya, perusahaan ini memperluas cakupan bisnisnya pada peralatan perikanan secara umum.

Dalam pameran Indoaqua yang diselenggarakan beberapa waktu lepas di Bumi Serpong Damai, terdapat beberapa produk unggulan yang ditonjolkan di stan pameran. Dengan pajangan produk-produk inovatifnya, kehadiran PT Gani Arta Dwitunggal begitu menyita perhatian pengunjung pameran. Salah satunya adalah Wakil Presiden Republik Indonesia,  Bapak Muhammad Jusuf Kalla.

Bahan dasar baru, daya tahan handal

Salah satu produk unggulan yang ditonjolkan adalah keramba jaring apung (KJA), sarana vital  bagi para pelaku bisnis budidaya perikanan, baik tawar maupun laut. Terbuat dari bahan ramah lingkungan, prime grade HDPE, (high density polyethilene), KJA ini memiliki performa unggul, dengan daya tahan dan masa pakai yang cukup lama.

“Kami menggunakan bahan-bahan mentah yang masih baru, bukan daur ulang,” tegas Andi Sunadim, General Manager PT Gani Arta Dwitunggal saat diwawancara Infoakuakultur. Hal ini tampak dari warna-warna produk yang cerah, seperti biru dan kuning yang kontras. “Di samping sebagai brand image produk-produk kami, warna-warna cerah tersebut menandakan bahwa kami menggunakan bahan bukan daur ulang,” ungkap Andi.

keramba jaring apung
Andi Sunadim, General Manager PT Gani Arta Dwitunggal

KJA dengan merek ‘Aquatec ini menjadi alternatif bagi para pembudidaya ikan yang selama ini masih menggunakan KJA tradisional, yang terbuat dari kayu atau bambu. Pasalnya, bahan-bahan tersebut tidak tahan lama dan mudah rusak. Apalagi ketika dipasang di perairan laut dengan kondisi lingkungan ekstrim. Sebaliknya, dengan bahan HDPE, KJA memiliki daya tahan yang handal, bahkan terhadap gempuran ombak laut sekali pun.

Mengandalkan kegiatan produksi di dalam negeri, KJA besutan Aquatec ini patut menjadi kebanggaan masyarakat. Pasalnya, rantai produksi dari bahan mentah hingga menjadi produk akhir semua dilakukan di dalam negeri.

KJA Aquatec menggunakan sistem completely knockdown atau keseluruhannya bersistem bongkar pasang. Sistem ini memudahkan alat tersebut ketika dipindahkan atau dalam proses transportasi ke daerah-daerah yang jauh dan terpencil sekali pun.

keramba jaring apung
KJA Aquatec

Andi menuturkan, saat ini sudah sekitar 12.000 KJA yang diproduksi perusahaannya terpasang di perairan Indonesia. “Tidak hanya di dalam negeri, KJA Aquatec juga diekspor ke beberapa negara tetangga, antara lain Singapura, Malaysia, dan Afrika,” ungkapnya.

 

 

Ramah lingkungan

Produk unggulan Aquatec lainnya adalah jukung anti tenggelam. Dinamakan demikian karena jukung ini, meskipun bagian dalam terendam dengan air, masih tetap mengapung. Bahkan jika terbalik sekali pun. Hal ini berkat adanya cadik berupa pipa berongga yang terpasang di samping kiri dan kanan badan utama jukung. Selain berfungsi sebagai pelampung, pipa-pipa ini juga berfungsi sebagai penyeimbang lambung jukung ketika berlayar.

Jukung antitenggelam merupakan versi modern dari jukung yang terbuat dari kayu. Penampakan lambungnya mirip. Namun, terdapat perbedaan pada material pembuatnya, di mana jukung tradisional terbuat dari kayu, sedangkan jukung antitenggelam terbuat dari material plastik.

Ditinjau dari material asalnya, tutur Andi, jukung tradisional tidak ramah lingkungan karena terbuat dari kayu. “Bisa dibayangkan, untuk membuat satu unit jukung diperlukan sebuah pohon berdiameter besar, kemudian dikeruk bagian tengahnya.”

Andi melanjutkan, jukung dengan usia pohon mencapai 30 tahun hanya memiliki masa pakai atau bertahan 3 tahun saja. “Saat ini, ada sekitar 1 juta jukung yang beroperasi di kawasan perairan Indonesia. Bisa dibayangkan, berapa pohon yang ditebang untuk membuat jukung tersebut,” ujar Andi kepada Infoakuakultur. Dengan menggunakan jukung antitenggelam yang terbuat dari bahan polietilena, laju penebangan hutan di Indonesia bisa dikurangi.

jukung
Jukung Antitenggelam Aquatec

Dengan teknologi modern pada jukung antitenggelam tersebut, nelayan diharapkan tidak lagi khawatir terhadap cuaca karena takut tenggelam. Dengan begitu, jangkauan nelayan dalam mencari ikan bisa jauh lebih luas, dengan jarak 15 mil. Insiden nelayan hilang akibat jukung yang ditumpanginya tenggelam diharapkan tidak terjadi lagi.

Jukung antitenggelam sudah banyak digunakan oleh para pembudidaya. “Pada tahun lalu, kami sudah memasarkan sebanyak 100 unit. Pada tahun ini, kami sudah menerima pesanan sebanyak 100 unit,” lanjut pria kelahiran Bandung ini.

Selain beberapa produk di atas, PT Gani Arta Dwitunggal juga memproduksi beberapa sarana dan peralatan di bidang perikanan dan kelautan yang tak kalah inovatif, di antaranya dermaga apung . Andi mengungkapkan, kelebihan dermaga apung adalah waktu pemasangan yang singkat. Jika pembangunan dermaga permanen, yang terbuat dari beton, memerlukan waktu sekitar 1 tahun, instalasi dermaga apung hanya memakan waktu dua bulan. Selain praktis, dermaga apung memiliki daya tahan yang tinggi terhadap air laut dan cuaca, ekonomis dalam biaya pemasangan, dan mudah dioperasikan. Berbeda dengan dermaga kayu, yang daya tahannya singkat.

Menurut Andi, dermaga apung sangat strategis diaplikasikan di perairan laut Indonesia. Pasalnya, sebagai negara kepulauan dengan tidak kurang dari 17.000 pulau, Indonesia baru memanfaatkan hanya 500 pulau saja. Selebihnya, pulau-pulau tersebut masih belum dimanfaatkan. “Banyak pulau-pulau terluar, yang berbatasan dengan negara lain belum dimanfaatkan secara optimal,” ungkap Andi.

dermaga apung
Dermaga Apung Aquatec

Produk-produk besutan PT Gani Arta Dwitunggal dijamin tahan lama dan awet. Pasalnya, bahan mentah yang digunakan dalam pembuatan produk merupakan plastik HPDE baru (virgin), bukan bahan daur ulang sehingga daya tahannya jauh lebih kuat. Hal ini bisa ditengarai dari warna-warna produknya yang cerah. “Pada bahan HDPE yang masih baru, ukuran molekulnya panjang, sehingga tensile strength-(kekuatan tarik)-nya sangat tinggi,” pungkas Andi. (Noerhidajat/Adv)

 

AQUATEC LUNCURKAN KERAMBA JARING APUNG BUNDAR DIAMETER KECIL DAN DERMAGA

Kja Bundar AquaTecKeramba Jaring Apung (KJA) Bundar Aquatec, Teknologi Unggulan Indonesia

Perikanan budidaya Indonesia merupakan sektor ekonomi yang berkembang pesat. Luasnya perairan dan garis pantai, kita memiliki potensi perikanan budidaya yang jauh melebihi negara-negara manapun. Oleh karena itu, perikanan budidaya perlu didukung dengan sarana KJA modern yang unggul.

Setelah suksesnya program-program pemerintah dalam meningkatkan kapasitas perikanan budidaya sejak tahun 2011 hingga 2015, kini kita memasuki era budidaya ikan perenang cepat seperti Bandeng, Bawal Bintang, dan Kakap Putih. Ikan-ikan tersebut membutuhkan KJA bundar, yang paling populer adalah diameter 20 meter dengan kapasitas 50 ton sekali panen. Kapasitas tersebut cocok untuk pembudidaya tingkat corporate, sedangkan untuk pembudidaya pemula (misal: nelayan tangkap), skala tersebut dianggap beresiko. Untuk meminimalisir resiko yang mungkin timbul, pembudidaya cocok untuk memulai dengan KJA bundar diameter 10 meter dengan kapasitas 10 ton. Aquatec menanggapi kebutuhan pasar tersebut dengan meluncurkan KJA bundar diameter 10 meter dengan teknologi khusus yang telah dipatenkan, yang tidak dimiliki oleh negara lain.

Teknologi yang ditawarkan oleh Aquatec adalah sistem penyambungan buttfusion yang ditingkatkan, dimana pada tiap sambungan pipa terdapat penambahan ketebalan pipa menjadi 2 kali, serta dilengkapi dengan sekat anti bocor. Teknologi ini membuat KJA dapat bertahan di ombak 3 meter, dan jikalau terjadi kebocoran (misal: ditabrak motor boat), air tidak akan menembus sekat dan KJA akan tetap mengapung. Penghubung pipa dan tiang pagar dapat dibuka tutup, yang dirakit setelah proses penyambungan pipa selesai. Teknologi ini mempermudah sekaligus mempercepat proses perakitan di lapangan.

KJA bundar Aquatec diameter 10m telah terpasang di BBPBL Pesawaran, BBAP Situbondo, BBAP Takalar, dan BBL Ambon, sedangkan KJA bundar Aquatec diameter 20m, 35m, dan 50m telah terpasang di Balai Perekayasaan Wakatobi dan BBPPBL Gondol, Bali.

Dermaga Aquatec, Solusi Kebutuhan Infrastruktur Pulau-pulau Indonesia

Indonesia dengan 17.000 pulau memiliki potensi ekonomi yang besar dan beragam, diantaranya pariwisata dan perikanan. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi ekonomi di pulau-pulau tersebut, perlu dibangun infrastruktur terutama dermaga.

Karakter kebanyakan dari pulau-pulau di Indonesia adalah: ketika air laut surut, garis pantai mundur sangat jauh, meninggalkan hamparan pasir yang sangat lebar. Oleh karenanya, pembangunan dermaga di pulau-pulau tidak cukup hanya dengan dermaga permanen saja, namun perlu dilengkapi dengan dermaga apung, supaya ketika air laut surut nelayan dapat tetap naik ke dermaga apung, dan melalui gangway naik ke dermaga permanen.

Dermaga Aquatec terdiri dari rangkaian dermaga permanen dan dermaga apung yang diperkuat dengan rangka marine alumunium profile – dermaga dengan kualitas standard Eropa pertama dan satu-satunya di Indonesia saat ini – knockdown pula. Dermaga permanen dan dermaga apung Aquatec masing-masing diperkuat dengan rangka marine alumunium profile dan berlantai WPC (Wood Polyethylene Compound) setebal 38mm yang kokoh, tahan cuaca laut, dan anti rayap.

Dermaga permanen Aquatec dirakit di atas tiang pancang beton. Waktu perakitan relatif singkat. Dermaga permanen Aquatec dapat dilengkapi dengan pagar stainless steel dan lampu LED solar system.

Dermaga apung Aquatec memiliki alat apung berbentuk silindris. Alat apung berbentuk memanjang yang disambung satu dengan lainnya dengan flange, menghasilkan dermaga apung yang stabil dan kokoh serta tahan ombak. Dermaga apung Aquatec dapat dilengkapi dengan bollard stainless steel, dock bumper karet sintetis, dan lampu LED solar system. Dermaga apung Aquatec telah banyak terpasang di Kalimantan Timur, Banten, Padang, dan Maluku.

Dengan inovasi terbaru yaitu KJA bundar diameter kecil dan dermaga, Aquatec ingin berpartisipasi dalam pembangunan perikanan budidaya dan infrastruktur pulau-pulau di Indonesia.