Hidupkan Kembali Tambak Mangkrak

Tambak mangkrak biasanya tambak yang gagal berulang kali, bisa karena penyakit, missmanagement, atau konstruksi yang salah.
“Tantangan sangat besar untuk bisa mengaktifkannya dan berhasil. Best Aquaculture Practices (BAP) akan sangat membantu memecahkan masalah tambak yang mangkrak. Tetapi butuh upaya dan kedisiplinan yang luar biasa agar bisa berhasil,” ujar Dany Yukasano, National Technical Head Grobest Indomakmur.

Menghidupkan kembali tambak mangkrak memang bukan perkara mudah. Hal ini juga diakui Angga Aditya Putra Nugraha, FeedTech & Food Safety Team Leader PT Sekar Golden Harvesta Indonesia Lamongan.

“Jika melihat situasi terakhir ini,budidaya udang masih dihantui oleh penyakit. Ditambah lagi dengan kualitas lingkungan yang menurun seperti turunnya kualitas air serta akumulasi sedimen sisa-sisa pakan, limbah udang, dan bahan organik lain di dasar tambak. Akumulasi sedimen tersebut merupakan media pertumbuhan bakteri patogen seperti Vibrio sp. serta beberapa virus patogen udang,” terang Angga.

Angga menambahkan, banyak tambak mangkrak belum mematuhi ketentuan standar lingkungan yang ditetapkan oleh pemerintah dan persyaratan standard internasional seperti BAP salah satunya. Mengaktifkan kembali tambak udang mangkrak memang memerlukan usaha dan investasi yang besar. Namun, dengan penerapan Best Aquaculture Practices (BAP), beragam tantangan tersebut diharpakan bisa teratasi.

BAP menyediakan frame work yang terstruktur dan teruji untuk mengoptimalkan manajemen tambak, memastikan kualitas air yang baik, mengurangi risiko penyakit, serta menjamin keberlanjutan lingkungan dan sosial. Dengan demikian, BAP tidak hanya membantu mengembalikan operasi tambak yang mangkrak, juga tetapi diharapkan mendorong bisnis akuakultur yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.

“Prinsipnya, biosekuriti; sterilisasi; pemakaian produk yang bersertifikasi; SOP budidaya yang telah teruji; cara penanganan, perbaikan, dan pengendalian saat pemeliharaan; cara penentuan panen parsial maupun total; pengelolaan IPAL; dan kesejahteraan karyawan,” ujar Teguh Setyono, Ketua Paguyuban Aquaculturis Kaur – Bengkulu.

Urgensi BAP

Best Aquaculture Practices (BAP) adalah sertifikasi yang diberikan oleh pihak ketiga setelah melakukan audit. Sertifikasi ini berguna untuk memastikan praktik budidaya perairan dilakukan dengan bertanggung jawab dan berkelanjutan yang dikembangkan oleh Global Seafood Alliance (GSA).

Sertifikasi BAP mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari pembenihan, tambak sebagai tempat pemeliharaan udang, proses pemeliharaan, pabrik pakan, hingga pabrik pengolahan. Sertifikasi ini membuat kriteria mutu untuk pengembangbiakan spesies akuatik, seperti ikan dan udang yang berfokus pada empat bidang utama, yaitu: lingkungan sosial, keamanan pangan, kesehatan, dan kesejahteraan hewan (animal welfare).

“Produk akuakultur bersertifikat BAP dijamin diproduksi secara berkelanjutan dan aman untuk dikonsumsi (Food Safety). Dalam pengelolaan tambak udang yang mangkrak, untuk memastikan peningkatan kualitas dan kuantitas hasil produksi, penerapan Best Aquaculture Practices (BAP) menjadi sangat penting,” terang Paian Tampubolon, Marketing & Technical Country PT Yein Trading Indonesia.

Prinsip-prinsip utama BAP yang harus diterapkan seperti tanggung jawab sosial dan lingkungan, menjaga agar tambak udang tidak merusak lingkungan sekitar dan memperhatikan aspek sosial masyarakat sekitar. Prinsip ini mencakup pengelolaan air limbah, pencegahan pencemaran, perlindungan ekosistem (menjaga keberadaan mangrove atau vegetasi alami di sekitar tambak), serta memastikan kesejahteraan pekerja di tambak.

Manajemen kesehatan, pengendalian penyakit udang dengan menerapkan biosecurity yang ketat seperti penggunaan benur sehat (bebas dari penyakit), penerapan karantina untuk menghindari penularan penyakit pada air yang akan digunakan, dan pengelolaan sanitasi yang baik.

Penggunaan sumberdaya yang berkelanjutan, mengoptimalkan penggunaan sumber daya termasuk pakan, air, obat-obatan dan energi/listrik dengan efisien serta memininimalkan dampak limbah yang dihasilkan. Penggunaan pakan yang berkualitas sangat dianjurkan untuk menjaga pertumbuhan udang dan mengurangi dampak limbah. Penggunaan energi yang efisien juga disarankan dengan teknologi tepat guna seperti aerasi yang efisien, memanfaatkan energi ramah lingkungan ( Solar Energy dan Wind Energy).

Keamanan dan kualitas produk, memastikan bahwa produk udang yang dihasilkan aman dan berkualitas tinggi. Prosedur yang ketat dalam pemilihan pakan, penanganan paska-panen, dan pengujian residu kimia yang digunakan harus diterapkan untuk menjaga standar kualitas produk sesuai dengan persyaratan pasar. Memastikan kontrol kualitas dari tahap budidaya hingga paska-panen sangat penting untuk menjaga kualitas udang yang dihasilkan.

Pencatatan dan dokumentasi (traceability), menerapkan sistem pencatatan yang rapi dan terperinci untuk memantau setiap aspek produksi. Dokumentasi ini meliputi pencatatan kualitas air, kesehatan udang, penggunaan pakan, penggunaan obat-obatan, dan catatan panen. Data ini penting untuk menelusuri keberhasilan/kegagalan pengelolaan dan bahan analisa sebagai acuan untuk terus meningkatkan metode budidaya kedepan.

Senada dengan penjelasan Paian, Wiwik Winarti, Petambak dan Direktur Rossa Feedstore, berpendapat bahwa Sertifikat Best Aquaculture Practice saat ini sudah menjadi kebutuhan bagi industri udang nasional agar produk udang Indonesia kompetitif di pasar internasional.

“Pasar internasional menuntut agar proses budidaya udang menggunakan kaidah yang diminta oleh konsumen atau pasar di negara tujuan ekspor.Saat ini, konsumen ingin memastikan agar udang yang mereka beli bisa ditelusuri asal-usulnya, dibudidayakan dengan mempertahankan kelestarian lingkungan, food safety, animal welfare, dan secara sosial bertanggung jawab,” terang Wiwik.

Proses sertifikasi BAP memang tidak sederhana, sehingga petambak harus memastikan bahwa suplai sesuai dengan persyaratan BAP, baik benur, pabrik pakan, dan saprotam yang lain. Menurut Wiwik, saat ini, sebagian besar pabrik pakan dan hatcherydi Indonesia sudah memiliki sertifikat BAP. Dengan begitu, petambak akan lebih mudah memilih produk yang sesuai. Produk saprotam yangg dipakai juga harus dipastikan sudah terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Yang tidak kalah penting adalah kebiasaan mencatat semua treatment serta hasil pengamatan laboratorium dan sampling di tambak selama proses budidaya,” tandas Wiwik.

Empat pilar BAP

“Best Aquaculture Practices adalah SOP terbaik dalam mengelola budidaya udang. BAP harus berdasarkan kepada pengetahuan dan ilmu serta kepatuhan kepada kaidah dan norma budidaya yang benar,” tutur Dany.

Lebih jauh, Angga menjelaskan bahwa penerapan BAP dalam pengelolaan tambak udang merujuk pada dokumen BAP Farm Standard issue 3.1 yang dirilis pada 7 Februari 2023. Ada 4 pilar yang harus dijalankan, yaitu: (1) Food Safety, (2) Social Accountability, (3) Environmental Responsibility, dan (4) Animal Health and Welfare.

Ke-4 pilar berikut klausul yang menjadi bagian dari masing masing pilar tersebut diatas wajib diterapkan oleh tambak yang ingin tersertifikasi BAP.

“Terkait dengan peningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi suatu tambak, menurut saya yang perlu diperhatikan di awal ketika akan mengelola tambak udang yang “mangkrak” adalah Pilar ke 2, yakni Social Accountability,” ujar Angga.

Ia beralasan karena di dalamnya mengatur unsur legal yang harus dipenuhi oleh calon pengelola tambak, mulai dari legalitas operasional, lahan, aspek hubungan sosial dengan masyarakat sekitar, serta bagaimana pemenuhan hak pekerja tambak.

Sebagai contoh paling awal, terkait perizinan yang diatur dalam Pilar ke-2, item A mengenai Legal Right and Regulatory Compliance (Hak Hukum dan Kepatuhan Terhadap Peraturan), disebutkan dalam klausul 2.1 bahwa suatu tambak harus memiliki dokumen update dan valid sebagai pembuktian memiliki izin penggunaan lahan dan air.

Selanjutnya ada beberapa perizinan yang wajib dipenuhi seperti izin pembuangan limbah, izin konstruksi bangunan, perlindungan hutan bakau dan habitat alami, dan seterusnya yang dijelaskan pada klausulberikutnya. Kepatuhan penerapan setiap klausul dalam BAP Farm Standard tersebut akan ditanyakan dalam proses audit sertifikasi, baik di awal apply maupun re-sertifikasi oleh auditor.

Setelah semua persyaratan di Pilar ke-2 terpenuhi, selanjutnya—untuk mendongkrak produktivitas tambak dalam hal kuantitas dan kualitas—adalah penerapan Pilar ke-1 Food Safety dan Pilar ke-3 Environmental Responsibility. Keduanya berkaitan dengan kualitas hasil panen yang tentu saja harus memenuhi unsur keamanan pangan serta keberlanjutan bisnis tambak (business sustainability). Hal tersebut disebabkan tanggungjawab petambak terhadap kelestarian lingkungan dalam wujud mengatur manajemen pembuangan air limbah dan limbah padatan, sanitasi, penerapan biosekuri, monitoring sedimentasi lumpur, serta perlindungan biodiversitas disekitar area tambak.
Penerapan unsur Environmental Responsibility tidak hanya di internal area tambak saja,tetapi terkait dengan penyedia pakan. Dalam hal ini adalah feedmill atau pabrik pakan karena mereka ikut bertanggungjawab dalam menjaga kelestarian lingkungan, dalam bentuk keberlanjutan tersedianya bahan baku berupa fish oil, fish meal, kedelai dengan beragam derivatnya, serta penggunaan palm oil.

Dalam pemakaian bahan baku, khususnya yang tersebut diatas, bagi feedmill yang telah tersertifikasi BAP harus memastikan setiap produsen atau pemasoknya telah tersertifikasi juga. Sebagai contoh, untuk bungkil kedelai harus memiliki sertifikat Protera atau RTRS, palm oil tersertifikasi RSPO, dan fish meal/fish oil tersertifikasi MarineTrust dan non IUU (Ilegal, Unreported and Unregulated) fishing. Kesemuanya merupakan wujud nyata bagaimana kepatuhan untuk menjaga kelestarian lingkungan dilaksanakan.

“Apabila 3 pilar yang terurai diatas telah diterapkan secara konsisten, saya rasa produktivitas suatu tambak—baik secara kualitas maupun kuantitas—secara otomatis akan menunjukkan peningkatan,” ujar Angga.

Peran teknologi tangani tambak mangkrak
Dalam perkembangannya, sudah ditemukan beberapa teknologi yang dapat membantu petambak untuk mengetahui kualitas air dan mempermudah pemberian pakan. Sebagai contoh Sistem Pemantauan Berbasis IoT (Internet of Things). Teknologi IoT memungkinkan pemantauan real-time terhadap kualitas air tambak, termasuk parameter seperti suhu, salinitas, pH, kadar oksigen terlarut, alkalinitas dan kandungan amonia.

Penggunaan sensor yang terhubung langsung ke aplikasi atau handphone memudahkan petambak dapat menerima notifikasi bila ada parameter yang menyimpang dari batas optimal. Dengan mengetahui adanya penyimpangan parameter kualitas air ini, petambak dapat langsung mengambil tindakan dengan cepat, misalnya mengatur aerasi atau penggantian air yang akan membantu menjaga kesehatan udang, melakukan tindakan untuk mengurangi gas-gas racun menggunakan obat-obatan atau bakteri.

“Selain itu, alat ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah kualitas air pada tambak mangkrak dan lingkungan sekitar masih layak atau tidak untuk digunakan memelihara udang,” jelas Paian.

Paian menambahkan, Metode Analisa Tulang Ikan (Fishbond Methode)dapat dilakukan pada pemeliharaan udang dengan pendekatan terstruktur, yang memungkinkan dilakukan analisis lebih rinci dalam menemukan penyebab timbulnya masalah. Dengan begitu, petambak dapat mengetahui faktor prioritas yang harus diperbaiki.

Penggunaan automatic feeder (pemberi pakan otomatis). Pengaturan pemberian pakan menggunakan automatic feeder membantu mengefisienkan penggunaan pakan. Selain itu mencegah kelebihan pakan (over feeding), yang bisa meningkatkan kandungan bahan organik di tambak dan dimanfaatkan oleh bakteri atau jamur sebagai media perkembangbiakan. Dengan teknologi ini, frekuensi dan jumlah pakan bisa diatur secara otomatis sesuai kebutuhan udang di tiap tahap pertumbuhan sehingga penggunaan pakan efektif dan efisien.(RA/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.