Dikenal dengan produk perikanan berharga mahal, beberapa kalangan ragu–bahkan pesimis–menjadikan program MBG sebagai salah satu tujuan pasar domestik udang.
Dalam budidaya, petambak sudah memperhitungkan faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi profitabilitas mereka. Biaya operasional adalah hal yang dapat diprediksi sejak awal, sehingga pembuatan RAB harus detil, jelas, dan realistis, ujar Dany Yukasano, National Technical Manager Grobest Indomakmur.

Dany sendiri memandang positif peran petambak udang dalam mendukung pencegahan stunting melalui pasokan protein hewani dalam Program Makan Bergizi Gratis. “Sangat menarik karena menjadi alternatif lain untuk bisa menjual udang yang diproduksi dan menjadi bagian dari industri ini untuk berperan serta dalam mencerdaskan dan memperbaiki generasi yang akan datang,” ungkapnya.
Menurut Ariel Hananya, Researcher PT Central Proteina Prima, sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi, udang memiliki peran kunci dalam mendukung program makan siang gratis. Kandungan asam amino esensialnya membantu meningkatkan bioavailabilitas nutrisi pada anak-anak. Udang yang kaya protein dan mikronutrien seperti zinc, selenium, dan vitamin B12, mampu mendukung pertumbuhan anak-anak dalam mencegah stunting.
“Dengan memastikan distribusi yang merata dan tepat sasaran, program ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk masalah gizi nasional,” ujarnya.
Tantangan peran dan teknis
Masih menurut Ariel, petambak udang memainkan peran strategis dalam memastikan kualitas protein yang sesuai dengan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis. Melalui penerapan Good Aquaculture Practices (GAP), kualitas hasil budidaya dapat dijaga dengan ketat. Hal ini mencakup penggunaan benih berkualitas unggul, pengelolaan kualitas air yang sistematis, dan pakan berstandar tinggi. Selain itu, pengendalian residu antibiotik dan logam berat melalui pengujian laboratorium mutakhir menjadi langkah esensial untuk menjamin keamanan pangan.
Meskipun Program Makan Bergizi Gratis mungkin menetapkan batasan harga, kualitas udang harus tetap dijaga untuk memenuhi standar gizi dan keamanan pangan. Pendekatan berbasis teknologi, seperti pengawasan kualitas air secara real-time dan pengelolaan biosekuriti yang ketat, dapat membantu petambak mempertahankan kualitas.
Selain itu, integrasi rantai pasok dengan fasilitas pemrosesan berlisensi HACCP memastikan bahwa produk yang dihasilkan tetap memenuhi standar internasional, meskipun harga dipatok rendah.
Agus Wijayanto, Head Technical Support PT Indonesia Evergreen Pasuruan berpendapat bahwa udang hasil panen budidaya harus dipastikan memenuhi syarat untuk keamanan pangan (food safety).

“Dalam budidaya udang, food safety adalah mencegah kemungkinan produk tercemar bahan kimia, biologis, dan bahan lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Target food safety adalah aman untuk dikonsumsi manusia,” terangnya.
Oleh sebab itu, cara berbudidaya harus ramah lingkungan. Proses panen udang harus tepat dan cepat untuk memastikan kualitas udang tetap terjaga. Menurut Agus, tantangan yang dihadapi petambak udang dalam memenuhi permintaan volume tinggi dari program makan siang gratis adalah serangan infeksi penyakit pada udang yang semakin kompleks, biaya produksi budidaya yang semakin tinggi, dan harga udang yang fluktuatif dan cenderung mengalami penurunan.
Menurut Agus, langkah yang dapat diambil oleh petambak udang untuk meningkatkan produksi dan keberlanjutan budidaya udang adalah mengikuti dan menerapkan tehnologi budidaya yang modern, antara lain meningkatkan densitas tebar, pemilihan benur yang berkualitas, manajemen pakan, dan manajemen air yang sesuai standar.
“Program makan siang gratis, yang menjangkau jutaan siswa, tentu membutuhkan pasokan udang dalam jumlah besar dan berkelanjutan,” ujar Aryo Wiryawan, Chairman JALA Tech.
Menurut Aryo, tantangan utama yang dihadapi meliputi kapasitas produksi, ketersediaan lahan, regulasi dan perizinan, serta penjadwalan panen. Tidak semua tambak memiliki infrastruktur untuk meningkatkan produksi secara mendadak. Diperlukan investasi tambahan berupa perbaikan kolam, penambahan aerasi, dan penambahan tenaga kerja. Saat ini, ketersediaan tenaga kerja berkualitas masih menjadi tantangan terbesar.
Dalam hal ketersediaan lahan, ekspansi lahan tambak sering terkendala oleh faktor lingkungan dan regulasi. Petambak harus menyeimbangkan pertumbuhan produksi dengan menjaga ekosistem perairan dan kelestarian lingkungan. Soal regulasi dan perizinan, adanya tumpang-tindih regulasi antarkementerian maupun antara pemerintah pusat dan daerah juga menjadi hambatan signifkan untuk penambahan kapasitas produksi nasional.
“Panen udang perlu disesuaikan dengan jadwal pengiriman agar pasokan tidak terputus. Waktu panen yang tidak tepat dapat menyebabkan overstock atau justru kekurangan pasokan,” jelas Aryo.
Jaminan keberlanjutan usaha
Masih menurut Aryo, harga udang di pasar global kerap naik-turun, tergantung permintaan ekspor, nilai tukar mata uang, dan kondisi persaingan internasional. Bagi petambak, fluktuasi ini dapat memengaruhi modal operasional dan menekan keberlanjutan pasokan.
“Ketika harga pasar rendah, keuntungan menurun, sehingga dana untuk biaya pakan, bibit, dan tenaga kerja menjadi terbatas. Jika harga turun drastis, petambak mungkin enggan menambah produksi. Sebaliknya, jika harga tinggi, suplai untuk program makan siang gratis dapat berkurang karena lebih menguntungkan menjual ke pasar ekspor,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Yushinta Fujaya, Guru Besar Universitas Hasanuddin. Fluktuasi harga udang di pasar sangat mempengaruhi kemampuan petambak menyediakan pasokan yang stabil bagi program pemerintah ini.
“Tidak semua petambak memahami kaitan langsung antara protein hewani, gizi anak, dan stunting. Namun, mereka mungkin akan menyambut positif program ini sebagai peluang pasar yang stabil,” ujarnya.
Menurut Yushinta paket harga makan siang gratis yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 10.000,00 per anak sangat rendah untuk memberikan menu udang dalam setiap porsinya. Dengan harga udang saat ini, yaitu Rp60.000,00–Rp80.000,00 per kilogram–tergantung ukuran dan lokasi, mungkin kurang efisien menjadikannya menu utama untuk program makan siang gratis.
Namun, melalui diversifikasi ukuran, produk olahan, dan kemitraan strategis, udang tetap dapat menjadi bagian dari menu sebagai variasi yang memberikan sumber nutrisi berkualitas tinggi.
Petambak dapat menggunakan pakan berbahan baku lokal sehingga dapat menekan biaya produksi, yang biasanya 70% berasal dari biaya pakan. Efisiensi tenaga kerja dilakukan dengan menerapkan otomatisasi proses produksi, misalnya dengan penggunaan automatic feeder dan monitoring kualitas air berbasis IoT.
“Dalam jangka pendek, tentu saja ini memerlukan biaya infrastruktur yang cukup tinggi. Namun, secara jangka panjang, biaya otomatisasi ini akan membantu menekan biaya tenaga kerja,” terangnya.
Tingginya permintaan volume untuk program ini membutuhkan efisiensi produksi yang optimal. Tantangan utama meliputi dampak perubahan iklim, risiko penyakit pada udang, dan fluktuasi harga bahan baku pakan. Untuk mengatasi hal ini, adopsi teknologi seperti bioflok, akuaponik, dan penggunaan sistem otomatisasi dalam tambak dapat meningkatkan produktivitas. Selain itu, kolaborasi melalui koperasi petambak memungkinkan konsolidasi sumberdaya untuk memenuhi skala permintaan yang besar.
Produksi yang berkelanjutan menjadi aspek penting dalam mendukung program ini. Penggunaan energi terbarukan, teknologi bioflok untuk mengurangi limbah organik, serta integrasi sistem akuaponik dapat mengoptimalkan efisiensi dan menekan dampak lingkungan. Penelitian dan pengembangan lebih lanjut diperlukan untuk menciptakan teknologi yang hemat biaya namun tetap efektif dalam meningkatkan produktivitas.
Menurut Ariel Hananya, fluktuasi harga bahan baku dan biaya energi merupakan tantangan utama dalam menjaga keberlanjutan produksi. Senada dengan pendapat Yushinta, Ariel berpendapat bahwa diversifikasi sumber bahan baku pakan diperlukan, misalnya pemanfaatan bahan lokal yang lebih murah, yang dapat menjadi solusi jangka panjang.
Selain itu, penerapan energi terbarukan, seperti solar panel, dapat mengurangi biaya operasional energi. Penelitian dan pengembangan terus-menerus untuk menciptakan teknologi hemat biaya sangat penting dalam memastikan ketahanan produksi jangka panjang. Petambak udang dapat mengadopsi pendekatan efisiensi biaya untuk memastikan harga tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.
Penggunaan teknologi seperti bioflok dan probiotik dapat mengurangi ketergantungan pada pakan konvensional sehingga menurunkan biaya pakan. Selain itu, optimasi tenaga kerja melalui pelatihan dan penerapan otomatisasi dapat meningkatkan efisiensi operasional. Kolaborasi dengan koperasi petambak untuk berbagi sumberdaya–seperti alat berat dan fasilitas pemrosesan–juga dapat menekan biaya infrastruktur.
Biaya operasional utama seperti pakan, tenaga kerja, dan infrastruktur; terus meningkat seiring dengan inflasi dan fluktuasi harga global. Berdasarkan data ekonomi akuakultur, biaya pakan dapat menyumbang hingga 60% dari total biaya produksi. Oleh karena itu, diperlukan subsidi atau insentif pemerintah untuk menjembatani kesenjangan antara harga yang ditetapkan dan biaya yang sebenarnya dikeluarkan petambak. Selain itu, transparansi dalam penghitungan harga oleh pemerintah sangat penting untuk membangun kepercayaan antara pemangku kepentingan.
“Harga udang yang fluktuatif memengaruhi stabilitas pasokan untuk program pemerintah. Dukungan berupa subsidi harga atau pengaturan harga minimum diperlukan untuk melindungi petambak dari volatilitas pasar. Mekanisme kontrak berbasis jangka panjang antara petambak dan pemerintah dapat memberikan kepastian harga sekaligus mengamankan rantai pasok,” pungkas Ariel Hananya. (RA/Adit/Resti)

