Menimbang Asa dari Program Makan Bergizi Gratis

Program makan bergizi gratis, mampu mengerek tingkat konsumsi protein hewani, khususnya udang di Indonesia.

“Program Makan Siang Gratis, yang sekarang dikenal dengan Makan Bergizi Gratis (MBG), menjadi salah satu program unggulan dari presiden terpilih Republik Indonesia masa bakti 2024-2029. Program ini bertujuan untuk meningkatkan gizi anak, dengan menjamin anak-anak sekolah mendapatkan makanan bergizi sekali setiap hari, yang sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan mereka,” tutur Paian Tampubolon, Marketing & Technical Country PT Yein Trading Indonesia.

Menurut Paian, program ini sebenarnya sudah berlangsung di negara Brazil, Finlandia, Estonia, India, Swedia, Amerika Serikat, Jepang dan China. Salah satu faktor penting dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045 adalah pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Pondasi utama dalam mempercepat pembangunan dan meningkatkan daya saing global adalah SDM yang unggul.

Momen ini membuka kesempatan bagi para petambak sebagai penghasil udang untuk berkontribusi menyukseskannya dengan cara menghasilkan udang berkualitas sebagai menu pemenuhan gizi.

“Stunting terjadi antara lain karena kekurangan asupan pangan bergizi. Udang dapat mengatasi ini karena udang bergizi tinggi, enak, diterima semua kalangan. Bagi anak yang membutuhkan makanan yang enak, tentu udang adalah pilihan tepat karena dapat diolah menjadi berbagai jenis yang disenangi anak,” ujar Andi Tamsil, Pengurus Pusat Shrimp Club Indonesia dan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar.

Kandungan nutrisi udang

Menurut Paian, udang sangat baik dikonsumsi karena kaya asam amino esensial yang tidak bisa dihasilkan sendiri oleh tubuh. Udang vaname mengandung 18 jenis asam amino, sedangkan 9 di antaranya adalah asam amino esensial yaitu valin dengan kandungan tertinggi (23,72 persen), lalu methionine, histamin, argentine, isoleusin, leusin, fenilalanin, triptofan, dan lisin. Asam amino esensial ini penting untuk regulasi berbagai fungsi biologis tubuh manusia.
Meskipun kandungan lemaknya lebih rendah, udang vaname juga memiliki komposisi lemak baik atau lemak tidak jenuh lebih banyak.

Asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) merupakan asam lemak yang kandungannya paling dominan (38,5 persen), terdiri dari asam linoleat (16,3 persen), asam alfa-linolenat (11,2 persen), omega-6 dan omega-3. Kandungan asam lemak ini baik untuk kesehatan jantung karena omega-3 memiliki sifat anti-inflamasi dan anti-koagulan serta memiliki kandungan potasium atau kalium yang cukup tinggi.

Kandungan yang terdapat dalam 85 gram udang adalah kalori 84; lemak 0,2 g; natrium 94,4 mg; karbohidrat 0,2 g; serat 0 g; gula 0 g; protein 20,4 g; fosfor 201 mg; vitamin B12 1,4 mcg; selenium 31,8 mcg; vitamin A 52,1 mcg; kolin 86,8 mg; vitamin E 1,4 mg; folat 15,1 mcg (verywell fit).

Udang vaname juga dapat mencegah
arteriosklerosis, salah satu pencetus stroke penyebab munculnya tumpukan “plak” dalam pembuluh darah. Selain itu, udang juga baik untuk tulang karena mengandung kalsium tinggi pencegah osteoporosis.

Udang vaname memiliki banyak manfaat lain seperti sumber vitamin A untuk kesehatan mata, mineral penting untuk daya tahan tubuh, serta mendukung fungsi saraf yang dapat mencegah penuaan dini. Udang vaname juga mengandung astaxanthin atau antioksidan yang dapat menekan kerusakan sel kulit akibat radikal bebas yang dapat mempercepat penuaan kulit.

Tidak seperti kebanyakan makanan laut, kandungan merkuri pada udang hampir nol. Dengan begitu, udang menjadi pilihan lebih aman bagi wanita yang ingin mendapatkan manfaat kesehatan dari makanan laut selama kehamilan. Pada udang ditemukan banyak nutrisi penting yang bermanfaat dalam kehamilan, seperti zat besi, B12, kalsium, seng, kolin, dan protein. Fakta nutrisi udang ini membantu mencegah anemia dan pengeroposan tulang pada ibu hamil, sekaligus mendukung pembentukan jaringan dan otak bagi janin.

Melihat banyaknya manfaat mengkonsumsi udang bagi kesehatan, sudah layak jika udang menjadi salah satu menu unggulan pada program makan bergizi gratis yang dicanangkan oleh pemerintah.

Potensi serapan udang di MBG

Jumlah sasaran dari setiap kelompok yang akan mendapatkan makan bergizi gratis ini sebanyak 82,9 juta orang; yang terdiri dari Pra-SD (anak usia dini) 30 juta anak, SD 24 juta murid, SMP 9,8 juta murid, SMA dan SMK 10,2 juta murid, santri di pesantren 4,3 juta santri, dan ibu hamil 4,4 juta orang. Jika program ini berjalan akan membawa dampak positif bagi komoditas udang, terutama nilai jual pasar domestik atau lokal.

Meningkatnya kebutuhan akan diikuti dengan peningkatan harga jual, sesuai hukum permintaan. Hal ini merupakan prinsip dasar ekonomi yang menggambarkan hubungan antara harga dengan jumlah barang yang diminta dengan harapan dapat membantu salah satu problem harga yang selama ini menjadi tantangan para petambak.

Program makanan bergizi gratis ini membutuhkan pasokan udang dengan volume tertentu secara berkesinambungan. Dengan begitu, produsen berusaha melakukan budidaya dengan cara yang aman agar terhindar dari kegagalan akibat penyakit.

Penyakit merupakan faktor terbesar kegagalan dalam budidaya udang sehingga penting memperhatikan penanganan proses budidaya dari pengolahan paskapanen, sterilisasi, persiapan air, pemilihan bibit udang, monitoring kualitas air dan kesehatan udang, pakan yang digunakan, serta kualitas bahan tambahan lainnya (vitamin, mineral, suplemen). Kondisi lingkungan akibat limbah yang dihasilkan tambak juga sangat penting dikelola untuk menciptakan kenyamanan dalam berbudidaya.

Program ini juga akan menumbuhkan peningkatan ekonomi bagi banyak kelompok koperasi dan UMKM yang akan terlibat. Tambak rakyat tradisional diharapkan bergairah kembali guna menunjang kebutuhan udang di daerah masing-masing. Kemampuan produsen menyiapkan kebutuhan udang dalam program ini sebagai peran serta dari pelaku budidaya untuk mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas.

Harapan dan sambutan

Program pemerintah berupa pemberian makan bergizi gratis dapat menjadi stimulus bagi petambak udang jika program ini memasukan udang sebagai salah satu menu utama. Jika melihat kandungan yang terdapat pada udang, sudah selayaknya udang bisa dijadikan sebagai menu utama dalam Program Makan Bergizi gratis.

“Namun, melihat posisi udang selama ini diletakkan pada golongan menu mahal, apakah budget yang sebelumnya diprediksi Rp 460 T dan dalam pembentukan RAPBN 2025 diputuskan RP 71 T dapat mengakomodasi udang sebagai salah satu menu unggulan pada program makan bergizi gratis? Di sisi lain, KKP sudah mulai wacana akan menggalakkan budidaya ikan nila pada tambak-tambak mangkrak,” ujar Paian mengundang tanya.

Keraguan Paian senada dengan Aryo Wiryawan, Co-Founder sekaligus Chairman JALA Tech. Menurutnya, udang tidak akan masuk dalam daftar sumber protein yang digunakan dalam program makan gratis. “Faktor utama adalah harga. Dan saat ini, kementerian sudah menyiapkan program budidaya ikan nila untuk memenuhi protein hewani yang lebih murah,” ujarnya.

Meskipun begitu, masih ada yang berharap udang menjadi bagian dari menu MBG. Program makan bergizi gratis, mampu mengerek tingkat konsumsi protein hewani, khususnya udang di Indonesia,” demikian harapan Martinus Soesilo, Direktur Utama PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) yang bergerak di bisnis pengolahan udang. Menurutnya, program ini (MBG) akan memberikan dampak positif. Bukan hanya untuk perseroan, tetapi juga untuk industri makanan secara keseluruhan.
Sebagai pelaku usaha di bisnis udang, harapan Martinus itu wajar. Maklum, PMMP baru saja mencatatkan kerugian yang cukup besar pada kuartal II 2024. Besarnya hingga Rp210 miliar. Anjloknya penjualan udang dianggap menjadi biang kerok kerugian tersebut.

Pada awal bulan Oktober 2024, PMMP sendiri telah berpartisipasi dalam uji coba program MBG di 300 pesantren di wilayah Situbondo, Jawa Timur. Uji coba dilakukan 2 hari per minggu. “Kami mengajukan diri untuk menjadi partisipan dalam program MBG,” kata Martinus.

Penggunaan udang sebagai bahan pemasok protein pada MBG juga mendapat respon positif dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lombok Timur. ”Program ini merupakan program yang sangat bagus, semua sektor akan hidup. Memang minggu ini program MBG tertunda, tetapi Insya Allah bulan ini sudah berjalan,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Timur, M Zainuddin.

Salah satu tantangan yang dihadapi adalah antisipasi terhadap lonjakan permintaan ikan, baik ikan tawar, ikan tangkap, maupun udang. Namun, DKP sudah mempersiapkannya sejak akhir tahun 2024 dengan meningkatkan produksi ikan tawar, udang, ikan tangkap, serta berkoordinasi dengan pengusaha ikan di Lombok Timur. Bahkan, pengembangan budidaya udang dilakukan dengan menggunakan kolam bundar di beberapa tempat.

“Hasil produksi udang di NTB mencapai 140 ribu ton, dan Lombok Timur menjadi produsen terbesar kedua setelah Sumbawa. Jadi, kebutuhan dapur MBG Lombok Timur Insya Allah bisa tercukupi,” ungkap Zainudin.
Andi Tamsil berpandangan bahwa petambak hanya membutuhkan kepastian ukuran dan waktu. Dengan begitu, petambak bisa mengatur jadwal budidaya dan panen. Penyiapan sebaiknya tidak ke petambak akan tetapi ke pemasok yang melakukan panen atau Cold Storage.

“Apabila ada kejelasan jumlah kebutuhan, size, dan waktu; harga dapat lebih stabil melalui kontrak tahunan atau jangka panjang sehingga fluktuasi harga bisa diminimalkan,” jelasnya. (RA/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.