Genjot Produksi Udang, Komoditas Primadona Ekspor Indonesia

Genjot Produksi Udang, Komoditas Primadona Ekspor Indonesia
Tambak udang vaname (Dok. Istimewa)

Udang masih menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia. Contohnya, pada tahun 2018, komoditas ini menyumbang devisa sebesar USD 1,27 milyar atau 36,96% dari total nilai ekspor. Padahal, dipandang dari aspek volume, udang hanya menyumbang 18,35% dari keseluruhan volume komoditas yang diekspor.

Sementara itu, negara-negara yang menjadi tujuan ekspor komoditas tersebut antara lain AS, Jepang, Belanda dan China. Tidak berlebihan jika Presiden Joko Widodo telah mencanangkan target peningkatan nilai ekspor udang sebanyak 250% hingga tahun 2024.

Menanggapi target tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) menyusun Peta Jalan (roadmap) Pengembangan Udang Nasional untuk memastikan target yang ditetapkan dapat terwujud. DJPB KKP yang dikomandoi oleh Slamet Soebjakto dalam sambutannya pada acara pelatihan bisnis budidaya udang vaname skala ekspor berbasis teknologi di Jakarta akhir-akhir ini, optimis target tersebut dapat tercapai dalam waktu 5 tahun ke depan. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah investor, teknologi serta kecakapan pembudidaya dalam melakukan bisnis budidaya udang telah menunjukkan peningkatan yang menggembirakan.

“Untuk mendukung program tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan telah meminta kepada saya untuk meningkatkan produksi tambak mulai dari yang tradisional dengan melakukan transfer teknologi kepada pembudidaya. Selain teknologi, hal lain seperti penerapan SOP yang benar, sumber induk, sistem pembenihan, pengelolaan lingkungan hingga penanganan penyakit merupakan hal esensial yang harus diperhatikan dan diterapkan oleh pembudidaya,” jelas Slamet.

Dukungan Berbagai Pihak

Dalam uraiannya, Slamet melanjutkan, “Keberhasilan program budidaya udang yang berkelanjutan ini tidak dapat dipisahkan dari peran serta berbagai pihak. Untuk itu diperlukan sinergitas lintas sektor terutama dari sisi makro seperti dukungan dan kebijakan dari pemerintah daerah serta ketersediaan litrik dan BBM. Sedangkan dari sisi mikro seperti kualitas benih dan pakan, penyiapan wadah budidaya, optimaslisasi sarana produksi, hingga SDM yang mumpuni menjadi faktor yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan usaha”.

Ia menambahkan budidaya udang turut dibantu KKP melalui berbagai program prioritas seperti Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP), bantuan alat berat, bantuan benih, Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil, dan penataan kawasan Budidaya Udang Berbasis Klasterisasi.

Sebelumnya, sebagai percontohan KKP telah bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Mamuju Utara (kini Kabupaten Pasangkayu) membangun tambak udang semi intensif bebasis klaster sebanyak 2 klaster seluas 8 hektar di Desa Sarjo, Kecamatan Sarjo. Hasilnya, produktivitas meningkat dari 50 – 200 kg/ha menjadi 5.000 – 10.000 kg/ha. Selain itu pengembangan klaster kawasan budidaya udang  berkelanjutan juga akan dilakukan 4 (empat) Kabupaten wilayah utara yakni Kabupaten Buol (Sulawesi Tengah), Gorontalo Utara (Gorontalo), Bone Bolango (Gorontalo), dan Bolang Mogondow (Sulawesi Utara) yang telah dituangkan dalam nota kesepahaman sebagai bentuk komitmen bersama.

Slamet mengatakan, sebagai diversifikasi komoditas, KKP juga telah mendorong pengembangan udang asli Indonesia seperti udang Jerbung (Penaeus merguensis) dan udang putih (Panaeus indicus) yang akan dimasyarakatkan lebih luas pada tahun mendatang. Budidaya komoditas baru ini telah dilakukan uji multilokasi dengan hasil yang memuaskan dan dengan tingkat penyakit yang dapat dikendalikan hingga saat ini.  Tentunya komoditas ini akan dimasyarakatkan dengan menganut sistem budidaya yang berbasis lingkungan serta berkelanjutan.

Pengelolaan lingkungan yang baik merupakan salah satu  elemen penting keberterimaan pasar global terhadap produk udang Indonesia. “Dengan kedisiplinan, konsistensi dan keinginan untuk belajar yang kuat dari pembudidaya, saya optimis target yang dicanangkan oleh pemerintah dapat tercapai,” pungkas Slamet.

Optimis Target Tercapai

Target yang dipatok pemerintah melalui KKP oleh DJBP, mendapat respon positif dari para pelaku bisnis. Sebagai contoh, Aqua Technical Support Manager PT Kemin Indonesia, Agus Suryadi memprediksikan, tantangan ini akan terjawab secara bertahap di tahun 2020. Hal ini, paparnya bila wabah penyakit dapat dikendalikan, teknologi manajemen air semakin berkembang, konvensional, biofloc ataupun synbiotic.

Agus melanjutkan, material pendukung tentu saja menyesuaikan dengan kebutuhan situasi budidaya. Pencegahan kontaminan penyakit yang baru dari negara luar seperti China harus betul-betul ketat. Dengan demikian, target peningkatan konsumsi ikan termasuk di dalamnya target produksi udang tahun 2024 mencapai 70 kg/kapita per tahun dapat tercapai.

Di pihak lain, senada dengan pendapat Agus Suryadi, Ketua Petambak Muda Indonesia Rizky Darmawan, memprediksikan hal yang serupa. Peningkatan produksi dapat dilihat dari semakin meningkatnya investasi. Menurutnya, banyak pelaku industri lama yang melakukan ekspansi, begitu juga dengan para pelaku industri yang baru terjun. Hal ini ditambah lagi dengan Menteri KKP yang fokus untuk membenahi perizinan dan regulasi yang menghambat perkembangan sektor pertambakan.

“Faktanya, sudah banyak aspirasi yang diserap. Kita tinggal menunggu eksekusi di lapangan. Khususnya masalah regulasi yang kerap berbeda antara pusat dan daerah,” kata Rizky

Rizky pun menyebutkan dukungan KKP dalam Rakornas menyatakan bahwa budidaya vaname akan menjadi fokus institusinya ke depan. Hal ini karena sektor ini memiliki potensi dan nilai yang cukup tinggi. “Berdasarkan data yang dikeluarkan GPMT, produksi pakan udang sangat cukup. Malah perlu meningkatkan permintaan karena kapasitas produksi maksimal anggota GPMT masih jauh lebih tinggi,” ujar Rizky.

Peningkatan Produksi Bertahap

Tidak hanya itu, Ir. Coco Kokarkin Soetrisno, M.Sc, Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, KKP pun mengungkapkan optimismenya. “Pertama, kita jalin dulu sistem komunikasi antara pemerintah dengan para pembudidaya dan asosiasi-asosiasi dengan anggotanya. Kedua kita bereskan induk yang tidak berkualitas, atau pun induk yang sudah tersedia tapi tidak kunjung datang. Jika faktor pertama sudah dibereskan, produksi kita dengan sumberdaya yang ada saja akan naik 20%. Hal ini karena peningkatan keberhasilan dan berkurangnya penyebaran penyakit horizontal, yaitu dari tambak ke tambak. Hal ini jika dipadukan dengan faktor kedua, peningkatan lain akan diraih sebesar 10 hingga 15%,” paparnya yakin.

Tambah Coco, jika tambak-tambak yang tahun ini tengah dibangun, kemudian mulai beroperasi di semester kedua pada tahun 2020, produksi juga akan naik dengan raihan 5 hingga 10%.

Target yang dipatok pemerintah melalui KKP dengan program kenaikan 250% selama lima tahun, Dardjono, Kepala UPTD Lamtim, bersikap optimis. “Kalau melihat program KKP yang naik 250% selama 5 tahun, saya optimis. Ini asal diimbangi dengan program, seperti revitalisasi saluran, sarana dan prasarana, dan pengendalian penyakit melalui pendamping oleh BKIPM,” tutup Coco.

Tantangan Akan Selalu Ada

Terkait target peningkatan produksi udang KKP, Mulkan Nuzapril, Aquaculture Specialist. PT. Novindo Agritech Hutama, berkomentar. “Budidaya udang vaname masih akan menjadi prospek besar dalam bidang budidaya. Ditambah lagi, program KKP yang menjadikan akuakultur sebagai prioritas kebijakan untuk 5 tahun ke depan terutama untuk peningkatan ekspor udang vaname,” kata Mulkan.

Tantangan dan isu yang utama dalam budidaya udang vaname secara global yaitu adalah penyakit yang masih banyak menghantui petambak ditambah lagi dengan dampak perubahan iklim (climate change).

National Sales Manager PT Indonesia Evergreen Feed Guntur Binaraja, mengungkapkan hal yang senada. “Terkait produksi, kita mesti tetap memompa optimisme bahwa 2020 akan meningkat dan lebih baik dibanding 2019 dan produsen pakan tentu berupaya menyiapkan produk yang baik dalam jumlah yang cukup,” terang Guntur.

Mengenai  penyakit, Guntur mengatakan, semua memahami bahwa daya virulensinya semakin meningkat namun petambak selalu mempunyai kiat untuk mencari solusinya. Ia berharap, cuaca dan musim di tahun ini lebih bersahabat mendukung budidaya.

Mengenai tantangan dan ancaman penyakit, hal ini juga diungkapkan oleh Rizky. Ia berkata, penyakit masih menjadi musuh utama petambak. Ia berharap tidak ada penyakit baru muncul yang akan mengganggu produksi udang Indonesia.

Dicky Wicaksono, Wakil Ketua SCI Jabar Banten, menuturkan pemikirannya. “Kalau melihat kondisi saat ini, perhatian KKP terhadap para petambak budidaya sangat baik. Ini terutama dari aspek komunikasi. Tinggal kita tunggu aplikasinya di lapangan, mudah-mudahan dapat dirasakan di tahun 2020 ini”.

Dicky berharap, ke depannya, KKP dapat mendorong dan membantu petambak udang di lapangan, agar produksi bisa meningkat. “Target saya sih, tidak perlu banyak dulu, mungkin sekitar 10 – 20%. Tapi, kalau kebijakan pemerintah masih kurang mendukung, dengan kata lain penutupan tambak udang masih terus terjadi, rasanya sulit ada kenaikan produksi,” ungkapnya.

Perlu Sinergi Pemerintah dan Pelaku Bisnis

Dicky menekankan mengenai perlunya kerjasama yang baik antara pemerintah dan asosiasi udang atau SCI. Kerjasama dibidang pengembangan teknologi budidaya, mengadakan pelatihan, penyuluhan kepada pembudidaya, baik pemilik maupun teknisi tambak, tentang bagaimana cara budidaya udang yang baik.

Hal ini juga mengenai penyebab-penyabab munculnya penyakit udang, bagaimana cara mencegah agar penyakit tidak masuk dan bagaimana cara melakukan trouble shooting di lapangan. Jika cuaca biasanya di musim bediding di bulan Juni sampai Agustus, pertumbuhan udang menjadi lambat.

Untuk itu, peru diatur waktu penebaran benur supaya sesuai dengan musim bediding udang. Atau pun, jika terdapat sumber air tawar, perlu diatur supaya salinitasnya tidak terlalu tinggi sehingga udang masih tetap tumbuh.

Selanjutnya, tinggal kualitas benur yang harus mendapatkan perbaikan. Kemudian, Dicky pun mengungkapkan mengenai jarak hatchery dan petambak yang perlu dipertimbangkan. Menurutnya, lebih dekat jaraknya, akan lebih baik. Harapannya, setiap daerah sentra budidaya udang mempunyai beberapa hatchery yang dapat menyediakan benur dengan kualitas yang bagus. Ini mengingat, masih ada daerah sentra produksi udang yang jauh dari penyedia benur. (Noerhidajat/Adit/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.