Awal Tahun, Produk Akuakultur Catat Nilai Ekspor Dominan

Awal Tahun, Produk Akuakultur Catat Nilai Ekspor Dominan
Awal Tahun, Produk Akuakultur Catat Nilai Ekspor Dominan
Saat panen ikan (Dok. Humas DJPB)

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengawali kinerja tahun 2020 dengan  membukukan nilai ekspor produk akuakultur yang positif di awal tahun 2020. Hal ini ditandai dengan dilakukannya ekspor perdana yang dilakukan PT Japfa Comfeed Indonesia dengan total nilai sebesar Rp. 13,3 milyar, masing-masing produk fillet ikan nila senilai Rp. 3,4 milyar dengan tujuan ekspor USA; olahan ikan nila senilai Rp. 3,5 dengan tujuan ekspor Filipina; dan olahan ikan sidat dengan nilai Rp. 6,1 milyar dengan tujuan Jepang. Selain produk olahan ikan, dilakukan juga ekspor pakan senilai Rp. 300 juta ke Timor Lestee.

Kegiatan ekspor tersebut dilakukan secara serentak. Senin (13/1) yakni Banyuwangi Jawa Timur, Medan Sumatera Utara dan Cirebon Jawa Barat. Dari catatan yang diterima KKP, tahun 2019 ekspor perusahan tersebut didominasi oleh produk akuakultur dengan nilai lebih dari Rp. 438 milyar. Nilai ini tercatat naik signifikan yakni sebesar 54% dari tahun 2018 yang mencapai Rp. 284 milyar.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto saat dimintai tanggapannya di Jakarta. Senin (13/1) menyatakan KKP sangat mengapresiasi upaya pihak swasta dalam hal ini PT Japfa Comfeed Indonesia yang terus fokus dalan pengembangan akuakultur, khususnya komoditas yang orientsasi ekspor seperti udang, nila dan sidat.

Menurut Slamet, sejauh ini produk akuakultur memperlihatkan tren perkembangan ekspor yang sangat positif. “Komoditas udang memberikan share hampir 40% terhadap total ekspor perikanan. Apalagi ini ada sidat yang justru sangat berpeluang dalan menggenjot devisa ekspor,” jelas Slamet.

“Mulai saat ini kami tengah merancang bagaimana produktivitas akuakultur ini bisa terus digenjot, meningkatkan efisiensi dan nilai tambah melalui pengelolaan yang terintegrasi dan ramah lingkungan. Tentu kami akan gandeng private sektor dan memfasilitasinya guna memastikan iklim usaha dan investasi bisa kondusif. Satu satunya jalan agar sub sektor akuakultur memberikan kontribusi besar bagi pertumban ekonomi kita harus genjot ekspor melalui industrialisasi,” tegas Slamet.

Slamet juga menambahkan bahwa semakin meningkatnya ekspor produk akuakultur menunjukkan bahwa kualitas produk, manajemen ketelusuran dan jaminan keamanan pangan semakin baik. Ia menyampaikan apresiasi yang tinggi atas keberhasilan ekspor pakan yang dilakukan. “Ekspor pakan ini luar biasa, karena selama ini kita impor, bahan baku utama seperi tepung ikan dan kedelai,” tutur Slamet.

Sementara itu Head of  Aquaculture Division PT. Japfa Comfeed Indonesia, Ardi Budiono, saat dimintai keterangan mengatakan bahwa sebelumnya pihak perusahan telah beraudiensi dengan Menteri KP Edhy Prabowo guna menyatakan komitmennya dalam mengembangkan akuakultur nasional, khususnya untuk komoditas udang, nila dan sidat untuk orientasi ekspor.

“Ekspor perdana mengawali tahun 2020 ini, bukti komitmen kami untuk berkontribusi dalam meningkatkan devisa ekspor melalui produk produk akuakultur. Kalau melihat komposisi jenis komoditas yang diekspor di tahun 2019, justru ikan sidat memberikan kontribusi yakni dengan nilai mencapai Rp. 31 milyar. Saya rasa ini komoditas akuakultur yang kedepan bisa jadi fokus pengembangan,” jelas Ardi.

Ditanya terkait seberapa jauh keberterimaan produk akuakultur nasional di pasar ekspor, Ardi mengatakan bahwa preferensi negara buyer terhadap produk akuakultur asal Indonesia cukup tinggi. Terlebih menurutnya produk akualultur Indonesia telah terjamin dari aspek keamanan pangannya.

“Saya rasa ini jadi nilai tambah tersendiri bagi kita untuk mendorong supply share ekspor kita di berbagai negara tujuan utama seperti USA, UE, Jepang dan negara negara tetangga Asean”, pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas yang juga turut hadir dalam kegiatan pelepasan ekspor mengatakan pentingnya berkoordinasi dan berkerjasama untuk membangun sektor perikanan, khususnya di Banyuwangi.

“Koordinasi itu penting dan saya rasa ini sudah mulai dilakukan KKP dengan pihak Pemda. Kami berkomitmen untuk menjadikan sektor ini menjadi unggulan ekonomi daerah. Oleh karenanya, dukungan Pemerintah Pusat menjadi sangat penting”, ungkap Anas.

Genjot Produksi Sidat

Melihat kinerja ekspor sidat yang naik signifikan dengan nilai ekspor tinggi, komoditas ikan sidat menjadi komoditas unggulan budidaya yang berpeluang untuk dikembangkan.

Ikan sidat (Dok. Humas DJPB)

Dalam laporan resmi yang diterima KKP menyatakan pihak perusahaan saat ini telah mengembangkan budidaya sidat. Salah satunya di desa Bomo Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi. Menurutnya budidaya ini juga melibatkan masyarakat melalui kemitraan.

Sementara itu Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan bahwa pihaknya juga akan fokus memfasilitasi pengembangan budidaya sidat di kawasan kawasan potensial. Untuk sidat, pemerintah terus mendorong pengembangannya. Namun karena benih sidat masih mengandalkan dari alam jadi pemerintah menghimbau masyarakat melakukan pengelolaan secara terukur dan bertanggungjawab, khususnya menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, ukuran benih yang sesuai ketentuan dan menjamin habitat sidat terjaga dengan baik.

“Dalam hal pengelolaan sidat, KKP sudah punya payung hukum jelas, sehingga pemanfaatannya bisa terukur. Satu sisi stok lestari, disisi lain budidaya juga terus berkembang. Apalagi permintaan sidat, khususnya ke Jepang tinggi. Disamping itu segmen usaha pembesaran sidat telah secara nyata mengangkat ekonomi masyarakat,” pungkas Slamet. (Adit/Humas DJPB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.