Tingkatkan Produksi, Jadikan Indonesia Jawara Udang Dunia

Tingkatkan Produksi, Jadikan Indonesia Jawara Udang Dunia
Panen udang vaname (Dok. Ilustrasi Istimewa)

Dengan panjang garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, Indonesia memiliki potensi produksi vaname terbesar di dunia. Mari kita solid untuk menjadikan Indonesia produsen vaname terbesar sejagay raya, menggeser China, India dan Vietnam.

Hal tersebut diungkapkan oleh Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2000-an, sekaligus Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI). Menurutnya, secara prinsip, prospek usaha budidaya udang vaname di Indonesia cerah. Hal ini didukung beberapa alasan sebagai berikut. Pertama, dukungan pasar, pasar domestik maupun ekspor akan terus meningkat seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk, daya beli masyarakat membaik, dan kesadaran akan nilai gizi dan kelezatan udang vaname.

Ini tidak seperti ikan karena udang vaname tidak ada substitusinya. Faktor kedua, lanjut Rochmin, adalah dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan semakin berkembangya Iptek, budidaya vaname menjadi semakin produktif, efisien dan ramah lingkungan. Sehingga, kendala terkait penyakit, pakan dan cuaca bakal semakin bisa dikelola dengan baik.

Seiring dengan permintaan pasar yang cenderung naik terhadap komoditas udang, produksi dalam negeri pun merangkak naik. Terkait produksi, salah satu narasumber, Teguh Setyono Manager Budidaya Tambak PT Dua Putra Perkasa, memprediksi terjadi peningkatan produksi udang di tahun ini. Hal ini berdasarkan pengalaman tahun lalu. Kecuali, jika terjadi hal-hal yang di luar dugaan, misalnya wabah penyakit, bencana, dan lain-lain.

Sebagai contoh, dalam 3 bulan terakhir di perairan Bengkulu Selatan, panen mulai membaik dibandingkan awal tahun 2019. Mulai Juli 2019, sepertinya budidaya udang cukup kondusif dan mendapatkan panen yang baik. Jika ada yang masih belum memuaskan, persentasenya sudah turun dibandingkan masa sebelumnya.

Nuke, Teknisi Mobile PT. Suri Tani Pemuka JAPFA Group di Lampung Timur, berpendapat serupa. “Menurut saya, harusnya produksi budidaya udang vaname di Indonesia di tahun 2020 meningkat. Paling tidak, kondisinya lebih baik daripada tahun 2019. Syaratnya, para petambak atau owner, teknisi/praktisi serta stakeholder terkait untuk selalu melakukan pemutakhiran perkembangan ilmu budidaya udang. Pasalnya, sekarang banyak pola, sistem bahkan teknologi yang telah dikembangkan untuk mendukung produktivitas. Semua pemangku kepentingan harus bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak membuang limbah langsung ke lingkungan,” ungkap Nuke.

Perlu Ditopang Sistem Budidaya Baru

Sementara itu, di tempat terpisah, Dedi Cahyadi, CEO PT Nanobubble Karya Indonesia, menyampaikan optimismenya pada Redaksi Infoakuakultur mengenai cerahnya budidaya udang di tahun ini. “Di tahun 2020, produksi udang akan meningkat walaupun tidak signifikan. Hal ini didasari dengan banyaknya masyarakat ataupun perusahaan yang mengonstruksi kolam-kolam baru untuk budidaya udang vanname,” tuturnya.

Dedi melanjutkan, peningkatan produksi udang vaname skala budidaya ini diestimasikan karena adanya serangan penyakit yang terus-menerus menyerang udang yang dipicu oleh kualitas air yang buruk, baik itu karena cuaca ataupun kontaminan. Sehingga, pembudidaya kedepannya akan menurunkan jumlah padat tebarnya untuk mengurangi resiko yang akan dihadapi ketika gagal panen.

Salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan untuk menjaga udang agar tetap sehat, kata Dedi, adalah dengan mengendalikan kualitas air setiap hari dan juga menentukan jenis dan jumlah pakan yang sesuai takarannya. Dalam fungsi menjaga serta meningkatkan kualitas air budidaya, para petambak dapat menerapkan teknologi nanobubble, sebuah mesin penghasil air beroksigen tinggi dalam ukuran nanometer sehingga baik udang maupun petambak dapat hidup sehat dan bahagia.

Di lain pihak, Darminto Ketua Fortel Banyuwangi, menyampaikan pesannya untuk tetap waspada kepada para pembudidaya. Menurutnya, meskipun prospek budidaya udang cerah di tahun 2020, banyak hal yang harus diantisipasi, antara lain adalah serangan penyakit, baik virus, bakteri maupun hama. Pasalnya, keberlangsungan dan kesuksesan budidaya udang sudah tentu banyak faktor yang menentukan. Di samping faktor kewaspadaan terhadap adanya serangan penyakit, ia menekankan untuk mencoba mencoba sistem budidaya udang yang baru.

Ichtiyatmoko, Marketing Pakan Udang Global Feed De Heus, pun menekankan pendapat serupa. Menurutnya, budidaya udang vaname masih sangat menarik karena pabrik pakan udang dari luar negeri banyak menanam investasi di Indonesia. Induk Konabai juga akan lebih intens menggarap hatchery di Indonesia.

Terkait dengan inovasi teknologi dalam teknik budidaya, Moko mengambil contoh para petambak lokal yang melakukan peralihan metode budidaya di Jawa Timur. “Pemain (petambak, red) lokal, terutama yang menetap di Jawa Timur akan mati-matian menggunakan teknologi yang tepat. Sehingga, setiap saat akan berganti teknik budidaya atau lebih dinamis. Misalnya, mereka beralih dari sistem plankton ke sistem flok, selanjutnya ke synbiotik, dan sebagainya. Pemain luar, orang jatim budidaya di Sulawesi, setelah menemukan system yang berhasil, maka system tersebut akan dijalankan terus. Tetapi, budidaya di luar Jawa, memerlukan biaya tinggi sehingga kepadatan tebarnya juga lebih tinggi,” jelasnya.

Pentingnya menggunakan sistem budidaya berkelanjutan ini juga diungkapkan oleh Bakti Teknisi Tambak. Menurutnya, prospek budidaya masih sangat menjanjikan dan sangat menguntungkan asalkan disertai dengan dengan teknologi budidaya yang baik dan berkelanjutan.

Raih Target Produksi, Kenalkan Varietas Udang Lain

Terkait perlu dilakukannya untuk melakukan diversifikasi udang selain vaname, hal ini dikemukakan oleh Warisman dari PT Biosindo. Ia ungkapkan bersamaan dengan ekspresi optimismenya mengenai peningkatan produksi udang vaname di tahun 2020. Meskipun demikian, ancaman penyakit akan selalu ada, tuturnya.

Hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah yaitu perbaikan kanal, mekanisme perizinan, upaya memunculkan varietas baru, yaitu dengan mendorong popularitas udang jerbung. Selanjutnya, perlu dilakukan mediasi dengan KKP untuk penanggulangan penyakit.

Di samping udang vaname, konon memang udang jerbung (Penaeus merguiensis) disebut-sebut sebagai masa depan bisnis udang nasional. Upaya untuk mengenalkan udang varietas ini merupakan salah satu yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor benih udang vaname.

Untuk itu, berbagai pihak tengah berupaya untuk melakukan produksi benih secara massal jenis udang ini. Budidaya udang jerbung merupakan salah satu alternatif bisnis udang yang mengutamakan spesies lokal.

Ditanya mengenai prediksi produksi, Agnes Heratri, Direktur CV Pradipta Paramita memperkirakan akan terjadi peningkatan budidaya udang di tahun 2020 ini. Penyakit-penyakit yang masih menjadi ancaman serupa seperti di tahun-tahun sebelumnya. Ia berpendapat, penyakit-penyakit tersebut dapat dikendalikan jika dilakukan perawatan air dan dengan penggunaan zat-zat immunostimulan, dan probiotik. Hal ini tidak berlaku untuk tambak-tambak yang airnya sangat tercemar dan nyaris rusak.

Perlu Peningkatan Efisiensi Biaya

Meskipun beberapa narasumber optimis mengenai kenaikan produksi udang vaname di tahun 2020, tidak demikian dengan Aryo Wiryawan, Chairman and Founder JALA, Start Up Monitor Tambak Udang. Ketika dihubungi Redaksi Info Akuakultur, Ia berpendapat, harga sepertinya belum ada tanda-tanda pergerakan naik yang signifikan. Oleh karena itu, Ia menyarankan agar pembudidaya fokus pada efisiensi biaya budidaya.

“Target SR (survival rate) dan FCR (feed conversion ratio) yang baik harus semakin diperhatikan, terutama untuk petambak rakyat yang selama ini efisiensi biaya rendah,” kata Aryo.

Hal tersebut tidak terlepas dari tidak tercapainya SR dan FCR yang ideal. Ia melanjutkan, penggunaan teknologi untuk memantau kondisi budidaya akan sangat membantu untuk mencapai target tersebut. Lebih lanjut, ia mengutarakan, anomali cuaca (suhu ekstrim di beberapa wilayah) seperti di tahun 2019 sepertinya tidak akan terjadi lagi.

Seperti halnya narasumber lain, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Takalar Supito, mengungkapkan harapannya terkait dengan target dan peningkatan produksi udang. “Insyaallah justru meningkat dengan pengembangan usaha  skala rumah tangga. Terkait dengan efisiensi biaya produksi, ia menambahkan aspek modifikasi aerasi tambak. “Dengan model kontruksi tambak kecil dalam kisaran 1000 m2, modifikasi aerasi sehingga dapat membuat biaya produksi lebih efisien,” ungkapnya.

Budidaya Udang Masih Menguntungkan

Di pihak lain, Country Manager Biochem Indonesia Veny Wibowo, mengutarakan hal serupa ketika ditanya aspek ekonomis budidaya udang. “Sepanjang yang kami amati dari tahun ini untuk ke depan potensi dan prospek masih bagus. Dari hitungan BEP (titik impas, red) masih besar rangenya. Di udang, BEP dari biaya produksi, pakan, tenaga kerja, dan lain-lain berkisar 36 – 40rb an. Sedangkan, harga jual dapat mencapai 90 – 100rb an,” tutur Veny.

Ia menambahkan, yang menjadi masalah adalah kondisi lingkungan yang semakin buruk. Hal ini sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan budidaya. Sehingga, para petambak mulai mencari langkah preventif untuk menanggulangi masalah terkait ketahanan udang.

Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Technical Support , PT. Suri Tani Pemuka Rudy Kusharyanto. Menurutnya, prospek budidaya udang vaname di tahun 2020 masih sangat cerah, apalagi dengan terus berkembangnya daerah-daerah produksi baru udang vaname misalnya Pulau Bangka, Padang, serta daerah timur Indonesia.

Ini akan memberikan kontribusi terhadap kenaikan produksi udang Indonesia di tahun 2020. “Di tambah lagi, saat ini dengan kepemimpinan Pak Edhy Prabowo selaku Menteri KKP yang baru terlihat sangat concern dengan kebijakan-kebijakan untuk mengembangkan sektor budidaya tentu menjadi energi tersendiri bagi petambak dan pelaku budidaya,” paparnya.

Rudy berharap, kedepan, dengan dukungan pemerintah yang memberikan regulasi yang mendukung budidaya, hal ini dapat mendorong petambak untuk bisa terus berbudidaya dengan antusias.

Menurut DVM PT Kalbe Farma Suhardi Sarkim, prospek budidaya udang vaname di tahun 2020 masih tetap bahkan lebih menjanjikan dibanding usaha peternakan maupun perikanan lainnya. Hal ini karena pasarnya meliputi dalam negeri maupun ekspor ke luar negeri.

“Tidak banyak petambak ataupun pebisnis lain yang mampu mengelola bisnis ini. Sehingga hanya pengusaha dan para teknisi berpengalaman yang selalu inovatif, kreatif dan mau mencoba hal-hal yang baru saja yang akan mampu meningkatkan produktivitas budidaya udang vaname ini,” ujarnya.

Tantangan Harus Dihadapi

Terlepas dari semua itu, kata Rudy, tentu ada hal-hal yang masih menjadi penghambat peningkatan produksi di tahun 2020, misalnya penyakit udang yang masih menjadi momok bagi pembudidaya, di antaranya EHP, WSSV, IMNV, dan lain-lain. Selain itu, mengenai harga udang yang masih fluktuatif, faktor cuaca tentu yang harus tetap diantisipasi agar target produksi yang di canangkan dapat terealisasi.

“Untuk pakan udang sendiri, tahun 2020 menjadi menarik terutama dengan datangnya beberapa merek pakan baru dari luar yang ikut meramaikan penjualan pakan di Indonesia. Di satu sisi, petambak akan diberi banyak pilihan pakan dengan plus minusnya. Di sisi lain, dengan hadirnya merek-merek pakan baru dari luar negeri, diprediksi akan terjadi persaingan yang makin ketat  dalam memasarkan produk pakan,” imbuhnya.

Salah satu praktisi bisnis udang, Asiyah, owner RIZ Samudera, berpendapat serupa. Ia masih optimis mengenai budidaya vaname dan dirasa masih terus berkembang dengan mengikuti perkembangan teknologi penunjang budidaya Namun, ia menekankan, hal ini harus diimbangi dengan peran serta pemerintah turut membantu dan memberi kemudahan perizinan pelaku budidaya sehngga bisnis budidaya udang vaname tetap menjanjikan.

Di samping itu, Suhardi mengutarakan mengenai pentingnya beradaptasi dengan perubahan iklim. “Perubahan iklim berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya terutama antara suhu lingkungan yang tinggi ditambah panas bumi dan curah hujan yang tidak menentu. Hal ini akan berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap daya tahan tubuh udang, perkembangan dan penyebaran penyakit dan kematian serta produktivitas udang,” pungkasnya.

Menurut hematnya, kejadian penyebaran penyakit udang, akan tetap besar karena daerah budidaya udang vaname yang sudah terkait satu dengan lainnya. Sehingga, pencemaran air sebagai sumber utama kehidupan udang, takkan terhindarkan. Oleh karena itu, lanjutnya, program biosecurity harus diterapkan dan diterapkan secara menyeluruh untuk semua petambak udang.

Pentingnya pemilihan desinfektan, kata Suhardi, petambak harus jeli seperti penggunaan desinfektan spektrum luas yang bisa membunuh semua jenis mikroba pathogen sekaligus pengendalian vektor perantaranya, sangat diperlukan. “Bila perlu dilakukan rolling pemakaian beberapa jenis/kelompok desinfektan. kan dapat membantu menekan penyebaran mikroba pathogen. Di samping spektrum luas tersebut, salah satu kriteria desinfektan yang bisa dijadikan pilihan adalah yang mudah terdegradasi dengan mudah oleh alam sehingga aman dlm pemakaian, ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu baik di tambak maupun tubuh udangnya sendiri,” terangnya pada Redaksi Info Akuakultur. (Noerhidajat/Adit/Resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.