Kunci Sukses Sarana Pendukung Produksi Udang

Peranan industri obat sebagai pendukung kegiatan budidaya udang. Lebih baik mencegah daripada mengobati, harus dipegang erat oleh petambak dan juga produsen obat”,

 

Demikian disampaikan, Mohammad Nadjib, Direktur PT IANDV BIO Indonesia dan PT Invendo Akuakultur Konsultan. Perusahaan obat-obatan tentu harus memiliki kehandalan technical support. Pasalnya, penggunaan yang tidak tepat akan menjadi tidak efisien. Di samping itu, citra perusahaan/ produk menjadi buruk.

Menurut Bagyo Ariyantono, Technical Support Manager Jawa Bali, PT Newhope Aquafeed Indonesia, strategi untuk perusahaan obat ikan dan udang yaitu membantu petambak dengan cara transfer teknologi melalui pendampingan yang dilakukan perusahaan obat, dengan SOP yang telah disediakan.

Lebih jauh, ia berpendapat, peningkatan biaya produksi pasti terjadi, seiring naiknya bahan baku dan kimia. Namun penjualan hasil panen akan tetap bagus untuk udang ukuran besar. Strategi yang dicanangkan pemerintah yaitu meningkatkan produksi dengan cara peningkatan densitas tebar, contohnya kolam bulat.

Harapannya yaitu sudah saatnya pemerintah mempermudah dan memperpendek dalam hal perijinan bagi investor muda millenial yang sekarang mulai melirik bisnis sektor ini.

Merebaknya penyakit AHPND

Secara umum, Wayan Agus Edhy, Praktisi Budidaya Udang, menjabarkan kondisi budidaya udang saat ini, yaitu merebak penyakit AHPND. Wayan melanjutkan, di beberapa daerah saat ini merebak penyakit acute hepatopancreatic necrosis disease yang disebabkan oleh bakteri Vibrio parahaemolyticus.

Penyakit ini menyebabkan kematian  udang yang sangat massif. Pada awalnya bakteri ini menyerang udang pada usia di bawah 30  hari, sehingga lebih dikenal dengan sebutan early mortality syndrome (EMS). Tetapi akhir akhir ini  juga menyerang udang besar yang mendekati usia panen.

Namun demikian, di tengah tengah merebaknya penyakit AHPND ini ternyata banyak juga tambak yang bagus hasil panennya dapat meraih ukuran 20 – 50. Merebaknya bakteri vibrio ini lebih disebabkan oleh pengelolaan bahan organik di dalam tambak maupun bahan organik yang ikut air buangan tambak.

Pengelolaan air buangan tambak sangat penting agar lingkungan perairan umum tidak tercemar. Kandungan organik total (TOM) tetap di bawah ambang batas sehingga populasi bakteri pathogen bisa terkendali.

Namun, jika serangan penyakit tidak bisa ditanggulangi, pembudiaya harus siap-siap menginjak rem darurat. Menurut Budianto Tan, Owner Tambak BBM Jayo dan Direktur PT Hari Tua Ceria (Biotrent-Plus), untuk mengendalikan resiko kerugian yang besar, perlu juga cut loss segera (panen total). Jika hitungan ekonomisnya sudah tidak menguntungkan.

“Seringkali petambak terjebak dan menunda panen. Padahal survival rate (SR) sudah drop karena udang terkena penyakit. Ini menyebabkan kerugian yang besar pada 1 siklus budidaya,” terang Budianto.

Maka diperlukan bagian keuangan yang kuat, secara berkala menghitung nilai ekonomi tiap-tiap blok tambak udang. Hal ini agar selalu diperbarui sesuai kondisi terkini budidaya untuk meminimalisasi kerugian dan meningkatkan keuntungan saat siklus budidaya terlihat baik.

Sederhanakan perizinan usaha

Terkait perizinan berusaha, Bambang Widigdo, Guru Besar bidang Manajemen Sumberdaya Perairan di Institut Pertanian Bogor (IPB), menyarankan perlu penyederhanaan perizinan usaha tambak. “Saat ini prosesnya masih dirasa cukup panjang dan kurang menyemangati pelaku,” ungkapnya.

Menurutnya, regulasi pemerintah untuk mengharuskan tambak semi intensif dan intensif untuk menyediakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) merupakan langkah yang tepat. IPAL ini dapat mengurangi beban pencemaran kawasan pesisir sebagai sumber air untuk kegiatan tambak yang harus dijaga kualitasnya.

“Saat ini pemangku kepentingan, salah satunya Forum Udang Indonesia (FUI) sedang gencar mensosialisasikan SOP budidaya udang tradisional plus dan mendapat sambutan positif baik oleh dinas provinsi/kabupaten/kota maupun masyarakan petambak itu sendiri,” papar Bambang.

Perizinan berbasis risiko

Penyederhanaan perizinan berusaha juga diungkapkan oleh Cicik Kurniawati, Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Kota Batam. Menurutnya, hal ini menjadi strategi dalam menghadapi tantangan pada masa pandemi. Memberikan kemudahan perizinan usaha pembudidayaan ikan seperti yang saat ini diterapkan melalui One Single Susmision (OSS) dengan PP No. 5 Tahun 2021 tentang perizinan berbasis resiko sesuai amanat UU no 11 tahun 2020.

Berikutnya, menurut Cicik, mempermudah akses legalitas lahan dengan menetapkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) lengkap dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang memberikan kepastian dalam investasi usaha budidaya Udang.

Ketiga adalah menyiasati daya beli masyarakat yang rendah menarik investasi dalam industri pengolahan udang seperti udang kupas, udang beku, olah udang setengah jadi dan olahan udang siap saji untuk memenuhi pasar ekspor ke Amerika, Eropa, Jepang dan Asia. Diharapkan industri-industri inilah yang akan menyerap produksi udang nasional.

Dukungan teknis tingkatkan produksi udang

Menurut Agung Hartono, Head Sales Geosynthetic, Sales and Marketing PT Kencana Tiara Gemilang, ke depan, strategi yang akan dilaksanakannya itu melebarkan pasar ke negara-negara lainnya dengan kualitas dan kuantitas yang terus meningkat dengan harga bersaing.

Salah satu strategi untuk meningkatkan produksi di antaranya perbaikan sistem kolam yang dapat melindungi udang dari penyakit contohnya menggunakan lapisan kedap air, misalnya material HDPE.

Material ini dapat mencegah tercampurnya pencemar dari tanah yang membawa penyakit dengan air tambak, mencegah resapan air yang tinggi terhadap tanah, serta mempermudah petambak dalam proses pemeliharaan dan pembersihan. Kualitas membrane HDPE harus kuat, tahan bocor dan terbuat dari material food grade. (noerhidajat/adit/resti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *