“Budidaya udang sistem RAS lebih terjangkau karena tidak memerlukan area lahan yang luas, peralatan lebih sederhana, lebih murah, dan bisa menjawab tantangan masa depan!“
Demikian testimoni yang sering terdengar tentang RAS atau Resirculating Aquaculture System, sebagaimana diungkap Maono Van Daswan, Regional Sales Manager PT Grobest Indomakmur. Bahkan, dalam sistem RAS, kepadatan tebar bisa lebih ditingkatkan sampai 1.000 ekor/m3.

“RAS adalah sistem budidaya udang atau ikan dengan sistem resirkulasi. Prinsipnya menggunakan kembali air untuk budidaya udang sehingga dapat mengurangi penggunaan air dari luar sistem. Dalam pelaksanaan resirkulasi, air sudah mengalami tahapan filterisasi dan sterilisasi,” ujar Maono.
Pendapat senada diungkap Indah Okta, Marketing PT Juara Biolife Solution. Menurutnya, RAS merupakan sistem akuakultur yang menawarkan sebuah teknologi tambak budidaya alternatif melalui perawatan air dan penggunaan kembali. “Sistem ini merupakan pengembangan dari sistem akuakultur tertutup yang mencakup sistem perkolaman untuk pemeliharaan biota budidaya, sistem filtrasi, dan sistem manajemen kualitas air untuk menjaga dan menstabilkan kualitas air,” terang Indah.
“Sesuai dengan sebutannya, resirculating, yaitu memutar atau mengedarkan. Kolam dengan sistem ini memanfaatkan air secara terus-menerus sehingga air kolam terjaga kualitasnya. Adapun sumber air yang digunakan adalah air buangan yang sudah diolah, baik secara fisika, kimia, dan biologis sebelumnya,” tutur Paian Tampubolon, Technical & Marketing Area PT Thai Union Kharisma Lestari.
Terkait kualitas air budidaya, Achmad Jerry, CEO Venambak, menyatakan bahwa beban limbah yang terbentuk maupun terlarut selalu berbanding lurus dengan kepadatan tebar komoditas budidaya yang dikembangkan. RAS merupakan sistem budidaya dengan mengurangi beban limbah yang ada di dalam kolam budidaya melalui perlakuan air dalam beberapa tahapan filtrasi. Proses pemisahan limbah dari air budidaya dilakukan sejak dari dalam kolam budidaya, di luar kolam, hingga kembali ke dalam kolam budidaya.
Soal hemat air, pendapat Maono tentang RAS diamini Heru Setyawan, Marketing Pakan Udang Karka Area Indonesia Barat PT Sekar Golden Harvesta Indonesia. Menurutnya, RAS adalah sistem budidaya udang dengan mendaur ulang air yang selama ini dipakai untuk budidaya karena keterbatasan sumber air. “Dengan syarat, udang sehat tidak terjangkit penyakit,” tambahnya.
Efisien di lahan terbatas
Tak diketahui dengan pasti waktu pertama kali sistem RAS ini dimanfaatkan secara komersial pada budidaya udang di Indonesia. Heru Setyawan mengisahkan bahwa sistem RAS sudah diterapkan, saat dirinya bekerja di salah satu tambak udang di OKI, Sumatera Selatan, pada tahun 1996—2003. Begitu pula dengan Iwan Hermawan, Manajer Produksi PT Windu Alam Sentosa. “Yang saya lakukan, mulai tahun 1998 sudah menggunakan sistem RAS, terutama untuk kebutuhan di unit breeding operation,” aku Iwan.
Informasi lain datang dari Indah Okta. Menurutnya, metode RAS dikenalkan pertama kali di Amerika pada awal tahun 1960. Selanjutnya banyak diterapkan di negara-negara maju dan berkembang seperti Singapura, Jerman, dan Indonesia.

“Secara prinsip, sistem resirkulasi mengefisiensikan penggunaan lahan untuk memelihara biota budidaya dengan kepadatan tinggi. Dengan begitu, hasil produk per unit area juga tinggi. Sistem ini memerlukan penanganan atau manajemen tingkat tinggi, baik dari biota yang dipelihara, peralatan budidaya, maupun kualitas air sebagai media hidupnya,” tambah Indah.
Sementara Arjuna Axellaudi Sub’qi Rachmansyach, Founder Indo Shrimp Supply yang lebih akrab disapa Axel, mengatakan bahwa teknologi RAS mulai diperkenalkan pada tahun 2014. “Ketika itu, Food and Agriculture Organization (FAO) menerbitkan kaidah-kaidah dasar dalam penerapan RAS. Sejak saat itu, sistem ini mulai memasuki ranah industri karena manfaat RAS yang begitu banyak,” terangnya.
“Tidak ada minimal lahan yang dibutuhkan pada sistem RAS. Namun secara prinsip, budidaya RAS cocok digunakan untuk budidaya di lahan yang terbatas. “RAS bisa diterapkan di dalam ruangan (indoor) atau di luar ruangan (outdoor),” tambah Axel.
Menurut Maono Van Daswan, jika dilihat dari kaidah dasar budidaya, tidak ada perbedaan yang mencolok antara RAS dengan sistem budidaya intensif lainnya. Sistem RAS bisa dilakukan dan cocok untuk area yang tidak terlalu luas dan mengalami keterbatasan pasokan air dari luar.
“Prinsipnya, ada lahan untuk bak filterisasi dan sterilisasi yang cukup, disesuaikan dengan jumlah kolam atau volume air budidaya pada kolam pembesaran yang tersedia. Untuk ke tingkat ekonomis bisa kita atur dengan kepadatan tebarnya. Dalam sistem RAS, kepadatan tebar bisa lebih ditingkatkan bahkan bisa sampai 1.000 ekor/m3,” terang Maono.
Senada dengan Maono, Paian Tampubolon mengungkapkan bahwa teknologi budidaya udang RAS cocok diterapkan untuk skala kecil sampai menengah dengan luasan lahan 100—500 m2. Dengan luasan tersebut, berbagai perubahan yang mungkin terjadi pada lingkungan budidaya akan sangat mudah dikontrol.
Adapun beragam unggulan sistem RAS menurut Paian Tampubolon di antaranya: (1) padat tebar lebih tinggi, (2) produktivitas lebih tinggi, (3) tidak membutuhkan lahan yang besar atau luas, (4) penggunaan air sangat minimal, (5) FCR lebih terkontrol, (6) pelaksanaan panen lebih cepat dan mudah, (7) SR terjaga karena meminimalkan serangan penyakit yang menyebabkan kematian, (8) lingkungan budidaya sangat terkontrol sehingga pengelolaan lingkungan tambak lebih mudah, (9) ramah lingkungan.
Proses pembersihan
“Sistem RAS dimulai saat air dari tangki kultur yang mengandung banyak kotoran akibat limbah pakan dan metabolisme udang dialirkan secara gravitasi menuju bak filter melalui pipa yang terhubung. Terjadi proses terpenting dari sistem akuakultur resirkulasi, yaitu proses biofilter dalam bak filter ini,” terang Arjuna.
Bak filter terdiri dari beberapa macam penyaringan seperti penyaringan mekanis (fisika), biologi, kimia, dan sterilisasi. Pada filter mekanis, bagian atas menggunakan saringan yang berfungsi untuk menyaring kotoran berukuran besar, seperti kotoran udang atau sisa pakan.
Setelah itu, air melewati filter biologi. Pada bagian pertama, ditempatkan cangkang kerang, sedangkan pada bagian kedua ditempatkan kerikil lebih kecil atau ijuk untuk memperluas permukaan yang memungkinkan sebagai tempat penempelan bakteri nitrifikasi. Dalam filter ini, limbah dari pencernaan ikan yang menjadi amonia akan menjadi makanan bagi bakteri nitrifikasi, yaitu Nitrisomonas sp. Proses nitrifikasi tersebut menghasilkan nitrit.
Selanjutnya, nitrit yang dihasilkan akan dilahap oleh bakteri Nitrobacter sp. untuk dikonversi menjadi nitrat. Proses biologi tersebut akan menetralkan kandungan amonia yang terlarut dalam air.
Pada tahapan akhir, air terus dialirkan menuju bak sterilisasi. Di dalam bak sterilisasi, air mendapat perlakuan dengan sinar ultraviolet (UV) untuk mematikan parasit atau bakteri yang terdapat dalam air sehingga tidak membahayakan udang dibudidayakan. Selanjutnya, air dipompa dan didistribusikan kembali ke dalam wadah budidaya, baik berupa kolam atau tangki kultur.
Persiapan matang
Meskipun aktivitas operasional mudah dilakukan, pembudidaya harus tetap memperhatikan setiap tahapan, sejak dari aktivitas persiapan. Menurut Maono, faktor penentu budidaya sistem RAS sama dengan budidaya udang pada umumnya, yaitu meliputi: kesiapan kolam yang harus ‘sempurna’, persiapan air budidaya dengan kualitas sesuai parameter standar, pemilihan benur berkualitas, proses penebaran benur yang baik, manajemen kualitas air yang tertib dan terkontrol, manajemen pakan yang terukur, manajemen limbah sempurna, dan faktor lainnya.
Sebagai gambaran, terdapat 7 langkah yang perlu diperhatikan dalam penerapan RAS pada budidaya udang vaname. Menurut Maono, ketujuh langkah tersebut meliputi: (1) persiapan kolam, (2) persiapan air budidaya, (3) pemilihan benur, (4) manajemen kualitas air, (5) manajemen pakan, (6) manajemen limbah, dan (7) panen.
Persiapan kolam dilakukan dengan melakukan pembersihan dan pengeringan kolam budidaya secara maksimal. Pastikan kolam tidak mengalami kebocoran. Lakukan sterilisasi kolam dan peralatan. Setiap kolam hendaknya memiliki peralatannya sendiri dan tidak digunakan untuk kolam lain. Pastikan kaidah biosekuriti berjalan dengan baik.
Pada persiapan air budidaya, pastikan filter strimin terpasang dengan baik di pipa saluran pemasukan air. Selanjutnya, isi kolam dengan air budidaya sesuai volume yang dibutuhkan. Lakukan sterilisasi air budidaya agar bebas dari hama dan penyakit. Terapkan kaidah biosekuriti dengan benar dan ketat.
Selanjutnya adalah pemilihan benur. Sama seperti sistem budidaya lainnya, benur yang dipilih harus bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya.
Agar kualitasnya selalu terjaga, air budidaya harus selalu dikontrol. Manajemen kualitas air harus terus dijaga agar kualitas air budidaya sesuai standar. Adapun material, bahan, dan metode untuk merawat kualitas air disesuaikan dengan kebutuhan.
Dalam hal pakan, pada prinsipnya, manajemen pakan pada sistem RAS sama dengan sistem budidaya biasa. Pada bulan pertama, pakan diberikan dengan program blind feeding. Selanjutnya, program pakan mengacu pada Survival Rate (SR), target Average Daily Growth (ADG), maupun Feed Conversion Ratio (FCR). Jangan lupa melakukan cek anco atau sampling secara ketat.
Manajemen limbah pada sistem RAS dilakukan langsung melewati filterisasi secara fisika, biologi, maupun kimia, dilanjutkan dengan sterilisasi UV. Peralatan filter perlu dibersihkan secara berkala sesuai tingkat kebutuhan.
Panen dilakukan sesuai dengan target permintaan. Adapun proses panen yang dilakukan tidak berbeda dengan sistem budidaya lain. Adapun peralatan panen disesuaikan dengan kebutuhan.
Keunggulan pengelolaan area terbatas dengan sistem RAS, menurut Maono, yaitu memudahkan kontrol pakan. Dengan begitu, FCR juga akan lebih terkontrol. Selain itu, disebabkan sistem resirkulasi air berjalan terus-menerus, kualitas air yang masuk sudah lebih baik sehingga kondisi perairan di kolam tidak mengalami goncangan. Dengan goncangan air yang minimal, udang tidak mudah stres.
“Berkurangnya faktor stres membuat peluang hidup udang menjadi lebih baik. Dengan begitu, kelangsungan hidup (SR) udang tentu menjadi lebih baik pula,” pungkasnya. (RA/Adit/Resti)

