Market share udang Indonesia tahun 2021 terhadap pasar dunia diperkirakan sebesar 250 ribu ton atau sekitar 4% dan memberi kontribusi hampir 40% dari devisa total ekspor hasil perikanan yang bernilai 5,72 milyar dolar US. Hal ini menjadi tantangan untuk ditingkatkan karena potensi sumberdaya yang ada serta pasar yang terbuka.
Demikian ungkap Hasanuddin Atjo, Ketua SCI Sulawesi. Menurutnya, komoditas udang menjadi salah satu primadona di sektor kelautan dan perikanan. Pasalnya, komoditas ini sejak lama menjadi sumber devisa, sumber pendapatan masyarakat pesisir, dan menyerap tenaga kerja pada sejumlah industri pengolahan.

Pada tahun 2021, produksi komoditas udang sekitar 900 ribu ton (KKP, 2021) dan volume ekspor sekitar 250 ribu ton dengan devisa mendekati $US 2,2 milyar. Nilai ini hampir separuh dari total devisa ekspor hasil perikanan, yaitu $US 5,7 milyar.
Pasokan udang dunia hasil tangkapan alam yang semakin terbatas dan cenderung menurun. Kondisi tersebut membuat pengembangan budidaya menjadi tumpuan pemenuhan kebutuhan, yang diperkirakan masih kurang sekitar 1,5 juta ton dari kebutuhan sebesar 6 juta ton di tahun 2020.
Tingkatkan produksi dan efisiensi
Indonesia yang beriklim tropis menunjang proses budidaya udang sepanjang tahun. Di samping garis pantainya terpanjang ke-2 dunia dengan potensi budidaya kurang lebih 1,5 juta ha, masyarakat pesisirnya pun sudah terbiasa dengan usaha ini.
Menurut Atjo, revolusi inovasi teknologi budidaya diperlukan, mulai dari teknologi yang sederhana, semiintensif, maupun intensif. Perlakuan air (water treatment), pengunaan nursery, pakan fungsional, automatic feeder, kemampuan penelusuran (traceability), serta mengolah air buangan adalah bentuk revolusi yang lebih difokuskan pada teknologi semiintesif dan intensif.
Khusus bagi tambak rakyat, yang dominan di Indonesia setidaknya harus menerapkan dua hal, yaitu perbaikan mutu air baku dengan tandon dan menggunakan nurseri standar dengan line balance, yaitu toleran terhadap lingkungan atau terlindungi terhadap penyakit tertentu.
Bagi tambak udang yang menerapkan teknologi semiintensif, intensif, dan supra intensif yang identik dengan pada tebar tinggi, Atjo menyarankan penggunaan benih fast growth. Sebelum di tebar ke tambak, benur harus dipelihara di nursery terlebih dahulu, dengan waktu total pemeliharaan hingga panen maksimal 90 hari dengan berat udang 70—80 ekor per kg.
“Dengan begitu, diperkirakan produksi udang ukuran kecil akan meningkat tajam karena siklus produksi dalam satu tahun bisa mencapai 4 kali. Kondisi ini tentunya bisa menjamin ketersedian bahan baku untuk proses lebih lanjut memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor,” terang Atjo.

Dari laporan hasil penelitian Mira dan rekan yang diterbitkan Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, berjudul “Analisis Komparatif Usaha Tambak Udang Vaname dengan Teknik Tradisional, Semiintensif, dan Intensif di Wilayah Pesisir”, diperoleh informasi bahwa ketiga model pengelolaan tambak tersebut sama-sama menguntungkan secara ekonomis jika dilihat dari indikator kinerja jangka pendek.
Pada tambak tradisional, biaya investasi total yang dibutuhkan untuk lahan dan peralatan sebesar Rp46.600.000,00/ha dan total biaya operasional Rp6.968.000,00/ha. Sementara tenaga kerja yang dibutuhkan per hektar saat praproduksi 1 orang, produksi 1 orang, dan panen 1 orang. Dalam satu siklus produksi, tambak tradisional menghasilkan panen sebanyak 402 kg/ha.
Adapun pada tambak semiintensif, biaya investasi total yang dibutuhkan untuk sarana dan prasarana seperti lahan, rumah jaga, mesin pompa, kincir, dan sebagainya Rp112.000.000,00/ha. Sementara biaya operasional total Rp281.520.000,00/ha. Tenaga kerja yang dibutuhkan per hektar saat praproduksi 3 orang, produksi 2 orang, dan panen 6 orang. Dalam satu siklus produksi, tambak semiintensif menghasilkan 5,2 ton/ha.
Sementara pada tambak intensif, biaya investasi total yang dibutuhkan untuk sarana dan prasarana seperti lahan, rumah jaga, mesin pompa, kincir, dan sebagainya Rp245.000.000,00/ha. Sementara biaya operasional total Rp504.554.812,00/ha. Tenaga kerja yang dibutuhkan per hektar saat praproduksi 5 orang, produksi 2 orang, dan panen 8 orang. Dalam satu siklus produksi, tambak semiintensif menghasilkan 11,87 ton/ha.
Pada tambak tradisional, petambak lebih banyak mengandalkan pakan alami dan sedikit pakan buatan sehingga biaya pakan jauh lebih sedikit dibandingkan kedua model lainnya. Selain itu, biaya listrik yang dibutuhkan tambak tradisional juga lebih sedikit karena hanya digunakan untuk penerangan. Dilihat dari rasio B/C, tambak tradisional unggul. Namun, dilihat dari produktivitas hasil panen, tambak tradisional jelas berada di urutan paling akhir.
Pada tambak semiintensif, biaya investasi dan operasional semakin tinggi. Hal ini disebabkan kebutuhan teknologi yang lebih tinggi membutuhkan dukungan peralatan. Begitu pula dengan tambak intensif. Dari kepadatan tebar dan produktivitas hasil panen, tambak intensif terlihat lebih unggul dibandingkan tambak semiintensif dan tambak tradisional. Begitu pula dengan keuntungan yang diperoleh.
Pada tambak tradisional, keuntungan yang diperoleh sebesar Rp15.142.000,00/ha; tambak semiintesif Rp186.480.000,00/ha; dan tambak intensif Rp382.493.521,00/ha. Dengan luasan yang sama, hasil panen tambak intensif hampir 30 kali tambak tradisional. Sementara keuntungan yang dihasilkan tambak intensif sebesar 25 kali keuntungan tambak tradisional.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 di pesisir Aceh Tamiang tersebut melibatkan responden sebanyak 182 orang, yang terdiri dari 137 petambak tradisional, 36 petambak semiintensif, dan 9 petambak intensif.
Di atas teknologi tambak intensif, terdapat tambak superintensif dan supraintensif. Tentang tambak supraintensif, Maono Van Daswan, Regional Sales Manager PT Grobest Indomakmur, mengungkapkan bahwa produktivitasnya bisa mencapai 20 kg/m2 atau sekitar 200 ton/ha. Keuntungan lainnya, FCR normal berkisar 1,20—1,40, SR normal bisa di atas 80%, kepadatan tebar 400—500 ekor/m2 dan bisa dinaikkan jika sarana budidayanya juga lebih ditingkatkan. Dalam 90 hari, hasil panen udang bisa mencapai ukuran 35 ekor/kg.
Manurut Maono, alur budidaya dari persiapan sampai dengan panen hampir sama dengan sistem budidaya pada umumnya. Namun, budidaya pada sistem supraintensif akan lebih baik jika melalui pola nursery pond terlebih dulu. Benih udang diberi kelengkapan nutrisi pada usia 0—25 hari di dalam kolam nursery pond berukuran 10 m x 10 m. Setelah 25 hari, benur dipindahkan ke kolam pembesaran dan diberi pakan secara intensif hingga panen.
Tantangan budidaya
“Sayangnya, perkembangan dua tahun terakhir menunjukkan bahwa posisi Indonesia sebagai pemasok utama udang dunia mulai digeser Ekuador, India, dan Vietnam. Kecuali value added product atau produk dengan nilai tambah, Indonesia masih tetap menjadi pemasok utama. Situasi ini tentu menjadi peluang yang harus dimanfaatkan dan ditingkatkan,” papar Atjo.
Permintaan pasar AS bergeser ke udang segar ukuran kecil dan produk dengan nilai tambah ready to cook dan ready to eat. Kondisi tersebut merupakan akibat pengaruh menurunnya daya beli, peran gender mengisi pasar kerja, serta waktu yang terbatas untuk memproses makanan mandiri akibat kesibukan meningkat.
Sejak lama Ekuador dan India menerapkan teknologi sederhana dan semiintensif untuk memproduksi udang ukuran besar dan menerapkan SOP terstandarisasi. Dengan begitu, ongkos produksi lebih murah dari Indonesia yang menerapkan teknologi semiintensif, intensif, bahkan supraintensif. Ongkos produksi atau HPP dan harga pokok penjualan yang lebih rendah menjadi keunggulan tiga negara kompetitor tersebut. HPP Indonesia lebih mahal sekira 12 ribu rupiah dari Ekuador dan 6 ribu rupiah dari India.
Selain karena perbedaan teknologi, tingginya HPP Indonesia juga disebabkan gagal panen akibat penyakit, tingginya konten impor input produksi, serta biaya logistik yang mahal. Gambarannya, input produksi dan hilirisasi umumnya berada di pulau Jawa, sedangkan sentra produksi berada di luar Jawa .
Ekuador, India, dan Vietnam memiliki garis pantai relatif pendek dibandingkan Indonesia. Garis pantai Equdor hanya sekira 2.237 km, Vietnam 3.200 km, dan India 8.700 km. Sementara Indonesia mendekati 100.000 km. Sebagai negara kepulauan, Indonesia secara ekologis sesungguhnya lebih diuntungkan.
“Meskipun memiliki garis pantai pendek, produksi udang Ekuador di 2021 sebesar 1,1 juta ton; India 0,8 juta ton; dan Vietnam 0,6 juta ton. Sementara pada tahun yang sama, produksi Indonesia hanya 0,5 juta ton (FAO 2021, diolah), sangat ironis. Sejumlah pihak berharap agar disparitas ini menjadi motivasi bagi Indonesia untuk lebih bekerja keras,” terang Atjo.
Budidaya udang dengan teknologi semiintensif, intensif, dan supraintensif membutuhkan dukungan peralatan berupa kincir, pompa air, dan blower yang umumnya masih diimpor. Selain itu infrastruktur dasar berupa ketersediaan listrik, air bersih, dan aksesibilitas belum sepenuhnya mendukung.
Selain komponen impor masih tinggi, sentra input produksi seperti hatchery, pabrik pakan, dan distributor sejumlah sarana-prasarana lainnya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Dengan begitu, ada biaya tambahan logistik yang berarti bagi usaha tambak di luar Jawa. Juga terjadi pada industri hilir dominan bertumpuk di Pulau Jawa.
“Dan yang ironi bahwa kontribusi tiga teknologi tersebut terhadap produksi udang nasional sekitar 75%. Sementara itu, luas arealnya kurang dari 10% dari total areal eksisting yang diperkirakan seluas 674.000 ha (KKP, 2018). Dan ini harusnya menjadi PR tersendiri bagi Pemerintah pusat dan daerah,” harap Atjo. (RA/Adit/Resti)

