Menjaga Kualitas dan Optimalisasi Dampak Pakan di Tambak

Di samping menyediakan nutrisi dasar yang seimbang (protein hewani/nabati), kondisi pakan yang akan diberikan kepada udang juga harus dalam keadaan baik.

Maono van Daswan, Regional Sales Manager (RSM) – Central Region PT Grobest Indomakmur mengatakan bahwa pakan harus: tetap dalam kondisi segar (fresh) dalam kemasan yang bagus, kering, tidak berdebu, tidak berjamur, tidak menggumpal, ukuran dan warnanya seragam, memiliki water stability yang bagus, tidak mudah hancur, dan aromanya masih wangi pakan.

Hal senada juga disampaikan Paian Tampubolon, Technical & Marketing Area, PT Thai Union Kharisma Lestari. Menurutnya, ciri-ciri pakan yang bagus, yaitu: memiliki aroma (attractability) yang baik sehingga merangsang udang untuk makan; mempunyai nutrisi yang seimbang (protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin); permukaan pakan halus, kering, dan bersih; berukuran dan berwarna seragam; tidak menggumpal dan berjamur; tidak berdebu; serta memiliki kemampuan bertahan dalam air (2—3 jam).

“Jika kurang (rekat, red.) pakan akan mudah hancur dan jika lebih (terlalu rekat, red.) pakan sulit dicerna oleh udang,” terangnya.

Manajemen stok dan penyimpanan

Sebelum diberikan kepada udang, petambak perlu memikirkan pengadaan dan penyimpanan pakan. Hal ini penting karena terkait dengan penggunaan pakan yang segera serta potensi terjadinya penurunan kualitas pakan jika disimpan terlalu lama.

“Pakan udang punya masa kadaluarsa. Rata-rata kadaluarsa pakan 3—4 bulan. Jadi, sebaiknya pakan digunakan sebelum kadaluwarsa. Penyimpanan yang baik di gudang berventilasi. Kemudian dialasi dengan palet dan tumpukan pakan tidak terlalu tinggi, terang Heru Setyawan, Sales Marketing Area Indonesia Barat PT Sekar Golden Harvesta Indonesia.

Pendapat serupa juga disampaikan Gana Nurseto. Senior TS De Heus Indonesia itu memberikan saran untuk menjaga agar pakan tetap berkualitas baik, yaitu menyimpan pakan di gudang dengan cara yang benar.  Beberapa cara tersebut seperti meletakkan pakan tidak bersinggungan langsung dengan lantai dan dinding, yaitu dengan cara memberi alas berongga (palet); pakan tidak boleh terkena air; dan gudang pakan harus berventilasi cukup. Meskipun kadaluwarsa pakan 3—4 bulan, sebaiknya penyimpanan pakan paling lama sebulan saja. Sementara keluar-masuk pakan menggunakan konsep first in, first out (FIFO).

Lantas, berapa jumlah stok pakan yang perlu didatangkan?

“Cara menghitung stok kebutuhan pakan di tambak, harus berdasarkan estimasi kebutuhan 1—2 minggu ke depan,” ujar Dany Yukasano, National Technical Service Manager Grobest Indomakmur. 

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa dari sampling mingguan diperoleh mean body weight (MBW), survival rate (SR), dan populasi tertentu. Kemudian buat estimasi SR, MBW, dan populasi 1—2 minggu ke depan. Selanjutnya, hitung feed conversion rate (FCR) harapan pada DOC selama 2 minggu ke depan. “Selisih biomass minggu ini dan dua minggu mendatang dikalikan FCR harapan adalah jumlah pakan minimal yang harus ada di tambak, ditambah buffer stock 20%,” terangnya.

Contoh hitungan lain disampaikan Maono van Daswan, untuk stok pakan selama satu minggu ke depan. Sebagai contoh, populasi udang 100.000 ekor dengan MBW saat ini 10 g/ekor.  Maka, jumlah biomass sebanyak 1.000 kg udang. Pada umumnya, MBW 10 g/ekor menggunakan feeding rate (FR) 3,40%. Dengan begitu, jumlah pakan per hari sebanyak  1.000 kg x 3,40% = 34 kg. Asumsi kenaikan pakan per hari sebanyak 1% atau 0,34 kg.

Jika stok untuk 7 hari, petambak harus punya cadangan selama 3 hari untuk menghindari keterlambatan dalam pengiriman pakan. Perhitungan stok pakan per 10 hari dapat dilihat dalam Tabel Kebutuhan Pakan Selama 10 Hari.

Kebutuhan pakan selama 10 hari
Hari ke- Kebutuhan Pakan (kg)
1 34,00
2 34,34
3 34,68
4 35,02
5 35,36
6 35,70
7 36,04
8 36,38
9 36,72
10 37,06
Total 355,30

 

Dosis pakan

“Manajemen pakan yang dimaksud dalam budidaya udang adalah program pemberian pakan yang efektif dan efisien untuk mendapatkan pertumbuhan udang yang maksimal,” kata Gana Nurseto,

Menurutnya, ada 2 program pakan yang biasa dikenal. Pertama, blind feeding, yaitu program pemberian pakan pada bulan pertama tebar dari DOC 1—30. Biasanya, program ini menggunakan rumus tertentu seperti (3-2-4-6), (3-3-5-7), atau yang lainya. Kedua, demand feeding, yaitu program pemberian pakan setelah bulan pertama atau berdasarkan nafsu makan udang. Sebagai parameter kontrol pakan sudah menggunakan anco. Jika pakan di anco habis, pakan ditambah. Sebaliknya, jika pakan di anco tidak habis, maka pakan dipotong atau dikurangi.

Lantas, berapa jumlah pakan acuan awal?

Jumlah pakan acuan awal didasarkan pada berat udang saat sampling yang dilakukan seminggu sekali. Menurut Mochammad Heri Edy, Dosen dan Praktisi Budidaya Udang Vaname, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, dosis pakan pada DOC  0—15 sebanyak 15—75% dari bobot udang. Pada DOC 16—30; dosis pakan 15—25% dari bobot udang. DOC 31—45; dosis pakan 10—15%   dari bobot udang; DOC 46—60, dosis pakan 7—10% dari bobot udang; DOC  61—75, dosis pakan 5—7% dari bobot udang; DOC 71—105, dosis pakan 3—5% dari bobot udang; dan DOC 105—120, dosis pakan 2—4% dari bobot udang.

“Pada DOC 1—20, blind feeding  per 100.000 ekor sebanyak 2 kg ditambah kenaikan 0,4 kg per hari dan diberikan dengan frekuensi 6 kali pemberian,” ujarnya.

Selanjutnya, pada DOC 20—30, pengontrolan pakan dimulai dengan anco. Pada umur ini, penambahan pakan harian diberikan sebanyak 4 g/kg pakan. Pengecekan dilakukan 1—1,5 jam harus habis setelah pakan diberikan. Jika pakan tidak habis, dilakukan pengurangan pakan sebanyak 0,1—0,2 kg.

Pada DOC 31—45, pemberian pakan di anco dengan penambahan pakan harian sebanyak 6 g/kg pakan. Pengecekan dilakukan setelah 1—1,5 jam. Pada DOC 46—60, pemberian pakan di anco dengan penambahan pakan harian 8 g/kg pakan. Cek setelah 1 jam. Sementara pada DOC 61—panen, pakan tetap ditempatkan di anco dengan penambahan pakan harian sebanyak 10 g/kg pakan dan dilakukan pengecekan setelah 1 jam. “Untuk setiap petak tambak seluas 1.200 m persegi, tempatkan 2 anco,” tambahnya.

Agar dapat lebih mudah dan cepat mengestimasi jumlah populasi udang, Heri menggunakan aplikasi yang dikeluarkan E-fishery, yaitu Kalkulator Budidaya Udang berdasarkan jumlah pakan harian, pakan total sampai saat ini, serta bobot (ABW) udang dari sampling anco mingguan.  Jika ABW diketahui, petambak dapat mengestimasi feeding ratio-nya (FR). Jika diketahui, estimasi biomass dapat dengan mudah dihitung dan dapat dihitung pula SR-nya.

“Sebenarnya, alat Automatic Feeder dapat digunakan sebagai alat pemberian pakan pada udang vaname di tambak. Namun, tambak kami masih sedikit jumlah petakan dan luasnya. Dengan begitu, kami menganggap cara manual lebih baik sehingga petugas pemberi pakan sekaligus dapat mengecek kesehatan ikan secara langsung, termasuk melihat nafsu makannya. Dengan begitu, dapat didugakan dengan tepat penambahan atau pengurangan pakan hanya dengan melihat dari anco (sampling anco),” kata Heri.

Frekuensi dan waktu pemberian pakan

Frekuensi pemberian pakan yang  terbaik sebenarnya secara terus-menerus dan kontinu karena sifat udang yang makan terus setiap waktu,  yang akhirnya dipakai mesin autofeeder. Namun, masih ada yang melakukan secara manual dengan 4—5 kali per harinya,” ungkap Catur Supriyantoro, Teknisi PT Dua Putra Perkasa.

Menurutnya, waktu pemberian pakan 4 kali dengan jam pemberian pakan pukul 06.30—07.00, pukul 10.30—11.00, pukul 14.30—15.00, dan pukul 18.00—08.30. “Idealnya, saat cuaca cerah dan suhu air optimal berdampak nafsu makan udang terbaik. Jam pakan terbaiknya adalah pukul 10.30—11.00 dan pukul 14.30—15.00, yaitu saat oksigen tercukupi dan cuaca cerah,” jelas Catur.

Pendapat Catur tersebut diamini Paian Tampubolon. Menurut Paian, semakin sering pemberian pakan akan semakin efektif karena udang memiliki sifat makan terus-menerus (continuous feeding). Saat ini, pemberian pakan dengan frekuensi tinggi sudah banyak dilakukan dengan bantuan alat autofeeder. Untuk tambak yang tidak menggunakan autofeeder biasanya memberikan pakan dengan frekuensi 5 kali sehari, yaitu pukul 07.00, 11.00, 14.00, 17.00, dan 19.00.

Salah satu faktor yang mempengaruhi metabolisme udang adalah suhu. Oleh karena itu, pada siang dan sore hari, udang lebih banyak mengonsumsi pakan dibandingkan pada pagi dan malam hari. Dengan begitu, pendekatan dosis dan distribusi pemberian pakan sesuai jam pakan yaitu: pukul 07.00 sebanyak 20% dari pakan per hari; pukul 11.00 sebanyak 23% dari pakan per hari; pukul 14.00 sebanyak 22% dari pakan per hari; pukul 17.00 sebanyak 20% dari pakan per hari; dan pukul 19.00 sebanyak 15% dari pakan per hari.

Kapan pakan terakhir dalam budidaya diberikan?

“Sebaiknya, udang yang akan dipanen tidak diberikan pakan 10—12 jam sebelum pelaksanaan panen. Alasannya, pakan udang mengandung protein. Pencernaan udang yang penuh dengan pakan akan mempercepat penurunan kualitas atau terjadi pembusukan udang,” terang Paian.

Pendapat senada diberikan Heri Edy. Menurutnya, saat menjelang panen, pakan terakhir diberikan pada saat sore hari. Keesokan paginya dapat dilakukan pemanenan, yang biasa dilakukan sekitar pukul 07.00 pagi agar udang yang molting tidak terlalu banyak.

Faktor pendukung lain

Untuk menjaga kesehatan udang dan perbaikan kualitas air, termasuk mengurangi patogen dalam air dan tubuh udang, Heri Edy berpendapat perlu menambahkan acidifier, probiotik, atau pun enzim. Pemberiannya ada yang dicampurkan pada pakan seperti Vitamin C dan B komplek, Biolacto, beberapa macam probiotik, atau pun imunostimulan. Ada pula penunjang budidaya yang harus dimasukkan dalam air berupa probiotik pengurai dan pesaing mikroba penyakit dan air, mineral, serta desinfektan yang tidak mematikan udang tetapi membuat mikroorganisme tertentu mati. Pengaruh penambahan bahan tersebut dapat meningkatkan kesehatan udang dan air serta mencegah serangan patogen.

Sebagai penutup, Heri mengungkapkan bahwa kunci pembesaran udang terletak pada persiapan wadah dan peralatan yang baik dan steril; pemilihan benur yang baik, yaitu SPF serta mengetahui brand induk untuk menyesuaikan SOP; menjaga media agar tetap sehat dan baik bagi kesehatan udang; manajemen pakan yang baik; monitoring kesehatan udang yang baik; pengontrolan anco yang tepat sehingga pemberian pakan sesuai populasi dan biomass udang dengan takaran yang tepat dan tidak terjadi overfeeding; serta panen parsial dan  panen total yang baik. (Rch)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.