Performa Melejit dengan Feed Additive

Secara umum, pabrikan pakan memiliki spesifikasi, baik ukuran dan kapasitas produksi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Pakan buatan yang tersedia saat ini telah diformulasikan dan mengandung nutrisi sesuai kebutuhan udang.

Demikian ungkap Rahmad Feriyanto, Sales Servis and Marketing PT Thai Union Kharisma Lestari area Central Java Pantura. Menurutnya, nutrisi yang terkandung dalam pakan berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan asam amino esensial. Sementara formulasinya disesuaikan kebutuhan berdasarkan beberapa faktor, di antaranya lingkungan, sistem budidaya,  kebutuhan udang,  dan target pertumbuhan.

Dalam menyikapi kebutuhan teknis budidaya dan strategi pemasaran, beberapa pabrikan pakan memberikan bahan-bahan tambahan berupa feed additive atau suplemen seperti vitamin dan imonostimulan. Penyampuran bahan tambahan pada pakan tersebut bertujuan meningkatkan ketahanan dan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit.

“Setiap formulasi  mempunyai kelebihan yang diunggulkan masing masing produsen pakan. Tentunya, tujuan hal tersebut untuk meningkatkan performa dan kualitas pakan sehingga budidaya menjadi lebih ringan. Tujuannya, pertumbuhan maksimal dan pemeliharaan kualitas air yang terkontrol. Dengan begitu, biaya produksi dapat dicapai seminimal mungkin dengan hasil semaksimal mungkin,” terang Rahmad.

Tingkatkan serapan nutrisi pakan

“Efisiensi penyerapan nutrisi pada pakan erat kaitannya dengan kecernaan pakan,” kata Arif Faisal Siburian. Senior Technical Sales Executive PT Behn Meyer Chemicals itu menjelaskan bahwa kecernaan merupakan gambaran dari jumlah nutrisi dalam pakan yang dapat dimanfaatkan oleh udang.

Terlepas dari komponen bahan baku penyusun pakan yang digunakan, beberapa imbuhan pakan dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi pada pakan. Beberapa aplikasi tersebut di antaranya penambahan enzim, probiotik, mineral, dan atraktan.

Enzim dapat membantu dan mempercepat proses metabolisme dalam tubuh udang, yang sering disebut sebagai biokatalisator. Enzim dapat memecah senyawa organik yang kompleks, baik karbohidrat, lemak, protein, dan senyawa lain pada pakan menjadi senyawa organik yang lebih sederhana. Dengan begitu, absorbsi nutrisi pakan pada proses pencernaan diharapkan terjadi dengan mudah dan lancar.

Aplikasi probiotik juga dapat membantu penyerapan nutrisi pakan lebih optimal. Selain mempengaruhi komposisi dan ekosistem mikrobial saluran pencernaan, beberapa spesies probiotik juga diketahui dapat menghasilkan dan meningkatkan konsentrasi enzim pencernaan seperti amilase, protease, dan lipase.

Adapun mineral—baik makro, mikro, maupun trace mineral—merupakan unsur kimia yang dibutuhkan sebagai nutrisi esensial untuk melakukan fungsi yang diperlukan tubuh udang. Mineral sangat penting untuk proses metabolisme udang. Beberapa mineral diketahui dapat meningkatkan regulasi penyerapan nutrisi, baik protein, karbohidrat, dan lemak pada pakan.

Selain penambahan imbuhan pakan yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat pula proses yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi pada pakan, yaitu fermentasi. Proses fermentasi merombak senyawa organik kompleks menjadi bentuk yang lebih sederhana. Proses ini dapat berlangsung dalam kondisi anaerob dengan bantuan enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme seperti bakteri atau ragi.

“Efisiensi penyerapan nutrisi pada pakan pasti akan berpengaruh pada peningkatan produksi dan produktivitas udang. Peningkatan produksi dan produktivitas udang terlihat dari penambahan bobot, peningkatan laju pertumbuhan, penurunan FCR, dan parameter keberhasilan lainnya,”terang Arif.

Bromelin pecah protein

Kandungan protein dalam pakan merupakan sumber energi utama yang berperan sebagai komponen struktural penyusunan sel dalam jaringan tubuh. Oleh karena itu, protein pakan mempunyai peran  penting pada proses pertumbuhan udang vaname.

“Pada proses pencernaan diperlukan enzim untuk menghidrolisis protein menjadi asam amino. Proses ini dapat ditingkatkan dengan menambahkan enzim bromelin dalam pakan benur udang vaname,” ungkap Bagas Adhi Kurniawan, Technical Support Perusahaan PT Juara Biolife Solution. Menurutnya, peningkatan efisiensi pakan dan laju pertumbuhan dapat dilakukan dengan penambahan enzim eksogeneus yang dapat meningkatkan pemanfaatan protein, salah satunya enzim bromelin. Saat ini, Bagas sedang melakukan penelitian untuk mengetahui dosis terbaik penambahan enzim bromelin pada pakan terhadap pertumbuhan dan kehidupan udang vaname (L. vannamei) yang dipelihara dalam sistem resirkulasi.

Enzim bromelin merupakan salah satu jenis enzim protease yang mampu menghidrolisis ikatan peptida pada protein atau polipeptida menjadi molekul yang lebih kecil, yaitu asam amino. Enzim bromelin diperoleh dari ekstrak tanaman nanas, baik dari tangkai, kulit, daun, buah, batang tanaman, maupun bonggol atau bagian tengah buah nanas dalam jumlah yang berbeda.

Buah nanas mengandung air sebanyak 90% serta gizi yang cukup tinggi dan lengkap seperti protein, lemak, karbohidrat, dan mineral. Buah nanas juga kaya kalium, kalsium, iodium, sulfur, dan  khlor. Selain itu, nanas juga kaya dengan biotin, vitamin B12, vitamin E, serta enzim bromelin.

Enzim bromelin dapat menghidrolisis kolagen sehingga penyerapan nutrisi pakan menjadi lebih optimal. Kandungan protein dalam pakan tidak sepenuhnya terserap oleh usus untuk pertumbuhan. Hal itu disebabkan protein tidak langsung diserap dalam sistem pencernaan ikan, tetapi didegradasi terlebih dahulu oleh protease menjadi asam amino.

Studi mengenai enzim bromelin menunjukan bahwa enzim yang berasal dari ekstrak nanas mengandung berbagai macam enzim protease. Enzim protease berfungsi memecah protein  dengan cara menghidrolisis ikatan peptida pada asam-asam amino dalam rantai polipeptida. Namun, kadang kala jumlah dan aktifitas enzim yang ada pada saluran pencernaan terlalu rendah sehingga proses pencernaan tidak berjalan maksimal. Oleh karena itu, penambahan enzim aditif dalam pakan dibutuhkan agar pemanfaatan protein sebagai sumber energi dapat ditingkatkan. Penambahan ekstrak nanas dalam pakan dilakukan untuk memanfaatkan protein secara lebih optimal.

Aplikasi aditif pada pakan

Secara prinsip, penambahan bahan aditif pada pakan bertujuan agar pakan memiliki fungsi sesuai tujuan yang diinginkan atau disebut juga dengan pakan fungsional. Jika pakan fungsional pabrikan formulanya ditentukan pabrik, formulasi pakan fungsional mandiri ditentukan sendiri sesuai keinginan petambak.

“Aditif digunakan pada kasus tertentu, tidak setiap saat. Kami percaya pakan hasil formulasi dari pabrik pakan sudah cukup untuk menunjang pertumbuhan dan daya tahan udang di kolam,” ujar Wiwik Winarti, Seorang Petambak.

Meskipun begitu, Wiwik menambahkan bahwa ketika terjadi perubahan kondisi air yang ekstrim oleh cuaca, intensitas sinar matahari, dan faktor lingkungan lain, petambak memilih untuk menggunakan aditif tambahan yang dicampurkan di pakan. Pencampuran bisa dilakukan di kolam (top dressing) atau dicampur di pabrik pakan sebagai pakan dengan pesanan khusus (customised). Aditif yang diberikan biasanya berupa multivitamin, mineral, maupun imunomodulator.

“Kami menyadari, penambahan ini akan merepotkan dan menimbulkan biaya tambahan. Namun, kami harus menjaga agar udang bisa tetap tumbuh dengan ADG yang cukup serta meningkat daya tahan tubuhnya ketika sedang terjadi wabah penyakit. Dosis pemberian aditif dalam pakan tergantung pada jenis aditif dan disesuaikan rekomendasi produsen,” terang Wiwik.

Senada dengan pendapat Wiwik, Heru Setyawan, Sales Marketing Area Indonesia Barat PT Sekar Golden Harvesta Indonesia mengatakan bahwa pakan yang diproduksi perusahaannya memiliki kandungan protein flat, dari crumble sampai pelet. Namun, jika pemilik tambak menginginkan penambahan dan campuran aditif atau probiotik ke pakan sangat bagus. Hal ini disebabkan proses pencampuran pakan dengan bahan aditif saat proses produksi akan lebih sempurna dibandingkan proses pencampuran manual. “Tetapi dibutuhkan kapasitas besar. Minimal sekali produksi 10—20 ton,” terang Heru.

“Sudah saatnya sekarang diperlukan pakan fungsional tertentu dengan penambahan nutrisi tertentu untuk menghadapi penyakit, terutama yang bahannya mengandung mineral tertentu dan imunostimulan, sehingga pakan tidak hanya untuk meningkatkan pertumbuhan saja, sekaligus dapat mencegah penyakit tertentu,” ujar Mochammad Heri Edy, Dosen Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo.

Heri, dosen yang juga seorang praktisi budidaya udang vaname ini, menerangkan bahwa secara umum kandungan zat gizi, nutrisi, atau aditif pakan antara satu pabrik dengan lainnya hampir sama. Bedanya, ada pabrik pakan yang memproduksi pakan dengan kandungan protein lebih rendah untuk melayani petambak tradisional dengan harga relatif lebih murah. Harga pakan sangat ditentukan kandungan proteinnya. Semakin tinggi kandungan protein, semakin tinggi pula harga udang.

Adanya pakan dengan kandungan protein yang beragam memberi kesempatan bagi petambak untuk berkreasi dalam formulasi, baik dalam menjaga kesehatan maupun memacu pertumbuhan. Dengan begitu, efisiensi biaya produksi bisa ditingkatkankan dengan tetap menjaga performa pertumbuhan udang agar tetap melejit karena penambahan bahan aditif. (Rch/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.