Saat ini, faktor cuaca, lingkungan luar, maupun lingkungan di dalam tambak yang sangat fluktuatif memerlukan pola manajemen budidaya yang baik dan komprehensif. Selain itu, diperlukan pula penggunaan pakan fungsional untuk meningkatkan daya tahan tubuh udang (immun-enhance).
Demikian dituturkan Maono van Daswan, Regional Sales Manager (RSM) – Central Region PT Grobest Indomakmur kepada Info Akuakultur. “Dengan begitu, budidaya dapat berjalan lancar dengan hasil yang sangat memuaskan,” katanya.

Menurut Paian Tampubolon, Technical and Marketing Area, PT Thai Union Kharisma Lestari, saat ini lebih dari 20 pabrikan pakan yang ada di Indonesia, khususnya pakan untuk pembesaran udang. Dengan begitu, kecukupan pakan tidak perlu dikhawatirkan. “Masalah yang ada—sebenarnya—serapan pakan akhir-akhir ini yang kurang bertumbuh disebabkan masalah penyakit sehingga tambak gagal panen,” ungkapnya.
Pendapat senada diungkapkan Gana Nurseto, Senior TS De Heus Indonesia . “Untuk saat ini dapat dikatakan pemenuhan kebutuhan pakan untuk petambak masih belum tercukupi secara optimal, mengingat saat ini tambak yang beroperasi hanya sekitar 55%—60% dari seluruh jumlah tambak. Hal tersebut disebabkan banyaknya penyakit yang menyerang budidaya udang,” terangnya.
Menyitir data KKP tahun 2021, Gana menyebutkan ekspor udang Indonesia menyentuh angka 180.000 ton dan tahun 2022 sekitar 146.000 ton. Diharapkan, angka ekspor di tahun berikutnya akan selalu naik mengingat pontensi lahan yang ada begitu besar.
“Jika kita menghitung rata-rata ekspor atau produksi udang Indonesia per tahun 200.000 ton, dengan nilai FCR 1,5; kebutuhan pakan adalah 300.000 ton. Ini angka yang sangat besar. Jadi, wajar saja jika sekarang ini sudah ada kira-kira 15 pabrik pakan yang ada di Indonesia. Jika kita hitung rata-rata produksi pakan per pabrik 15.000 ton, baru 225.000 ton pakan yang tersedia atau kurang 75.000 ton. Padahal, ini baru sekitar 60% tambak yang operasi,” rinci Gana.
Ragam pakan berdasar kebutuhan
“Kebutuhan pakan udang vaname saat ini sudah tercukupi dan tersedia, meskipun bertambah pula investasi petambak di Indonesia Timur. Pemain baru maupun pemain lama mengembangkan di area timur,” ujar Bagyo Ariyantono, RSM Indonesia Timur PT. Grobest Indomakmur.
Menurut Bagyo, bertambahnya pabrik pakan dan bermunculannya merk baru menambah persaingan baru terhadap pakan udang yang berkualitas. Begitu pula dengan ketersedian kadar protein yang bervariasi, mulai 28% sampai 40%.
Bagyo mencontohkan, nomor (0) berupa pakan serbuk atau tepung untuk pakan benur dan pembuatan plankton. Nomor (1) pakan crumble dengan ukuran pakan 0,2—0,5 mm; dipakai saat berat udang 0,5—1,5 g. Nomor 1A berbentuk pelet dengan panjang 1 mm, dipakai saat berat udang 2—5 g. Nomor 2A berbentuk pelet dengan ukuran 1,2 mm; dipakai saat berat udang 5—10 g. Nomor 2P berukuran 1,4 mm; dipakai saat berat udang 10—15 g. Nomor pakan 3 berukuran 1,6 mm; dipakai saat berat udang 15—22 g. Nomor 3B dengan ukuran 1,8 mm; dipakai saat berat udang 22—40 g.

Menurut Paian Tampubolon, masing-masing pabrikan pakan melakukan pendekatan ukuran pakan sesuai umur atau estimasi berat udang. Namun, secara umum, bentuk pakan adalah powder atau serbuk untuk udang berumur 1—5 hari (0,1 g/ekor), crumble atau pecahan untuk udang berumur 7—30 hari (0,1—3,0 g/ekor), dan pelet untuk udang dengan umur DOC 30 (lebih dari 3 g/ekor).
“Dengan semakin jelinya pelaku budidaya melihat tingkah laku makan udang, beberapa pabrikan juga sudah memproduksi bentuk pakan mini pelet, yang merupakan pakan bentuk pelet dengan ukuran kecil. Pakan ini digunakan saat peralihan dari crumble ke pelet,” terang Paian.
Tak hanya berdasarkan umur dan berat badan, pemberian pakan udang dengan kebutuhan protein ini juga dapat diukur dari padat tebar udang. “Jika padat terbarnya rendah, cukup menggunakan protein rendah, yaitu 28%. Jika padat tebar tinggi, misalnya 300 ekor/m2, digunakan pakan dengan protein tinggi, terutama untuk tambak yang super-intensif,” kata Heru Setyawan, Sales Marketing Area Indonesia Barat PT Sekar Golden Harvesta Indonesia.
Menurut Heru, penggunaan pakan sebaiknya tidak perlu memaksakan penggunaan protein yang tinggi hanya untuk mengejar pertumbuhan. Namun, penggunaan pakan disesuaikan dengan padat penebaran dan daya dukung lingkungan. Terdapat tiga varian pakan udang dengan kandungan protein yang disesuaikan dengan padat tebar udang. Pakan protein 40% untuk padat tebar 250 ekor/m2, protein 35% untuk padat tebar 200 ekor/m2, protein 32% Premium untuk padat tebar 100—150 ekor/m2, dan protein 32% ekonomis untuk padat tebar 100 ekor/m2 ke bawah.
Lebih optimal dengan pakan fungsional
“Pakan fungsional dirancang untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan (imun) terhadap dinamika yang terjadi selama pemeliharaan, termasuk penyakit,” terang Paian Tampubolon.
Berbeda dengan pakan biasa, pakan fungsional memiliki kandungan tambahan. Jika pakan biasa mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan serat kasar; kandungan pakan fungsional lebih kompleks. Ada tambahan bahan aditif lain pada pakan fungsional yang tidak terdapat pada pakan biasa.
Menurut Paian, pada pakan fungsional diberikan tambahan bahan seperti: (1) mikroorganisme, untuk membantu menjaga kesehatan dan saluran pencernaan serta mendukung pertumbuhan udang; (2) tambahan bahan yang tidak dapat dicerna, tetapi membantu meningkatkan populasi bakteri baik atau bakteri positif pada saluran pencernaan untuk meningkatkan efisiensi pencernaan; (3) antioksidan, senyawa yang membantu melindungi sel-sel udang dari kerusakan akibat senyawa-senyawa beracun; (4) asam lemak esensial, untuk menjaga kondisi hepatopankreas; dan (5) vitamin dan mineral, untuk menjaga kesehatan dan pertumbuhan yang optimal.
Maono van Daswan mengungkap bahwa sudah ada jenis pakan fungsional dengan dukungan empat aditif performa yang ditambahkan. Selain menyediakan nutrisi dasar yang seimbang (protein hewani/nabati) serta lemak dan karbohidrat yang berkualitas tinggi, kandungan vitamin dan mineralnya diproses dengan bioteknologi fermentasi unik sehingga lebih stabil dan lebih mudah diserap tubuh udang.
Adapun manfaat 4 aditif performa yang langsung ditambahkan ke dalam pakan tersebut yaitu (1) aditif yang menghambat patogen dan menjaga hepatopankreas tetap sehat; (2) aditif yang bekerja untuk merangsang nafsu makan, mendorong pertumbuhan, dan meningkatkan efisiensi pakan; (3) aditif yang secara aktif meningkatkan kesehatan penyerapan sistem pencernaan serta efisiensi pakan; dan (4) aditif yang memberikan manfaat imunomodulator untuk memperkuat sistem imunitas secara alami dan meningkatkan kelangsungan hidup spesies akuatik.
“Tentu saja semuanya harus mendapat dukungan dari manajemen kualitas air, manajemen dasar tambak, serta manajemen pakan yang baik,” tutur Maono.
Menurut Maono, FCR yang baik secara umum di kisaran 1,3—1,4. Jika dapat memperoleh FCR 1,2 akan lebih baik. Untuk mencapai FCR yang baik harus didukung oleh manajemen kualitas air, manajemen dasar tambak, dan manajemen pakan.
Terdapat beberapa hal terkait yang mendasari pengelolaan ketiga manajemen di atas. Pertama, padat tebar. Kedua, estimasi survival rate (SR) yang akurat. Ketiga, penggunaan feeding rate (FR) atau indeks yang tepat. Keempat, sampling berat udang secara rutin dan akurat agar tepat dalam penentuan pakan selanjutnya. Kelima, cek anco untuk melihat pakan habis atau tidak. Keenam, pengecekan kondisi kesehatan udang (hepatochecking) secara rutin. Ketujuh, penggunaan pakan fungsional sesuai SOP pemberian pakan fungsional.
Ada strategi yang harus diperhatikan dalam pemberian pakan fungsional. Maono mencontohkan, saat budidaya udang pada masa aman, 100% pakan yang diberikan berupa pakan biasa atau reguler. Pada saat 30 hari sebelum perubahan musim, 15 hari sebelum angka risiko serangan penyakit tinggi, tingkat penyakit ringan, atau tingkat kematian yang rendah; porsi pakan yang diberikan yaitu 30% pakan reguler dan 70% pakan fungsional pemacu imunitas. Ketika terjadi kematian lebih dari 30% atau masa ketika risiko penyakit tinggi, 100% pakan yang diberikan berupa pakan fungsional pemacu imunitas. Pada masa pemulihan, setelah melewati masa wabah penyakit, porsi pakan yang diberikan berupa 70% pakan pemacu imunitas dan 30% pakan pemacu pertumbuhan.
Pakan fungsional harus diberikan tersendiri, jangan dicampurkan dengan pakan regular saat pemberian pakan. Hal tersebut untuk memastikan semua udang memakan pakan fungsional yang diberikan. “Misalnya, jika kita memberikan pakan 4 kali per hari, pakan fungsional harus diberikan minimal 50% dari total kebutuhan pakan harian,” ujar Dany Yukasano, National Technical Service Manager PT Grobest Indomakmur.
Dany menambahkan, jika pemberian pakan diberikan pukul 07.00, 11.00, 15.00, dan 19.00; pakan fungsional diberikan pada pukul 11.00 dan 15.00 dengan jumlah sesuai dengan kebutuhan hari tersebut. Sementara pukul 07.00 dan 15.00 dialokasikan untuk pakan reguler.
Pada saat paling kritis terhadap serangan penyakit seperti AHPND, WFD, WSSV, dan IMNV; pakan fungsional sebaiknya diberikan sejak blind feeding hingga DOC 60 hari. Setelah DOC 60 hari, pemberian pakan fungsional disesuaikan dengan kondisi budidaya dan lingkungan saat itu.
“Semua pabrik pakan saat ini mencari formula terbaik untuk membuat pakan yang lebih berkualitas, efektif, dan efisien. Semua itu tentunya untuk mendapatkan pertumbuhan udang yang cepat; harga yang kompetitif; dan limbah pakan tidak merusak lingkungan, baik mikro maupun makro. Beberapa pabrik pakan telah memberikan feed additive yang baik untuk meningkatkan kualitas produknya,” pungkas Gana Nurseto. (Rch/Adit/Resti)

