Melirik Benur Dambaan Petambak

Parameter yang dominan pada pembelian benur adalah harga dan kualitas. Pelaku budidaya sangat mengharapkan adanya produsen benur yang memberikan harga lebih ekonomis, tetapi berkualitas prima.

Demikian pendangan Paian Tampubolon, Technical & Marketing Area PT. Thai Union Kharisma Lestari. “Namun, sebaiknya konsumen tidak hanya menginginkan harga murah semata. Hal ini disebabkan benur yang baik, sudah pasti, dihasilkan dengan biaya yang lebih besar. Mengingat biaya pembelian benur masih di bawah biaya pakan, listrik, dan obat-obatan,” tambahnya.

Lebih rinci, Bang Jack, Farm Manager PT. MMS – Sumbar dan Founder FIB, mengatakan kriterianya saat membeli benur. Setidaknya, ada 10 kriteria yang menjadi pertimbangannya, yaitu: berukuran seragam, sehat (ditandai dengan ciri visual dan keaktivan benur), aktif terhadap rangsangan cahaya (fototaksis), spesifik pathogen free and resistant, tersertifikasi dari dinas berwenang, dikemas dan didistribusikan dengan baik dan benar, ada garansi dari hatchery (tertuang dalam MOU yang jelas), kejujuran dari pihak penjualan saat menerangkan genetik dan pola baku  pertumbuhan benur, adanya pemantauan yang kontinu  dari hatchery sampai di tambak (ada technical support yang menjalin komunikasi dengan teknisi tambak sampai budidaya berakhir), dan harga yang ekonomis.

Tak berbeda jauh, Mochammad Heri Edy, Dosen dan Praktisi Budidaya Udang, Politeknik KP Sidoarjo menjelaskan kriteria yang menjadi parameter dalam pembelian benur, di antaranya benur sehat dan lincah gerakannya, lulus screening test, serta punya hasil test PCR  bebas (negatif) WSSV, AHPND, EHP, WFD, IMNV, dan IHHNV.

Hasanuddin Atjo, Ketua SCI Sulawesi, Dewan Pakar Ispikani dan SCI mengungkapkan kriterianya dalam pembelian benur. Pertama, harus diketahui line genetic-nya, berkarakter fast growth atau balances. Hal ini penting untuk menyesuaikan karakter udang dengan infrastruktur dan kondisi lingkungan tambak. Karakter fast growth menuntut  standar yang lebih tinggi. Kedua, perlu dipastikan bahwa benur  bebas dari penyakit dan pertumbuhan panjang  tubuh normal, sesuai standar. Misalnya, PL10 memiliki panjang total tubuh 0,9—1,0 cm.

Selain free virus (PCR), Teguh Setyono, Farm Manager PT Dua Putra Perkasa, menambahkan kriteria yaitu lokasi hatchery berdekatan dengan tambak pembesaran untuk mengurangi stress dan melihat riwayat hasil panen.

Mengelola risiko penyakit bawaan benur

“Benur merupakan faktor penting dalam mendukung keberhasilan usaha budidaya udang.  Oleh karena itu, hatchery yang dipilih hendaknya bersertifikasi dari lembaga terkait sehingga proses dari hulu ke hilir dapat ditelisik dan dimonitor,” ujar Paian Tampubolon.

Menurutnya, hatchery diharapkan menyalurkan benur yang sudah lolos QC (quality control), khususnya terhadap penyakit. Hal ini untuk mengantisipasi penyebaran penyakit yang cukup cepat pada perairan sekitar tambak yang bermasalah.

Konsumen menengah ke bawah umumnya hanya menerima benur dengan pengamatan visual seperti variasi, aktif, lemah, dan tidak banyak yang mati. Kondisi ini akan sangat berisiko jika benur yang ditebar belum lolos uji kualitas dan negatif dari patogen yang kemudian menjadi pemicu masalah pada udang dan terjadinya kematian akibat penyakit.

Beberapa hal yang perlu dilakukan saat penebaran benur menurut Paian di antaranya mengamati kondisi benur secara visual dalam kantong saat benur tiba. Hal ini untuk mengetahui kondisi visual seperti variasi, keaktifan, dan warna air kantong harus bening. Lakukan pengukuran salinitas, pH, dan suhu air dalam kantong untuk menentukan lama waktu aklimatisasi atau penyesuaian parameter air di tambak dengan air di kantong benur. Penyucian kantong benur perlu dilakukan dengan larutan sterilisasi untuk mencegah kontaminasi dari luar.

Lakukan pemeriksaan hasil cek kualitas benur yang ada dalam dokumen pengiriman. Selain itu, hal penting lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan kondisi benur dari keberadaan nekrosis (kematian sel pada organ benur) dan bolitas (luruhnya jaringan hepatopankreas benur yang terlihat seperti bola-bola sebagai indikasi kelainan pada jaringan hepatopankreas). Dengan uji bolitas dan nekrosis, pembudidaya dapat mengetahui kesiapan benur untuk dibesarkan di tambak.

Menurut Mochamad Heri Edy, benur yang disuplai berpotensi membawa penyakit. Hal itu terjadi jika hatchery  tidak memperoleh induk yang dijamin benar-benar SPF (specific pathogen free), tidak menerapkan biosekuriti yang baik, dan tidak berusaha memelihara induk dan larva sesuai persyaratan cara pembenihan yang baik (CPIB).

Untuk menurunkan risiko masuknya penyakit, setiap petambak harus tahu atau menanyakan kepada hatchery bahwa benur tersebut berasal induk yang SPF dengan karakter genetik tertentu. Dengan begitu, petambak bisa menerapkan SOP pembesaran udang yang sesuai. Jika perlu, petambak harus mengetahui asal induknya.

“Kalau kami tidak hanya tahu brand induknya, kami melakukan screening sendiri dengan air tawar dan formalin. Selain itu, sehari sebelum tebar dicoba dengan air tambak kami. Jika benur terlihat segar, kami melakukan transaksi pembelian benur dan minta dikirim sampai tempat pada sore atau pagi hari,” terang Heri.

Selain itu, Heri menerapkan kewajiban melakukan cuci tangan dan kaki dengan air yang dicampur desinfektan saat akan melakukan penebaran benur. Jika hendak masuk ke air tambak, ia mewajibkan mandi seluruh tubuh memakai air yang telah dicampur desinfektan.

Menyoal harga benur di pasaran

Berbicara soal harga benur dalam negeri jika dibandingkan dengan luar negeri, ada beragam pendapat yang disampaikan para petambak. Menurut Hasanuddin Atjo, harga benur F1 di Indonesia tergolong murah dibandingkan Vietnam, India, dan Thailand. Di Indonesia, harga benur sekira Rp52,00—Rp55,00. Sementara harga benur di Vietnam, India, dan Thailand sekira 2 kali lipat. “Petambak tidak terlalu mempersoalkan harga benur, yang penting bermutu dan sukses budidaya,” akunya.

Terkait harga pasar yang berbeda di masing-masing hatchery, Rudy Kusharyanto dari PT Suri Tani Pemuka, menganggap wajar karena merupakan strategi pemasaran setiap hatchery dalam mengelola keekonomisan harga jual suatu benur agar di terima konsumen dengan baik.

“Tinggal dikembalikan ke konsumen untuk memilih benur yang akan di tebar di tambak. Setidaknya, kita bisa bijak memilih benur yang berkualitas sesuai dengan kriteria dan kondisi tambak masing-masing. Semakin baik performa benur yang dibudidayakan di tambak, otomatis benur dari hatchery tersebut akan sangat di terima oleh pasar. Begitu pula sebaliknya,” terang Rudy.

Petambak bicara harapan

“Harapannya, jumlah hatchery berkualitas cukup banyak dan mampu melayani petambak Indonesia dan tidak sampai kekurangan suplai. Apalagi target produksi udang KKP di tahun 2024 naik menjadi 2 juta ton. Hatchery juga menjamin kualitas benur, baik dari perubahan lingkungan mendadak maupun ketahanannya terhadap serangan penyakit,” harap Mochammad Heri Edy.

Sementara Bang Jack berharap agar pemerintah dan hatchery lebih berkomunikasi dan bersinergi untuk menciptakan produk benur yang lebih berkualitas dan harga lebih ekonomis. Selain itu,  hatchery tidak menaikkan harga pada saat budidaya dan harga udang mengalami masa sulit. “Hatchery yang lebih tahu cara menekan biaya produksinya agar mencapai harga yang paling ekonomis,” ujarnya.

“Harapan ke pemerintah. Pertama, agar mendorong pihak swasta bermitra dengan breeder dunia untuk mengembangkan pabrik induk SPF dalam negeri, membangun breeding multiplication center (BMC), atau lebih tinggi lagi menjadi nucleus breeding center (NBC). Kedua, sebaiknya pada setiap level teknologi, yaitu tradisional, semi-intensif, intensif, apalagi supra intensif;  menerapkan budidaya “two step”, yaitu nursery dan grow out,” harap Hasanuddin Atjo.

Untuk memudahkan monitoring induk dan produk benur benar-benar baik, sebaiknya ada lembaga yang mengawasi atau mengaudit hatchery secara berkala. Hal ini untuk mengawal  proses pemilihan induk hingga kualitas benur yang dihasilkan serta memberikan SOP hatchery sebagai panduan. “Pemerintah juga diharapkan mendukung pihak hatchery yang membutuhkan induk yang baik seperti administrasi impor serta pengecekan pada karantina bahwa induk benar-benar baik dan tidak terkontaminasi pathogen,” harap Paian Tampubolon.

Adapun Rudy Kusharyanto menyampaikan harapannya terhadap penyuplai benur (hatchery), yaitu benur yang disuplai ke petambak harus benur yang berkualitas. Hal ini disebabkan benur merupakan faktor yang sangat penting dalam budidaya, menjadi rantai perputaran yang sangat penting dalam industri budidaya udang. Performa panen dari suatu tambak sangat dipengaruhi—salah satunya—kualitas benur yang ditebar. “Harapannya, dengan tanggung jawabnya masing-masing, kita bisa saling menjalin simbiosis mutualisme. Karena dengan performa yang baik, industri akuakultur akan mendapatkan dampak yang baik pula dari panen yang bagus. Keberlanjutan budidaya pun bisa terus berjalan,” pungkasnya. (Rch/Adit/Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.