Budidaya Ramah Sehat untuk Udang dan Manusia

Budidaya udang di tambak merupakan sektor perikanan yang memiliki peluang ekonomi cukup besar bagi masyarakat dan negara Indonesia. Namun, peningkatan yang diharapkan pada budidaya udang vaname belum dibarengi dengan kesiapan pengelolaan yang matang. Akibatnya, terkesan memaksakan tambak tradisional menjadi intensif sehingga banyak masalah yang timbul. Apalagi ditambah perubahan iklim yang menyebabkan penurunan kualitas air.

Penyakit menjadi penyebab kematian tertinggi pada budidaya udang. Adapun sistem intensif berada di urutan pertama sistem budidaya dengan tingkat infeksi patogen paling tinggi.  Setidaknya, terdapat 7 penyakit yang menyebabkan kematian udang tertinggi, yaitu EHP (Enterocytozon Hepatopenaei), EMS/AHPND (Early Mortality Sindrom/Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease), WFD (White Feces Disease), WSSV (White Spot Syndrome Virus), muscle necrosis diseases, IMNV (Infectious Myonecrosis Virus, Myo), dan Vibriosis.

Keberadaan parasit—baik jenis bakteri, virus, jamur, cacing, protozoa, dan jenis lainnya—pada inang akan menimbulkan kerusakan dalam 3 bentuk, yaitu kerusakan fisik (mechanical action), kekurangan nutrisi, dan efek toksik.  Kerusakan fisik biasanya akan terlihat secara makroskopis seperti adanya sirip udang yang kemerahan dan munculnya bintik hitam atau bintik putih pada karapas saat udang terinfeksi WSSV, EHP, dan AHPND.  Kekurangan nutrisi pada udang terlihat pada pertumbuhan yang lambat, gagal molting, feses berwarna putih akibat udang kesulitan mencerna pakan, dan karapas yang lembek. Sementara efek toksik disebabkan bakteri yang menghasilkan produk intraseluler atau ekstraseluler yang menyebabkan kerusakan jaringan, bahkan kematian.

Beberapa artikel menunjukkan bahwa wabah (outbreak) penyakit akan terjadi jika ada faktor stres yang disebabkan oleh lingkungan dan faktor ini bersifat kuadratik atau dua kali lipat dibandingkan faktor lainnya. Hal ini disebabkan faktor abiotik lingkungan dapat berpengaruh secara langsung terhadap keberadaan patogen di perairan, sekaligus mempengaruhi kesehatan inang. Efek yang ditimbulkan seperti efek domino yang tak berujung.

Beberapa penyakit infeksius tidak menunjukkan gejala spesifik sehingga pendeteksiannya memerlukan pemeriksaan laboratorium. Namun, beberapa patogen memiliki tanda khusus yang memudahkan dalam pendeteksian. Sebagai contoh, penyakit WSSV ditandai dengan bintik putih pada karapas dan WFD ditandai dengan feses udang yang berwarna putih. Namun, infeksi gabungan juga sering ditemukan pada udang sehingga penanggulangannya memerlukan pendeteksian penyebab penyakit yang dominan.

Pengendalian efektif

Pengendalian paling efektif adalah pencegahan. Hal ini disebabkan semakin sulitnya menebak waktu dimulainya wabah. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan pengendalian penyakit udang, di antaranya sebagai berikut.

  1. Pada umumnya patogen bersifat oportunistik yang selalu ada di perairan dan mungkin juga berasosiasi dengan mikroba positif lainnya. Oleh sebab itu, tingkat sensitif penggunaan antibakterial terhadap mikroba baik di tambak perlu
  2. Pemilihan antimikroba jangan berdasarkan pada pengetahuan petambak atau pemasok bahan kimia, tetapi berdasarkan pendapat layanan kesehatan
  3. Saat ini, strain bakteri vibrio yang bersifat resisten terhadap tetrasiklin dan β-laktam sudah mulai banyak (Nakayama et al. 2006; Melo et al. 2011; Albuquerque Costa et al. 2015).
  4. Sumber strain resisten antibiotik di tambak udang dapat berasal dari air laut yang digunakan untuk
  5. Membuang limbah sisa budidaya yang menggunakan antibiotik ke laut berkontribusi pada munculnya vibrio resisten (Srinivasan dan Ramasamy 2009).
  6. Gen yang resisten terhadap antibiotik dapat ditularkan ke ekosistem terdekat tambak. Strain vibrio HL60 dapat mentransfer gen resisten sefalotin yang terdapat dalam plasmid ke Escherichia coli (Molina-Aja et al. 2002).

Beberapa rekomendasi nanopartikel dan bioteknologi dapat digunakan untuk pengendalian penyakit infeksius pada budidaya udang. Dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, pemilihannya disesuaikan dengan sistem budidaya yang dilakukan, jenis organisme yang dibudidayakan, biaya yang dianggarkan, serta keterampilan teknisi.

  1. Nanomaterials dapat dimanfaatkan sebagai antimikroba dan antibiofilm (Moges et al. 2020), serta komponen vaksin (Rajeshkumar et al. 2009). Sebagai antimikroba, nanomaterials memiliki spektrum luas melawan patogen, tetapi juga bersifat toksik pada lingkungan (Zoroddu et al.2014).
  2. Biofilm-based vaccines dapat meningkatkan respon imun (immune response) tanpa penggunaan adjuvant (Vinay et al. 2016) sehingga kerja vaksin pada udang menjadi lebih Namun, kekurangannya dapat menimbulkan supress imun akibat dosis tinggi atau rendah (Vinay et al. 2016).
  3. Ekstrak alga seperti ganggang dan rumput laut telah banyak digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan performa udang dan sebagai antimikroba (Lee et al. 2020). Namun, tingkat efikasinya sangat bergantung pada metode ekstraksi yang digunakan (Klongklaew et al. 2020) seperti pada fitobiotik.
  4. Fitobiotik atau umumnya ekstrak tanaman, buah, daun, atau bagian pohon lainnya memberikan keuntungan pada kesehatan yang beragam seperti pertumbuhan dan menghindari stres (Elumalai et al. 2020). Fitobiotik juga berperan sebagai antibakterial dan imunostimulan (Hardi et al. 2017-2022). Penggunaan fitobiotik efektif pada udang karena penggunaan jangka pendek berdampak jangka panjang (Reverter et al. 2021). Namun, perlu diantisipasi berkembangnya resistensi antibiotik ketika menggunakan bahan aktif tunggal (Gupta dan Birdi 2017).
  5. Probiotik, prebiotik, dan sinbiotik yang saat ini banyak menjadi pilihan untuk budidaya udang, efek penggunaannya pada udang dapat mengimunomodulasi aktivitas antibacterial dan baik untuk kesehatan usus (Amenyogbe et al. 2020). Namun, diperlukan antisipasi munculnya komplikasi spesifik spesies (Amenyogbe et al. 2020).

Silvofishery

Melakukan budidaya udang tanpa patogen adalah impian yang mungkin tidak akan pernah terwujud untuk kondisi saat ini.  Salah satu alternatif model budidaya udang tradisional diyakini dapat mengurangi kejadian penyakit. Meskipun produktivitas rendah, tetapi budidaya tradisional memiliki tingkat SR yang tinggi. Di Kalimantan Timur, SR udang di tambak tradisional dapat mencapai 80%.

Model Silvofishery juga dapat menjadi pilihan. Silvofishery adalah budidaya udang yang berasosiasi dengan ekositem mangrove.  Ini sebagai alternatif budidaya udang ramah lingkungan karena memanfaat ekosistem mangrove sebagai (1) pusat sirkulasi air, (2) pusat biofilter, (3) pusat siklus nutrien, dan (4) pusat biodiversity (keanekaragaman hayati) yang akan meningkatkan kualitas air laut yang akan digunakan untuk budidaya.

Jika pemerintah mengharapkan perikanan—khususnya budidaya udang—menjadi kegiatan yang mendukung blue ekonomi, budidaya ikan dengan Silvofishery menjadi pilihan. Ada 4 pengelolaan utama dalam sistem budidaya udang ini, yaitu: (1) budidaya dilakukan dengan mengadopsi kehidupan udang di alam; (2) meminimalisir limbah atau memastikan bahwa limbah buangan sisa budidaya tidak menyebabkan kerusakan atau perubahan fungsi alam; (3) circular activity atau polikultur, yaitu output satu organisme menjadi input organisme lain; dan terakhir (4) sustainable, yaitu memastikan bahwa kegiatan budidaya berlangsung terus-menerus dan menjadi sumber kesejahteraan masyarakat secara ekologi, ekonomi, dan sosial budaya.

Salah satu cara ampuh mencegah penyakit adalah dengan berdamai dengan parasit penyebab penyakit. Artinya, kita dapat mencegah parasit menjadi penyebab udang sakit sedini mungkin dengan cara: meningkatkan imunitas udang, meningkatkan kualitas air dan mencegah penyebab meningkatnya jumlah patogen, serta memastikan udang hidup secara normal di lingkungan budidaya.

Pencegahan dengan biosekuriti lebih murah dan lebih efektif dalam mencegah penyakit. Pemilihan langkah dalam biosekuriti pun dapat disesuaikan dengan kondisi tambak. Sementara penggunaan nanopartikel dan bioteknologi sebagai antibakterial, imunostimulan, prebiotik, probiotik, parasimbiotik, serta sinbiotik efektif untuk mencegah terjadinya wabah penyakit atau mencegah meluasnya kerugian yang dihadapi. (Ed: RA)

Oleh:

Esti Handayani Hardi

Guru Besar Bidang Parasit dan Penyakit Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman

 

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.