Efisiensi Pakan untuk Bisnis Akuakultur yang Kompetitif

U.S. Soybean Export Council (USSEC) berkolaborasi dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), kembali gelar Indonesia Aquafeed Conference (IAC) 2025 untuk keempat kalinya, tema yang diusung bertajuk “Feed Efficiency for Competitive Aquafeed Business”, di Aloft Hotel Wahid Hasyim, Jakarta Pusat pada 27 Mei 2025.

IAC 2025 menampilkan beberapa pembicara kunci, kata Pamudi Konsultan Teknis USSEC untuk Akuakultur Asia Tenggara, yang berfokus pada pengembangan pakan fungsional yang berkualitas, tidak hanya dalam aspek formulasi pakan, akan tetapi juga pada aspek penambahan aditif dan juga inovasi dalam produksi pakan di dalam pabrik.

IAC 2025 menghadirkan tiga pembicara yaitu Dominique Bureau, Associate Professor, University of Guelph dengan tema “Develoving and Testing Functional Feeds for Aquaculture Species”. Grin Swangdhacaruk, Marketing Director Kemin AquaScience membawakan materi “Future – Proofing Aquaculture: Cutting – Edge Sustainable Aquafeed Strategies From Global Leaders. Dan Pembicara ketiga Philipp Fritschi, Region Manager of Value Nutrition Buhler Group, mempresentasikan “Improved Productivity with Feed Quality”.

Lanjut Pamudi, Dominique Bureau dari USSEC menekankan pentingnya menguji efektivitas pakan fungsional untuk melawan tantangan produksi misalnya penyakit dan perubahan lingkungan, Ia juga memberikan beberapa contoh taktis dalam menghadapi serangan penyakit pada ikan. Beberapa aditif yang efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh ikan juga dipaparkan.

Kemin menekankan aspek jejak karbon dalam budidaya serta pentingnya aspek keberlanjutan dalam produksi, sementara Buhler menampilkan teknologi terkini dalam mesin produksi pakan yang penting untuk efisiensi dan profitabilitas.

Ibnu Edy Wiyono, Country Director Indonesia USSEC menambahkan, USSEC senantiasa terus berupaya membantu industri pakan akuakultur di Indonesia agar lebih efisien dan berkelanjutan.

Pakan berkualitas yang diproduksi secara efisien merupakan kunci keberhasilan pembudidaya. Demikian disampaikan Denny Mulyono Ketua GPMT, tema besar yang diangkat dalam pertemuan ini adalah keberlanjutan. Fokus utamanya adalah bagaimana menurunkan jejak karbon, meningkatkan ketelusuran produk, serta mendorong penggunaan bahan baku yang dapat diproduksi ulang dan lebih ramah lingkungan.

Setiap perubahan dalam formulasi atau proses produksi harus bisa menurunkan Feed Conversion Ratio (FCR), kata Deny, sehingga hasil budidaya menjadi lebih efisien. Dengan begitu, pembudidaya akan lebih puas karena bisa memperoleh hasil yang lebih baik dengan biaya yang sepadan.

Ia menyampaikan bahwa akan menjadi nilai tambah besar jika pakan tersebut memiliki pengakuan resmi melalui Life Cycle Assessment (LCA) dan memiliki jejak karbon yang rendah. Ini akan meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia, baik itu udang maupun ikan, di pasar global.

Keynot Speech Gemi Triastutik, Direktur Ikan Air Tawar Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya (DJPB), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dalam sambutannya mewakili Tb. Haeru Rahayu, Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya, mengapresiasi acara tersebut karena sejalan dengan program-program unggulan DJPB.

KKP saat ini memiliki tiga program unggulan yang berkaitan dengan budidaya yang meliputi revitalisasi tambak, modelling tambak atau percontohan, dan pembangunan kampung-kampung budidaya berbasis kearifan lokal.

Menurutnya, Efisiensi pakan menjadi kunci keberhasilan budidaya, pakan sebagai komponen terbesar menyumbang 60-70% dari total biaya produksi dari semua program tersebut membutuhkan pakan yang berkualitas dan efisien.

Ciptakan proses produksi pakan lebih efisien dan berkelanjutan

Menurut Januar Pribadi, Aquaculture Tech. Development and Marketing Communication PT Grobest Indomakmur mengatakan bahwa, kebutuhan penambahan imbuhan pakan saat ini tidak bisa dihindari, pengalaman 20 tahun Grobest sebagai pionir pengembangan pakan fungsional dalam perjalanannya menunjukan adanya peningkatan kebutuhan imbuhan-imbuhan fungsional untuk menghadapi tekanan penyakit yang semakin komplek dan tantangan profitability.

Pakan Fungsional dengan tujuan peningkat daya tahan, kata Januar, perlu didukung hasil riset dan uji validasi yang memadai dan data keberhasilan di lapangan yang terus melakukan improvment berkelanjutan.  Tujuan fungsional feed dibuat adalah untuk memberikan manfaat peningkatan ketahanan individu terhadap stres lingkungan dan penyakit, dalam rangka menurunkan resiko terhadap keberhasilan budidaya.

“Pakan Fungsional merupakan solusi dalam upaya kampanye ‘no antibiotic’ , jangan kita hanya mencari solusi sesaat yang justru menjadi malapetaka dalam kultur perikanan kita baik lokal maupun tingkat nasional,” ungkap Januar.

Sandy E.P., Formulator Manager PT Suri Tani Pemuka menambahkan, Functional feed di Indonesia mungkin baru 2-3 tahun belakangan ini bisa mulai di terima di customer. Trend ini ada kaitannya dengan maraknya perubahan dan tambahan penyakit ikan dan udang setiap tahunnya. Dengan riset yang berbasis data yang banyak dan valid, banyak jenis feed additive bisa ditest.

“Statistik dan cara Dom me-riset menentukan apa yang bisa berfungsi dan juga kombinasi antara treatment- treatment. Banyak solusi yang bisa ditemukan yang mungkin bisa kita coba terapkan juga. Menurut saya presentasi Dom cukup mewakili situasi yang perlu feedmill sikapi dengan baik untuk industri aquaculture Indonesia,” ujar Sandi.

Megi Hidayatullah, Manager Produksi PT. Grobest Indomakmur mengulas materi yang disampaikan Philippe Fritschi terkait Improved Produktivity with Feed Quality. Menurutnya, materi yang disampaikan  cukup menarik terkait perkembangan teknologi automatisasi proses produksi untuk menghasilkan stabilitas kualitas pakan yang baik.

Dengan sistem automatisasi tersebut, kata Megi, kita dapat menarik data parameter proses untuk kemudian melakukan analisa dan evaluasi terhadap parameter-parameter proses tersebut, sebagaimana kita ketahui parameter proses sangatlah berpengaruh terhadap kualitas pakan yang dihasilkan.

“Dari evaluasi yang dilakukan diharapkan proses bisa berjalan dengan stabil dan dapat menurunkan angka reject yang menjadi momok dalam proses produksi pakan akibat proses yang tidak stabil. Sehingga produktifitas yang menjadi salah satu target utama  dalam produksi pakan dapat dimaksimalkan dan secara bisnis milling cost dapat ditekan,” ujar Megi.

“IAC 2025 sangat bagus dalam membantu perkembangan industri perikanan, meyakinkan pengusaha perikanan dalam berinovasi dengan produk-produknya. Sangat membantu dalam memaksimalkan produktivitas perusahaan, agar tidak terlalu besar budgetnya. Dan inovasi mesin yang handal berkualitas untuk mendukung produktivitas industri agar output yang di hasilkan maksimal sesuai dengan target,” ungkap Suharmanto, Senior supervisor QAO PT. Leong Hup Jayaindo.

Deny mulyono, semua yang disampaikan pada IAC hari kemain, sebagai komitmen kami asosiasi, kolaborasi dengan stakeholders terkait untuk terus menyampaikan hal terkini sehubungan pakan akuakultur baik dari sisi standard kualitas pakan, teknologi dan keberlanjutan.

Mengulas dari materi Dominiq bureau, Anita Purnamasari, Nutritionist Manager PT Gold Coins Specialities Indonesia, Pendapat Dominic sangat relevant dengan kondisi aktual budidaya saat ini dan solutif. Kematian udang/ikan menimbulkan kerugian yang besar bagi petambak, walaupun pertumbuhan baik karena akanbmenyebabkan tingginya FCR. Kemudian cara paling jitu untuk mengurangi kematian adalah dengan skip feeding selama 5-6 hari tergantung species, serta alternatif lain untuk mengurangi kematian adalah dengan high dose vitamin, organic acid, mos yeast extract.

Ajeng Pratiwi Nugraheni, Formulator PT Cargill Feed Indonesia juga mengulas materi dari Dominique dimana Pathogens dapat menyebabkan survival menurun dengan FCR mengalami peningkatan. Hasil dari penelitian, pemberian vaccine tidak memberikan dampak yang significant. Penangan akan pathogens di ikan bisa dilakukan dengan mengevaluasi efektifitas penggunaan ingredients, additives, penyusunan formula, dan juga feeding management

“Presentasi Dominique sangat sesuai Dengan kondisi saat ini, mortality issue di Tilapia yang disebabkan oleh pathogens. Selain memaparkan tentang penyebabnya, juga penanganannya. Salah satunya menggunakan beberapa macam additives di dalam formula,” tambah Ajeng. Feed Efficiency for Competitiv Aquafeed Business, acara ini di dukung ol3eh Kemin, Buhler, CP Prima dan PT STP. (Resti)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.