Tiga Kunci Pembenahan Industri UdangHasanuddin Atjo Dewan Pakar Shrimp Club Indonesia (SCI)

Oleh:

Hasanuddin Atjo

Dewan Pakar Shrimp Club Indonesia (SCI)

Kunci Besarnya ada pada Mindset, Mitigasi Risiko, dan Tata Kelola Kewilayahan

Indonesia memiliki peluang besar untuk tampil sebagai salah satu produsen udang paling tangguh dan disegani di pasar global. Namun peluang itu hanya dapat diwujudkan bila tiga persoalan utama dibenahi secara masif dan simultan: perubahan mindset, penguatan mitigasi risiko, dan tata kelola industri berbasis kewilayahan.

Makna “tangguh dan disegani” bukan hanya soal volume produksi, tetapi jaminan keamanan produk yang konsisten, bebas cemaran biologis, kimia, maupun fisika. Di saat yang sama, pasokan tetap stabil meski pasar dunia berfluktuasi, serta mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tren permintaan.

Keunggulan Komparatif yang Tak Dimiliki Negara Lain

Sebagai negara tropis dengan garis pantai sepanjang 96.000 km dan tujuh gugus pulau besar, Indonesia menyimpan potensi luar biasa untuk sektor budidaya udang. Keunggulan komparatif ini jauh melebihi sejumlah negara pesaing.

Contohnya Ekuador—sama-sama negara tropis tetapi hanya memiliki garis pantai 2.237 km. Dengan pendekatan budidaya modern dan konsisten, Ekuador berhasil mengoptimalkan potensi terbatas tersebut dan kini menjadi produsen udang terbesar dunia dengan produksi mencapai 1.420.000 ton.

Sebaliknya, Indonesia yang memiliki potensi jauh lebih besar justru baru berada di posisi kelima dunia dengan produksi 492.000 ton, di bawah Ekuador, Tiongkok, India, dan Vietnam (Seafood Magazine, 2024).

Di sinilah pentingnya kualitas sumber daya manusia dan tata kelola untuk mengubah potensi menjadi kekuatan nyata.

Tiga Pembenahan Strategis yang Harus Dimulai Sekarang

  1. Perubahan Mindset: Dari Dagang ke Industri, dari Produksi ke Pasar

Sudah waktunya seluruh pelaku—dari hulu hingga hilir—mengubah pola pikirnya. Orientasi budidaya tidak boleh lagi sekadar mengejar produksi, tetapi harus mengikuti kebutuhan dan standar pasar global.

Stakeholder harus memiliki visi yang sama, tidak bergerak parsial atau ego-sektoral. Budidaya yang tidak mengikuti standar, atau hulu-hilir yang bekerja sendiri-sendiri, hanya akan memperbesar risiko dan membuat industri sulit naik kelas.

  1. Budaya Mitigasi Risiko: Kerja Terukur, Tertelusur

Industri udang yang tangguh dibangun dengan budaya mitigasi risiko yang kuat. Prinsip sederhana namun fundamental ini harus diterapkan: “Catat apa yang dikerjakan, kerjakan apa yang dicatat.”

Contoh penerapannya: Uji kesehatan benur sebelum ditebar. Penebaran benur ukuran lebih besar (melalui nursery) untuk mengurangi mortalitas awal—strategi mitigasi risiko yang kini menjadi tren. Pengukuran kualitas air secara konsisten, dari sumber hingga buangan.

Kreativitas dalam metode budidaya, inovasi dalam teknik eksekusi, serta kemampuan membaca fenomena pasar. Upaya mitigasi ini membangun budidaya yang terukur, tertelusur, dan adaptif.

  1. Tata Kelola Industri Berbasis Kewilayahan

Kebijakan pengembangan industri udang idealnya bergerak menuju pendekatan kewilayahan berbasis pulau besar. Pendekatan ini bukan hanya relevan secara teknis, tetapi juga strategis karena dapat: Mengurangi disparitas pertumbuhan antardaerah yang masih timpang. Mempermudah pengaturan kapasitas produksi dan pengendalian penyakit. Meningkatkan efisiensi logistik, termasuk distribusi pakan, benur, dan hasil panen. Dengan tata kelola yang terintegrasi di level wilayah, seluruh komponen industri dapat bergerak lebih seragam dan efektif.

Peta Jalan Jadi Syarat Utama

Tiga persoalan tersebut merupakan fondasi yang harus diperkuat terlebih dahulu. Untuk mencapai target menjadi produsen udang tangguh dan disegani dunia, Indonesia membutuhkan: Peta jalan (roadmap) implementatif. Komitmen lintas pelaku. Langkah eksekusi yang konsisten dan terukur.

Jika pembenahan dilakukan secara komprehensif, Indonesia bukan hanya mampu mengejar ketertinggalan, tetapi justru memiliki peluang besar menjadi negara produsen udang papan atas dunia. (Ed: Adit)

banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.