Budidaya Lemna yang Multiguna

Oleh:

Yuli Andriani

Staf Pengajar Prodi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Universitas Padjadjaran

 

Tantangan yang besar dalam pelaksanaan budidaya perikanan adalah penyediaan pakan yang memenuhi kebutuhan gizi ikan yang ekonomis, mudah didapatkan dan harganya kompetitif. Eksplorasi penyediaan pakan alternatif ikan telah merambah pada berbagai sumberdaya yang potensial dan memberikan hasil dan respon yang beragam pada berbagai jenis ikan budidaya.

Tentu saja upaya ini memberikan penguat bagi para pelaku budidaya ikan untuk menekan biaya pakan dalam kegiatan budidaya, khususnya skala menengah ke bawah, terlebih menghadapi tantangan berbudidaya saat pandemik seperti saat ini.

Lemna sp merupakan salah satu bahan pakan alternatif yang sudah sangat familiar di Indonesia. Lemna atau sering disebut dengan istilah duckweed adalah tanaman air yang banyak tersebar di perairan Indonesia. Beberapa jenis Lemna yang terdapat di alam diantaranya: Lemna perpusilla dan Lemna minor.

Lemna banyak tumbuh di perairan yang tenang dan  terlindung dari angin. Tanpa pemanfaatan yang baik, keberadaannya dalam perairan  mengancam sebagai gulma. Di lain pihak kelimpahan Lemna sangat potensial untuk dikembangkan sebagai pakan ikan Dalam sistem budidaya yang terkendali, Lemna dapat menghasilkan panen sebanyak 10-30 ton DM/ha/thn.

Dalam pemanfaatannya, Lemna ternyata memiliki potensi manfaat yang banyak sebagai pakan maupun sebagai bioremediator. Berbagai penelitian menunjukkan kemampuan Lemna untuk dimanfaatkan lebih jauh dalam kegiatan budidaya ikan.

Lemna Sebagai Sumber Protein

Lemna mempunyai kandungan protein berkisar 10–45 %, serat 7-14%, karbohidrat 35%, lemak 3-7%, dan kandungan vitamin dan mineral yang cukup tinggi. Kandungan hara dalam jaringan keringnya (dalam mg/kg): N60.000, P 5.000-14.000,K 40.000, Ca10.000,Mg 6.000, Na 3.250, dan Fe 2.500; (FAO, 2009).

Di beberapa negara lain, tanaman dari family Lemnaceae ini  telah banyak digunakan sebagai pakan tambahan untuk ikan, ayam,dan bebek di beberapa negara di Asia seperti Thailand, Bangladesh, dan India. Bahkan dengan semakin berkurangnya lahan untuk memproduksi rumput, Lemna mulai dimanfaatkan sebagai pakan hijauan pada pakan sapi.

Dibandingkan dengan jenis tanaman air lainnya, Lemna mengandung serat kasar paling rendah dan memiliki tekstur daun hingga akar yang lunak. Hal ini yang selanjutnya menyebabkan Lemna memiliki tingkat kecernaan yang tinggi bila digunakan sebagai pakan. Beberapa hasil penelitian menggunakan Lemna sebagai sumber protein dalam pakan menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Beberapa hasil penelitian menggunakan Lemna sebagai sumber protein dalam pakan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Penelitian Nekoubin dan Sudagar (2013) menunjukkan pemberian 20% Lemna sp. segar pada ikan grass carp menghasilkan laju pertumbuhan spesifik 0,55% yang lebih besar dibandingkan dengan kontrol hanya 0,33%. Sulawesty dkk. (2014) menunjukkan bahwa pemberian Lemna menghasilkan laju pertumbuhan spesifik ikan mas (Cyprinus carpio L) sebesar 2,00±0,09% Penelitian kombinasi 75% pelet+25% L. perpusilla segar pada ikan nila menghasilkan pertumbuhan bobot mutlak 30,95 gram yang tidak berbeda nyata dengan pemberian pakan pelet 100% (Ilyas dkk. 2014).Pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) pemberian 20% tepung lemna terfermentasi menghasilkan nilai total konsumsi pakan yaitu 170,01±9,25 g, efsiensi pemanfaatan pakan (EPP) sebesar 78,82±4,75%, efesiensi protein rasio (PER) sebesar 2,49±0,15% dan laju pertumbuhan relatif (RGR) sebesar 4,60±0,31%/hari (Asriyanti dkk, 2018). Sedangkan metode pemberiannya pada ikan, disarankan dalam bentuk dikeringkan terlebih dahulu dan dicampur dengan pakan lain. Hal ini karena pemberian Lemna dalam bentuk segar akan membuat ikan mudah cepat kenyang karena kandungan airnya yang tinggi dan FCR yang tinggi (nilainya sekitar 11-12) (Firdaus, 2017)

Lemna Sumber Pigmen dan Antioksidan

Potensi sumber pigmen dan antioksidan dalam suatu bahan dapat diindikasikan melalui kandungan karotenoid yang terkandung di dalamnya. Lemna memiliki kandungan klorofil 3,97 mg/L, karotenoid 0,89 mg/L, dan vitamin C 5,64mg/30g (Kurniawan, 2010). Lemna minor memiliki konsentrasi tinggi mineral dan pigmen, terutamabeta karoten dan xantofil (Skillicorn, et.,al, 1991).

Kemampuannya sebagai pigmen terlihat pada penelitian yang menggunakan Lemna sebagai pigmen pada telur ikan nilem, dimana hasilnya menunjukkan bahwa dengan  40% pemberian  lemna dalam pakan menghasilkan warna telur nilem yang lebih jingga sebesar 21,43% (Subhan, 2018). Kandungan karotenoid identic dengan ketersediaan antioksidan dalam suatu bahan. Kandungan antioksidan dalam Lemna sp diharapkan mampu menangkal radikal bebas, sehingga ikan memiliki performa yang lebih optimal.

Lemna Untuk Bioremediator

Fungsi lain dari Lemna adalah digunakan untuk memperbaiki kualitas air dalam pengolahan limbah secara biologis, atau biasa disebut dengan proses bioremediasi.  Lemna sp merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan dalam proses bioremediasi karena tumbuhan ini memiliki kemampuan menyerap bahan organik dan anorganik dari perairan (Ilyas dkk, 2014). Sistem perakaran pada tanaman yang menggantung, seperti pada akar Lemna sp., biasanya memiliki sistem penyerapan zat organik dan anorganik yang ada di perairan, sehingga sering dimanfaatkan untuk remediasi perairan (Tanuwiria dan Christi 2017). Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa akar dan daun Lemna sp mampu menyerap NH3 dan NO3, juga bahan-bahan pencemar seperti tembaga, seng, timbal dan kromium (Cedergreen & Madsen 2002; El-Kheir et al 2007).

Pemanfaatan Lemna dalam pengolahan limbah dapat dilakukan dengan mengkultur Lemna pada limbah cair yang kaya bahan organik/logamberat pada saat proses pengendapaan pada pengolahan limbah. Beberapa riset telah menyatakan bahwa Lemna mampu menyerap logam berat kromium (Cr) pada perairan hingga lebih dari 50% yang bergantung pada konsentrasi Cr pada limbah, banyaknya Lemna yang digunakan dan  lamanya waktu pengkulturan (Kristijanto dan Hartini 2013, Pamungkas dkk. 2019).

Konsentrasi Cr pada limbah cair menurun dikarenakan perpindahan konsentrasi Cr dari limbah kedalam jaringan Lemna. Setelah Cr terakumulasi dalam Lemna maka pemisahan Cr  dari air limbah dapat dilakukan dengan mudah, yakni hanya dengan memanen Lemna. Cara tersebut lebih ekonomis dan mudah dilakukan. Dengan melakukan pengolahan limbah tersebut, Cr yang telah dipisahkan (±50%) dari limbah cair  dapat digunakan dan dimanfaatkan kembali sehingga nilai ekonomis yang sebelumnya terbuang dapat dikembalikan dan keuntungan dari aspek lingkungan yakni limbah cair yang dibuang toksisitasnya telah berkurang dan tidak membahayakan bagi lingkungan.

Konsep industri budidaya Lemna sebagai sumber pakan maupun energi telah berkembang di Amerika Serikat. Di beberapa tempat telah terdapat budidaya massal Lemna dalam tambak-tambak yang mampu menyokong kegiatan agrokompleks (perikanan, peternakan), sekaligus sebagai sumber energi terbarukan. Di Indonesia, pemanfaatan Lemna masih berbasis penyediaan terbatas untuk kegiatan agrokompleks individual. Semoga gagasan ini menginspirasi kita untuk mengembangkan tanaman air untuk memperkuat lini produksi ikan air tawar kita, khususnya ikan herbivora.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.