MAI Kepri Siap Bangkitkan Industri Akuakultur

Dr. Romi Novriadi

Wakil President Masyarakat Akuakultur Indonesia

Director Elect of World Aquaculture Society – Asian Pacific Chapter

Ketua umum MAI, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri berjabat tangan dengan Ketua MAI Korda Kepri, Nuryanto, SH, MH setelah pelantikan pengurus MAI Korda Kepri dengan didampingi oleh Dr. Romi Novriadi sebagai Pembina MAI Korda Kepri

Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Koordinator Daerah Kepulauan Riau sukses menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Nyalakan Industri Akuakultur di Kepulauan Riau” sekaligus melakukan deklarasi berdirinya MAI Korda Kepri dan penandatanganan MoU untuk kerjasama di bidang Pendidikan, Penelitian dan Sertifikasi antara Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, Yayasan Lingga Terbilang dan Lembaga Sertifikasi Profesi Akuakultur Indonesia (LSP-AI) dengan Précon Food Management BV, Belanda di Hotel Harmoni One, Batam.

Kepulauan Riau memiliki potensi besar untuk pengembangan industri akuakultur, tidak hanya yang bersifat inland aquaculture (budidaya ikan air tawar dan udang), namun juga untuk pengembangan industri mariculture (budidaya ikan laut) yang bahkan dapat dikembangkan menjadi offshore mariculture.

Namun, sampai saat ini, perhatian pemerintah daerah masih belum optimal. Hal ini terlihat dari minimnya alokasi dana untuk pembangunan industri perikanan dalam rencana APBD Provinsi Kepulauan Riau. Konsekuensinya, walaupun memiliki wilayah administratif lebih dari 90% berupa perairan, industri perikanan budidaya (baca: akuakultur) pada khususnya masih jalan di tempat.

MAI korda Kepri mengungkapkan ada 4 (empat) hal yang mejadi kendala utama dalam pembangunan industri akuakultur di Kepri: (1) Ketersediaan benih dan pakan yang berkualitas dan berkelanjutan, (2) Belum adanya zona industri yang ditetapkan untuk pembangunan industri akuakultur, (3) Tidak tersedianya cold storage dan processing unit yang memadai, dan (4) Rendahnya Sumberdaya manusia (SDM) yang memiliki keterampilan professional dalam membangun industri akuakultur.

Untuk itu, MAI Korda Kepri merasa perlu untuk mendirikan organisasi yang menjadi sarana terbaik untuk saling berdiskusi dan menghubungkan para pelaku usaha, peneliti, akademisi dan policy maker untuk bersama-sama saling bersinergi membangun industri akuakultur di Kepri.

Ketersediaan benih berkualitas menjadi salah satu faktor penghambat dalam mengoptimalisasikan industri akuakultur di Kepri. Saat ini, berdasarkan data yang diperoleh dari Karantina Ikan, terdapat lebih dari 50 juta benur udang dan 5 juta benih ikan laut yang diperdagangkan di wilayah Kepulauan Riau.

Sementara, Kepri belum memiliki panti benih atau hatchery yang khusus untuk memprouksi benur udang. Sementara untuk ikan laut, walaupun memiliki beberapa panti benih yang dikelola oleh pihak swasta dan pemerintah, jumlah yang dihasilkan belum mencukupi demand yang ada. Sehingga import benih dari wilayah Bali dan Situbondo untuk Ikan laut serta beberapa daerah termasuk Anyer dan lampung untuk udang harus dilakukan.

Untuk jangka pendek, mungkin ini bisa menjadi solusi, namun untuk jangka Panjang, adanya kemungkinan introduksi penyakit oleh benih-benih yang masuk ke wilayah Kepri menjadi tidak dapat dihindari. Untuk itu, dimasa mendatang perlu kembali ditata sinergitas terbaik untuk mengelola fasilitas yang ada, sehingga keetersediaan benih dapat dilakukan secara sutainable atau berkelanjutan.

Untuk pakan, Kepri bahkan belum memiliki satu unit produksi pakan yang secara komprehensif mengkonversi bahan baku menjadi pakan buatan yang dimanfaatkan oleh petambak udang dan ikan. Hampir secara keseluruhan pakan yang digunakan berasal dari Jawa dan Medan untuk memenuhi kebutuhan produksi. Hal ini tentu saja berdampak terhadap peningkatan biaya produksi melalui penambahan biaya transportasi.

Saat ini, MAI bekerjasama dengan Kabupaten Lingga melakukan kerjasama pengadaan mesin pakan yang diharapkan dapat mendorong industri akuakultur menjadi lebih baik. Dalam hal pakan, Kabupaten Lingga merencanakan untuk melakukan produksi berdasarkan kebutuhan spesifik komoditas ikan yang dikembangkan.

Untuk tahap awal, komoditas Kerapu dan Udang Vaname menjadi pilihan. Komposisi asam amino yang tepat serta daya cerna (digestibility) protein, karbohidrat dan asam lemak melalui bahan baku yang digunakan menjadi perhatian utama. Sehingga diharapkan laju pertumbuhan ikan dan udang serta fungsi fisiologis ikan dapat menjadi lebih baik.

Dalam konteksi Provinsi Kepri, zona khusus untuk pembangunan inddusri akuakultur menjadi sangat penting. Zona khusus ini bukan saja menjadi panduan bagi para pelaku usaha tapi juga bagi pemerintah daerah untuk melakukan perencanaan pembangunan industri akuakultur. Zona khusus ini ketika dibentuk nantinya hendaknya diterapkan secara konsisten. Karena pembukaan industri lain di sekitar lokasi produksi budidaya ikan akan sangat mengganggu produktivitas dan pertumbuhan ikan.

Limbah yang dihasilkan, walaupun sedikit akan sangat berpengaruh terhadap fisiologis ikan. Kita pastinya tidak menginginkan kasus kematian ikan, seperti kasus kematian massal ikan Kerapu Epinepgelus sp akibat limbah industri di Batu Licin, Tanjung Pinang pada periode waktu 2007 – 2009 terulang lagi.

Untuk itu, perlu adanya good willingness dari pemerintah daerah untuk segera menetapkan zona ini. Tentu saja, setelah ditetapkan, kondisi lingkungan juga menjadi tanggung jawab para pelaku usaha budidaya dengan tidak langsung membuang limbah produksi tanpa treatment yang tepat ke perairan umum.

Hasil produksi ikan budidaya tidak sepenuhnya harus dalam kondisi hidup. Untuk itu kehadiran cold storage dan unit processing ikan menjadi sangat penting. Vietnam dapat membangun industri ikan patin melalui sistem processing yang baik. Sehingga, kalau kita memiliki kesempatan untuk jalan-jalan ke Eropa dan Amerika Serikat, lebih dari 60% produk patin yang dijumpai di pasar tradisional dan modern berasal dari Vietnam.

Kalau produksi patin di Vietnam diuntungkan dengan biaya produksi yang rendah karna adanya aliran Sungai Mekong, Kepri juga dibantu oleh wilayah perairan yang memungkinkan transportasi hasil produksi untuk dikelola secara professional oleh satu unit processing yang terintegrasi.

Pasar, baik nasional maupun internasional, tersedia cukup besar untuk produk-produk seperti Kerapu, Kakap putih dan udang Vannamei. Kalau dikonversikan dengan baik melalui produk-produk frozen fish, semi cooked dan Cooked fish tentu dapat dipasarkan dengan harga jual yang lebih baik.

Kita menyadari bahwa ketersediaan sumberdaya manusia yang memiliki tingkat keahlian dalam bidang perikanan budidaya menjadi ujung tombak untuk optimalisasi industri. Provinsi Kepulauan Riau sangat diuntungkan dengan keberadaan beberapa Sekolah Menengah kejuruan yang fokus di bidang perikanan, serta engan adanya Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) yang diharapkan menjadi pusat kajian maritim di masa depan.

Namun, dalam era perdagangan bebas ini, ijazah saja tidak cukup. Anak-anak Kepri juga harus dilengkapi dengan sertifikat keahlian yang bertaraf Internasional yang memungkinkan anak-anak daerah memiliki daya saing yang tinggi. Berdasarkan hal ini, di acara deklarasi dan seminar perikanan nasional ini, juga telah dilakukan penandatanganan MoU antara Précon Food Management BV, Belanda dengan Yayasan Lingga terbilang untuk peningkatan kompetensi di bidang industri akuakultur.

Pada kesempatan ini, seminar nasional diisi oleh pembicara nasional dan internasional, diantaranya oleh Prof. Dr. Yushinta Fujaya (Universitas Hasanuddin – Makassar), Dr Agung Damar Syakti (UMRAH), Ronald Van den Heuvel (Précon Food Management BV), Ege Ozcan (Turki) dan Wen Wei (Vietnam). Masing-masing pakar memaparkan materi ilmiah sesuai dengan bidangnya masing-masing. Intinya adalah perlu dilakukan inovasi perbaikan system produksi agar terwujud system produksi yang lebih ekonomis dan efisien. Kemudian yang menarik, Dr Yushinta Fujaya memberikan perkembangan terkini tentang pembangunan inustri rajungan di Makassar yang dapat diterapkan juga di wilayah Kepri. Ege Ozcan memberikan informasi tentang keberadaan Artemia Cyst dari West Siberian lake Rusia yang harganya sangat terjangkau dan dapat mengganti produk-produk komersil yang ada di pasaran saat ini dengan harga yang sulit dijangkau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.